Share

2. Dua wanita pilihan

Author: El Alfun27
last update publish date: 2026-02-02 21:33:01

Rafan kembali terdiam. Mencoba untuk mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh sang kakek.

“Tenang saja, Rafan. Kami juga tidak terburu-buru, lagipula Fiza baru saja lulus,” ujar Pak Hamzah sembari mengelus pundak Rafan.

Rafan menatap pada perempuan di hadapannya. Perempuan itu terus saja menunduk. “Apa saudari Muhafiza setuju dengan perjodohan ini?” tanya Rafan begitu penasaran.

Fiza langsung terperanjat menghadap ke arah Rafan. Pandangan mereka bertemu sepersekian detik. “Harusnya sih setuju, karena ini untuk kebaikan dirinya sendiri,” ucap Pak Hamzah memegang tangan sang putri.

“Tapi, Abah,” celetuk Fiza. Akhirnya perempuan yang bernama Muhafiza itu membuka suaranya.

Pak Hamzah tak bergeming. Dia kembali mengelus pundak sang putri dengan tatapan tulusnya. “Sudah-sudah, baiknya kita bicarakan masalah serius ini di tempat yang lebih kondusif, disini terlalu ramai,” ucap Kakek Ali dengan santainya.

Mereka pun lalu meninggalkan pesantren As Salam. Dimana mereka memilih rumah makan yang tak jauh dari letak pesantren. Mereka ingin segera melanjutkan pembahasan yang tadinya tertunda.

“Saya tau ini terlalu berat untuk dibahas. Apalagi ini pertemuan pertama kita. Tapi saya mau masalah ini jelas. Apa kamu mau kalau kita dijodohkan? Sementara kita saja belum kenal satu sama lain,” tanya Rafan langsung pada Fiza.

Mereka berdua sengaja memisahkan diri dari perkumpulan keluarga. Karena mereka memang sengaja izin untuk berbincang berdua terlebih dahulu.

Fiza menunduk sambil berpikir keras. Sebab ini bukan masalah sederhana. Tapi tujuan masa depan dan tentunya sebagai ibadah terpanjang.

“Maaf sebelumnya, ustadz Rafan. Saya sebenarnya malah baru tau hari ini. Kalau saya akan dijodohkan dengan ustadz. Saya bingung mau menyikapi seperti apa. Sebab selama saya hidup, saya tidak pernah menolak permintaan orang tua,” jawab Fiza dengan pandangan kosong ke arah pembeli yang lain.

“Saya juga bukan anak yang suka menolak permintaan orang tua. Tapi ini masalah hati dan kesiapan. Saya juga masih terlalu muda untuk membangun sebuah rumah tangga,” balas Rafan. Dia ikut termenung dibuatnya.

Suasana siang itu begitu panas. Sama halnya dengan pembahasan Rafan dan Fiza. Keduanya saling menguatkan pemikiran masing-masing.

***

Setelah kelulusan, para santri masih berada di pesantren. Mereka masih melanjutkan ngaji kitab di asrama. Dan seperti siang ini, Fiza tengah menemui para pengurus pesantren.

“Muhafiza, akhirnya kamu datang juga,” ujar Ustadzah Halimah menyambut kehadiran Fiza.

Fiza tersenyum begitu ramah. Menghampiri ketua dari asrama putri itu. “Maaf ustadzah, saya terlambat,” ucap Fiza dengan raut wajah yang berubah sedih.

“Tak apa. Ini ustadz Rafan juga baru datang. Beliau yang akan mengurus berkas-berkas kamu untuk menuju perkuliahan di Universitas As Salam,” ucap ustadzah Halimah yang langsung membuat Fiza terkejut.

Fiza melihat ke sekitar. Tatapannya bertemu dengan sosok itu lagi. Fiza langsung menunduk. “Ba- baik, ustadzah,” ucap Fiza menghampiri ustadzah Halimah dan duduk di depannya.

“Ini ustadz Rafan, Muhafiza sudah datang. Maaf ya, saya harus pergi. Tiba-tiba ada tamu dari pengurus pesantren As Salam cabang dua. Saya diminta Bu nyai untuk menemuinya,” ucap ustadzah Halimah mengambil beberapa berkas di mejanya.

Rafan berdiri. “Tapi ustadzah, saya disini laki-laki sendiri. Tentu tidak baik jika berduaan dengan santri putri,” ucap Rafan sambil melirik sekilas ke arah Fiza.

Ustadzah Halimah menghela nafas sebentar. “Iya ya, ya sudah sebentar lagi saya suruh ustadz Rido untuk menemani ustadz Rafan ya,” ujar Ustadzah Halimah lalu langsung meninggalkan ruangan itu.

Tak ada perbincangan antara keduanya. Saling terdiam dan fokus dengan kegiatan masing-masing. Sampai Rafan membuka suara.

“Yakin mau ambil jurusan tata boga?” tanya Rafan fokus dengan laptop di depannya.

“Iya ustadz, permintaan Abah. Soalnya nanti biar bisa urus usaha resto milik Abah,” jawab Fiza dengan mantab.

Rafan mengangguk paham. Dia sesekali melirik ke arah gadis manis itu. Tatapannya sempat beradu. Namun seketika keduanya menunduk.

“Masak itu kan bisa belajar secara otodidak, atau bisa ikut kursus,” imbuh Rafan kembali mencoba mencari topik.

“Eem, iya ustadz bisa. Cuma udah permintaan dari Abah sendiri, jadi saya tidak bisa nolak. Saya tau diri sebagai anak,” ungkap Fiza tersenyum cemas.

Rafan mengerutkan dahinya. Laptopnya langsung ditutup. “Oke, saya paham. Setelah saya berdiskusi beberapa hal sedari kemarin. Saya menyimpulkan, kalau kamu setuju dengan perjodohan kita?” tanya Rafan pada akhirnya.

“Kalau masalah itu, saya nurut gimana baiknya kata Abah,” jawab Fiza kembali.

“Kamu seperti perempuan yang tidak punya pendirian. Kamu sebenarnya bisa memberontak jika itu bukan keinginan kamu,” ujar Rafan terlihat kesal. Rafan sambil memainkan bolpoin dengan memutar-mutar bolpoin itu.

Fiza semakin menunduk dalam. Wajahnya tampak cemas. “Saya percaya orang tua saya akan memberikan yang terbaik, ustadz. Bukan berarti saya tidak punya pendirian,” balas Fiza terlihat sedikit geram.

“Ouh ya? Pendirian yang seperti apa ya? Yang seperti mengikuti semua kemauan orang tua padahal diri sendiri punya keinginan lain?” tanya Rafan. Dia langsung berdiri dan bersedekap dada.

Keduanya semakin berdebat serius. Fiza mencoba tak menanggapi ucapan dari Rafan. Rafan tetap menatap Fiza dengan intens.

“Saya harus segera pergi, ustadz,” pamit Fiza langsung meninggalkan ruangan itu.

Rafan hanya menatap nanar kepergian perempuan yang akan dijodohkan dengannya.

***

“Namanya Aya Balqis, perempuan keturunan Malaysia dan Indonesia- Sunda. Manis bukan?” tanya Bu nyai Hamdan pada Ustadzah Halimah.

“Manis sekali,” ucap Ustadzah Halimah.

Bu nyai Hamdan mengenalkan sosok keponakannya yang baru saja lulus dari Kairo. Perempuan itu tampak anggun dan sangat cantik.

Perpaduan yang begitu sempurna. Kulitnya putih dan buku matanya begitu lentik. Kecantikannya begitu terpancar.

“Tante, jadi mulai kapan aku bisa ngajar disini?” tanya Aya.

“Kapan saja kamu bisa memulainya. Tapi sebelum itu, mari Tante kenalkan kamu pada sosok ustadz yang paling dikagumi di pesantren As Salam,” ucap Bu Nyai Hamdan mengajak sang keponakan.

Aya tampak tersenyum semringah. Matanya seperti berbinar. Dia mengangguk lalu mengikuti Bu nyai Hamdan.

Di tempat khusus kedatangan tamu dan wali santri. Sudah ada kakek Ali beserta keluarga Fiza. Mereka tengah menyambangi Fiza. Terlihat juga ustadz Rafan di tengah-tengah kedua keluarga itu.

“Bu Nyai Hamdan,” Sapa Elvi. Mama dari Fiza. Semua berdiri menyapa Bu nyai Hamdan dengan senyuman.

“Ustadz Rafan, perkenalkan ini Aya. Keponakan yang akan saya jodohkan dengan ustadz,” ucap Bu nyai Hamdan. Aya tampak malu-malu sambil menunduk dalam.

Semua mata memandang. Wajah terkejut mereka begitu serempak. Saling melirik satu sama lain. Rafan terlihat bingung dibuatnya.

“Bu Nyai, saya belum,...” ucap Rafan.

“Rafan sudah saya jodohkan dengan Muhafiza, Bu Nyai,” ucap kakek Ali memotong ucapan Rafan.

Semuanya semakin terkejut. Apalagi dengan Bu nyai Hamdan dan Aya. “Loh, sudah dijodohkan ya? Tapi ustadz Rafan belum memilih maunya dengan siapa kan,” ujar Bu nyai masih tersenyum ramah.

“Sudah Bu nyai, mereka akan menikah dalam waktu dekat,” ucap pak Hamzah. Rafan semakin terkejut dibuatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   39

    Clara mendekati Tasya, tatapannya sinis mengarah ke arah Delvan. Namun Delvan terlihat biasa saja, malah Tasya yang sedang ketar ketir di tatap tidak enak oleh sahabatnya."Ra …" gumam Tasya bingung meneruskan kalimatnya."Kan gue udah bilang, kalau si badboy Cap Badak ini bahaya. Dia gak bisa jamin keselamatan Lo." Tegur Clara bersedekah dada. Tak ingin duduk di sebelah Tasya."Gue jamin, sahabat Lo bakal aman sama gue. Percaya sama gue Lo, Ra." Papar Delvan menolah ke arah belakang, menatap Clara sekilah. Mencoba mengembalikan kembali Clara."Pegangan ya, mau ngebut nih." Ucap Delvan, mengambil kesempatan dalam kesempitan.Tasya yang gemas dengan ucapan Delvan langsung mencubit pelan perut Delvan. "Sengaja ya?" Tebak Tasya namun dengan menuruti permintaan Delvan.Motor Delvan melaju dengan setengah cepat, merasakan kebersamaan untuk yang ke berapa kalinya. Karena sejak resmi berpacaran dengan Tasya, Delvan terasa tak meluangkan cukup waktu untuk sang kekasih."Gue ganteng ya? Sampai

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   38

    Tasya memasuki kelas saat pelajaran ke dua. Untung guru yang mengajar belum datang, jadi Tasya langsung menduduki kursinya."Lo baru dateng?" Tanya Clara mendongak menatap Tasya.Keadaan kelas masih belum hening, karena guru yang mengajar juga belum datang. Teman-teman Tasya juga ada yang berjalan, bercerita, bahkan ada yang bermain game bagi kaum para adam."Lan, Lo cupu banget. Nyesel gue satu tim sama Lo. Mending sama bos Delvan atau Vano, Lo mah gak ada apa-apanya." Celetuk Azri memutar matanya dengan malas saat dirinya kalah lagi untuk kesekian kalinya.Dylan melotot tajam kepada Azri, menggusur rambut Azri dengan kasar. "Lo tuh yang cupu, sesama cupu jangan menghina Lo Zri. Belagu banget Lo." Sebal dengan sindiran keras dari sang teman lakna*t itu. "Lo tadi kenapa gak ikut upacara, pelajaran pertama juga gak ikut?" Tanya Delvan duduk di bangku kosong depan Tasya duduk.Tasya mendongak, menatap Delvan. " Gue tadi telat, jadi waktu jam pertama gue dihukum sama anggota OSIS." Tera

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   37

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   36

    "Apa maksudnya tadi Mas? Kenapa Mas Abi bisa kenal dengan Jihan. Atau jangan-jangan wanita yang mas Abi maksud adalah Jihan." Ucap Layla dengan nada bergetar sayu."Ya sudah, ayo dilanjutkan lagi makan nya, nanti keburu dingin." Ucap Abidzar kepada Layla dengan maksud mengalihkan topik agar Layla tidak lagi penasaran."Iya, Mas." Ucap Layla patuh. Abidzar termenung sebentar, mungkin yang dikatakan dengan Layla ada benarnya. Tidak salah juga kalau mereka sholat berjamaah bersama. Jadi dia mengubah rencana yang awalnya akan sholat sendirian."Iya, boleh. Masuk aja, pintunya gak dikunci, kok." Ucap Abidzar mengizinkan.Akhirnya mereka melaksanakan sholat jamaah Maghrib bersama. Setelah selesai sholat mereka berdzikir bersama. Hingga sampai selesai sholat."Mas, aku mau salim boleh nggak?" Layla bertanya kepada Abi."Maaf Layla, aku punya wudhu, sebentar lagi juga adzan isya, aku malas yang mau ambil wudhu lagi. Aku langsung berangkat ke masjid aja ya, biar gak telat lagi" Ucap Abidzar b

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   35

    Seorang perempuan itu termenung, menikmati angin sepoi sambil membaca sebuah novel kesayangan nya. Di taman itu, dia ingin berteman dengan alam. Sinar mentari pun sangat cerah, menerobos daun-daun yang sudah kering. Berturunan saat terdapat angin menghembus nya.Tasya terlihat sangat cantik, posenya yang begitu manis. Dari depan sangat imut, bahkan dari samping pun sngat anggun. Tasya membuka selembar demi lembar bacaan novelnya.Waktu istirahat, dia habiskan untuk bertenang. Hubungan nya dengan Delvan sering kali pasang surut, ini yang sebenarnya Tasya takuti. Sikap Delvan yang temperamental, membuatnya harus memilki stok kesabaran yang banyak.Tasya memang sedang membaca novel, namun pikiran nya selalu tertuju kepada laki-laki badboy itu. Terkadang sebuah mitos, itu benar adanya. Namun Tasya masih tetap berusaha untuk mengingat kebaikan Delvan, yang terkadang membuatnya luluh kembali."Gue kira Lo kemana? Di kantin gak ada." Ucap seorang laki-laki, yang suaranya sangat familiar di t

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   34

    "Beneran ya Kak? Mama gak mau sekolah kamu terganggu saja kalau sambil pacaran. Mama mau kamu sukses dulu." Kalimat sederhana dari sang Mama, untuk anaknya.***"Sebentar Pak, tinggal sedikit lagi." Jawab Delvan, pandangan nya tetap fokus pada soal-soal di depannya."Ya sudah, dilanjut." Pak Bambang lalu mendekati satu per satu siswa siswi nya, yang juga sedang mengerjakan lewat buku latihan nya."Kalian ini, seharusnya mencontoh Delvan. Biarpun dia itu tukang adu jotos, sering tawuran tapi otaknya itu encer. Tanya sama Delvan, pasti dia setiap hari selalu belajar yang giat."Pak Bambang memperingati, selalu memuji Delvan di depan murid yang lain. Sedang Delvan tak ada tanggapan, masih terlalu fokus dan berambisi untuk menyelesaikan semua tugas yang ada."Woahh, ajarin dong bang Delvan. Gimana tuh cara belajar yang giat, tiap malam lagi." Azri menatap geli Delvan, dia yang sangat tau karakter Delvan yang malas untuk belajar.Semua teman kelas menahan tawa, seolah menyindir Delvan. Az

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   23

    Satu sekolah sedang digencarkan dengan terlihatnya Gisel yang dipanggil bersama kedua orang tuanya ke sekolah. Bagaimana bisa seorang Gisel yang sangat terkenal itu.Kecantikannya yang tak terkalahkan, dan juga salah satu kalangan dari orang kaya di sekolah SMA Taruna Bhakti. Namun hari ini harus d

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   17

    Ana mondar mandir di lorong kelas. Pasalnya semua mata kuliah hari ini sudah dilaksanakan. Tapi dia masih kebingungan di area kelasnya. Seorang laki-laki berkacamata kembali mendekati.“Hai, Alana!” sapa laki-laki itu dengan tersenyum tenang. Tampilan dia begitu rapi daripada sebelumnya.“Iya, Defa

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   19

    Clara terdiam, tanpa sengaja membuka suatu kenyataan yang tak ingin dia tampakkan. "Bukan apa-apa kok." Jawab Clara berbohong.Tasya menggeleng lemah, lantas memaksa Clara untuk berbicara jujur. "Kenapa Ra, kenapa?" Tanya Tasya lagi, belum puas dengan jawaban Clara.Sedangkan ketiga laki-laki itu h

  • Pernikahan Rahasia Ustadz Rafan   18.

    Satu sekolah sedang digencarkan dengan terlihatnya Gisel yang dipanggil bersama kedua orang tuanya ke sekolah. Bagaimana bisa seorang Gisel yang sangat terkenal itu.Kecantikannya yang tak terkalahkan, dan juga salah satu kalangan dari orang kaya di sekolah SMA Taruna Bhakti. Namun hari ini harus d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status