LOGINTiga
** "Ra ...." "Aura ...." Tubuh Mas Arfan menggigil, sebelumnya aku sudah memanggil Dokter keluarga. Aku juga tak berhenti untuk mengompres keningnya, hanya saja yang membuatku semakin sesak dia terus memanggil nama Mbak Aura. Ada perasaan aneh yang menyelusup. Namun, kuabaikan karena tak ingin egois. Sudah berulang kali aku melakukan panggilan pada Mbakku itu, berdering tapi, tak juga diangkat. Aku terus mondar-mandir, sesekali duduk di sisi ranjang memegang erat tangan Mas Arfan. Selain menyebut nama istri sahnya itu, berulang kali ia mengucap kata rindu. Bukannya hari ini mereka sudah bertemu, dan sempat melakukannya juga. Tapi, kenapa seolah ada hasrat yang belum tersampaikan? Entah pada panggilan ke berapa kali, panggilanku tersambung. Dan disambut oleh teriakan Mbak Aura, meski terdengar sedikit aneh. Sebab .... "Aaaah ... Iya di situ, Sayang. Aaaaah, jangan berhenti!" Netraku seakan ingin keluar dari tempatnya. Apa-apaan ini? Mbak Aura lagi ngapain?! "Denger ya, gundik! Hentikan panggilanmu yang nggak penting itu. Jangan ganggu privasiku, tutup telponnya dan jangan pernah kamu bicara apapun tentang apa yang barusan kamu dengar. Kalau hidupmu mau aman, paham?! Aaaaaah, nikmat, Sayang. Lakukan!" Aku menutup mulut. Beruntung Mas Arfan masih tertidur pulas, meskipun tetap mengigau. Dan yang namanya terus disebut, ternyata tak lain adalah seorang pengkhianat! Pantas saja lama tak diberi anak, rahimnya pun tak sudi karena dia melakukannya bukan hanya dengan Mas Arfan! Dan apa katanya tadi, aku gundik?! Sialan! Dia sendiri yang datang padaku, meminta agar aku mau menikah siri dan melahirkan anak untuknya. Sambungan telpon terputus secara sepihak. Desahan menjijikan seakan terus menggema dalam pikiran, bagaimana jika Mas Arfan tahu? "Aura!" Aku terhenyak. Dia bangun, sepertinya mimpi buruk. "Kenapa, Mas?" Kusentuh keningnya, tak lagi panas seperti sebelumnya. Syukurlah. "Aku mimpi, Aura. Di-dia ... Sial dia tertangkap basah sedang melakukan hubungan intim dengan mantan pacarnya yang kere itu!" Aku meneguk ludah, kok, bisa begitu ya? Aku nggak mungkin bilang. Selain aku nggak punya bukti, Mbak Aura jelas sudah mengancamku. "Tapi, nggak mungkin sih! Aura itu bucin banget sama aku, meskipun kita menikah karena perjodohan. Dan dia memang sempat berhubungan dengan lelaki kere itu, aku nggak mungkin kalah dari siapapun!" Kamu salah, Mas! Kamu justru sudah kalah! Tapi, bibir tetap kubiarkan terkatup. Ini bukan ranahku untuk ikut campur! "Yaudah, Mas, istirahat lagi. Ini masih malam," ucapku, ikut membantu untuk membaringkannya. "Maaf bikin repot, harusnya Aura yang merawatku. Karena selain kami saling cinta, dia juga istri sahku!" Sudah cukup, Mas. Aku tahu itu! Aku tersenyum getir. Kugenggam tangannya yang besar, kucium dengan takzim punggung tangannya itu. Cup. "Udah, Mas, nggak perlu mikir yang macam-macam. Ada aku di sini," kataku lagi, mencoba membuatnya tenang. "Kamu tampak lelah, Nay. Berbaringlah dekatku, kamu juga harus istirahat. Sini." Ia menepuk bantal yang satunya. Aku menurut, sebelumnya aku izin mengganti baju karena merasa kegerahan meskipun AC tak ada hentinya. "Aku pakai ini, bukan untuk menggodamu, Mas. Mbak Aura memberikanku banyak lingerie, sayang kalau cuma jadi penghuni lemari." Aku mematut diri di depan cermin. Lihatlah, dua gundukanku yang keluar menyembul dengan indah. Putih bersih, terlebih aku juga asalnya masih gadis sebelum Mas Arfan menyentuhku. Aku menaiki ranjang. Siapa sangka, lelaki itu meminta untuk bersandar di dadaku. Katanya dia belum ingin tidur lagi, mungkin masih terngiang dengan mimpi buruknya itu. "Kamu tahu, Nay. Aku terus menahan diri, kamu selalu bisa membuatku tergoda. Meski kamu bilang tidak berniat, lihatlah tampilanmu yang seksi membuatku gila!" Aku mengulum senyum. Terus mengelus rambutnya yang wangi meski sedang sakit, sesekali mengusap pipinya dengan lembut. "Aku seperti sedang menghianati, Aura. Padahal sebelumnya untuk melakukannya dengan kamu, jujur saja aku tak berminat." Aku tersenyum sinis. Dia tak tahu saja, di belahan bumi sana istri yang dipuja-pujanya tengah berbagi peluh dengan lelaki lain! Sungguh menjijikan! "Jangan menahan diri, Mas. Aku istrimu juga, walau tidak sah di mata Negara. Mungkin dengan seringnya kita melakukan, aku akan segera hamil dan melahirkan. Tujuan kita tercapai," ucapku, ada getir di sana. "Benarkah?" Kali ini Mas Arfan menatapku. Kami begitu dekat, orang yang sebelumnya aku takuti justru sekarang menjadi canduku. Cup. Bibirku ia kecup sekilas. Lalu, kami terkikik bersama. "A-aku, tak tahan, Nay. Ingin menggenggam, mengulumnya lagi di sana." Dengan nakal, ia mengelus satu gundukan yang tertutup lingerie merah menyala. Tentu saja aku bereaksi, desahan dari bibirku lolos. Aku berbaring. Melihat netranya yang sayu, seakan meminta lebih. Aku menurut, saat ia mengeluarkan satu gundukan di antara lingerieku. Aku sedikit menegang, terlebih saat dengan lincah bibirnya bermain. "Aaaah, Ma-mas ...." "Aku malu, Mas. Rasanya aku keluar berulang kali seperti yang kemarin." Pipiku menghangat. "Lepaskan, Nay. Jangan ditahan, aku milikmu juga di sini. Lakukan apa yang mau kamu lakukan, berikan aku pelayanan terbaikmu." Aku mengulum senyum. Tentu saja, aku akan membuatmu tergila-gila padaku, Mas! Sekarang, Mas Arfan bermain di bawah perutku. Seakan memanjakan tubuh ini, satu tangannya tepat pada gundukanku yang kenyal dan berisi. "Ooooh shit! Kamu begitu nikmat, Nay." Aku terus mendesah. Suara kubuat seseksi mungkin, semanja mungkin. Kata Mbak Aura aku gundik, baiklah aku akan bersikap selayaknya gundik! Setelah puas, dan aku keluar berulang kali. Aku yang memimpin sekarang, aku berada di atas tubuh suamiku itu. "Nay, kamu kuat. Mainnya bisa lama, aaaaaah. Rasanya baru kali ini, jangan lepas, Nay. Jangan!" Ia memohon dengan netra yang sayu. Aku bergerak perlahan di atas tubuhnya, yang kutangkap Mbak Aura tak kuat lama berarti. Setidaknya aku unggul! "Lagi, Mas? Mas sakit, aku nggak mau nanti, Mas, makin sakit." Aku berbisik di telinganya, kukecup bagian sana. Mas Arfan mengerang, ia terus mendesah. "Nggak! Justru aku makin semangat buat sembuh!" Semalaman kami seperti orang gila. Terus melakukannya berulang kali, hingga lelah dan tertidur. Bersamanya, aku seakan menemukan hidup yang benar-benar hidup. ** "Aku ngantor dulu, banyak kerjaan numpuk setelah sakit kemarin." Ia pamit, dan seperti biasa aku mencium punggung tangannya dengan takzim. "Baiklah, jaga kesehatan, Mas. Jangan lupa makan," ucapku, tak ingin ia kembali jatuh sakit. Sebelum benar-benar pergi. Dia mengecup bibirku, dengan nakal mengelus dua gundukan kenyalku. Yang membuatku terkikik geli, seperti bocah saja kelakuannya itu! Pintu tertutup. Menyisakan aku dengan debaran tak menentu, permainan semalam lebih membuatku melayang. Mas Arfan memperlakukan aku dengan lembut. Tapi, entah malam ini dia akan pulang ke mana. Yang jelas, aku nggak akan lupa dengan kejadian malam itu.Pernikahan Terkutuk (7)**"Di mana suamiku?" Aku menelan ludah. Tak kusangka dia akan datang, dengan berpakaian seksi.Rasanya aku ingin marah! Bukannya ini tempatku dan Mas Arfan? Seharusnya Mbak Aura, tak perlu datang seakan ingin merayu."Ada di dalam, Mbak. Sedang tidur, lelah katanya." Aku hempas. Mempersilakannya untuk masuk, bagaimana pun aku tak bisa melawan.Kututup pintu. Berharap mereka pergi, tak perlu menunjukan hal apapun di sini. Hatiku tak akan sanggup!"Sayang. Baby, maaf." Netraku membulat. Mbak Aura mencium bibir Mas Arfan, aku memalingkan wajah. Tanganku mengepal kuat, haruskah begitu di depanku? Buat apa?!"Sayang? Kamu di sini." Mas Arfan terbangun, ia tampak kaget dengan kehadiran Mbak Aura. Sebelumnya dia curhat, Mbak Aura tak mau melayaninya. "Hm, aku di sini." Keduanya duduk berdampingan, seolah tak ada aku di sini. "Kangen." Kata itu terdengar jelas, lembut, penuh tuntutan dari bibir Mas Arfan. Ia juga mengelus pipi Mbak Aura, hal itu justru semakin memb
Pernikahan Terkutuk (6)**Aku makin gelisah. Sudah dua hari Mas Arfan tak pulang, tak memberi kabar pula. Aku bahkan tak berani menanyakan hal ini pada Mbak Aura, takut dia marah dan menghardik bilang bahwa aku tak berhak!Aku juga belum bisa memberi kabar terkait loker yang ditanyakan Zia, tempo lalu. Aku harus bertanya pada Mas Arfan, setiap langkah yang aku lakukan dia perlu tahu agar tak jadi masalah ke depannya.Aku berbaring dengan lemas. Semangat hidupku terasa 0 persen! Harusnya sekarang aku pergi hang out, shoping atau melakukan apa saja untuk menyenangkan diri. Namun, nyatanya. Aku malah di sini, di Apartemen seorang diri. Berselimutkan sepi, aku rindu Mas Arfan. Tapi, aku harus tahu diri! Aku tak boleh mencarinya, dia yang harus mencariku! Karena aku yang dibutuhkan, bukan aku yang membutuhkan!Aku menghela nafas panjang. Memaksa tubuh untuk bangun, tak mungkin Mas Arfan pulang aku dalam keadaan begini. Aku harus fresh. Agar dia datang, kami selalu melakukannya. Perut i
Lima **Aku disambut dengan hangat, semua menyerbu ingin memeluk. Tak terasa air mataku menetes, aku datang seakan membawa beban yang tidak sedikit.Bagaimana jika Ibu Panti tahu, anak-anak tahu, bahwa uang yang kugunakan tidak lain hanyalah pemberian Om-om?Aku tersenyum getir. Melihat mereka tertawa bahagia, seakan sedikit mengangkat rasa sesak di dada."Apa kabar kamu, Nay?" Aku mencium punggung tangan Ibu Panti, dengan takzim. Beliaulah yang paling berjasa dalam hidupku, kalau tidak ada beliau entahlah."Kabar Nay, baik, Bu. Ibu sama anak-anak gimana? Sehat?" Aku dituntun dengan lembut oleh Ibu Panti, kami biasanya akan mengobrol di ruangan beliau.Tidak banyak yang berubah. Suasananya masih sama, hangat dengan udara yang begitu segar. "Alhamdulillah kami juga baik. Kamu sekarang kerja di mana, Nay? Ibu seneng, kamu sudah bisa berbagi dengan mereka." Eh kerja? Aku menggigit bibir. Untuk pertama kalinya, aku harus berbohong. Memang Ibu belum tahu, saat aku keluar dari Panti aku b
Empat**"Jadi, kamu ini gundiknya Arfan?" Aku meneguk ludah. Dokter yang kemarin datang memeriksa, ternyata teman dekatnya Mas Arfan. Dan dia pikir, aku ini gundiknya. Dasar Dokter sok tahu!"Dibayar berapa buat melayani dia setiap malamnya? Pasti semalam kejadian."Ia menatapku dengan tajam. Sedang aku menautkan kedua tangan dengan rasa tegang, takut salah bicara."Jawab! Atau aku laporkan kamu ke Tante Arini, kalau ternyata Arfan punya gundik di Apartemennya!" Bagaimana ini?"Aaah, aku juga bisa menelpon Aura. istri dari Arfan, lelaki yang semalaman suntuk kamu sentuh tanpa tahu diri!" Aku menatapnya dengan malas. "Telpon saja Mbak Aura, bilang Mas Arfan menyimpan seorang gundik di Apartemennya."Kita lihat, apa jawaban dari Mbak Aura. Dia akan jujur, atau cari aman dengan pura-pura tidak tahu."Nantangin kamu, ya. Bukannya kerja cari duit yang bener, masih muda padahal." Aku mengendikan bahu, ia tampak berdiri menekan ponsel dengan wajah yang memerah.Sepertinya Mas Arfan keliru
Tiga**"Ra ...." "Aura ...."Tubuh Mas Arfan menggigil, sebelumnya aku sudah memanggil Dokter keluarga. Aku juga tak berhenti untuk mengompres keningnya, hanya saja yang membuatku semakin sesak dia terus memanggil nama Mbak Aura.Ada perasaan aneh yang menyelusup. Namun, kuabaikan karena tak ingin egois. Sudah berulang kali aku melakukan panggilan pada Mbakku itu, berdering tapi, tak juga diangkat.Aku terus mondar-mandir, sesekali duduk di sisi ranjang memegang erat tangan Mas Arfan. Selain menyebut nama istri sahnya itu, berulang kali ia mengucap kata rindu. Bukannya hari ini mereka sudah bertemu, dan sempat melakukannya juga. Tapi, kenapa seolah ada hasrat yang belum tersampaikan?Entah pada panggilan ke berapa kali, panggilanku tersambung. Dan disambut oleh teriakan Mbak Aura, meski terdengar sedikit aneh. Sebab ...."Aaaah ... Iya di situ, Sayang. Aaaaah, jangan berhenti!"Netraku seakan ingin keluar dari tempatnya. Apa-apaan ini? Mbak Aura lagi ngapain?!"Denger ya, gundik! H
Dua**Aku menatap layar ponsel dengan kecewa. Tadi, sebelum pergi ngantor dia bilang akan segera menghubungi begitu sampai. Tapi, mana? Jangankan menghubungi, ponselnya saja mati! Aku menghela nafas panjang, semua perlakuan manisnya semalam tentu saja hanya karena dia menginginkan adanya anak. Bukan karena tertarik padaku!Tak terasa air mata menetes. Aku rindu, seolah tak bisa jauh darinya. Sentuhan semalam, seakan meninggalkan jejak yang begitu mendalam.Aku teringat, tadi pagi Mbak Aura menelpon. Pasti wanita itu sekarang sedang mendominasi Mas Arfan, bisa saja mereka tengah bercinta.Sial!Itu jelas hak mereka!Mereka suami istri yang sah, berbeda dengan aku. Aku disembunyikan, tak punya status yang jelas. Aku tersenyum getir, lalu tertawa akan kebodohan hidup yang terasa tak ada habisnya ini!Kupandangi ranjang yang tampak jauh lebih rapi, di atas kasur ini semalam. Semua seakan banyak perubahan, aku merasakan ada yang lain. Tapi, apa?Notif pada ponsel membuatku tersadar. Tak







