แชร์

Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal
Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal
ผู้แต่ง: Aira Tsuraya

Bab 1 Sebuah Perjodohan

ผู้เขียน: Aira Tsuraya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-18 11:00:17

Elowen Lysandra mengerat bibir sambil meremas perut, menahan sakit dan mual di sana. Setahunya ia tidak makan apa pun, tapi mengapa sepagi ini perutnya bergolak tak karuan.

“Putri, apa Anda baik-baik saja?” tanya salah satu dayang.

Wanita cantik itu terdiam sambil menyeka bibir. Seketika dayangnya mendekat dan membantu Elowen duduk. Wajahnya putih pucat terlihat berkilauan ditimpa mentari pagi yang menerobos melalui jendela kamar.

Rambut keemasannya yang dikepang longgar terjuntai menghiasi wajah ayunya. Begitu sempurna memantulkan ciptaan sang Dewa.

“Aku baik saja. Ada apa?”

Wanita muda, salah satu dayang Elowen itu kini terdiam. Wajahnya terlihat tegang sambil terus memilin tangan.

Mata Elowen menyipit menatapnya penuh curiga. Ia tahu apa maksud dari gestur tubuh dayangnya kali ini.

“Sudah diputuskan, Putri.”

Elowen menghela napas pelan. Ia sudah tahu sebelum kata-kata itu diucapkan.

Ia akan dinikahkan.

Bukan dengan pangeran negeri sahabat, bukan pula dengan bangsawan muda penuh pujian.

Melainkan dengan satu nama yang membuat istana menahan napas setiap kali disebut.

Kael Dravion Aurelian.

Jenderal kekaisaran. Keponakan kesayangan Kaisar. Calon penerus takhta yang tak pernah tersenyum. Dan, menurut rumor, seorang pria yang menyimpang.

Kael Dravion adalah pedang kekaisaran. Dingin, presisi, tak mengenal belas kasihan di medan perang. Ia memenangkan peperangan seolah itu sekadar perhitungan angka, bukan pertumpahan darah. Para prajurit memujanya, musuh gemetar menyebut namanya, namun istana … membencinya dalam diam.

Terlalu kuat. Terlalu tak tersentuh. Terlalu sulit dikendalikan.

Maka mereka menciptakan bisikan, bahwa Kael menolak wanita. Bahwa ia dingin terhadap sentuhan. Bahwa ada sesuatu yang salah dengannya, sesuatu yang tak pantas menjadi kaisar.

“Putri, apa Anda menerimanya?”

Elowen berdiri, berjalan menuju jendela kamar. Matanya kosong memandang taman yang diselimuti kabut pagi. Gaun putih gadingnya jatuh sederhana, nyaris terlalu polos untuk seorang putri bangsawan.

“Apa aku punya kuasa untuk menolak?” ucapnya seperti berbicara sendiri.

Tidak ada jawaban dari sang Dayang. Ia terdiam menatap punggung Elowen.

Sementara Elowen hanya berdiri mematung bagai patung dewa di kuil yang biasa ia puja. Keanggunan tersirat dari dirinya. Kelembutan terlihat dari tatapannya, tapi tanpa ada yang tahu ia sedang menyimpan duka.

Menyimpan sakit yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun. Bahkan rasanya tabu untuk membicarakan hal ini. Apalagi untuk seorang Putri Elowen Lysandra dari Asterra.

Ingin rasanya Elowen mendelete kejadian sebulan sebelumnya. Ia ingin menghapus satu masa itu dan membuangnya tak bersisa. Saat seorang pria bejad tak bertanggung jawab dengan sadis merenggut keperawanannya. Menghancurkan kebanggaannya sebagai seorang wanita.

Lalu dua hari yang lalu, Elowen baru sadar jika sudah ada napas baru berhembus dalam rahimnya. Ini aib. Ini memalukan, apa jadinya jika keluarganya tahu.

Yang pasti hamil tanpa suami adalah bencana dan kutukan bagi keluarganya. Status bangsawan dan kedudukan ayahnya sebagai penguasa Asterra akan dicabut. Tidak hanya itu saja, hukuman cambuk dan bahkan lebih menyeramkan jika harus digantung di alun-alun kota karena aib ini.

“Putri.”

Panggilan sang Dayang membuyarkan lamunan Elowen. Ia menoleh dan menatap dayang kesayangannya dengan teduh.

“Anda harus bersiap, enam jam dari sekarang Jenderal Kael akan datang menemui Anda.”

Elowen tertegun tak bereaksi. Ini sudah biasa terjadi pada tradisi di negerinya. Siapa saja yang sudah dijodohkan akan dipertemukan untuk kemudian dinikahkan keesokan harinya. Mau tidak mau Elowen harus menemuinya.

“Saya akan bantu Anda bersiap.”

Tidak ada penolakan juga tidak ada jawaban. Hanya tatapan kosong dari mata hijau yang memikat itu.

Beberapa jam kemudian tampak Elowen Lysandra melangkah menyusuri lorong batu kastil dengan langkah terukur. Setiap tapaknya ringan, nyaris tak bersuara, namun pikirannya bergerak cepat. Ia tahu, pertemuan ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah awal dari ikatan yang tidak ia pilih, tapi harus ia menangkan.

Ruang audiensi kecil di sayap barat jarang digunakan. Terlalu dekat dengan barak, terlalu jauh dari kemewahan aula utama. Tempat itu dipilih bukan tanpa alasan.

Di sanalah Kael Dravion Aurelian menunggu.

Elowen berhenti di ambang pintu ketika melihatnya pertama kali.

Jenderal itu berdiri membelakangi jendela tinggi, siluetnya dipotong cahaya sore yang dingin. Seragam hitamnya sederhana, tanpa hiasan berlebihan, namun setiap garisnya tegas. Pedang kekaisaran tergantung di pinggangnya, bukan sebagai ancaman, melainkan pernyataan. Ia tidak pernah datang tanpa kesiapan untuk bertempur.

Kael tidak menoleh ketika pintu ditutup di belakang Elowen.

Ia tidak memberi salam. Tidak pula menundukkan kepala.

Sikap itu saja sudah cukup membuat banyak bangsawan tersinggung. Namun Elowen tidak bereaksi. Ia hanya melangkah maju, berhenti pada jarak yang sopan, lalu menundukkan kepala sedikit, cukup untuk menjaga martabat, tidak cukup untuk merendahkan diri.

“Aku Putri Elowen Lysandra,” ucapnya lembut, “terima kasih telah bersedia menemuiku, Jenderal.”

Hening.

Beberapa detik berlalu sebelum Kael akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, dingin, seperti medan perang sebelum darah pertama tertumpah. Mata itu tidak menunjukkan rasa ingin tahu, tidak pula penolakan, hanya kewaspadaan.

“Aku tahu siapa dirimu,” katanya singkat.

Suaranya rendah, datar, tanpa emosi yang bisa ditangkap. Bukan kasar, tapi sama sekali tidak berusaha menyenangkan.

Elowen mengangguk pelan. “Maka izinkan aku langsung pada tujuanku.”

Kael mengangkat alis tipis. Gerakan kecil, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak mengharapkan keberanian semacam itu.

“Pernikahan ini,” lanjut Elowen, menatap lurus ke arahnya, “bukan kehendak kita. Namun istana menginginkannya.”

Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat.

Kael menatapnya lama. Terlalu lama bagi seorang pria yang dikatakan tidak tertarik pada wanita. Tatapan itu bukan penuh hasrat, melainkan analisis. Seolah Elowen adalah peta perang yang harus dibaca dengan hati-hati.

“Apakah kau menerimanya?” tanyanya akhirnya.

Elowen tersenyum kecil. Senyum yang lembut, namun tidak goyah.

“Apa Jenderal mengizinkan saya untuk menolak?”

Bukannya menjawab pertanyaan Kael, Elowen malah balik bertanya. Mata Kael berbinar dengan sebuah senyum miring tercetak di wajahnya. Sekilas tangan Kael memegang gagang pedang seolah bersiap menarik pedang dari sarungnya kapan saja.

Kemudian dengan dingin, Kael bersuara, “Kamu tahu konsekuensi penolakanmu, Putri. Mati ditanganku atau digantung di alun-alun kota!”

  

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Sweet Mina
Hmm... berarti gak boleh nolak ini, ya
goodnovel comment avatar
khava
Waduh, baru pertama ketemu sudah diancam gini. Bener2 nih jenderal
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 272 Bahagia Selamanya

    Kael masih berdiri menatap kapal yang membawa Vertex berlayar. Angin laut musim dingin menerpa wajah Kael. Sebuah senyuman terus terukir di wajah tampannya. Ia tidak menduga semua kejadian dalam hidupnya saling terhubung. “Apa Yang Mulia masih ingin bertahan di sini?” Sebuah suara lembut membuyarkan lamunan Kael. Ia menoleh dan melihat Elowen mendekat ke arahnya bersama Eryndor dalam gendongannya. “Ayo, kita pulang!!” Kael merengkuh Elowen dan meminta Eryndor dari gendongannya. Bocah kecil itu selalu kegirangan setiap berada dalam pelukan ayahnya. “Apa kita jadi ke Asterra?” tanya Elowen begitu kereta sudah bergerak. Kael mengangguk. “Ya. Kita akan ke Asterra.” Perjalanan menuju Asterra tidak memakan waktu lama. Hanya beberapa jam saja. Meski demikian, sepanjang perjalanan, wajah Elowen terlihat jauh lebih hidup dibanding biasanya. Ia terus memandangi pemandangan di luar jendela kereta. Hutan bersalju, perbukitan. Dan jalan-jalan lama yang dulu pernah ia lewati bersama ayahnya.

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 271 Kaisar Kael Dravion Aurelian

    BUGH!! Tubuh Lucan kembali terpental di atas salju. Darah hitam memenuhi sudut bibirnya sementara suara teriakan massa terus menggema di telinganya. “Dasar sampah!” “Pencuri!” “Bunuh saja dia!” Lucan mencoba bangkit. Tangannya gemetar menopang tubuhnya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan dinginnya ketakutan yang benar-benar nyata. Kabur. Ia harus kabur. Namun penglihatannya semakin gelap. Racun itu terus menggerogoti tubuhnya dari dalam. Lucan terhuyung meninggalkan kerumunan saat badai salju mulai turun semakin deras. Orang-orang perlahan berhenti mengejarnya karena takut cuaca malam itu makin memburuk. Sementara itu Lucan terus berjalan tanpa arah. Satu langkah. Dua langkah. Hingga akhirnya tubuhnya roboh di tengah hamparan salju putih. BRUK!! Napasnya memburu. Tubuhnya mulai membeku perlahan. Lucan tertawa lirih. Matanya menatap langit gelap Valtoria. Seumur hidup, ia selalu berhasil lolos dari maut. Selalu menjadi orang yang mempermainkan manusi

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 270 Akhir Tragis Lucan

    Lucan masih tersenyum puas setelah menghabiskan anggur terakhirnya. Tubuhnya bersandar santai di kepala ranjang sambil memandangi api lilin yang bergoyang pelan.“Lumayan juga keramahan lelaki tua itu,” gumamnya pelan.Namun beberapa detik kemudian, kening Lucan berkerut.“Hm?”Perutnya terasa panas. Bukan rasa kenyang. Bukan pula efek alkohol. Seperti ada sesuatu yang membakar organ dalamnya perlahan.Lucan langsung duduk tegak. Napasnya mulai berat. Tatapan matanya menajam penuh kewaspadaan.“... Racun?”Tubuhnya mendadak limbung. Segelas anggur di tangannya jatuh pecah ke lantai.Lucan mencengkeram meja kuat-kuat sambil menahan gejolak aneh di dalam tubuhnya. Pembuluh darah di lehernya perlahan menghitam.“Kurang ajar...!”Ia segera merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan beberapa pil penawar racun. Tanpa ragu, Lucan menelannya sekaligus.Namun—

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 269 Makan Malam Terakhir

    Semua orang tertegun. Kael mengernyit menatap Elowen.“Apa?”Elowen meringis pelan sambil menahan sakit di tangannya yang berdarah.“Obat dewa yang asli tidak ada di dalam kotak itu.”Remus membelalakkan mata.“Lalu yang dibawa Lucan—”“Hanya ramuan tidur biasa.” Elowen menarik napas pelan. “Aku sudah menggantinya sebelum dia masuk kamar.”Hening sesaat menyelimuti halaman istana. Kemudian—“Hah!” Remus langsung tertawa keras. “Bagus sekali!”Vertex sampai menggeleng tidak percaya.“Bahkan di situasi seperti itu Anda masih sempat memikirkan jebakan?”Elowen tersenyum tipis meski wajahnya pucat.“Saya sudah curiga sejak Remus mengatakan Lucan terlihat di istana.”Kael menatap istrinya lama. Campuran lega, marah, dan kagum memenuhi dadanya. Wanita ini benar-benar membuat jantungnya hampir berhenti. Kael segera mengangkat tubuh Elowen ke dalam pelukannya.“Kau terluka.”“Hanya goresan kecil.”“Ini bukan kecil.”Tatapan Kael jatuh pada darah di tangan dan leher Elowen. Rahangnya langsung m

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 268 Obat Dewa

    BRAK!!Pintu kamar tertutup kemudian langsung dikunci dari dalam. Seorang pengawal tersenyum menyeringai sambil membuka topinya. Sepasang mata seperti mata iblis menatap Elowen dengan tajam.“Senang bertemu dengan Anda, Putri Elowen,” sapa sosok itu yang tak lain Lucan.Elowen hanya diam memandang pria di depannya tanpa rasa takut sedikit pun.“Tidak saya duga, ternyata Anda memang sangat cantik. Pantas saja Kael tidak mau secepat itu mati.”Sebuah senyum tipis tersungging di Elowen.“Jadi … Anda Tuan Lucan?”Lucan tersenyum sambil membungkukkan badan sekilas.“Benar sekali.”“Anda yang meracuni suami saya juga Kaisar Vorentis dan Alaric.”Lucan berjalan mendekat sambil menggosok kedua tangannya.“Tepat, Putri. Suatu kebanggaan bisa menunjukkan karya indah saya pada mereka semua.”“Karya?”“Elowen

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 267 Penyamaran Lucan

    Keadaan istana semakin sibuk menjelang siang.Para pelayan mondar-mandir membawa kain, bunga, dan makanan. Prajurit berjaga lebih ketat dari biasanya. Aula utama bahkan mulai dihias untuk menyambut kepulangan Kael dan para petinggi perang.Di tengah kehiruk-pikukan itu, Lucan berjalan tenang bersama rombongan tabib Tanah Utara. Jubah abu-abunya menutupi tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya sedikit ditutupi kain dan rambutnya sengaja dibuat berantakan seperti tabib pengelana.Tatapan matanya menyapu setiap sudut istana.Ia mendengar percakapan beberapa tabib di dekat lorong.“Aku dengar Yang Mulia Kael hampir mati karena racun bunga cabang lima.”“Benar. Untung ada ramuan milik Putri Elowen.”“Katanya hanya wanita itu yang tahu cara menetralisir racun tersebut.”Langkah Lucan perlahan terhenti. Sorot matanya langsung berubah tajam.“Ramuan?” gumamnya pelan.Jadi dugaann

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status