Share

Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai
Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai
Author: Rain

Bab 1

Author: Rain
Pernikahan temanku menggunakan konsep acara yang dulu kubuat.

Aku menghabiskan waktu setengah tahun untuk merancang seluruh jalannya acara, sementara Jerico hanya butuh waktu satu menit untuk menolaknya.

Setelah pesta pernikahan yang ala kadarnya, Jerico berjanji kepadaku.

Bagaimanapun dia main gila di luar sana, aku akan tetap menjadi Nyonya Adrian.

Sampai hari ini, dia membawa simpanannya sendiri untuk menghadiri pesta pernikahan ini.

Begitu melangkah masuk ke ruang acara, berbagai tatapan langsung tertuju dari sekeliling.

Tatapan ingin tahu, gosip, juga rasa kasihan.

Hanya Jerico yang masih tampak tenang dan santai seperti biasa.

"Udah datang?"

Aku mengangguk pelan melihat gadis muda yang menggandeng mesra lengannya.

Menikah selama tujuh tahun, ini bukan pertama atau kedua kalinya Jerico selingkuh.

Pengantin pria merasa sangat canggung, dia jelas tidak menduga situasi seperti ini akan terjadi.

"Kak Sania udah datang, ayo duduk, nggak usah sungkan."

Aku tersenyum sopan padanya, merasa sangat berterima kasih karena dia sudah mencairkan suasana.

Tempat yang semula diperuntukkan bagiku sudah diduduki orang lain, tapi tamu tak diundang yang merebut tempatku itu dilindungi oleh Jerico.

Jerico melirikku, lalu berkata dengan santai, "Tempat kamu udah ada yang menduduki, cari tempat lain aja."

Berada dalam posisi serba menurut selama bertahun-tahun, membuat kepatuhan itu terpatri makin dalam di dalam diriku.

"Oke."

Saat duduk, aku merasa tatapan orang-orang di sekitarku makin menjadi-jadi.

Pengantin pria merasa sangat bersalah, bahkan sebelum pergi dia sempat meminta keluarganya untuk menjagaku baik-baik.

Dibandingkan dengan Jerico, justru dia yang lebih peduli pada perasaanku.

Pesta pernikahan dimulai sesuai jadwal, pengantin wanita mengenakan gaun pengantin buatanku dan berjalan di atas karpet merah yang kupilih.

Menikah menuju kebahagiaan yang tidak pernah kumiliki.

Semuanya benar-benar persis seperti impianku.

Gadis muda yang menggandeng Jerico terlihat sangat muda, raut wajahnya tampak polos dan lincah.

"Kata Jerico, Kak Sania pandai sekali merangkai bunga, bisa tolong buatkan satu buat aku nggak? Aku mau yang seperti dipegang pengantin wanita itu."

Suasana seketika menjadi tegang, orang-orang lain di meja itu saling pandang dan tidak ada yang berani memotong pembicaraan.

Aku meletakkan sumpit, lalu refleks menatap Jerico.

Jerico mengusap kepala gadis muda itu dengan mesra, lalu mengarahkan dagunya padaku sambil menyuruh, "Ngapain bengong? Cepat sana!"

Aku tersenyum lega menatap matanya yang penuh nada ejekan.

Aku mendorong kursi, berdiri, lalu berbalik berjalan ke luar aula.

"Kerjanya yang cepat." Jerico menambahkan.

Aku tidak merespons, terus melangkah tanpa henti.

Dari ruang acara berjalan ke pintu utama hotel, dari pintu utama hotel berjalan ke jalan raya.

Tidak sekalipun aku menoleh ke belakang.

Sopir rumah sudah tidak ada, jadi aku memutuskan untuk terus berjalan menyusuri jalan raya.

Saat melewati tempat sampah, aku melepas sepatu hak tinggi bersol merah dari kakiku lalu membuangnya ke dalam.

Saat kaki telanjangku menyentuh tanah, rasanya seolah belenggu di tubuhku pun ikut lenyap sepenuhnya.

Menikah selama tujuh tahun, aku akhirnya merasa benar-benar berpijak di bumi.

Baru saja sampai di rumah, telepon dari Jerico langsung masuk.

"Merangkai buket bunga aja butuh waktu seberapa lama sih? Kamu tahu nggak ada orang yang lagi nunggu kamu?"

Aku merasa lucu lalu menjawab ringkas, "Aku nggak pernah mengiyakan untuk buatkan buket bunga."

"Lagian, aku udah sampai rumah."

Jerico terkekeh sinis begitu mendengarnya.

"Sania, kamu udah makin berani ya?"

"Iya."

Di luar dugaannya, aku mengiyakan perkataannya itu.

Embusan napas di seberang telepon terdengar memburu selama dua detik, membuat Jerico tertawa sinis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 10

    Raut wajah Jerico kelihatan agak mendingan.Rumah ini awalnya cuma rumah kecil yang luasnya tidak ada 40 meter persegi, ditambah lagi kupenuhi dengan buku, jadi kelihatan makin sempit.Jerico memasang wajah dingin, dengan tidak rela duduk di sofa kecil.Ini mungkin pertama kalinya dia merasa secanggung ini selama 30 tahun lebih hidupnya.Asal mengambil satu buku untuk dilihat, Jerico tertegun sejenak."Aku kira, kamu udah nggak tertarik lagi sama hal-hal kayak gini dari dulu."Aku mengambil sebotol susu dari dalam kulkas, memanaskannya lalu menyerahkannya pada Nino."Udah 'kan, ketemu juga udah. Kalau nggak ada hal lain, kamu bawa Nino pulang aja."Nino memeluk botol susunya, menatap Jerico dengan bingung.Jerico memangku Nino di atas paha, suaranya terdengar lembut. "Sania, kita beneran nggak bisa balik lagi kayak dulu?""Kayak dulu yang gimana?"Aku bersandar di sofa, raut wajahku tampak santai. "Lanjut jadi Nyonya Adrian kamu yang nggak diakui itu?""Nggak usah deh, aku udah bosan."

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 9

    "Sania! Kamu belum puas juga ributin hal ini?""Kalau ada yang kamu nggak suka bilang aja langsung, aku ubah 'kan bisa!"Ini pertama kalinya Jerico tunduk, mata Ferry sampai terbelalak kaget.Tapi, hatiku sama sekali tidak tersentuh.Dengan sopan aku memintanya memberi jalan, bersiap untuk pergi.Tapi, Jerico malah menggenggam tanganku."Sania, pulang sama aku."Belum sempat aku bicara, sebuah tangan mendadak terulur dari belakangan dan melepaskan cengkeramannya dariku."Tuan, tolong jaga sikap Anda."Julian yang memegang jaket di tangannya melepas cengkeraman Jerico dengan dingin."Kamu siapa?"Mata Jerico seketika memerah penuh emosi, dia berbalik dan ingin main fisik.Aku menghela napas, berdiri menghalangi di depan Julian."Nggak usah bikin ribut."Kalimat santai itu seolah menjadi tombol jeda.Gerakan Jerico terhenti, dia menatapku tidak percaya."Sania, kamu mau bela dia? Dia siapa?"Aku mendongak menatap lurus matanya yang penuh urat merah."Penting ya? Jerico, kita udah putus."

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 8

    "Setiap hari ngintil terus di belakang kalian, nanya ini itu.""Waktu itu saya langsung mikir, anak ini besok-besok pasti bakal sukses."Kata-kata selanjutnya dari dosen tidak lagi kudengar, aku menundukkan mata dan minum alkohol dengan tenang.Selesai makan-makan, aku tidak terburu-buru untuk pergi.Menunggu sampai orang-orang hampir habis, aku mengeluarkan catatanku dari dalam tas."Pak, saya mau mulai belajar lagi."Dosen sangat terkejut, dia mengambil catatanku dan membaliknya dengan serius cukup lama.Saat meletakkannya kembali, wajahnya sudah dipenuhi senyuman."Sania, saya beneran nggak salah menilai kamu.""Saya udah liat catatan kamu, visioner banget.""Nanti malam biar saya pikirkan dulu, saya bakal rekomendasikan beberapa lembaga penelitian yang bagus, kamu coba ikutan wawancara ya."Pas lagi mengobrol, Julian mendadak memotong pembicaraan, "Boleh lihat?"Ini pertama kalinya malam ini dia bicara denganku.Aku mengangguk, lalu memberikan catatan itu padanya.Julian membetulka

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 7

    Aku tertegun, teringat pada sosok pria dingin dan rasional di dalam ingatanku.Aku ini seorang anak yatim piatu, sejak kecil tumbuh besar di panti asuhan.Sejak kecil sangat pantang menyerah.Demi punya pendirian yang mandiri, aku belajar mati-matian dan berhasil masuk ke universitas terbaik di Kota Tirta.Mengambil jurusan terbaik pula.Saat semester tiga, aku juga berhasil bergabung dengan tim penelitian dosen, biarpun cuma jadi tenaga pembantu biasa.Senior yang dimaksud dosenku adalah Julian Darius, orang yang menjadi pilar utama di tim penelitian itu.Dia juga sosok yang dulu pernah aku taksir diam-diam.Sayangnya, saat aku semester lima, dia pergi ke luar negeri untuk kuliah.Perasaanku belum sempat diungkapkan, tapi sudah harus karam begitu saja.Melihat aku tidak bersuara, dosenku lanjut berbicara, "Dulu yang paling saya jagokan itu kamu sama Julian, kalian berdua murid paling gemilang yang pernah saya bimbing.""Sayang banget ya, kamu malah langsung nikah pas lulus."Sampai di

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 6

    Cuma hari itu matahari bersinar terang, langit sangat biru, angin berembus sepoi-sepoi, persis seperti perasaanku.Kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.Sejak pagi-pagi sekali aku sudah datang ke rumah orang tuanya, menunggu selama tiga jam penuh.Barulah akhirnya ada orang yang keluar membukakan pintu.Saat melihatku, raut wajah pengurus rumah tidak begitu ramah.Tapi, aku tidak peduli.Saat itu, pikiran dan mataku cuma terisi oleh anakku yang sebentar lagi akan kutemui.Sampai di ruang tamu, aku menunggu lagi entah berapa lama.Sampai lonceng jam 12 berbunyi, ibu Jerico baru muncul sambil menggendong Nino yang berumur tiga tahun.Melihat wajah kecilnya yang polos, mataku seketika berkaca-kaca.Ini adalah anak yang tetap mau kulahirkan dengan selamat biarpun harus menanggung hinaan.Anak yang langsung dibawa pergi orang lain begitu baru lahir.Saat melihatku, ibu Jerico tetap mencemooh seperti biasa, "Kalau bukan Jerico yang angkat bicara, aku nggak

  • Pernikahan yang Tidak Perlu Bercerai   Bab 5

    "Sania! Buka pintunya!"Suara Jerico yang emosi terdengar di luar pintu, membuatku terkejut."Sania! Kalau kamu berani, bilang putus langsung di depanku! Buka pintunya!"Aku menghela napas, tidak terburu-buru membukakan pintu.Aku justru berganti pakaian dulu dengan baju yang nyaman dan hangat.Saat kubuka pintu, Jerico tidak memakai jaket.Bulan Maret di Kota Tirta masih terasa dingin yang menggigit, tapi Jerico seolah tidak merasakannya sama sekali."Masuklah."Aku sedikit memberi jalan, lalu duduk dengan tenang di sofa.Menikah bertahun-tahun, aku sudah terbiasa dibentuk oleh Jerico menjadi pribadi yang tidak gampang terpengaruh lagi.Jerico tidak duduk. Di bawah sorotan lampu, badannya yang tinggi tegap bagaikan bayangan hitam yang mengurungku erat-erat."Sania, siapa yang kasih kamu keberanian buat cerai dari aku?"Jerico menatapku tajam penuh emosi.Justru aku yang menatapnya aneh, merasa agak kehabisan kata-kata."Ini 'kan bukan pertama kalinya aku minta cerai sama kamu, kamu ng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status