Share

Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan
Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan
Author: El Alfun27

1. Perjodohan sepihak

Author: El Alfun27
last update Last Updated: 2026-02-02 21:31:55

Plak!

Satu tamparan mengenai wajah tampan lelaki muda itu. Semuanya terkejut dengan perlakuan kakek Ali terhadap cucu pertamanya.

“Rafan, tak seharusnya kau menolak permintaan kakek hanya karena kau tak mencintai cucu tunggal sahabatku,” ucap Ali dengan wajah memanas.

“Kek, ini sudah zaman modern. Perjodohan seharusnya sudah dihapuskan, sekarang kita harus memandang banyak hal. Bukan hanya karena perempuan itu cucu tunggal sahabat kakek,” tolak Rafan memegangi pipinya yang memerah.

Plakk!!

Satu tamparan itu mengenai sebelah pipi milik Rafan. Membuat lelaki itu diam mematung. “Ini bukan hanya tentang perjodohan, tapi ini adalah sebuah janji. Dan kakek adalah orang yang sangat komitmen dengan janji. Perjodohan ini harus tetap berjalan, dan kamu tak boleh menolaknya,” sungut kakek Ali. Lalu segera pergi meningggal tempat itu.

Seketika suasana suram memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Menyisakan perih yang meradang. Seorang perempuan mendekati Rafan dengan wajah sendunya.

“Nak, ikuti permintaan kakek kamu. Lagipula yang dijodohkan dengan kamu adalah wanita baik-baik dan penuh prestasi. Dan yang utama juga berasal dari keluarga baik-baik,” ujar perempuan itu mengelus pundak Rafan.

Rafan menatap sang mama dengan penuh pertanyaan. “Jadi mama mendukung perjodohan ini?” tanya Rafan tak habis fikir.

Sang mama hanya menunduk lesu. Rafan tak menyangka kalau dirinya akan mengalami hal yang paling dia tak sukai. Yaitu sebuah perjodohan yang tiba-tiba.

***

“Ustadz Rafan”, panggil salah satu pengajar di pesantren As Salam.

“Iya ustadz Taufik,” sahut Rafan menghentikan langkahnya.

“Ustadz Rafan dipanggil Bu Nyai Hamdan, sekarang beliau ada di bagian resepsionis asrama santri putri,” ungkap ustadz Taufik yang merupakan rekan mengajar Rafan di pesantren.

“Baik ustadz Taufik, terima kasih ya infonya,” ujar Rafan dengan tersenyum ramah. Lalau Rafan segera ke tempat dimana dia sudah ditunggu oleh pengasuh yayasan asrama santri putri.

“Ustadz Rafan,” sapa Bu Nyai Hamdan yang sudah duduk di ruang tunggu resepsionis.

Ustadz Rafan segera menghampiri dengan sikap penuh tawadhu. “Mungkin ada yang bisa saya bantu, Bu nyai,” ujar Rafan dengan sopan.

Bu nyai Hamdan tersenyum semringah. “Ada, Ustadz Rafan,” ucap Bu Nyai Hamdan.

“Saya memiliki keponakan yang baru saja lulus dari Cairo, Mesir. Dia lulusan terbaik dari jurusan Tafsir Al-Qur'an. Anaknya cantik dan sangat sopan. Niat saya, saya ingin menjodohkan kalian berdua,” ujar Bu Nyai tak absen dari senyuman lembutnya.

Rafan langsung dibuat sekaget-kagetnya. Alis dia naik sebelah. Entah itu kabar baik bagi dirinya atau bukan.

“Maaf Bu Nyai, tapi saya hanya lulusan kuliah kitab itupun dari universitas swasta Jakarta,” ujar Rafan.

“Itu tidak masalah, lagian saya lihat, kalian berdua sepertinya cocok. Sama-sama punya kebiasaan yang bagus, yaitu menghafal Al Qur'an,” ungkap Bu Nyai Hamdan dengan senyuman tulusnya.

“Dipikir-pikir dulu, jangan terlalu gegabah mengambil keputusan,” imbuh Bu Nyai Hamdan kembali. Lalu segera meninggalkan Rafan yang tengah mematung di depan meja resepsionis.

Suasana sepi disana semakin menambah kebingungan Rafan. “Dijodohkan? Lagi dan lagi,” celetuk Rafan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.

***

Hari ini bertepatan dengan kelulusan semua santri tingkatan madrasah Aliyah di pesantren As Salam. Baik santri putra maupun santri putri menepati ruang aula inti yang sangat luas.

“Kelulusan tingkat madrasah Aliyah, santri dan santriwati MA As Salam telah dimulai. Diharap semua yang telah hadir untuk fokus dengan keberlangsungan acara,” ucap seorang pembawa acara tersebut.

Semuanya tampak gembira dan juga dibalut rasa sedih. Bagaimana tidak, sudah tiga tahun mereka berkumpul dan setelah ini mereka akan berpisah untuk melanjutkan hidupnya masing-masing.

Hingga tiba di pembacaan para santri dan santriwati yang berprestasi. Kali ini tampak wajah-wajah penuh harap dari para santri.

“Santri terbaik pertama dari lulusan tahfidz Al Qur'an, dia dari kelas dua belas B- Danialah Muhafiza. Kepada saudari Muhafiza dipersilahkan ke depan podium,” panggil kedua pembawa acara dengan serempak.

Sorak selamat terlontar begitu keras. Riuh tepuk tangan terdengar ramai. Seorang perempuan dengan memakai toga kelulusan berjalan lurus ke depan.

“Selamat atas prestasi yang begitu membanggakan. Dan tentunya, ini salah satu prestasi dari sekian banyaknya prestasi yang telah kamu torehkan, Muhafiza,” ucap ustadzah Halimah yang merupakan ketua asrama putri.

Acara demi acara berlangsung dengan baik. Hingga sampai pada penutupan acara. Semua santri nampak terharu dengan pencapaian mereka sampai detik ini.

“Kakek,” panggil Rafan terkejut. Nampak kekek Ali tengah berada di hadapan Rafan secara tiba-tiba.

“Gimana acara hari ini Rafan?” tanya kakek Ali sambil celingak-celinguk seperti mencari keberadaan seseorang.

“Alhamdulillah lancar, kakek ngapain disini?” tanya Rafan dengan penuh penasaran.

“Kakek ingin memperkenalkan kamu dengan seseorang. Bapak Hamzah namanya, rekan kerja kakek,” ungkap kakek Ali sembari terus mencari keberadaan orang itu di sekitarnya.

“Ouh, mungkin masih di dalam kek, ayo kalau mau ke aula dalam, Kek,” ajak Rafan membawa kakek Ali ke dalam aula.

Banyak para lulusan yang tengah berfoto bersama untuk menyimpan kenangan mereka ke dalam album. Tak lupa juga banyak tamu yang datang sebab pesantren As Salam merupakan pesantren terbaik di daerah ibu kota.

Kakek Ali mengarah ke suatu perkumpulan. Kakek Ali segera menghampiri keramaian itu. Diikuti oleh Rafan di belakangnya.

“Hamzah, apa kabar?” Sapa kakek Ali langsung menyambut hangat laki-laki tua yang jauh lebih muda darinya.

“Masya Allah, Abah Ali, gimana Abah, sehat kah?” balas laki-laki itu dengan pelukan hangat.

“Alhamdulillah sangat sehat, ini Rafan- cucu pertamaku,” ungkap kakek Ali mengenalkan Rafan. Rafan pun langsung mencium tangan Hamzah.

“Ouh ini yang namanya Rafan, gagah ya seperti kakeknya!” puji Hamzah mengusap bahu Rafan. Rafan hanya tersenyum sopan dibuatnya.

“Kamu bisa saja, Hamzah,” celetuk kakek Ali.

Lalu mereka pun melanjutkan obrolannya. Rafan melihat sekilas pada perempuan di samping pak Hamzah. Perempuan itu sedari awal hanya menunduk malu. Sesekali berbicara dengan seorang perempuan yang sepertinya adalah ibunya.

“Rafan, perkenalkan ini putri saya. Anak saya satu-satunya, permata hati saya seutuhnya,” ungkap Hamzah memeluk sang putri yang hanya tersenyum malu.

Rafan menyapa perempuan itu sambil mengangguk. Dibalas dengan senyuman tipis oleh perempuan itu yang tak lama kembali menunduk.

“Ini yang kakek ceritakan pada kamu tempo hari yang lalu. Cucu tunggal dari Bayu, sahabat kakek dari lama,” ucap Kakek Ali begitu bangganya.

Rafan melirik sekilas pada kakek Ali. Dia nampak berpikir sesuatu tapi seakan lupa dengan kejadian kemarin yang dimaksud kakek Ali.

“Yang kakek jodohkan dengan kamu, Rafan. Namanya Muhafiza, santri putri lulusan terbaik di tahun ini, masa kamu tidak tahu?” imbuh kakek Ali memicingkan matanya pada sang cucu.

Refan langsung terkejut dibuatnya. “Cucu kakek Bayu? Lulusan terbaik? Hah, maksudnya gimana kek?” ucap Rafan dengan gelisah. Tangan Rafan sampai gemetar dibuatnya.

“Kamu jangan sok lupa, Rafan. Kakek sudah merencanakan ini dengan paman Hamzah. Mereka sangat menyetujui perjodohan kalian. Karena kalian akan menikah dalam waktu dekat!” ungkap kakek Ali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   5. Merahasiakan pernikahan

    Fiza keluar dari kamar mandi dengan kedua matanya yang sudah sembab. Tubuhnya menggigil kedinginan. Matanya memerah karena sedari tadi berendam air dingin.Rafan terlihat fokus dengan laptopnya. Bahkan dia tak menoleh saat tau kehadiran Fiza di kamar perempuan itu.Fiza langsung menuju ke kasurnya. Mengambil selimut lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia kembali menangis sejadi-jadinya di dalam selimut.Malam itu adalah malam tersakit baginya. Malam yang seharusnya penuh dengan bahagia. Namun bagi Fiza menjadi malam paling menyedihkan.“Saya mau ngomong serius. Kamu bisa bangun dulu,” pinta Rafan.Fiza mencoba menghapus jejak air matanya. Lalu membuka selimutnya. Terlihat Rafan duduk di meja belajar miliknya.“Maaf kalau ucapan saya tadi menyakitkan. Tapi saya juga tidak mau memaksakan perasaan. Tak ada yang tau takdir selanjutnya, tapi saya pengen untuk sekarang kita fokus pada kegiatan kita masing-masing. Sebentar lagi kamu juga kuliah kan?” tanya Rafan memastikan.Fiza m

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   4. Jadi menikah?

    Rafan menatap tajam ke Aya. Aya hanya tersenyum miring dibuatnya. “Maksudnya Ustadzah Aya apa ya?” tanya Rafan.Aya bersedekap dada. “Eem, gak ada sih ustadz. Cuma menyampaikan fakta saja,” ucap Aya sambil tersenyum kecil.Rafan mendekati Aya. Sehingga mereka tak terlalu jauh. “Kemarin, itu hanya rencana dari keluarga saya. Bukan berarti itu fakta. Dan saya menolak akan rencana itu,” ucap Rafan dengan jelasnya.“Ouh, oke oke, berarti saya salah paham ya,” ucap Aya menutup mulutnya. Hal itu membuat Rafan semakin kesal.“Waduh, sudah dong, kalian ini bahas apaan sih. Maaf ya ustadzah Aya,” ucap Rido dengan ramah.Lalu Aya meninggalkan mereka. Dan melewati Fiza yang berada di sebelah lemari berkas. Tatapan kesal begitu terpancar di wajah Aya ketika melewati Fiza di depannya.Fiza lalu kembali menatap ke arah Rafan. Sedari tadi dia mendengar semua perbincangan mereka. Dan tiba-tiba Rafan mendekati Fiza.“Kita harus segera bicara!” ajak Rafan. Fiza mengangguk dalam.Mereka berada di sudut

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   3. Saya sudah punya calon!

    “Bro, Lo ngelamun terus dari kemarin. Kalo ada masalah cerita bro,” ungkap seorang laki-laki memakai sarung dan kaos santai.“Diem,” sungut Rafan tak menampik ucapan sahabat dekatnya.“Yaelah, kebiasaan,” ucap Ridho- yang merupakan seorang ustadz. Dia juga sama-sama sedang mengajar di pesantren As Salam.Rafan terus fokus di depan laptop. Dia tak mengindahkan ucapan apapun dari Ridho. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya.“Semua berkas sudah saya kerjakan, ustadzah Halimah. Mungkin setelah ini ada yang bisa saya bantu,” tanya Rafan pada ustadzah Halimah yang tengah memberikan beberapa berkas lainnya.“Tidak ada ustadz, terima kasih ya,” kata Ustadzah Halimah.Rafan pun langsung meninggalkan ruangan itu. Saat berjalan di lorong dia bertemu dengan seseorang yang kelihatan tidak asing.“Ustadz Rafan,” sapa Aya tersenyum malu.Rafan segera menundukkan pandangannya. “Keponakan Bu nyai Hamdan?” tanya Rafan memastikan tebakannya.“Benar sekali. Namaku Aya Balqis, mungkin kita bisa menjadi tem

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   2. Dua wanita pilihan

    Rafan kembali terdiam. Mencoba untuk mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh sang kakek.“Tenang saja, Rafan. Kami juga tidak terburu-buru, lagipula Fiza baru saja lulus,” ujar Pak Hamzah sembari mengelus pundak Rafan.Rafan menatap pada perempuan di hadapannya. Perempuan itu terus saja menunduk. “Apa saudari Muhafiza setuju dengan perjodohan ini?” tanya Rafan begitu penasaran. Fiza langsung terperanjat menghadap ke arah Rafan. Pandangan mereka bertemu sepersekian detik. “Harusnya sih setuju, karena ini untuk kebaikan dirinya sendiri,” ucap Pak Hamzah memegang tangan sang putri.“Tapi, Abah,” celetuk Fiza. Akhirnya perempuan yang bernama Muhafiza itu membuka suaranya.Pak Hamzah tak bergeming. Dia kembali mengelus pundak sang putri dengan tatapan tulusnya. “Sudah-sudah, baiknya kita bicarakan masalah serius ini di tempat yang lebih kondusif, disini terlalu ramai,” ucap Kakek Ali dengan santainya.Mereka pun lalu meninggalkan pesantren As Salam. Dimana mereka memilih rumah makan ya

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   1. Perjodohan sepihak

    Plak!Satu tamparan mengenai wajah tampan lelaki muda itu. Semuanya terkejut dengan perlakuan kakek Ali terhadap cucu pertamanya.“Rafan, tak seharusnya kau menolak permintaan kakek hanya karena kau tak mencintai cucu tunggal sahabatku,” ucap Ali dengan wajah memanas.“Kek, ini sudah zaman modern. Perjodohan seharusnya sudah dihapuskan, sekarang kita harus memandang banyak hal. Bukan hanya karena perempuan itu cucu tunggal sahabat kakek,” tolak Rafan memegangi pipinya yang memerah.Plakk!!Satu tamparan itu mengenai sebelah pipi milik Rafan. Membuat lelaki itu diam mematung. “Ini bukan hanya tentang perjodohan, tapi ini adalah sebuah janji. Dan kakek adalah orang yang sangat komitmen dengan janji. Perjodohan ini harus tetap berjalan, dan kamu tak boleh menolaknya,” sungut kakek Ali. Lalu segera pergi meningggal tempat itu.Seketika suasana suram memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Menyisakan perih yang meradang. Seorang perempuan mendekati Rafan dengan wajah sendunya.“Nak, ik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status