Mag-log inDua
** Aku menatap layar ponsel dengan kecewa. Tadi, sebelum pergi ngantor dia bilang akan segera menghubungi begitu sampai. Tapi, mana? Jangankan menghubungi, ponselnya saja mati! Aku menghela nafas panjang, semua perlakuan manisnya semalam tentu saja hanya karena dia menginginkan adanya anak. Bukan karena tertarik padaku! Tak terasa air mata menetes. Aku rindu, seolah tak bisa jauh darinya. Sentuhan semalam, seakan meninggalkan jejak yang begitu mendalam. Aku teringat, tadi pagi Mbak Aura menelpon. Pasti wanita itu sekarang sedang mendominasi Mas Arfan, bisa saja mereka tengah bercinta. Sial! Itu jelas hak mereka! Mereka suami istri yang sah, berbeda dengan aku. Aku disembunyikan, tak punya status yang jelas. Aku tersenyum getir, lalu tertawa akan kebodohan hidup yang terasa tak ada habisnya ini! Kupandangi ranjang yang tampak jauh lebih rapi, di atas kasur ini semalam. Semua seakan banyak perubahan, aku merasakan ada yang lain. Tapi, apa? Notif pada ponsel membuatku tersadar. Tak sabar aku melihatnya, siapa tahu dari Mas Arfan. Damn! Ternyata bukan. Netraku hampir saja keluar dari tempatnya. Sebuah foto yang membuat hatiku remuk, terpampang begitu nyata. "Sekarang giliran aku, Nay. Suamiku manja banget, kita udah berulang kali melakukannya. Tapi, dia nggak puas-puas. Sampai ketiduran gitu." Tanganku mengepal kuat. Maksud Mbak Aura apa dengan mengirimkan foto dan kata-kata begitu? Dia ingin membuatku cemburu? "Kalian semalam melakukannya berapa kali, Nay? Aku ingin tahu." Lagi, dia mengirimkan sebuah chat. "Lakukan berulang kali, Nay. Biar kamu cepat hamil, dan setelah itu pergilah dari hidup kami!" Aku meneguk ludah. Baru juga semalam, Mbak Aura udah nggak sabaran banget. Dikira bikin adonan bakwan kali ya?! "Tapi, kata Mas Arfan. Malam ini dia nggak ke sini, Mbak." "Loh, kenapa?" "Dia ingin menemani Mbak Aura." "Tidak perlu, aku sudah sering bersamanya. Kamu yang seharusnya dekat dengan dia, pancing terus biar tujuan kita segera sampai. Dandan yang cantik dan seksi, malam ini dia milikmu." Aku menghela nafas. Ada senyum yang tak bisa kusembunyikan, tentu saja. Aku akan memakai lingerie pemberian darimu, Mbak Aura. Aku berharap, aku sanggup saat tak lagi diinginkan. Aku mengelus perut yang masih kosong, maaf jika suatu hari nanti, Mama harus meninggalkanmu, Nak. Kurasa malam masih panjang. Kuputuskan untuk keluar Apartemen, sekadar ke Supermarket untuk membeli keperluan. Nanti saja aku bilang Mas Arfan, toh ponselnya masih mati. Tentu saja Mbak Aura, tak ingin ada komunikasi antara aku dan suaminya. Selain di ranjang Apartemen, karena jelas tujuan kami sedari awal. Aku memasuki Supermarket dengan langkah yang lebih ringan. Ternyata benar, dengan uang yang banyak hidupku seolah menjadi lebih hidup. Aku bisa makan di Restoran mahal, shoping segala macem, beli kebutuhan rumah. Mas Arfan sudah memberikan Card-nya untukku, dengan senang hati aku menerima. Minusnya aku sendirian. Lupa ngajak temen, ahh, temen yang mana? Mereka jelas meninggalkanku di saat aku nggak punya apa-apa! "Naya!" Dahiku mengernyit, tampak seorang wanita yang tak kusukai perlahan mendekat. "Ahh, ternyata beneran kamu." Aku tersenyum sinis. Rasanya ingin menghilang saat ini juga! "Belanja kamu, Nay?" Pake nanya lagi! "Punya duit emang? Yatim piatu kayak kamu, bisa punya duit? Kerja apa? Maling? Atau ... Jadi simpanan Om-om?" Aku meneguk ludah. Netraku menatapnya tajam, jelas aku tak suka. Selain dia mengatakannya di publik begini, suaranya pun dibuat sekencang mungkin. "Mau aku maling kek, apa kek. Itu jelas bukan urusan kamu, Wit! Udah nggak usah repot," responku, tak ingin berlama-lama dengannya. Nyesel juga aku belanja ke sini, kenapa nggak tadi ke toko depan Apartemen aja. Biar Mas Arfan yang belanja, apalagi dia pake bahas simpanan Om-om segala lagi! "Aaah, begitu? Ya aku sih cuma heran aja, Naya yang kismin mendadak modis dan bisa belanja di tempat kayak gini. Siapa yang nggak heran coba?" Emang dasarnya kepo! Aku berusaha untuk tetap tenang. Chill, manusia ini memang agak spesial. "Jangan-jangan, Lo jual diri!" Tanganku mengepal kuat. Ingin sekali menampar mulutnya yang jahat itu! Kini semua mata menatapku dengan tatapan ingin tahu. Heran, bahkan menggunjing. Padahal mereka belum tahu bagaimana kebenarannya, dasar manusia-manusia sok suci! "Lo urus hidup Lo, Wit. Gue nggak punya waktu, buat ngeladenin orang kayak Lo. Nguras energi, aaah satu lagi. Bukannya Lo ya, yang jual diri?" "Maksud Lo apa, hah?!" Dia ingin menampar wajahku yang sudah mulus ini. Tapi, tak akan kubiarkan. Kucengkram tangannya tak kalah keras, dan menghempasnya bagai sampah! "Aaah, nggak. Kemarin gue lihat Lo cek in hotel sama Om-om, Om-om yang perutnya itu loh. Maju ke depan, alias buncit. Upsss." "Naya Revina!" Aku terkikik. Berlalu meninggalkannya dalam keadaan malu, kini semua tengah membicarakannya. Bahkan ada yang sampai mewanti-wanti, agar berhati-hati dalam menjaga suaminya. Mengingat itu, aku jadi getir sendiri dengan jalan hidupku. Apa aku juga sama seperti mereka, menjual harga diriku? Tapi, aku menikah. Meski siri, sah di mata Agama. Walaupun aku hanya alat untuk mereka, orang-orang yang punya kuasa yang punya banyak duit! Mobil yang membawaku sudah sampai Apartemen. Aku berjalan gontai, masih teringat jelas setiap kata yang membuatku sakit. Wita, dia masih membenciku hingga saat ini. Aku membuka pintu, membawa banyak keperluan rumah. Siapa tahu nanti Mas Arfan pulang, minta dimasakin atau apa. "Dari mana?" Aku terhenyak. Suara bariton itu seakan membuat duniaku berhenti berputar, ini masih sore dan dia sudah pulang? "Aahh, Mas. Maaf aku nggak izin, karena ponselmu mati sedari pagi. Aku habis belanja, Mas. Aku nggak macem-macem kok, pure belanja." Dia tampak mengangguk. Terduduk lesu di sofa, dengan wajah yang pucat. "Mas kenapa, sakit?" Kusimpan barang belanjaan, duduk mendekat. Kuberanikan diri untuk menyentuh keningnya, sedikit demam ternyata. "Mbak Aura, tahu?" "Tahu, tapi, dia kekeuh menyuruhku ke sini. Katanya biar cepat jadi anak," ucapnya, sesekali menghela nafas dengan berat. Kasihan kamu, Mas. "Yaudah, aku izin buka sepatu, jas sama baju kamu, Mas." "Eeeh, mau ngapain?" Ia tampak berjengit kaget. "Kamu jangan macam-macam, Nay. Aku lagi lemes kayak gini." Aku terkikik melihat tingkahnya. "Aku akan merawatmu, Mas. Tenang, aku nggak akan ngapa-ngapain." Kubuka sepatu hitamnya, kaos kaki. Kini pada jas hitam yang melekat, aku juga membantunya membuka ikat pinggang yang terasa membuatnya tak nyaman. "Aku bantu rebahan di atas kasur ya, Mas." Ia mengangguk saja, saat aku membawanya ke atas pembaringan kami. Aku mengompresnya dengan telaten, tanganku terus ia genggam. Matanya begitu sayu, "Maaf, aku bikin repot." "Nggak papa, Mas. Aku istrimu, walau siri." "Mau." "Mau? Mau apa? Minum? Makan? Biar aku ambilin." "Mau bibir kamu yang manis itu." Pipiku menghangat. Mas Arfan lagi sakit, tetap aja modus!Pernikahan Terkutuk (9)**"Mbak Aura?" Netraku membulat. Dia datang lagi, tapi, untuk apa?"Hei, madu." Bicara begitu, ia merangsek maju sembari bergelayut manja pada suami kita.Ritual mencium punggung tangan Mas Arfan, tak lagi kulakukan malam ini. Dia sudah ada pawangnya, yang aku tidak suka kenapa mereka jadi lebih sering mampir ke Apartment ini? Maksudnya apa?"Seksi sekali bajumu," ucapnya, menatapku tajam. "Tentu, ini kan baju-baju yang Mbak belikan. Apa Mbak Aura lupa? Aku tidak mungkin membiarkannya teronggok membisu di dalam lemari, toh ini di dalam Apartement bebas saja. Yang datang juga hanya suami kita, dan Mbak Aura."Aku menekan kata suami kita. Mimik wajahnya langsung tak suka, tapi, faktanya memang begitu kan?"Stop, memanggil suamiku dengan sebutan suami kita, Naya! Aku, Aura. Satu-satunya istri sah dari Mas Arfan, kamu hanya ngontrak jadi sadar posisi jangan buatku marah."Tanganku mengepal kuat. Lalu, apa aku tak bisa marah? Dengan dia datang terus ke mari? Seaka
Pernikahan Terkutuk (8)**"Kamu yakin, akan pergi setelah melahirkan dan memberikan darah dagingmu?" Aku mengangguk lemah. Itu sudah jadi kesepakatanku dengan mereka, aku tak bisa mundur lagi!"Memangnya ada, seorang Ibu rela melepas buah hatinya sendiri untuk wanita lain? Aku nggak begitu yakin kamu bisa."Aku membuang muka. Dokter satu ini dari awal memang sudah tidak suka padaku, jadi apapun yang keluar dari mulutnya buatku kesal saja!"Kepaksa, Dok. Memangnya aku bisa apa? Melawan mereka? Dengan aku yang tidak punya apa-apa." Hidupku saja dari mereka, dan aku bermimpi untuk menyalahi kesepakatan? Apa aku sudah gila?!Suamiku sudah pergi beberapa jam yang lalu. Dokter Rama datang berkunjung seenaknya, tanpa memberi kabar. Untuk apa lagi dia ke sini? Kalau bukan untuk menyudutkanku!"Matre juga ya kamu, ngelakuin kayak gini cuma demi uang!" Ia menatapku dengan tajam. Aku menghela nafas panjang. "Lalu, kalau aku matre kenapa? Toh aku dan mereka sama-sama menguntungkan. Di sini buk
Pernikahan Terkutuk (7)**"Di mana suamiku?" Aku menelan ludah. Tak kusangka dia akan datang, dengan berpakaian seksi.Rasanya aku ingin marah! Bukannya ini tempatku dan Mas Arfan? Seharusnya Mbak Aura, tak perlu datang seakan ingin merayu."Ada di dalam, Mbak. Sedang tidur, lelah katanya." Aku hempas. Mempersilakannya untuk masuk, bagaimana pun aku tak bisa melawan.Kututup pintu. Berharap mereka pergi, tak perlu menunjukan hal apapun di sini. Hatiku tak akan sanggup!"Sayang. Baby, maaf." Netraku membulat. Mbak Aura mencium bibir Mas Arfan, aku memalingkan wajah. Tanganku mengepal kuat, haruskah begitu di depanku? Buat apa?!"Sayang? Kamu di sini." Mas Arfan terbangun, ia tampak kaget dengan kehadiran Mbak Aura. Sebelumnya dia curhat, Mbak Aura tak mau melayaninya. "Hm, aku di sini." Keduanya duduk berdampingan, seolah tak ada aku di sini. "Kangen." Kata itu terdengar jelas, lembut, penuh tuntutan dari bibir Mas Arfan. Ia juga mengelus pipi Mbak Aura, hal itu justru semakin memb
Pernikahan Terkutuk (6)**Aku makin gelisah. Sudah dua hari Mas Arfan tak pulang, tak memberi kabar pula. Aku bahkan tak berani menanyakan hal ini pada Mbak Aura, takut dia marah dan menghardik bilang bahwa aku tak berhak!Aku juga belum bisa memberi kabar terkait loker yang ditanyakan Zia, tempo lalu. Aku harus bertanya pada Mas Arfan, setiap langkah yang aku lakukan dia perlu tahu agar tak jadi masalah ke depannya.Aku berbaring dengan lemas. Semangat hidupku terasa 0 persen! Harusnya sekarang aku pergi hang out, shoping atau melakukan apa saja untuk menyenangkan diri. Namun, nyatanya. Aku malah di sini, di Apartemen seorang diri. Berselimutkan sepi, aku rindu Mas Arfan. Tapi, aku harus tahu diri! Aku tak boleh mencarinya, dia yang harus mencariku! Karena aku yang dibutuhkan, bukan aku yang membutuhkan!Aku menghela nafas panjang. Memaksa tubuh untuk bangun, tak mungkin Mas Arfan pulang aku dalam keadaan begini. Aku harus fresh. Agar dia datang, kami selalu melakukannya. Perut i
Lima **Aku disambut dengan hangat, semua menyerbu ingin memeluk. Tak terasa air mataku menetes, aku datang seakan membawa beban yang tidak sedikit.Bagaimana jika Ibu Panti tahu, anak-anak tahu, bahwa uang yang kugunakan tidak lain hanyalah pemberian Om-om?Aku tersenyum getir. Melihat mereka tertawa bahagia, seakan sedikit mengangkat rasa sesak di dada."Apa kabar kamu, Nay?" Aku mencium punggung tangan Ibu Panti, dengan takzim. Beliaulah yang paling berjasa dalam hidupku, kalau tidak ada beliau entahlah."Kabar Nay, baik, Bu. Ibu sama anak-anak gimana? Sehat?" Aku dituntun dengan lembut oleh Ibu Panti, kami biasanya akan mengobrol di ruangan beliau.Tidak banyak yang berubah. Suasananya masih sama, hangat dengan udara yang begitu segar. "Alhamdulillah kami juga baik. Kamu sekarang kerja di mana, Nay? Ibu seneng, kamu sudah bisa berbagi dengan mereka." Eh kerja? Aku menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, aku harus berbohong. Memang Ibu belum tahu, saat aku keluar dari Panti aku b
Empat**"Jadi, kamu ini gundiknya Arfan?" Aku meneguk ludah. Dokter yang kemarin datang memeriksa, ternyata teman dekatnya Mas Arfan. Dan dia pikir, aku ini gundiknya. Dasar Dokter sok tahu!"Dibayar berapa buat melayani dia setiap malamnya? Pasti semalam kejadian."Ia menatapku dengan tajam. Sedang aku menautkan kedua tangan dengan rasa tegang, takut salah bicara."Jawab! Atau aku laporkan kamu ke Tante Arini, kalau ternyata Arfan punya gundik di Apartemennya!" Bagaimana ini?"Aaah, aku juga bisa menelpon Aura. istri dari Arfan, lelaki yang semalaman suntuk kamu sentuh tanpa tahu diri!" Aku menatapnya dengan malas. "Telpon saja Mbak Aura, bilang Mas Arfan menyimpan seorang gundik di Apartemennya."Kita lihat, apa jawaban dari Mbak Aura. Dia akan jujur, atau cari aman dengan pura-pura tidak tahu."Nantangin kamu, ya. Bukannya kerja cari duit yang bener, masih muda padahal." Aku mengendikan bahu, ia tampak berdiri menekan ponsel dengan wajah yang memerah.Sepertinya Mas Arfan keliru







