Share

Bab 5

Author: Nia Juwita
Darrel seketika terdiam.

"Sudah setahun menikah, tapi foto pernikahan saja nggak pernah kamu unggah. Kenapa? Malu memperlihatkannya?"

"Kalau kamu sampai menikahinya, dia pasti nggak jelek dong? Menurutmu, siapa yang lebih cantik, istrimu atau aku?"

Wanita di ruang tengah itu menggoda dengan penuh minat.

"Ayo keluar. Menurutmu, istrimu yang lebih cantik atau aku? Jawab yang jujur."

Darrel mengepalkan tangan, lalu mengembuskan napas panjang di kamar.

"Kamu keluar untuk cari apa?"

"Sudahlah, aku nggak akan menggodamu lagi. Aku cari humidifier. Udara di sini kering banget sampai hidungku berdarah."

"Hm, biar aku yang cari. Jangan sembarangan pindahin barang."

Althea terkekeh. "Takut istrimu pulang dan marah?"

Di bawah cahaya bulan, tatapannya yang menggoda memancarkan sesuatu yang sulit ditebak.

Darryn bilang Darrel akan bercerai dengan istrinya.

Darrel mengingatkan, "Masuklah ke kamar. Aku yang cari humidifier-nya. Hati-hati, jangan sampai terbentur."

Althea berjalan masuk ke kamar, tetapi tiba-tiba berbalik dan tersenyum penuh arti.

"Darrel, kenapa kamu nggak suka membicarakan istrimu? Bukannya dia pilihanmu sendiri?"

Akhirnya, pria di kamar utama itu menunjukkan sedikit reaksi.

Nada bicaranya menjadi serius. "Althea."

Althea mencibir, lalu masuk dan menutup pintu kamar.

Napas Darrel terasa berat. Dia menelepon Celine.

Dia tidak peduli sudah selarut apa sekarang.

Sejak siang, Helen sudah merasa kurang enak badan. Malamnya, dia juga sulit tidur di tempat yang bukan rumahnya sendiri. Setelah akhirnya dia tertidur, dering ponsel yang nyaring membuat ibu dan anak itu terbangun karena kaget.

Celine menenangkan ibunya terlebih dahulu, lalu keluar dengan mengenakan pakaian seadanya untuk menerima telepon.

"Ada apa?"

"Rumah terlalu kering sampai Althea mimisan. Humidifier-nya disimpan di mana?"

Celine menahan emosinya yang mulai naik.

"Di atas lemari tinggi di ruang penyimpanan, rak ketiga."

"Oke."

Celine berkata dengan kesal, "Lain kali jangan meneleponku selarut ini. Kamu bikin ibuku kaget. Kalau terjadi apa-apa, kamu bisa tanggung jawab nggak?"

Setelah itu, dia langsung mematikan ponselnya.

Huh. Celine mencibir dingin. Rasa kantuknya langsung hilang.

Ternyata selama ini dia hanya dianggap sebagai pembantu gratis olehnya.

....

Pagi di Kota Litar terasa hangat dan nyaman. Dari jendela penginapan, terdengar burung-burung berkicau di atas dahan, sementara aroma bunga yang samar terbawa masuk bersama angin.

Pikiran Celine dibuat kacau oleh Keluarga Suwandi sampai siklus tubuhnya ikut terganggu. Dia terbangun karena rasa sakit.

Haid yang sudah lama terlambat akhirnya datang juga. Perutnya luar biasa sakit.

Celine tidak ingin Helen khawatir sehingga merusak suasana liburan, jadi dia menahan sakit dan tetap pergi ke kota tua untuk memotret ibunya sepanjang hari.

Menjelang sore, ketika mereka kembali ke penginapan, wajah Celine sudah pucat karena kesakitan. Bahkan makan malam pun dia pesan lewat layanan antar.

Helen juga tidak mau makan. Dia hanya duduk kebingungan di tepi ranjang sambil memandangi Celine.

"Celine, kamu kenapa?"

"Nggak apa-apa, Bu."

"Ibu lihat kamu kesakitan begini, Ibu juga ikut sakit."

"Aku nggak sakit kok."

Tepat ketika rasa sakit membuat Celine sampai berguling-guling di atas ranjang, telepon Darrel berdering seperti tidak mau memberinya kesempatan bernapas.

Jumlah komunikasi mereka sekarang hampir sebanyak seluruh komunikasi mereka selama setengah tahun sebelumnya.

Celine tidak ingin mengangkatnya, tetapi Darrel terus menelepon tanpa menyerah.

"Halo?" Suaranya terdengar lemah.

Darrel terdiam sejenak sebelum bertanya, "Kamu kenapa? Suaramu terdengar aneh."

"Nggak kenapa-napa."

"Kota Litar berada di dataran tinggi. Apa kamu terkena mabuk ketinggian? Sudah ukur kadar oksigen dalam darah?"

Saat menyangkut pekerjaannya, nada bicara Darrel langsung menjadi sangat serius.

Dengan tidak sabar, Celine bertanya, "Kamu telepon aku lagi karena apa?"

"Memangnya nggak boleh telepon kamu kalau nggak ada urusan? Sekarang baru jam 7 malam. Ibu belum tidur, 'kan?"

Celine menyindir, "Aku dan Ibu baik-baik saja. Kamu pasti ada urusan, 'kan?"

Niat baik Darrel tidak diterima dengan baik. Hal ini membuatnya agak kesal.

Dia bertanya dengan menahan emosinya, "Althea lagi haid. Aku ingat di rumah ada wedang jahe. Kamu taruh di mana?"

Tiba-tiba, rasa sakit yang menusuk membuat Celine memegangi perutnya erat-erat dan meringkuk.

"Celine?"

Celine tidak ingin meladeninya. Untuk urusan seperti ini pun harus meneleponnya?

"Di lemari dapur."

"Nggak ada."

"Coba cari lagi."

"Nggak ketemu."

"Kamu buta ya?"

"Darrel, ada nggak sih? Sakit banget!" Suara Althea terdengar dari dalam kamar.

Celine sampai kagum pada wanita itu. Bahkan untuk berteriak saja dia sendiri tidak punya tenaga.

Namun, suara Althea terdengar begitu lantang. Sepertinya dia memang punya tubuh yang sangat subur.

Darrel di seberang sana benar-benar cemas.

"Merek yang dulu kamu beli bagus. Tolong pesan dan minta diantar ke sini. Althea sejak kecil memang selalu mengalami nyeri haid yang parah."

Seorang dokter bahkan tidak bisa menangani nyeri haid, malah meminta mantan istrinya membelikan wedang jahe untuk wanita yang sekarang bersamanya?

Celine tidak tahan untuk menyindirnya, "Darrel, kalau kamu lagi kesal karena nafsumu nggak tersalurkan, jangan balas dendam dengan menganggap aku ini ibumu yang harus mengurusi segala macam dong."

Setelah berkata begitu, dia melempar ponselnya ke samping dan membenamkan wajah pucatnya ke bantal.

Helen bertanya pelan, "Celine, kamu bertengkar dengan Darrel?"

"Nggak kok, Bu."

Celine membalikkan badan agar Helen tidak melihat air matanya.

Dua bulan sebelumnya, Darrel beberapa kali tidak menggunakan pengaman. Haidnya juga terus terlambat, sampai dia sempat mengira dirinya hamil.

Namun, setelah diperiksa di rumah sakit, ternyata bukan hanya tidak hamil, kemungkinan dirinya memiliki anak sepanjang hidupnya juga sangat kecil.

Celine paham, kemungkinan besar hal itu ada hubungannya dengan musim dingin ketika dia berusia 14 tahun, saat ayahnya menendangnya hingga dia jatuh ke dalam lubang es.

Haidnya pun baru kembali normal setelah menjalani pengobatan selama dua tahun.

Darrel begitu mengkhawatirkan nyeri haid Althea. Padahal selama setahun menjadi istrinya, setiap kali Celine kesakitan sampai tidak bisa pergi bekerja, Darrel tidak pernah ada di rumah.

Dia tahu Darrel tidak menyukainya. Darrel bahkan lebih rela mencium bau disinfektan di rumah sakit daripada pulang ke rumah.

Rumah seluas 200 meter persegi itu hampir hanya dihuni olehnya seorang diri. Rasanya dingin dan sepi setiap hari.

Di sisi lain, Darrel akhirnya memesan wedang jahe sendiri.

Dia menatap layar ponselnya dengan tatapan dingin. Bibir tipisnya terkatup rapat, lalu dia kembali menelepon Celine.

"Maksudmu apa?"

Celine bertanya balik, "Apanya?"

"Nggak tersalurkan ...."

Saat itu, Helen mendekat dan bertanya, "Darrel ya? Kasih Ibu ponselnya. Ibu mau bicara sebentar dengannya."

Helen ingin menasihati menantunya agar mereka berdua tidak bertengkar.

Celine mendongak menatap ibunya. Da berpikir, foto ibunya saja dilewati Darrel saat memberi like. Menantu apaan?

Namun, memang begitulah ibu mertua. Semakin lama melihat menantu mereka, semakin sayang.

Saat melihat Darrel, Helen langsung seperti anak kecil yang meminta permen. Dia terus memanggil "menantuku" karena dia memang sangat menyukai Darrel.

Siapa yang tidak suka? Wajahnya tampan, tegas, dan dingin. Benar-benar sempurna.

Keluarganya terpandang, di usia muda sudah menjadi dokter kepala departemen bedah saraf. Di tengah kerumunan, dia selalu terlihat menonjol. Ibu mertua mana yang tidak menyukainya?

"Ibuku mau ...."

Namun, sebelum Celine menyelesaikan kalimatnya, telepon tiba-tiba terputus.

Sambil memegangi perutnya, Celine berpikir, ternyata dulu dia tidak menyadari betapa menyebalkannya pria ini.

Dia pun meminta maaf kepada Helen, "Bu, Darrel lagi sibuk."

Helen kembali ke ranjangnya dengan kecewa.

Celine menghela napas. Sebenarnya, ibunya juga sedikit banyak mengerti.

Dia mulai bingung bagaimana harus memberi tahu ibunya bahwa dia dan Darrel sudah bercerai ketika mereka pulang nanti.

Darrel menerima pesanan yang diantar, lalu menutup pintu. Dia membuatkan wedang jahe dan membawakannya kepada Althea.

Wanita di atas ranjang itu berwajah pucat, rambutnya berantakan, tubuhnya tertutup selimut, tangannya memegangi perut.

Penampilannya yang lemah benar-benar berbeda dari biasanya, membuat orang merasa iba.

"Minum sedikit. Ini bisa bantu meredakan rasa sakit."

Althea membuka mata. Dia mengulurkan tangan dari balik selimut. Berbeda dari sikapnya yang biasanya tegas dan mencolok, kali ini dia berkata dengan lemah.

"Darrel, sakit sekali. Tolong pijat perutku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 50

    Kalimat terakhirnya jelas terdengar tegas dan tajam.Celine tidak ingin siapa pun melihat air matanya.Dia selalu berusaha terlihat kuat. Bahkan di depan ibunya sendiri, dia tidak pernah menangis.Terlebih lagi, dia tidak ingin menangis tersedu-sedu di depan orang lain. Tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya menangis.Dia berusaha keras menahan air matanya tanpa mengeluarkan suara.Mata dan hidungnya sudah sangat merah, bahkan area di sekitar matanya pun mulai basah karena air mata.Jas putih yang dikenakannya dan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya semakin menonjolkan wajahnya yang begitu pucat dan lelah, membuat seluruh dirinya seolah akan hancur.Levin menatapnya. Dadanya terasa sesak. Amarah dan rasa tidak rela membara di dalam dirinya.Ada seseorang yang membuat Celine bersedih dan sekarang dia menangis karena orang itu.Celine tidak menceritakan kesedihannya kepada Levin. Levin hanya mengembalikan ponselnya dengan tenang."Kak, aku ke ruang penelitian dulu."Celine ber

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 49

    Dokter memberinya beberapa obat herbal untuk membantu mengurangi tekanan mental.Saat Levin pergi mengambil obat, dokter berbisik kepada Celine, "Pak Levin sudah menemanimu selama dua jam lho.""Hah?" Celine terkejut.Sebelumnya, media keuangan pernah bergurau bahwa kalau penghasilan Levin dihitung dengan standar gaji pegawai kantoran biasa, penghasilannya bahkan bisa dihitung per milidetik.Berapa banyak uang Levin yang terbuang sia-sia karena dia pingsan kali ini?Celine langsung bergidik.Levin berjalan ke arahnya dan bertanya sambil mengernyit, "Kenapa? Masih nggak enak badan?""Nggak, aku sudah mendingan."Levin menopangnya ke luar. Dia menunduk sejenak sebelum berkata."Waktu kamu pingsan, Darrel meneleponmu."Tubuh Celine langsung menjadi kaku.Kepalanya seketika terasa seperti ditusuk jarum."Celine? Kamu kenapa?""Aku nggak apa-apa ...."Levin merangkul bahu Celine untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh.Matanya yang dalam seperti kolam tenang menyiratkan sedikit rasa ingin t

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 48

    Dia kembali ke pusat penelitian farmasi dengan langkah gontai."Celine, coba analisis data dari kumpulan galur sel ini ...."Johan berjalan menghampirinya. Melihat wajahnya yang tampak pucat, dia bertanya, "Ada apa?"Sambil membetulkan kacamatanya, dia bergumam, "Semalam, kakek Darrel sampai meneleponku dan memintaku biar aku nggak memberimu beban pekerjaan yang terlalu berat."Mendengar perhatian Johan, entah kenapa Celine merasa sangat lelah dan tertekan.Sekarang hanya ada dua hal yang dia inginkan.Pertama, bercerai dari Darrel dan tak pernah lagi bertemu dengan siapa pun yang berkaitan dengan Darrel.Kedua, ibunya segera membaik dan diberi umur panjang agar bisa menemaninya lebih lama.Dia tidak bisa punya anak. Jadi, di sisa hidupnya, hanya ibunya yang menjadi satu-satunya keluarganya.Johan berkata, "Wajahmu pucat sekali. Kamu nggak enak badan ya?"Celine menekan emosinya, lalu menggeleng sambil tersenyum. "Aku nggak apa-apa.""Mau pulang dan istirahat?""Nggak perlu."....Sian

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 47

    Celine sedikit kehilangan fokus.Di mata Darrel, dirinya ternyata semurah itu. Hanya dengan beberapa hidangan, Darrel mengira dia sudah bisa disuap untuk mengurus perempuan yang dicintainya.Dengan kesal, dia berkata, "Dibunyikan seratus kali pun nggak bakal ada yang buka."Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.Ternyata sampai sekarang Darrel masih tidak tahu bahwa dia sudah pindah?Betapa konyolnya. Istrinya sendiri sudah pindah, tetapi dia bahkan tidak tahu.Apakah keberadaannya di rumah, bahkan di dalam hati Darrel, benar-benar tidak berarti?Celine sudah mengambil keputusan.Besok, setelah akta cerai sudah berada di tangannya, kalau pria berengsek itu mengatakan satu kata saja kepadanya, dia akan langsung membalas dengan tegas. Persetan denganmu!Membayangkan kejadian besok, dia pun terkekeh.Helen keluar dari dapur dan bertanya dengan heran, "Celine, kenapa matamu merah?""Mana ada."....Setelah makan, seseorang menelepon Celine lagi. Ternyata Juan.Celine agak e

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 46

    Sepulang dari kantor, Zafira mengirim pesan kepada Celine, menanyakan kapan dia dan Darrel akan mengurus akta cerai.Sesuai keinginannya, Celine menjawab. [Besok kami akan mengurusnya. Aku sudah janjian sama Darrel.][Ya, cepat selesaikan. Itu akan lebih baik untuk semua orang, supaya kamu dan Darrel nggak saling menunda.]Sudut bibir Celine terangkat membentuk senyuman sinis.Kata-katanya terdengar begitu manis, padahal sangat menusuk. Masa depan putranya memang tidak akan terhambat lagi setelah bercerai.Namun, bagaimana dengan dirinya yang tidak bisa punya anak?Kalaupun dia bisa menikah lagi dan mendapatkan suami yang baik, mantan ibu mertuanya ini juga belum tentu akan ikut senang.Benar-benar orang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.Celine hanya membalasnya dengan satu kata. [Ya.]Zafira juga tidak mempermasalahkannya. Yang penting, besok mereka berdua segera menyelesaikan perceraian.Tiba-tiba, Riani berjalan mendekat dan duduk di sampingnya dengan langkah pelan.Set

  • Pesan Cerai Sudah Terkirim   Bab 45

    Di ujung telepon, Darrel berbicara dengan suara yang jernih dan dingin."Althea kena gastroenteritis akut dan harus dirawat di rumah sakit. Aku mau menemani dia dulu di sini."Celine menyahut, "Nggak perlu lapor ke aku.""Masakkan makanan yang ringan di rumah. Nanti aku suruh Darryn mengambilnya."Darrel menambahkan, "Masakkan sayuran hijau juga, rebus sampai lunak."Celine pura-pura tidak mengerti. "Bukannya dulu di rumahmu aku nggak boleh masak? Kamu nggak suka bau minyak dan asap masakan."Di seberang sana Darrel terdiam sesaat."Aku cuma mau minta bantuanmu memasakkan makanan yang ringan. Nggak usah bahas hal-hal yang nggak perlu."Darrel menghela napas. "Kalau nggak mau masak, ya sudah. Kamu dan Ibu jangan lupa makan tepat waktu. Begini saja, aku minta restoran antarkan makanan untuk kalian."Celine membalas dengan datar, "Nggak usah. Suruh saja restoran antarkan untuk Althea."Percakapan itu tidak berlangsung dengan menyenangkan. Darrel tidak memaksanya. "Baiklah."Saat hendak me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status