Share

Perpisahan Tanpa Berpamitan
Perpisahan Tanpa Berpamitan
Author: Yammy

Bab 1 

Author: Yammy
Saat aku melewati ruang tamu, Tara melirik ke arahku. Dia berkata sambil tersenyum manis kepadaku, "Terima kasih untuk tehnya, Kak Kanya. Tehnya harum banget."

Jovan duduk di samping dan sibuk menangani pekerjaannya. Mereka tidak masuk ke ruang kerja untuk menghindari kecurigaan. Sebab, sebelumnya aku pernah memprotes kebiasaan mereka bekerja di ruang kerja dan mengunci pintu.

Jovan menjawab dengan tidak sabar, "Kami cuma sibuk kerja. Jangan bersikap nggak masuk akal, oke?"

Setelah pertengkaran kami yang tidak menyenangkan terakhir kali, setiap kali Jovan membawa Tara pulang ke rumah, mereka hampir selalu bekerja di ruang tamu. Ini untuk menunjukkan bahwa hubungan mereka normal.

Aku tidak mengeluh lagi dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengganggu pekerjaan mereka. Lagi pula, aku tidak bisa banyak membantu.

"Istrimu nyebelin banget," ucap Tara sambil memutar bola matanya saat aku berpaling.

Gadis yang baru saja memuji tehku tiba-tiba mengubah nadanya. Dengan manja, dia berkata pada Jovan, "Apa kita harus kerja di ruang tamu? Istrimu benar-benar mengganggu. Kita nggak bisa lakukan apa pun."

Jovan mencibir, "Jangan asal bicara."

Tara memasang ekspresi meremehkan. Dia sengaja menekankan kata-katanya, "Ngapain takut? Istrimu nggak ngerti bahasa Franc, kok."

Saat itu aku sedang menyirami tanaman. Gerakanku berhenti sejenak ketika mendengar ini.

"Jangan bilang kamu mau temani wanita tua itu malam ini?"

Tara memasang tampang cemberut dan menarik lengan baju Jovan. Ketika mendengar deskripsi Tara tentangku, aku pun tertegun. Wanita tua? Apa dia sedang membicarakanku?

Aku dan Jovan telah bersama 10 tahun penuh, sejak kami berusia 19 tahun. Dibandingkan dengan Tara yang baru saja lulus, aku jelas tidak semuda dia.

"Aku baru beli lingerie seksi baru. Memangnya kamu nggak suka?"

Di hadapan Jovan, Tara bersikap sangat manis dan manja. Suaranya lembut dan penuh kasih sayang.

Jovan yang tadinya terlihat serius pun mengangkat alisnya dan menghiburnya, "Tentu saja nggak, Sayang. Aku harus buat alasan untuk bohongi dia, lalu temani kamu malam ini."

Dengan begitu, mereka mengungkapkan isi hati mereka dalam bahasa Franc tepat di depanku. Napasku tercekat sesaat. Aku tidak sengaja memecahkan sebuah pot bunga, hingga tanah berceceran di lantai.

Jovan mendengar suara dari balkon dan bergegas datang.

"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil menatapku dengan khawatir, seolah-olah takut aku terluka.

Aku menggeleng dan memaksakan senyum. "Nggak apa-apa."

"Baguslah kalau begitu. Jangan kerjakan hal-hal ini lagi. Istirahatlah."

Tatapan Jovan bertemu sekilas dengan tatapan Tara sebelum kembali padaku. "Sayang, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu. Aku memang sudah janji akan tinggal di rumah untuk rayakan ulang tahunmu. Tapi, ada klien yang akan datang. Aku dan Tara harus pergi."

Jovan berbicara dengan hati-hati, seolah-olah takut aku mengetahui kebohongannya. Suaranya dipenuhi dengan ketidakberdayaan dan penyesalan. "Sayang, maaf banget. Ini situasi yang nggak terduga. Aku ...."

Sebelum dia selesai bicara, aku menyela dengan tenang, "Nggak apa-apa. Pergilah."

Matanya seketika berbinar. "Sayang, kamu pengertian banget! Aku pasti akan habiskan waktu bersamamu setelah semua kerjaanku beres!"

Aku tidak menjawab, hanya langsung berjalan menuju kamar mandi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 10

    "Kanya, kita balikan, ya? Tara nggak punya hak untuk menantang posisimu. Dia nggak akan berani berbuat begitu lagi," ujar Jovan dengan tulus sambil berjalan mendekat untuk menggenggam tanganku. Baginya, hal ini seolah-olah sangat normal.Aku memandangnya, tetapi tidak dapat menemukan bayangannya dari 10 tahun yang lalu. Ternyata, cintanya telah membusuk sedemikian rupa."Jovan, uruslah hidupmu sendiri."Aku menarik tanganku, lalu buru-buru masuk ke mobil.Jovan pun panik dan ingin menyusulku. Namun, mobil melaju sangat cepat. Dia hanya bisa mengejar sambil terus meneriakkan namaku.Aku tidak menoleh, juga tidak tergerak. Ternyata, perpisahan yang sesungguhnya tak selalu disertai air mata. Aku memutuskan seluruh kontak dengan Jovan, mengganti ponsel dan kartu SIM baru, juga pindah ke rumah baru. Meniti kembali karierku memberiku arah hidup yang baru. Aku menjalani hidup yang bahagia.Lambat laun, aku pun melupakan Jovan dan semua kenangan selama 10 tahun terakhir.Perlahan-lahan, kehad

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 9

    Bastian juga tidak pernah bersikap baik pada Jovan. Saat memukul Jovan, dia juga sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Namun, meskipun begitu, Jovan tetap mengulur perceraian kami, hingga Tara tidak tahan lagi dan membalas dendam padanya.Tara menguak masa lalu mereka ke publik dan hal itu memicu gelombang kecaman kecaman besar di internet. Dalam sekejap, Jovan dan perusahaannya menjadi sorotan publik. Setelah itu, dia baru tidak punya pilihan selain menceraikanku."Kanya, tunggu aku selesaikan urusan di sini. Tunggu aku kembali ...."Aku bahkan tidak meliriknya. Setelah masuk ke dalam mobil Bastian, aku melihat tatapan sedih Jovan melalui kaca spion. Ekspresinya terlihat sangat hancur. Namun, aku tidak merasakan sakit hati sedikit pun. Ternyata, berhenti mencintainya bisa membuat hatiku begitu lega."Karena masalah di sini sudah diselesaikan, kamu mau ikut aku menetap di Kota Harpe? Perusahaanku go public di sana."Aku tersenyum dan menjawab, "Oke."Ada perasaan lain yang terse

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 8

    Tara lebih memahami Jovan daripada aku, juga bisa menebak apa yang aku pedulikan. Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan anak ini tumbuh dalam keluarga seperti itu.Pesan dari Tara telah membulatkan tekadku.Jovan menyadari sesuatu yang aneh pada ekspresiku. Dia bertanya, "Kanya, lagi mikir apa?"Apa yang bisa kupikirkan? Aku hanya ingin menghargai jerih payah Tara. Selain itu, aku tidak akan ragu lagi.Saat Jovan menyadari apa yang ingin kulakukan dan menyusulku ke rumah sakit, aku telah menggugurkan anak itu. Dengan mata merah, dia bertanya padaku, "Kenapa? Kenapa! Kanya, kamu kejam sekali! Kamu sudah janji akan memulai lagi dari awal bersamaku. Kenapa kamu bohong?"Aku menatapnya dan tiba-tiba tertawa. Entah kenapa, ucapan itu terasa seperti bumerang yang berbalik menghantam dirinya sendiri.Saat berumur 19 tahun, aku berpikir dia akan mencintaiku selamanya. Ternyata, cinta itu hanya bertahan 10 tahun. Janji dan sumpahnya sudah lama tenggelam ke

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 7

    Aku menyahut dengan tenang, "Aku nggak mencintaimu lagi."Jovan meraih pundakku dan berseru dengan tidak percaya, "Nggak! Kanya, kamu cuma masih marah. Aku nggak percaya. Memangnya kamu benar-benar rela melepaskanku?"Aku mendorongnya dan tidak ingin berurusan dengannya lagi. Sampai perkara cerai ini selesai, kami mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.Dengan pemikiran seperti itu, aku hendak melangkah maju. Tak disangka, aku tiba-tiba pingsan."Kanya! Kanya, ada apa denganmu?"Ketika tersadar lagi, aku sudah berada di rumah sakit.Jovan menatapku dengan mata berbinar dan penuh kebahagiaan. "Kanya, sepertinya semua ini memang kehendak Tuhan."Aku memandangnya dengan bingung.Jovan menggenggam tanganku dan berkata dengan lembut, "Kita nggak akan cerai. Soalnya, kamu sudah hamil."Tubuhku seketika membeku. Saat ini, aku hanya merasa hawa dingin menjalari seluruh tubuhku.Dalam dua bulan terakhir, aku memang kehilangan nafsu makan. Berhubung merasa terlalu stres memikirkan perceraianku d

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 6

    Aku memeluk barang peninggalan ayahku dan menangis lama, tetapi Bastian tetap menemaniku. Berhubung hal itu sudah berlalu cukup lama, aku tidak ingat bagaimana aku tertidur hari itu. Hanya saja, saat aku terbangun, Bastian sudah pergi. Yang kulihat adalah Jovan.Jovan mengerutkan keningnya, seperti baru saja marah. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menyuruhku untuk beristirahat yang cukup dan jangan bersedih lagi. Malam itu, aku juga tidak memikirkannya lagi.Aku dan Bastian tidak berhubungan lebih lanjut. Lagi pula, setelah ayahku meninggal, kami tidak lagi tergolong satu keluarga. Jika dipikir-pikir sekarang, mungkin itulah yang terjadi hari itu. Oleh karena itu, Jovan masih mengingatnya sampai sekarang."Kanya, kamu harus jauhi orang seperti ini. Kalau nggak, entah apa yang akan dia lakukan!"Jovan ingin menggenggam tanganku, tetapi aku mendorongnya. "Aku tahu Bastian itu orang seperti apa." Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memandang Jovan dengan santai. "Jovan, aku pah

  • Perpisahan Tanpa Berpamitan   Bab 5 

    Sikap pilih kasih ayahku saat kecil selalu membuatku merasa bahwa Bibi Shella tidak akan menyukaiku. Setelah mencapai umur dewasa, aku dengan peka meninggalkan rumah itu. Setelah banyak liku-liku, aku akhirnya kembali ke tempat ini.Jovan meneleponku berkali-kali. Ponsel lamaku hampir tidak pernah berhenti berdering. Namun, aku tetap tenang.Bastian, putra Bibi Shella, menatapku dan bertanya dengan ragu, "Itu panggilan dari Jovan?""Kami sudah cerai." Bastian tertegun sejenak. Setelahnya, dia pun menghindari topik tersebut.Dua minggu kemudian, Jovan akhirnya menemukanku. Saat melihatku, matanya terlihat berbinar."Kanya, ternyata kamu di sini."Namun, Bastian mengadang di depanku dan berkata, "Dia nggak punya hubungan apa pun lagi denganmu. Sebaiknya kamu jauhi dia."Jovan mencibir, "Memangnya kamu siapa? Apa hakmu ikut campur dalam urusanku dengan Kanya?" Aku tidak tahu kenapa Bastian bersikap seolah-olah melihat musuh setiap kali bertemu Jovan. Namun, aku benar-benar tidak ingin t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status