Share

Bab 2 Pernikahan Politik

Penulis: Aira Tsuraya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 12:00:52

Elowen terdiam, menelan ludah beberapa kali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi ketenangan terlihat jelas di wajahnya.

Elowen mengangkat dagu, menatap pria berwajah dingin di depannya. Tatapannya selembut sebelumnya, terlihat rapuh namun mematikan.

“Saya menerimanya.”

Tidak ada reaksi signifikan dari Kael. Bahkan Elowen melihat tangan Kael masih menggenggam gagang pedang seolah masih ada kondisi waspada yang sedang ia hadapi.

Tubuh Kael yang lebih tinggi terlihat tegak dan tidak sedikit pun membungkuk hanya sekedar untuk membalas tatapan Elowen.

“Bagus!! Persiapkan dirimu untuk pernikahan besok.”

Sama seperti tadi suara Kael terdengar dingin. Elowen hanya mengangguk dengan wajah yang menunduk.

Selanjutnya Kael sudah berlalu pergi membawa aura dingin tubuhnya berangsur menghilang. Elowen masih berdiri mematung di posisinya, bergeming tanpa suara.

Apa jadinya jika Kael tahu dengan kondisi dirinya?

Ia sudah kehilangan keperawanannya, bahkan sedang mengandung benih pria tak bernama. Apa mungkin Elowen menyembunyikannya? Lalu sampai kapan?

Baru hendak menolak saja, Kael sudah bersiap membunuhnya. Apalagi saat tahu Elowen hamil benih pria lain. Ini bukan pernikahan, tapi peperangan baru yang akan dihadapi Elowen.

“Putri!”

Sebuah panggilan membuyarkan lamunan Elowen. Dayang setianya sedang berdiri menatap dengan sendu ke arahnya.

“Anda baik-baik saja?”

Sepertinya dayang kesayangan ini melihat dari jauh pertemuannya dengan Kael tadi. Dari jarak berdiri mereka saja sudah dapat dilihat betapa pria itu tidak menyukai wanita. Sepertinya rumor yang beredar soal Kael memang benar. Pria itu tidak tertarik kepada wanita.

“Iya. Ayo, kita bersiap untuk pernikahan besok.”

Elowen berjalan melangkah lebih dulu. Ringan penuh percaya diri, seolah ia yakin bisa menghadapi kenyataan di depannya yang seperti jurang menganga.

Kabar pertunangan antara Putri Elowen Lysandra dan Jenderal Kael Dravion Aurelian menyebar lebih cepat daripada api di ladang kering. Di aula perjamuan, di lorong marmer, bahkan di kuil tempat para pendeta berdoa, nama mereka disebut dengan nada yang sama. Terkejut, takut, dan sinis.

“Putri yang terlalu lembut…”

“Jenderal yang tidak normal…”

“Pasangan sempurna untuk dijatuhkan bersama.”

Semua menyayangkan Elowen. Putri lembut yang harus bersanding dengan jenderal dingin penuh rumor penyimpangan. Tidak ada satu pun yang tahu, Elowen juga menyimpan rahasia kelam yang bisa menyeret nama keluarga hancur lebur.

Elowen berdiri diam menatap pantulan bayangnya di dalam cermin. Wajah putihnya begitu sempurna dalam riasan sederhana yang elegan. Rambut keemasannya tersanggul rapi dengan sebuah mahkota kecil menghias di atasnya.

Gaun putih tulang menjuntai hingga ke lantai begitu anggun ia kenakan. Semua begitu sempurna, begitu indah. Namun, banyak noda dan aib yang sedang ia tutupi.

“Elowen … .”

Suara berat penuh dengan tekanan terdengar menyeruak di belakang Elowen. Seorang pria paruh baya dengan wajah seputih kapas berdiri tegak dalam balutan baju kebesarannya.

Tuan Regent Morvain menatap Elowen dengan sendu. Mata coklat pria paruh baya itu berbinar dengan sedikit bulir air di sudutnya.

“Aku baik-baik saja, Ayah.”

Ucapan Elowen serta merta keluar seolah menguatkan hati Tuan Regent. Pria paruh baya itu berjalan mendekat kemudian langsung memeluk Elowen.

“Maafkan Ayah, Elowen. Ayah tidak bisa menolak titah Kaisar.”

Elowen tersenyum sambil menatap wajah lelah pria di depannya. Ia tahu konsekuensi penolakannya. Kehilangan jabatan dan juga mati di tangan Kael.

“Aku tahu, Ayah.”

Tuan Regent melepas pelukannya, menatap Elowen sekali lagi. Kemudian tak berapa lama sudah berjalan keluar dengan Elowen di sampingnya.

Tangan Elowen mencengkram erat lengan ayahnya seolah tak mau melepaskan. Namun, ini bukan saatnya untuk menangis dan sembunyi di balik kuasa sang Ayah. Ini saatnya Elowen menentukan hidupnya, bertahan untuk hidup lama atau tewas dalam pedang sang Jenderal.

Elowen berdiri di sisi kaisar dalam pertemuan resmi pertama mereka sebagai pasangan yang diumumkan. Aula utama dipenuhi bangsawan dengan senyum palsu dan mata penuh perhitungan.

Kael berdiri di sampingnya, tinggi dan tak tergoyahkan, seragam militernya rapi seperti biasanya. Ia tidak menyentuh Elowen. Tidak menggenggam tangannya. Jarak kecil di antara mereka cukup untuk memberi makan rumor.

Namun Elowen mengerti, jarak itu adalah perlindungan.

“Kekaisaran,” suara Kaisar Vorentis Altheryn Aurelian menggema berat, “hari ini aku mengumumkan ikatan yang akan menguatkan darah dan pedang istana ini.”

Beberapa bangsawan bertepuk tangan. Yang lain menunduk, menyembunyikan ketidaksenangan.

Senyum dingin terukir di wajah Kael, berbanding terbalik dengan senyum yang ditampilkan Elowen. Namun, ini bukan saatnya membandingkan sesuatu. Mereka sudah diikat dalam pernikahan dan sudah selayaknya sejalan searah.

Entah berapa lama pesta berlangsung, yang pasti Elowen sangat kelelahan. Meski banyak rumor penyimpangan Kael, tapi Kaisar Vorentis tidak mengizinkan pesta biasa untuk keponakan kesayangannya.

Alhasil baru menjelang tengah malam, pesta berakhir. Elowen sudah berada di dalam kamar. Duduk diam di atas kasur sambil memperhatikan sekitar.

Kamar ini begitu luas, sarat dengan kekuasaan dan kemegahan. Bahkan kastil tempatnya tinggal tidak ada apa-apanya dibanding ini.

“Putri, saya tinggal dulu.”

Sapaan salah satu dayang membuyarkan lamunan Elowen. Wanita cantik bermata hijau itu mengangguk sambil memperhatikan dayangnya berlalu pergi. Kemudian ia terdiam menatap dirinya.

Sebuah gaun tidur terbuat dari sutra dengan warna pink menggoda melekat di tubuhnya. Dayangnya yang menyiapkan semua ini. Bahkan dayangnya juga yang mendadaninya secantik ini.

Rambut keemasannya terjuntai turun menutupi sebagian dada sintalnya. Sejak kehamilannya dimulai, Elowen merasakan perubahan pada fisiknya. Termasuk dadanya yang semakin berisi.

“Apa yang terjadi selanjutnya?” gumam Elowen.

Ia melihat pintu, berharap pintu itu tersegel selamanya, hingga tidak mengizinkan siapa pun masuk ke kamar, termasuk Kael.

Namun, permintaannya terlalu berlebihan. Perlahan pintu terbuka. Tubuh tinggi menjulang dengan langkah dingin mendekat hingga berdiri diam di depannya.

Elowen mendongak membuat mata mereka bertemu. Kael dengan tatapan sedingin salju dan tanpa ekspresi sedang berdiri tegak di depannya.

“Saya sudah siap, Jenderal.”

Tidak ada reaksi dari Kael. Ia hanya mematung, menatap Elowen tanpa kedip. Seolah Elowen sebuah lukisan yang sedang ia nikmati.

“Apa yang kamu harapkan dariku, Putri? Sebuah kehangatan di malam pengantin?”

Tiba-tiba Kael bersuara. Terdengar dingin dan sinis seperti biasanya.

“Aku tidak membutuhkan kehangatan.”

Mata Kael melebar menatap Elowen semakin tajam. Perlahan ia merunduk hingga wajah mereka saling bertatapan satu sama lain.

“Lalu … apa yang kamu inginkan? Jangan bilang, kamu ingin menjadi penolongku. Penutup rumor yang menimpaku.”

Mata Elowen mengerjap beberapa kali dengan kepala yang menggeleng.

“Anda salah sangka pada saya, Jenderal.”

“Salah sangka? Baik, mari kita buktikan kebenaran rumor itu. Buka bajumu dan puaskan aku malam ini!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 6 Berita Bahagia?

    “Putri sepertinya kelelahan usai menempuh perjalanan jauh, Jenderal,” urai tabib istana.Setelah Kael membawa Elowen keluar dari aula utama, Raja Calleb memerintahkan tabib istana untuk memeriksa kesehatan Elowen.“Setelah istirahat sejenak, pasti akan kembali pulih,” imbuhnya.Kael hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia melirik ajudannya. Seolah paham apa maksud tatapan Kael, sang Ajudan langsung mengantar tabib istana keluar ruangan.Kael hanya diam menatap Elowen yang masih berbaring lemah. Kemudian tanpa sadar Kael menatap kedua tangannya. Sekelebat bayangan saat dia menggendong Elowen keluar dari aula utama terputar di benaknya.Kael mendengkus kasar. “Apa yang aku lakukan tadi?”Selanjutnya tanpa suara ia sudah berlalu pergi, keluar dari kamar Elowen.Entah berapa lama Elowen terlelap, yang pasti saat ia terjaga ada aroma enak menusuk hidungnya. Pelan Elowen membuka mata dan melihat seorang dayang sedang tersenyum menatap ke arahnya.“Akhirnya Anda siuman, Putr

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 5 Luruhnya Rumor

    Tidak ada penolakan, juga tidak ada kesedihan terlihat di wajah Elowen. Dengan anggun, wanita cantik itu memutar tubuhnya dan berlalu pergi. Rambut keemasannya berterbangan tertiup angin dengan gaun biru mudanya yang berkelebatan.Dua insan berdiri saling membelakangi dan berjalan menjauh ke dua arah berbeda. Sinar mentari pagi membentuk bayangan mereka memanjang dan menjauh dengan dramatis.Alaric yang melihat dari kejauhan hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala.“Hmm … Kael. Sampai kapan kamu seperti ini?” gumam Alaric.Sejak hari itu, mereka tidur terpisah. Kael menempati kamarnya dan Elowen tetap berada di kamarnya. Mereka hanya bertemu saat makan pagi dan makan malam saja. Selanjutnya keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing.Elowen sama sekali tidak keberatan dengan hal ini. Setiap hari ia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Istana memiliki perpustakaan terlengkap. Tentu saja ini bagai surga untuk Elowen yang kutu buku.Pagi itu seperti biasa, Elowen

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 4 Sebuah Penolakan

    Tidak ada kata yang terucap dari Kael, tapi tatapan dingin pria itu sudah mewakili pedang di pinggangnya. Sementara Elowen hanya membisu dengan jantung berdentum.Ia tidak pernah mendengar rumor soal ini. Setahu Elowen, Pangeran Alaric sudah dijodohkan dengan putri negeri tetangga. Bukan dirinya.Alaric mengalihkan pandangan, menoleh ke Elowen kemudian berganti ke Kael. Hening untuk beberapa saat.Hingga tiba-tiba tawa Alaric pecah menggema mengisi kesunyian ruang makan itu.“Astaga, Kael! Kamu tegang sekali. Aku hanya bercanda tadi.”Kael hanya diam, sama seperti tadi. Tidak ada senyuman juga tidak ada tawa yang menemani gelak Alaric.Alaric menghentikan tawanya, menatap Elowen sambil menundukkan kepala.“Maafkan aku, Putri. Aku hanya bercanda. Mana berani aku merebut kamu dari Kael. Bisa-bisa kepalaku putus.”Elowen tersenyum samar sambil melirik Kael yang duduk di depannya. Namun, sepertinya tidak ada reaksi apa pun dari pria dingin itu.Tanpa suara, Kael langsung berdiri dan berla

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 3 Kedatangan Rival

    Mata Elowen melebar, bibirnya membeku dengan gestur tubuh yang menegang. Kemudian tanpa diminta kejadian malam kelam sebulan lalu berkelebatan di benaknya.Saat sosok tak bernama tiba-tiba menyergap, menarik dirinya, melecehkannya habis-habisan hingga Elowen kehilangan mahkotanya.Buru-buru Elowen menunduk, menghindar dari mata dingin yang menusuk dadanya. Ia tahu apa tugasnya sebagai istri di malam pertama. Namun, kejadian malam itu menyisakan trauma dan membuat Elowen menderita.“Kamu tidak mendengar perintahku, Putri?”Suara Kael menggema, memenuhi seisi kamar dan sontak membuat Elowen mengangguk.Perlahan jemari Elowen bergerak membuka ikatan bajunya. Tangannya gemetar, jantungnya berdetak semakin kencang dengan napas yang mulai tersengal.Sementara Kael hanya diam bagai patung memperhatikannya tanpa kedip. Apa ini yang dibilang pria tanpa hasrat pada wanita? Apa dia yang dibilang pria dengan penyimpangan seksual? Pencinta sesama jenis.Namun, nyatanya ia seperti binatang buas yan

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 2 Pernikahan Politik

    Elowen terdiam, menelan ludah beberapa kali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tapi ketenangan terlihat jelas di wajahnya.Elowen mengangkat dagu, menatap pria berwajah dingin di depannya. Tatapannya selembut sebelumnya, terlihat rapuh namun mematikan.“Saya menerimanya.”Tidak ada reaksi signifikan dari Kael. Bahkan Elowen melihat tangan Kael masih menggenggam gagang pedang seolah masih ada kondisi waspada yang sedang ia hadapi.Tubuh Kael yang lebih tinggi terlihat tegak dan tidak sedikit pun membungkuk hanya sekedar untuk membalas tatapan Elowen.“Bagus!! Persiapkan dirimu untuk pernikahan besok.”Sama seperti tadi suara Kael terdengar dingin. Elowen hanya mengangguk dengan wajah yang menunduk.Selanjutnya Kael sudah berlalu pergi membawa aura dingin tubuhnya berangsur menghilang. Elowen masih berdiri mematung di posisinya, bergeming tanpa suara.Apa jadinya jika Kael tahu dengan kondisi dirinya?Ia sudah kehilangan keperawanannya, bahkan sedang mengandung benih pria t

  • Pernikahan Skandal dengan Sang Jenderal   Bab 1 Sebuah Perjodohan

    Elowen Lysandra mengerat bibir sambil meremas perut, menahan sakit dan mual di sana. Setahunya ia tidak makan apa pun, tapi mengapa sepagi ini perutnya bergolak tak karuan.“Putri, apa Anda baik-baik saja?” tanya salah satu dayang.Wanita cantik itu terdiam sambil menyeka bibir. Seketika dayangnya mendekat dan membantu Elowen duduk. Wajahnya putih pucat terlihat berkilauan ditimpa mentari pagi yang menerobos melalui jendela kamar.Rambut keemasannya yang dikepang longgar terjuntai menghiasi wajah ayunya. Begitu sempurna memantulkan ciptaan sang Dewa.“Aku baik saja. Ada apa?”Wanita muda, salah satu dayang Elowen itu kini terdiam. Wajahnya terlihat tegang sambil terus memilin tangan.Mata Elowen menyipit menatapnya penuh curiga. Ia tahu apa maksud dari gestur tubuh dayangnya kali ini.“Sudah diputuskan, Putri.”Elowen menghela napas pelan. Ia sudah tahu sebelum kata-kata itu diucapkan.Ia akan dinikahkan.Bukan dengan pangeran negeri sahabat, bukan pula dengan bangsawan muda penuh puj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status