LOGINElowen terdiam, menelan ludah beberapa kali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi ketenangan terlihat jelas di wajahnya.
Elowen mengangkat dagu, menatap pria berwajah dingin di depannya. Tatapannya selembut sebelumnya, terlihat rapuh namun mematikan.
“Saya menerimanya.”
Tidak ada reaksi signifikan dari Kael. Bahkan Elowen melihat tangan Kael masih menggenggam gagang pedang seolah masih ada kondisi waspada yang sedang ia hadapi.
Tubuh Kael yang lebih tinggi terlihat tegak dan tidak sedikit pun membungkuk hanya sekedar untuk membalas tatapan Elowen.
“Bagus!! Persiapkan dirimu untuk pernikahan besok.”
Sama seperti tadi suara Kael terdengar dingin. Elowen hanya mengangguk dengan wajah yang menunduk.
Selanjutnya Kael sudah berlalu pergi membawa aura dingin tubuhnya berangsur menghilang. Elowen masih berdiri mematung di posisinya, bergeming tanpa suara.
Apa jadinya jika Kael tahu dengan kondisi dirinya?
Ia sudah kehilangan keperawanannya, bahkan sedang mengandung benih pria tak bernama. Apa mungkin Elowen menyembunyikannya? Lalu sampai kapan?
Baru hendak menolak saja, Kael sudah bersiap membunuhnya. Apalagi saat tahu Elowen hamil benih pria lain. Ini bukan pernikahan, tapi peperangan baru yang akan dihadapi Elowen.
“Putri!”
Sebuah panggilan membuyarkan lamunan Elowen. Dayang setianya sedang berdiri menatap dengan sendu ke arahnya.
“Anda baik-baik saja?”
Sepertinya dayang kesayangan ini melihat dari jauh pertemuannya dengan Kael tadi. Dari jarak berdiri mereka saja sudah dapat dilihat betapa pria itu tidak menyukai wanita. Sepertinya rumor yang beredar soal Kael memang benar. Pria itu tidak tertarik kepada wanita.
“Iya. Ayo, kita bersiap untuk pernikahan besok.”
Elowen berjalan melangkah lebih dulu. Ringan penuh percaya diri, seolah ia yakin bisa menghadapi kenyataan di depannya yang seperti jurang menganga.
Kabar pertunangan antara Putri Elowen Lysandra dan Jenderal Kael Dravion Aurelian menyebar lebih cepat daripada api di ladang kering. Di aula perjamuan, di lorong marmer, bahkan di kuil tempat para pendeta berdoa, nama mereka disebut dengan nada yang sama. Terkejut, takut, dan sinis.
“Putri yang terlalu lembut…”
“Jenderal yang tidak normal…”
“Pasangan sempurna untuk dijatuhkan bersama.”
Semua menyayangkan Elowen. Putri lembut yang harus bersanding dengan jenderal dingin penuh rumor penyimpangan. Tidak ada satu pun yang tahu, Elowen juga menyimpan rahasia kelam yang bisa menyeret nama keluarga hancur lebur.
Elowen berdiri diam menatap pantulan bayangnya di dalam cermin. Wajah putihnya begitu sempurna dalam riasan sederhana yang elegan. Rambut keemasannya tersanggul rapi dengan sebuah mahkota kecil menghias di atasnya.
Gaun putih tulang menjuntai hingga ke lantai begitu anggun ia kenakan. Semua begitu sempurna, begitu indah. Namun, banyak noda dan aib yang sedang ia tutupi.
“Elowen … .”
Suara berat penuh dengan tekanan terdengar menyeruak di belakang Elowen. Seorang pria paruh baya dengan wajah seputih kapas berdiri tegak dalam balutan baju kebesarannya.
Tuan Regent Morvain menatap Elowen dengan sendu. Mata coklat pria paruh baya itu berbinar dengan sedikit bulir air di sudutnya.
“Aku baik-baik saja, Ayah.”
Ucapan Elowen serta merta keluar seolah menguatkan hati Tuan Regent. Pria paruh baya itu berjalan mendekat kemudian langsung memeluk Elowen.
“Maafkan Ayah, Elowen. Ayah tidak bisa menolak titah Kaisar.”
Elowen tersenyum sambil menatap wajah lelah pria di depannya. Ia tahu konsekuensi penolakannya. Kehilangan jabatan dan juga mati di tangan Kael.
“Aku tahu, Ayah.”
Tuan Regent melepas pelukannya, menatap Elowen sekali lagi. Kemudian tak berapa lama sudah berjalan keluar dengan Elowen di sampingnya.
Tangan Elowen mencengkram erat lengan ayahnya seolah tak mau melepaskan. Namun, ini bukan saatnya untuk menangis dan sembunyi di balik kuasa sang Ayah. Ini saatnya Elowen menentukan hidupnya, bertahan untuk hidup lama atau tewas dalam pedang sang Jenderal.
Elowen berdiri di sisi kaisar dalam pertemuan resmi pertama mereka sebagai pasangan yang diumumkan. Aula utama dipenuhi bangsawan dengan senyum palsu dan mata penuh perhitungan.
Kael berdiri di sampingnya, tinggi dan tak tergoyahkan, seragam militernya rapi seperti biasanya. Ia tidak menyentuh Elowen. Tidak menggenggam tangannya. Jarak kecil di antara mereka cukup untuk memberi makan rumor.
Namun Elowen mengerti, jarak itu adalah perlindungan.
“Kekaisaran,” suara Kaisar Vorentis Altheryn Aurelian menggema berat, “hari ini aku mengumumkan ikatan yang akan menguatkan darah dan pedang istana ini.”
Beberapa bangsawan bertepuk tangan. Yang lain menunduk, menyembunyikan ketidaksenangan.
Senyum dingin terukir di wajah Kael, berbanding terbalik dengan senyum yang ditampilkan Elowen. Namun, ini bukan saatnya membandingkan sesuatu. Mereka sudah diikat dalam pernikahan dan sudah selayaknya sejalan searah.
Entah berapa lama pesta berlangsung, yang pasti Elowen sangat kelelahan. Meski banyak rumor penyimpangan Kael, tapi Kaisar Vorentis tidak mengizinkan pesta biasa untuk keponakan kesayangannya.
Alhasil baru menjelang tengah malam, pesta berakhir. Elowen sudah berada di dalam kamar. Duduk diam di atas kasur sambil memperhatikan sekitar.
Kamar ini begitu luas, sarat dengan kekuasaan dan kemegahan. Bahkan kastil tempatnya tinggal tidak ada apa-apanya dibanding ini.
“Putri, saya tinggal dulu.”
Sapaan salah satu dayang membuyarkan lamunan Elowen. Wanita cantik bermata hijau itu mengangguk sambil memperhatikan dayangnya berlalu pergi. Kemudian ia terdiam menatap dirinya.
Sebuah gaun tidur terbuat dari sutra dengan warna pink menggoda melekat di tubuhnya. Dayangnya yang menyiapkan semua ini. Bahkan dayangnya juga yang mendadaninya secantik ini.
Rambut keemasannya terjuntai turun menutupi sebagian dada sintalnya. Sejak kehamilannya dimulai, Elowen merasakan perubahan pada fisiknya. Termasuk dadanya yang semakin berisi.
“Apa yang terjadi selanjutnya?” gumam Elowen.
Ia melihat pintu, berharap pintu itu tersegel selamanya, hingga tidak mengizinkan siapa pun masuk ke kamar, termasuk Kael.
Namun, permintaannya terlalu berlebihan. Perlahan pintu terbuka. Tubuh tinggi menjulang dengan langkah dingin mendekat hingga berdiri diam di depannya.
Elowen mendongak membuat mata mereka bertemu. Kael dengan tatapan sedingin salju dan tanpa ekspresi sedang berdiri tegak di depannya.
“Saya sudah siap, Jenderal.”
Tidak ada reaksi dari Kael. Ia hanya mematung, menatap Elowen tanpa kedip. Seolah Elowen sebuah lukisan yang sedang ia nikmati.
“Apa yang kamu harapkan dariku, Putri? Sebuah kehangatan di malam pengantin?”
Tiba-tiba Kael bersuara. Terdengar dingin dan sinis seperti biasanya.
“Aku tidak membutuhkan kehangatan.”
Mata Kael melebar menatap Elowen semakin tajam. Perlahan ia merunduk hingga wajah mereka saling bertatapan satu sama lain.
“Lalu … apa yang kamu inginkan? Jangan bilang, kamu ingin menjadi penolongku. Penutup rumor yang menimpaku.”
Mata Elowen mengerjap beberapa kali dengan kepala yang menggeleng.
“Anda salah sangka pada saya, Jenderal.”
“Salah sangka? Baik, mari kita buktikan kebenaran rumor itu. Buka bajumu dan puaskan aku malam ini!”
Menjelang sore, Alaric pulang. Ia langsung menemui Roxana di kamarnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi sebuah senyuman tersungging di rautnya saat melihat wajah Roxana. “Apa kabar si Kecil hari ini?” tanya Alaric lembut. Ia duduk di dekat Roxana sambil mengecup keningnya. Roxana tersenyum membalas perlakuannya. “Si Kecil baik. Ya ... meskipun aku sedikit teler sepanjang hari ini.” Alaric terdiam. Mata kecilnya tampak mengawasi Roxana dan memperhatikannya penuh cinta. “Apa aku perlu panggil Tabib Lucanus atau Bibi Julia?” Roxana menggeleng. “Tidak. Tidak perlu. Aku rasa jawaban mereka pasti sama. Lagipula Tabib Lucanus sudah memberiku obat.” Alaric tersenyum, tangannya meraih tangan Roxana dan mengelusnya lembut. “Lalu kamu ingin aku melakukan apa?” Roxana terdiam sesaat, kemudian menoleh ke Alaric s
Minerva menahan napas sambil membekap mulutnya. Ia takut mulutnya bersuara keras karena terkejut. Kalau sudah begitu, ia pasti dalam bahaya. “Anda yakin, Pangeran?” tanya suara yang lain. “Tentu saja aku yakin. Kalau tidak, untuk apa kalian kukumpulkan di sini? Sudah saatnya Valtoria tahu siapa sebenarnya Kael." “Ia hanya bajingan yang menginginkan takhta dan akan melakukan apa pun dengan segala cara untuk mendapatkannya.” Suara Alaric terdengar dingin dan penuh kebencian, seolah yang sedang berbicara itu bukan Alaric. Minerva hanya diam sambil mengelus dadanya. “Apa jadinya jika Putri Roxana tahu soal ini?” batinnya. “Baik. Jika demikian, kami akan berpihak pada Anda, Pangeran. Memang seharusnya yang layak naik takhta adalah Anda. Putra kandung Kaisar Vorentis, bukan Jenderal Kael.” Sebuah suara kembali terdengar dan terkesan penuh pujia
"Livia, sepertinya Ayah tidak berhasil menyakinkan semua anggota senat. Kalau sudah begini, Ayah yakin rencana kita tidak akan berhasil,” ucap Tuan Tiberon.Usai berdebat sengit di dalam tadi, beberapa tamu sudah berpamitan pulang. Terlebih mereka yang tidak sepemikiran dengan Tuan Tiberon dan Livia. Hanya beberapa yang tinggal.Kali ini Tuan Tiberon sudah menemui putrinya yang meninggalkan ruangan lebih dulu tadi.Livia tersenyum mendengar ucapan ayahnya. Ayahnya sudah melalang buana di dunia politik. Kepiawaiannya membujuk lawan sudah diakui, tapi khusus kali ini ia kalah telak dengan pembela Kael sejati.“Ayah tenang saja. Aku sudah memikirkan cara lain. Yang penting, rencana kita harus berjalan dengan baik.”“Mencabut gelar Kael, menghukum atas kebohongannya dan mengangkat Alaric menjadi pewaris takhta.”Tuan Tiberon terdiam. Entah mengapa wajahnya menunjukkan kegelisahan. Livia memperhatikan dengan saksama.“Apa lagi yang Ayah risaukan kini?”Tua
"Apa yang Anda ingin hamba lakukan, Jenderal?” tanya Neil pagi itu.Mengawali hari Kael sudah memanggil Neil ke ruangannya. Ia tidak bisa tidur tenang semalaman memikirkan perubahan sikap Alaric. Kael yakin ada sesuatu yang telah terjadi hingga membuat Alaric berubah.“Aku ingin kamu menyelidiki Alaric.”Neil terdiam, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan.“Maksud Anda Pangeran Alaric, Jenderal?”Kael mengangguk. “Memangnya ada berapa Alaric di istana ini?”Neil terdiam sambil menganggukkan kepala. Hal yang sangat aneh ketika Kael tiba-tiba memintanya menyelidiki Alaric. Memangnya apa yang sedang terjadi saat ini?“Aku ingin tahu siapa yang ia temui belakangan ini. Aku juga ingin tahu apa yang sedang ia kerjakan? Kalau perlu kamu juga memantau Roxana.”Neil terlihat terkejut kembali. Alisnya mengernyit dengan wajah yang terlihat bingung. Kael menghela napas memperhatikan reaksi Neil.“Aku hanya ingin tahu apa Roxana juga mengenal orang i
Kaisar Vorentis hanya diam sambil menatap Alaric tanpa kedip. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan putranya saat ini. Sedangkan Alaric berdiri di depannya menantang tanpa rasa hormat sedikit pun. Sikap yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Alaric. “Kenapa ayah diam saya? Kenapa tidak bisa menjawab?” sergah Alaric dengan berapi-api. Helaan napas perlahan keluar dar bibir Kaisar Vorentis. Pria paruh baya itu terdiam dengan bahu yang naik turun. Tatapannya tajam seperti tatapan bijak seorang penguasa bukan tatapan seorang Ayah yang penuh kesedihan. “Siapa yang menyuruhmu berkata seperti itu, Alaric?” Bukannya menjawab permintaan Alaric, Kaisar Vorentis malah balik bertanya. Tentu saja Alaric marah mendengarnya. “Tidak ada yang menyuruhku. Aku melakukannya atas kesadaranku sendiri. Kebodohan yang telah lama aku simpan atas semua ketidak adilan sikap Ayah padaku.” Kaisar berdecak, mengge
“Apa katamu? Hamil?” ulang Alaric memastikan.Roxana tersenyum sambil menganggukkan kepala seraya mengelus perut ratanya. Alaric tertegun melihatnya tanpa kedip. Beberapa kali jakunnya bergerak naik turun menelan saliva. Wajahnya masih terlihat terkejut.“Aku ucapkan selamat untukmu, Alaric, Roxana.”Kael sudah bersuara memecah keheningan itu. Alaric menoleh ke arahnya dan mengangguk datar. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.“Roxana sudah diperiksa Tabib Lucanus dan katanya ia tengah hamil dua minggu. Cukup rentan dan butuh perawatan ekstra. Itu juga sebabnya, Bibi anjurkan Roxana dan kamu tinggal di sini.”Julia mengambil alih pembicaraan dan langsung dijawab dengan gelengan kepala Alaric.“Tidak. Tidak. Roxana punya istana sendiri dan aku tidak mau jika ia harus tinggal di sini bersama ---“Alaric menggantung kalimatnya, tapi tatapannya sudah mengarah ke Elowen. Semua yang ada di sana memperhatikan sikap Alaric. E







