เข้าสู่ระบบRafan kembali terdiam. Mencoba untuk mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh sang kakek.
“Tenang saja, Rafan. Kami juga tidak terburu-buru, lagipula Fiza baru saja lulus,” ujar Pak Hamzah sembari mengelus pundak Rafan. Rafan menatap pada perempuan di hadapannya. Perempuan itu terus saja menunduk. “Apa saudari Muhafiza setuju dengan perjodohan ini?” tanya Rafan begitu penasaran. Fiza langsung terperanjat menghadap ke arah Rafan. Pandangan mereka bertemu sepersekian detik. “Harusnya sih setuju, karena ini untuk kebaikan dirinya sendiri,” ucap Pak Hamzah memegang tangan sang putri. “Tapi, Abah,” celetuk Fiza. Akhirnya perempuan yang bernama Muhafiza itu membuka suaranya. Pak Hamzah tak bergeming. Dia kembali mengelus pundak sang putri dengan tatapan tulusnya. “Sudah-sudah, baiknya kita bicarakan masalah serius ini di tempat yang lebih kondusif, disini terlalu ramai,” ucap Kakek Ali dengan santainya. Mereka pun lalu meninggalkan pesantren As Salam. Dimana mereka memilih rumah makan yang tak jauh dari letak pesantren. Mereka ingin segera melanjutkan pembahasan yang tadinya tertunda. “Saya tau ini terlalu berat untuk dibahas. Apalagi ini pertemuan pertama kita. Tapi saya mau masalah ini jelas. Apa kamu mau kalau kita dijodohkan? Sementara kita saja belum kenal satu sama lain,” tanya Rafan langsung pada Fiza. Mereka berdua sengaja memisahkan diri dari perkumpulan keluarga. Karena mereka memang sengaja izin untuk berbincang berdua terlebih dahulu. Fiza menunduk sambil berpikir keras. Sebab ini bukan masalah sederhana. Tapi tujuan masa depan dan tentunya sebagai ibadah terpanjang. “Maaf sebelumnya, ustadz Rafan. Saya sebenarnya malah baru tau hari ini. Kalau saya akan dijodohkan dengan ustadz. Saya bingung mau menyikapi seperti apa. Sebab selama saya hidup, saya tidak pernah menolak permintaan orang tua,” jawab Fiza dengan pandangan kosong ke arah pembeli yang lain. “Saya juga bukan anak yang suka menolak permintaan orang tua. Tapi ini masalah hati dan kesiapan. Saya juga masih terlalu muda untuk membangun sebuah rumah tangga,” balas Rafan. Dia ikut termenung dibuatnya. Suasana siang itu begitu panas. Sama halnya dengan pembahasan Rafan dan Fiza. Keduanya saling menguatkan pemikiran masing-masing. *** Setelah kelulusan, para santri masih berada di pesantren. Mereka masih melanjutkan ngaji kitab di asrama. Dan seperti siang ini, Fiza tengah menemui para pengurus pesantren. “Muhafiza, akhirnya kamu datang juga,” ujar Ustadzah Halimah menyambut kehadiran Fiza. Fiza tersenyum begitu ramah. Menghampiri ketua dari asrama putri itu. “Maaf ustadzah, saya terlambat,” ucap Fiza dengan raut wajah yang berubah sedih. “Tak apa. Ini ustadz Rafan juga baru datang. Beliau yang akan mengurus berkas-berkas kamu untuk menuju perkuliahan di Universitas As Salam,” ucap ustadzah Halimah yang langsung membuat Fiza terkejut. Fiza melihat ke sekitar. Tatapannya bertemu dengan sosok itu lagi. Fiza langsung menunduk. “Ba- baik, ustadzah,” ucap Fiza menghampiri ustadzah Halimah dan duduk di depannya. “Ini ustadz Rafan, Muhafiza sudah datang. Maaf ya, saya harus pergi. Tiba-tiba ada tamu dari pengurus pesantren As Salam cabang dua. Saya diminta Bu nyai untuk menemuinya,” ucap ustadzah Halimah mengambil beberapa berkas di mejanya. Rafan berdiri. “Tapi ustadzah, saya disini laki-laki sendiri. Tentu tidak baik jika berduaan dengan santri putri,” ucap Rafan sambil melirik sekilas ke arah Fiza. Ustadzah Halimah menghela nafas sebentar. “Iya ya, ya sudah sebentar lagi saya suruh ustadz Rido untuk menemani ustadz Rafan ya,” ujar Ustadzah Halimah lalu langsung meninggalkan ruangan itu. Tak ada perbincangan antara keduanya. Saling terdiam dan fokus dengan kegiatan masing-masing. Sampai Rafan membuka suara. “Yakin mau ambil jurusan tata boga?” tanya Rafan fokus dengan laptop di depannya. “Iya ustadz, permintaan Abah. Soalnya nanti biar bisa urus usaha resto milik Abah,” jawab Fiza dengan mantab. Rafan mengangguk paham. Dia sesekali melirik ke arah gadis manis itu. Tatapannya sempat beradu. Namun seketika keduanya menunduk. “Masak itu kan bisa belajar secara otodidak, atau bisa ikut kursus,” imbuh Rafan kembali mencoba mencari topik. “Eem, iya ustadz bisa. Cuma udah permintaan dari Abah sendiri, jadi saya tidak bisa nolak. Saya tau diri sebagai anak,” ungkap Fiza tersenyum cemas. Rafan mengerutkan dahinya. Laptopnya langsung ditutup. “Oke, saya paham. Setelah saya berdiskusi beberapa hal sedari kemarin. Saya menyimpulkan, kalau kamu setuju dengan perjodohan kita?” tanya Rafan pada akhirnya. “Kalau masalah itu, saya nurut gimana baiknya kata Abah,” jawab Fiza kembali. “Kamu seperti perempuan yang tidak punya pendirian. Kamu sebenarnya bisa memberontak jika itu bukan keinginan kamu,” ujar Rafan terlihat kesal. Rafan sambil memainkan bolpoin dengan memutar-mutar bolpoin itu. Fiza semakin menunduk dalam. Wajahnya tampak cemas. “Saya percaya orang tua saya akan memberikan yang terbaik, ustadz. Bukan berarti saya tidak punya pendirian,” balas Fiza terlihat sedikit geram. “Ouh ya? Pendirian yang seperti apa ya? Yang seperti mengikuti semua kemauan orang tua padahal diri sendiri punya keinginan lain?” tanya Rafan. Dia langsung berdiri dan bersedekap dada. Keduanya semakin berdebat serius. Fiza mencoba tak menanggapi ucapan dari Rafan. Rafan tetap menatap Fiza dengan intens. “Saya harus segera pergi, ustadz,” pamit Fiza langsung meninggalkan ruangan itu. Rafan hanya menatap nanar kepergian perempuan yang akan dijodohkan dengannya. *** “Namanya Aya Balqis, perempuan keturunan Malaysia dan Indonesia- Sunda. Manis bukan?” tanya Bu nyai Hamdan pada Ustadzah Halimah. “Manis sekali,” ucap Ustadzah Halimah. Bu nyai Hamdan mengenalkan sosok keponakannya yang baru saja lulus dari Kairo. Perempuan itu tampak anggun dan sangat cantik. Perpaduan yang begitu sempurna. Kulitnya putih dan buku matanya begitu lentik. Kecantikannya begitu terpancar. “Tante, jadi mulai kapan aku bisa ngajar disini?” tanya Aya. “Kapan saja kamu bisa memulainya. Tapi sebelum itu, mari Tante kenalkan kamu pada sosok ustadz yang paling dikagumi di pesantren As Salam,” ucap Bu Nyai Hamdan mengajak sang keponakan. Aya tampak tersenyum semringah. Matanya seperti berbinar. Dia mengangguk lalu mengikuti Bu nyai Hamdan. Di tempat khusus kedatangan tamu dan wali santri. Sudah ada kakek Ali beserta keluarga Fiza. Mereka tengah menyambangi Fiza. Terlihat juga ustadz Rafan di tengah-tengah kedua keluarga itu. “Bu Nyai Hamdan,” Sapa Elvi. Mama dari Fiza. Semua berdiri menyapa Bu nyai Hamdan dengan senyuman. “Ustadz Rafan, perkenalkan ini Aya. Keponakan yang akan saya jodohkan dengan ustadz,” ucap Bu nyai Hamdan. Aya tampak malu-malu sambil menunduk dalam. Semua mata memandang. Wajah terkejut mereka begitu serempak. Saling melirik satu sama lain. Rafan terlihat bingung dibuatnya. “Bu Nyai, saya belum,...” ucap Rafan. “Rafan sudah saya jodohkan dengan Muhafiza, Bu Nyai,” ucap kakek Ali memotong ucapan Rafan. Semuanya semakin terkejut. Apalagi dengan Bu nyai Hamdan dan Aya. “Loh, sudah dijodohkan ya? Tapi ustadz Rafan belum memilih maunya dengan siapa kan,” ujar Bu nyai masih tersenyum ramah. “Sudah Bu nyai, mereka akan menikah dalam waktu dekat,” ucap pak Hamzah. Rafan semakin terkejut dibuatnya.Fiza keluar dari kamar mandi dengan kedua matanya yang sudah sembab. Tubuhnya menggigil kedinginan. Matanya memerah karena sedari tadi berendam air dingin.Rafan terlihat fokus dengan laptopnya. Bahkan dia tak menoleh saat tau kehadiran Fiza di kamar perempuan itu.Fiza langsung menuju ke kasurnya. Mengambil selimut lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia kembali menangis sejadi-jadinya di dalam selimut.Malam itu adalah malam tersakit baginya. Malam yang seharusnya penuh dengan bahagia. Namun bagi Fiza menjadi malam paling menyedihkan.“Saya mau ngomong serius. Kamu bisa bangun dulu,” pinta Rafan.Fiza mencoba menghapus jejak air matanya. Lalu membuka selimutnya. Terlihat Rafan duduk di meja belajar miliknya.“Maaf kalau ucapan saya tadi menyakitkan. Tapi saya juga tidak mau memaksakan perasaan. Tak ada yang tau takdir selanjutnya, tapi saya pengen untuk sekarang kita fokus pada kegiatan kita masing-masing. Sebentar lagi kamu juga kuliah kan?” tanya Rafan memastikan.Fiza m
Rafan menatap tajam ke Aya. Aya hanya tersenyum miring dibuatnya. “Maksudnya Ustadzah Aya apa ya?” tanya Rafan.Aya bersedekap dada. “Eem, gak ada sih ustadz. Cuma menyampaikan fakta saja,” ucap Aya sambil tersenyum kecil.Rafan mendekati Aya. Sehingga mereka tak terlalu jauh. “Kemarin, itu hanya rencana dari keluarga saya. Bukan berarti itu fakta. Dan saya menolak akan rencana itu,” ucap Rafan dengan jelasnya.“Ouh, oke oke, berarti saya salah paham ya,” ucap Aya menutup mulutnya. Hal itu membuat Rafan semakin kesal.“Waduh, sudah dong, kalian ini bahas apaan sih. Maaf ya ustadzah Aya,” ucap Rido dengan ramah.Lalu Aya meninggalkan mereka. Dan melewati Fiza yang berada di sebelah lemari berkas. Tatapan kesal begitu terpancar di wajah Aya ketika melewati Fiza di depannya.Fiza lalu kembali menatap ke arah Rafan. Sedari tadi dia mendengar semua perbincangan mereka. Dan tiba-tiba Rafan mendekati Fiza.“Kita harus segera bicara!” ajak Rafan. Fiza mengangguk dalam.Mereka berada di sudut
“Bro, Lo ngelamun terus dari kemarin. Kalo ada masalah cerita bro,” ungkap seorang laki-laki memakai sarung dan kaos santai.“Diem,” sungut Rafan tak menampik ucapan sahabat dekatnya.“Yaelah, kebiasaan,” ucap Ridho- yang merupakan seorang ustadz. Dia juga sama-sama sedang mengajar di pesantren As Salam.Rafan terus fokus di depan laptop. Dia tak mengindahkan ucapan apapun dari Ridho. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya.“Semua berkas sudah saya kerjakan, ustadzah Halimah. Mungkin setelah ini ada yang bisa saya bantu,” tanya Rafan pada ustadzah Halimah yang tengah memberikan beberapa berkas lainnya.“Tidak ada ustadz, terima kasih ya,” kata Ustadzah Halimah.Rafan pun langsung meninggalkan ruangan itu. Saat berjalan di lorong dia bertemu dengan seseorang yang kelihatan tidak asing.“Ustadz Rafan,” sapa Aya tersenyum malu.Rafan segera menundukkan pandangannya. “Keponakan Bu nyai Hamdan?” tanya Rafan memastikan tebakannya.“Benar sekali. Namaku Aya Balqis, mungkin kita bisa menjadi tem
Rafan kembali terdiam. Mencoba untuk mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh sang kakek.“Tenang saja, Rafan. Kami juga tidak terburu-buru, lagipula Fiza baru saja lulus,” ujar Pak Hamzah sembari mengelus pundak Rafan.Rafan menatap pada perempuan di hadapannya. Perempuan itu terus saja menunduk. “Apa saudari Muhafiza setuju dengan perjodohan ini?” tanya Rafan begitu penasaran. Fiza langsung terperanjat menghadap ke arah Rafan. Pandangan mereka bertemu sepersekian detik. “Harusnya sih setuju, karena ini untuk kebaikan dirinya sendiri,” ucap Pak Hamzah memegang tangan sang putri.“Tapi, Abah,” celetuk Fiza. Akhirnya perempuan yang bernama Muhafiza itu membuka suaranya.Pak Hamzah tak bergeming. Dia kembali mengelus pundak sang putri dengan tatapan tulusnya. “Sudah-sudah, baiknya kita bicarakan masalah serius ini di tempat yang lebih kondusif, disini terlalu ramai,” ucap Kakek Ali dengan santainya.Mereka pun lalu meninggalkan pesantren As Salam. Dimana mereka memilih rumah makan ya
Plak!Satu tamparan mengenai wajah tampan lelaki muda itu. Semuanya terkejut dengan perlakuan kakek Ali terhadap cucu pertamanya.“Rafan, tak seharusnya kau menolak permintaan kakek hanya karena kau tak mencintai cucu tunggal sahabatku,” ucap Ali dengan wajah memanas.“Kek, ini sudah zaman modern. Perjodohan seharusnya sudah dihapuskan, sekarang kita harus memandang banyak hal. Bukan hanya karena perempuan itu cucu tunggal sahabat kakek,” tolak Rafan memegangi pipinya yang memerah.Plakk!!Satu tamparan itu mengenai sebelah pipi milik Rafan. Membuat lelaki itu diam mematung. “Ini bukan hanya tentang perjodohan, tapi ini adalah sebuah janji. Dan kakek adalah orang yang sangat komitmen dengan janji. Perjodohan ini harus tetap berjalan, dan kamu tak boleh menolaknya,” sungut kakek Ali. Lalu segera pergi meningggal tempat itu.Seketika suasana suram memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Menyisakan perih yang meradang. Seorang perempuan mendekati Rafan dengan wajah sendunya.“Nak, ik







