Share

#4 Romantis tapi najis

Author: Brown Sugar
last update publish date: 2026-06-03 07:03:06

Andini membisu sepanjang perjalanan pulang, ia begitu syok. 

“Sabar ya Mbak,” hibur Sintya matanya fokus ke jalanan. 

Andini hanya tersenyum sebentar, setelah itu kembali murung. Mereka sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Andini. Mata Andini terbelalak saat melihat mobil berwarna putih di halamanya. 

“Itu Mas Fahmi udah pulang,” cetus Sintya. 

“Iya,” sahut Andini singkat, ia melepaskan sabuk pengaman dari badannya. 

“Mbak, kamu bersikap seperti biasa ya jangan dulu aneh-aneh,” pinta Sintya. 

Andini mengangguk, ia menyiapkan wajah manisnya sebelum turun dari mobil. 

“Kamu gak mampir dulu?” tanya Andini seraya membuka pintu mobil. 

“Lain kali aja,” 

Ia mengatur nafas sebelum memasuki rumah mewah berlantai dua itu. Perlahan kakinya melangkah menuju pintu utama. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gagang pintu. Namun, Andini harus bisa mengendalikan emosinya. 

  

“Surprise!” seruan itu membuat Andini terperanjat saat sudah berada di dalam rumah. Tampak, Fahmi dan asisten rumah tangga nya menyambut dirinya di ruang tamu. 

 Wajah suaminya itu begitu sumringah, Fahmi langsung memeluk Andini erat. Ia mengajak Andini ke meja makan, belum ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. 

“Kamu sudah pulang, ada apa ini?” tanya Andini bingung, ia menoleh kanan dan kiri ruang tamu yang penuh dengan balon, tercium pula aroma masakan yang terasa begitu lezat. 

Fahmi tersenyum pada Andini, ia mencubit gemas kedua pipi milik istrinya itu seraya berkata, “kamu lupa ya? Ini Anniversary kita.”

Wanita itu sedikit mengerutkan dahi, mencoba mengingat kembali tanggal pada hari itu. 

Ia sedikit tersenyum saat sudah ingat, hari Anniversary yang setiap tahun mereka rayakan. Hal itu, membuat Andini sedikit meredam emosi. 

“Thanks,” ucap Andini. 

“You are welcome, ini semua buat kamu.” Dengan perasaan menggebu-gebu Fahmi memeluk lagi Andini erat dan menciumnya berkali-kali. Namun, Andini menepis. Leni yang melihat itu langsung berlalu menuju ruang makan. 

“Iya, makan yuk! Aku lapar,” ajak Andini memegangi perutnya yang ramping. 

Fahmi menghela nafas diiringi rasa pasrah, ia mempersilahkan Andini untuk duduk, “Oke, sebentar! Duduk disini my queen silahkan.”

“Terimakasih lagi,” timpal Andini. 

“Sama-sama,” 

“Kamu suka?” Tanya Fahmi dengan nada riang. 

“Yes,” jawab Andini singkat. 

“Sebentar, ada satu lagi buat kamu.” Ia beranjak lagi dari kursi makan menuju sebuah rak yang tak jauh sari dapur, ada sebuah kado yang di sembunyikan Fahmi di belakang badannya. Ia berjalan dengan senyum menyimpan rahasia, “Tada ….” 

Andini sedikit terkejut menyipitkan kedua bola matanya dan bertanya, “Apa ini?” 

“Buka dong,” pinta Fahmi mendekatkan diri pada Andini sambil mengelus rambut istrinya yang harum itu. 

Perlahan jari-jemari Andini membuka bungkus kado bermotif abstrak itu. Sedikit tampak kotak berwarna coklat. Alangkah kaget Andini saat membuka keseluruhan kado tersebut, matanya melotot dan berbinar-binar. Sebuah benda yang selama ini dia ingin, hanya saja belum sempat beli karena terlalu sibuk dengan urusan butik. Dia berucap, “Hah! Ini kan …,” 

“Tas yang kamu mau, yang selalu ada di screenshot ponsel kamu, di sosial media kamu dan di pencarian website kamu,” ujar Fahmi menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan. 

“Terimakasih, padahal aku baru aja mau pesan,” tukas Andini matanya terus memandangi tas idamannya tersebut. 

“Suka?” tanya Fahmi penasaran dengan pendapat Andini.

“Tentu, ini idaman. Elegan tapi simpel,” jelas Andini menempelkan tas itu ke dekat pipinya. 

“Seperti kamu.” Fahmi mencium pipi Andini. 

“Ayo makan,” ajak Andini memelankan suaranya. 

“Aku senang, melihat kamu tersenyum sambil mata berkaca-kaca,” 

Andini dibuat bingung dengan ucapan Fahmi,“Kenapa begitu?” 

“Itu tandanya kamu benar-benar terharu,” jelas Fahmi. 

"Kamu jam berapa sampai rumah?" tanya Andini. 

"Sekitar dua jam yang lalu, Mbak Leni bilang kamu langsung pergi dengan Sintya," 

 Andini hanya terdiam seraya mengunyah nasi dan lauk pauk yang dimasak Fahmi juga Leni. Sejenak, segala hal yang membuat hatinya kecewa sedikit sirna. Padahal Fahmi begitu romantis dan selalu mengedepankan Andini juga kebahagiaannya. Lantas, kenapa harus berselingkuh? 

“Enak?” tanya Fahmi merendahkan kepalanya. 

Andini mengangguk dengan mulut penuh. 

“Kamu percaya ini semua aku yang masak?” tanya Fahmi lagi sedikit terkekeh-kekeh. 

“Kamu dibantu Mbak Leni? ” tebak Andini mengerutkan dahi.

“Iya …,” Fahmi tak kuasa melanjutkan perkataannya, ia malah tertawa kencang hingga memenuhi ruang makan. Andini menggelengkan kepalanya sambil ikut tertawa. 

“Emh … sayang, sebenarnya aku juga ingin bicara sesuatu sama kamu,” 

 Seketika Andini menghentikan kunyahnya. Ia minum air putih dihadapannya, “bicara apa?” 

“Kita sudah … hampir empat tahun menikah, sudah banyak melewati segala hal. Kamu juga sudah memiliki bisnis yang selama ini kamu impikan, begitupun aku,” ungkap Fahmi sedikit sendu.

“Rumah ini … Terlalu luas jika hanya kita yang menghuninya,tidak ada tangis dan tawa seorang anak,” ujar Fahmi suaranya sedikit serak hendak menangis. 

Andini paham, yang diinginkan Fahmi. Tetapi, dia masih trauma pasca keguguran tahun lalu. Ia masih belum siap untuk kehilangan lagi. Rasa sakit hati yang masih membekas dan selalu tumbuh jika membayangi musibah itu. 

“Kamu tau aku tidak pernah siap untuk hal itu, aku tidak mau depresi lagi,” ucap Andini menatap kosong pada gelas dengan setengah air putih di depannya. 

Fahmi menghela nafas, mendekatkan diri pada Andini. Ia menggenggam kedua tangannya dan menciumnya. 

“Aku tau sayang, tapi kejadian itu sudah satu tahun clalu. Rahim mu sudah sehat kembali,” bujuk Fahmi. 

“Bukan masalah itu, aku takut jika suatu saat aku hamil lagi kejadian yang sama akan terulang.” Andini beranjak pergi meninggalkan Fahmi, dengan deraian air mata yang sudah banjir di pipi. 

Fahmi mencegahnya, segera ia menahan lengan kiri Andini dengan cengkraman agak kuat. 

“Sayang, aku minta maaf aku bukan bermaksud membuatmu sedih. Kalau kamu memang belum siap, tidak apa-apa. Ada cara lain untuk mendapatkan seorang anak tanpa harus hamil,” kata Fahmi menekankan nada bicaranya. 

Andini berbalik dan menatap Fahmi, ia menunduk sedikit. 

“Adopsi?” 

“Iya, kita bisa adopsi seorang anak,” timpal Fahmi semangat. 

“Nanti aku pikirkan lagi,” ucap Andini lalu meninggalkan Fahmi sendirian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #28 2M harga mati

    Ia membekap mulut Indri, pekikan dari wanita itu masih terdengar samar. Indri berusaha melindungi dirinya, dengan memukuli dada Alex menggunakan kedua tangannya. Ia juga hendak menendang dengan kaki, saat Alex mulai menciumi kedua pipi Indri secara paksa. Melihat itu, lelaki bertubuh lebih besar dari Indri hanya tertawa sedemikian keras, merasa puas. Namun, aksi Alex tersebut terhenti oleh suara dering dari ponsel Indri. Alex berdecak kesal, ia melepaskan tangannya dari mulut Indri. Gadis itu mencoba mengatur nafas dalam ketakutannya. "Siapa itu?" tanya Alex menoleh sedikit kearah ponsel yang digenggam Indri. "Mbak Andini," ucap Indri gemetar. Sigap Alex merebut ponsel itu, Indri berusaha merebut kembali. Namun, tenaga Alex lebih besar dari dirinya. Ia kembali dibekap sekuat tenaga saat Alex menerima telepon tersebut. "Hallo ... Ha-ha-ha, kalau kamu ingin Indri selamat, berikan uang dua miliyar untukku!" ancam Alex dengan suara keras. Mata Indri membulat lebar, dua mil

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #27 Penculikan

    "Apa?" Fahmi tersentak dengan wajah memerah. Sialnya, dia tidak membawa ponsel. "Coba hubungi Indri," perintah Fahmi memohon. "Kamu saja yang hubungi, itu bukan urusanku." Andini melenggang begitu saja, disusul Sintya dibelakangnya. "Aku minta tolong," ucap Fahmi suaranya lirih. Mendengar itu, Andini menghentikan langkah. Ia menghela nafas berat, haruskan ia menolong orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. Itu adalah sebuah ketidak mungkinan. "Kali ini saja, tolong ... telpon Indri, tanyakan keadaan dia," bujuk Fahmi melas. Andini menatap kearah Sintya, gadis di sampingnya itu mengangguk samar. Namun, matanya seolah berkata tidak perlu. Dilema dan bingung, masih banyak permasalahan yang harus Andini selesaikan. "Andini, tolong ini demi anakku," Fahmi memohon dengan suaranya yang gemetaran, seketika ia menangis sesegukan begitu saja. Pemandangan itu sedikit menjijikan di mata Andini, ia mendelikan mata keatas. Sambil mencibir dalam hati bagaimana Fahmi memohon. "Oke, t

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #26 Kenapa Indri?

    "Ini semua karena postingan kamu! pak Julian dan Om Hans batal menjadi investor di perusahaanku," hardik Fahmi berjalan kearah Andini dengan bahu naik turun. Wajahnya merah, bola mata melotot seakan mau keluar. Tangannya mengepal dengan urat yang nampak. Andini tak gentar, ia menengadahkan kepala menyambut Fahmi yang kian mendekat. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan, tak ada kata yang keluar dari keduanya. Ruangan itu kian memanas, menjadi saksi bisu ketika tangan Fahmi melayang menampar pipi Andini. Hingga, Andini tersungkur jatuh tak berdaya. Air matanya jatuh setetes, namun tidak membuat ia ciut atau takut. "Kamu harus menghapus postingan itu!" bentak Fahmi. Andini tertawa seraya menyeka air matanya dan bangkit, ia menatap tajam kearah Fahmi dan berkata, "semua orang sudah tahu kelakuan kamu, kamu harus bisa menerima konsekuensinya." "Apa yang aku lakukan bukanlah kriminal, ada banyak laki-laki yang berpoligami di dunia ini dan itu bukanlah hal ilegal," tambah Fahmi. "

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #25 Berkas perceraian

    "Kamu lihat! netizen sudah menghujat aku Mas!" bentak Indri menunjuk-nunjuk ke ponsel yang ia pegang. Fahmi merebut ponsel itu, ia memperhatikan dengan seksama. Beberapa DM dari pengikut Indri, hujatan dan ujaran kebencian terlontar begitu saja. Fahmi mempererat genggaman tangannya, urat di atas punggung tangannya timbul, bibirnya menutup dan giginya gemeretak. "Andini," gumam Fahmi kesal. "Aku gak mau kehilangan pekerjaan aku,yang sudah aku bangun dengan susah payah," caci Indri sesegukan. "Iya, aku akan meminta Andini untuk menghapus semua postingan tentang ini," timpal Fahmi. "Menghapus? Terlambat! Semua orang sudah tahu,dan semua orang mengira aku ini gundik! Wanita murahan! Padahal, jelas-jelas aku juga korban." Wanita itu mondar-mandir dengan menggigiti jari telunjuk. Perasaan resah dan gelisah menyelimuti tubuh Indri. "Huek! Huek ...." Indri memegangi perutnya yang terasa mual. "Sayang, kamu ...kenapa?" tanya Fahmi mendekat. "Jangan mendekati aku!" sergah Indri menepis d

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #24

    "Mau apa kamu?" tanya Indri tanpa menoleh. "Hanya ingin tahu kabarmu, memastikan kamu tidak betul-betul bahagia dengan pernikahanmu! Apalagi ... kamu menikah dengan suami orang," ujar lelaki itu. Laki-laki itu berjalan mendekati Indri. Keringat dingin menyeringai di area pelipis dan kening. Indri terus memencet-mencet tombol lift di depannya panik. "Ayo buka," rintih Indri melirik sedikit kearah mantan pacarnya itu. Saat pintu terbuka, Indri buru-buru masuk untung saja dalam lift itu ada beberapa orang yang hendak naik dari basement. Ia menyelipkan diri diantara mereka. Lelaki itu hanya berdiam diri, berdecak kesal karena gagal menghampiri Indri. Ia menghentakkan kakinya ke lantai penuh emosi. "Awas kamu!" ancam lelaki itu menatap kearah lift. Dengan tergesa-gesa, Indri langsung keluar dari dalam lift setelah pintu terbuka pada lantai tujuannya. Tangannya gemetar hebat, jantungnya masih bertalu-talu. Kartu akses yang ia pegang pun sempat terjatuh. Ia terhenti di pintu, sekit

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #23 Wartawan

    Mereka membawa kamera dan ponsel, menghampiri butik Andini. Ozan yang melihat itu langsung memanggil Andini ke ruangannya sambil panik. “Mbak!” seru ozan,ia menggigit jari. “Ada apa?” tanya Andini membuka pintu,mimik mukanya terlihat masih kesal dengan kantung mata yang sedikit sembab. “Itu mbak ….” Ozan menunjuk ke luar sambil berjengit. Beberapa orang berkerumun di halaman butik. Sambil sesekali memotret dengan kameranya. Jumlahnya sekitar sepuluh orang, ada yang mengenakan seragam sama ada juga yang hanya berpakaian biasa. “Wartawan?” gumam Andini mengintip dari balik jendela. Andini mengernyitkan dahi, kenapa bisa secepat itu sampai pada media. Padahal, dia tidak membagikannya di beranda.Tampak salah satu dari mereka menyadari Andini yang mengintip. Ia tersenyum dengan keseluruhan gigi yang terlihat. Lalu, melambaikan tangan dan menyikut salah satu temannya. Mereka langsung riuh dan saling memanggil nama Andini. “Mereka siapa Mbak?” tanya Siska di belakang Andini. Andini

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #7 Gagal

    Malam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan. “Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranj

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #6 Simalakama

    "Kamu main bilyard sama siapa aja?" tanya Andini sambil membetulkan jaket Fahmi. Ia meraba keseluruhan dada bidang Fahmi. Tercium aroma parfum yang begitu menyengat, sehingga Andini sedikit ingin batuk. "Seperti biasa, Aditya, Raihan ... Sebelum itu aku akan menemui pak Julian," jelas Fahmi. Andi

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #5 Tawaran menggiurkan

    Perkataan Fahmi masih membekas. Apakah itu penyebab Fahmi berselingkuh dengan wanita lain? Ia berjalan menuju halaman belakang rumah, untuk sekadar menenangkan diri. Menikmati suara air mancur yang gemericik. Tampak Bagas tengah duduk santai sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #3 Gaun pengantin

    Lampu menyala seketika, Andini menyipitkan matanya sedikit silau. Ruangan dengan satu kamar tidur itu terasa sunyi. Andini melangkah lagi menyusuri setiap sudut di susul Sintya. "Seperti ditinggalkan sudah lama," kata Sintya seraya meletakan jari telunjuk di atas meja kayu, "berdebu." "Lihat!" tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status