登入Tengah malam Arkan mendapat panggilan telepon dari ibunya. Aluna yang sudah tertidur bahkan sampai terbangun. Tak perlu ia bertanya apa yang terjadi, suara Fiona sendiri sampai keluar dari ponsel hendak memecahkan gendang telinga Arkan dan istrinya.
"Iya. Keputusan yang bagus." Sahut Arkan mengantuk.["Kan mama sudah bilang dari siang tadi kalau pembantu pilihanmu itu nggak bener! Dasar kamu aja yang nggak percaya!"] Dengkus Fiona emosi."Iya, mama. Syukurlah sekaraHati orang tua mana yang tak hancur jika melihat anaknya yang jatuh sakit. Begitu juga dengan Fiona yang semakin teriris saat melihat keadaan putranya, Arkan. Ditangannya masih terpasang infus, tapi Arkan nekat mendonorkan darah demi putrinya. Demi anak yang selama ini terpisah darinya. Tanpa memperdulikan resiko yang terjadi padanya, Arkan tetap mengalirkan darah itu untuk disalurkan pada putrinya. Dan setelah mendonorkan darahnya, Arkan menandatangani sebuah surat dimana ia ingin pulang paksa. Dimana ia memaksa rawat jalan dengan kondisinya yang belum benar pulih. "Arkan.." panggil Fiona. Arkan hanya menoleh sekilas. Ia lalu keluar dari ruang pemeriksaan dan pergi ke sebuah tempat. "Maaf, tante.." ucap Adelina menahan tangis. "Aku tidak tahan lagi.." Adelina berkunjung ke kamar Arkan sore ini. Oleh karena tak tahan melihat Aluna yang bersusah hati seorang d
Bukan salah mobil yang masuk ke area parkiran tanpa melihat anak kecil yang sedang berlarian. Ditha berlari dengan tersenyum lebar. Anak sekecil itu tak mengerti akan bahaya. Terlebih Ditha menjadi anak Aluna yang paling aktif dan sulit dicegah. Tubuh mungilnya ditabrak. Dada itu terlindas oleh ban besar. Mobil itu berjalan masuk dengan pelan. Namun beban yang menimpa Ditha begitu berat hingga membuat anak itu tak sadarkan diri. Noda darah berwarna merah keluar dari lubang hidung dan sela mulutnya. Aluna histeris. Langit yang melihat itu langsung membawa Ditha ke rumah sakit. Disana, Ditha mendapat tindakan. Tak hanya Aluna dan Langit. Dua wanita yang mengaku nenek dari Ditha juga ikut menyusul ke rumah sakit tempat Sinar bekerja. Sesampainya disana, Ditha langsung diberikan tindakan. Anak ini di rontgen dan diberikan cairan melalui infus. "Banyak banget perdarahannya, mbak. Siap-siap saja untuk mendonor jika diperlukan. Stok darah di rumah sakit ini lagi kosong!" Seru Sinar me
"Kamu yakin, Aluna?" Langit memandang ragu pada wanita yang tengah menyiapkan dua buah hatinya itu. Aluna mendesah pelan lalu mengangguk. "Kalau mereka malah berusaha mengintimidasimu dengan anak-anak ini bagaimana?" "Maka mereka akan salah lawan!" Sahut Aluna tanpa takut. "Aluna.." panggil Langit sekali lagi. Aluna membalas tatapan pria ini. "Setidaknya aku harus memberikan hukuman pada mereka. Dimana dulu mereka semua pernah meragukan darah yang mengalir di kedua tubuh anakku. Hari ini, aku ingin menampar mereka dengan kenyataan." "Baiklah. Aku ikuti ucapanmu. Tapi jika terjadi sesuatu, aku nggak segan untuk bertindak!" Ujar Langit mengingatkan. Aluna tersenyum dan mengangguk lagi. Dua orang dewasa ini membawa dua anak kecil yang tampak kegirangan. Dipakaikan baju rapi lalu diajak keluar itu sama saja dengan bermain di taman hiburan. Senyum tak lep
"Bagaimana keadaan Arkan, mbak?"Pada siang hari Farah datang seorang diri mengunjungi keponakannya. Di atas ranjang Arkan terlihat masih tertidur dengan nyenyak."Begitulah. Tadi masih ada muntah dua kali. Makannya juga masih sedikit.""Kasihan sekali.." gumam Farah memandang lekat Arkan. "Dari hasil usg juga ditemukan tukak di lambungnya.." sambung Fiona."Oh, apa itu?""Semacam sakit yang lumayan parah di lambung. Arkan memang ada sakit maag. Biasanya dia rutin minum obat. Tapi.. beberapa bulan ke belakang Arkan nggak memperhatikan dirinya sendiri. Dia makan atau tidak aku juga kadang tidak tahu."Fiona jadi merasa bersalah karena kurang perhatian pada putra tunggalnya. Ah, bukan karena tidak perhatian. Lebih tepatnya Arkan yang tak mau menerima kasih sayang dari ibunya sendiri."Apa mbak Fiona sudah memberitahu Arkan kalau kita sudah menemukan anak-anaknya?"Fiona mendelik ke arah adiknya. Wanita i
Arkan dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami muntah hebat. Hasil pemeriksaan dokter, Arkan mengalami dehidrasi tingkat sedang disertai dengan gastritis. Pria ini pun membutuhkan perawatan lebih lanjut. "Arkan.." lirih Fiona memanggil sambil menangis. Mendengar suara itu membuat mata Arkan yang terpejam jadi terbuka. Ia pun menatap ibunya dengan mata yang memerah. Pedih sekali hati Fiona melihat keadaan putranya saat ini. Ada selang infus yang terikat di tangannya. Begitu juga dengan wajah Arkan yang pucat pasih. Fiona meminta ampunan kepada Yang Kuasa karena selama ini tak memperhatikan kondisi putranya. "Nak.. apa yang terjadi?" "Aku nggak apa-apa." Jawab Arkan dengan helaan nafas berat. Fiona menggeleng sambil menangis. Dia sungguh bersedih dengan keadaan putranya. Kabar sakitnya Arkan juga sampai ke telinga keluarga besar, termasuk Brastya. Saat Aamir pulang ke rumah, ayahnya ini langsung mengajukan pertanyaan. "Arkan dirawat di rumah sakit." Ucap Brastya mema
"Aluna.." Farah menatap tak percaya ke arah wanita cantik yang berada di sisi Aamir. Aluna yang melihat wanita parah baya itu bergegas menyembunyikan anak kembarnya ke belakang. "Tante. Adel!" Aamir terkejut bukan main. "Sedang apa kalian disini?" "Kami ingin membeli makan siang. Jadi mampir kemari." Jawab Adelina masih terperangah. "Apa itu benar kamu, mbak Aluna?" Tanyanya. "Iya." Sahut Aluna dengan mulut bergetar. Dia lalu memandang Langit. "Langit." Langit mengerti. "Ayo kita pergi!" "Aluna!" Cegah Aamir. "Aluna." Kini Farah ikut memanggil. Matanya beralih pada dua anak kecil yang bersembunyi di balik tubuh ibunya. "Itu anakmu?" "Iya, anakku." Kedua tangan Aluna menggenggam kedua anaknya. Ia lalu berjalan melewati Farah dan Adel sambil dikawal oleh Langit. "Aluna!" Panggil Aamir mengejar. Pria ini tak memperdulikan kehadiran Farah
Si kembar dan pengasuhnya langsung menyambut kepulangan Aluna. Apalagi si kembar yang langsung naik ke pelukan ibunya. Ditha melirik ke belakang. Ada Langit yang tersenyum padanya. Si cantik berambut keriting ini berjalan dan memeluk Langit. Sementara, Abi lebih suka memeluk ibunya
"Aduh ini gimana?" Aluna ingin merengek saja. Ia mau mencopot gamis yang ia pakai. Melihat itu, Dewi dan Mawar hanya bisa tertawa. Maklum, perdana Aluna mengambil endorse di luar pekerjaan sampingannya sebagai ambassador salon Muslimah. Ia jadi kikuk ketika membuat promosi mengenai
"Sedang apa anda disini? Ingin menyakiti Aluna lagi??! Enyahlah!" Langit berang dan mendekati meja dimana Aluna dan Aamir sedang duduk berhadapan. "Langit.." tegur Aluna terkejut. "Pergi dari sini! Setelah menelantarkan istri dan anak-anak jangan harap kalau ada kese
"Dari Tuan..." dahi pria itu mengernyit membaca nama jelas yang tertulis di atas kertas tersebut. "Aamir."Nafas Aluna yang sesak sekarang mengempis. Ia pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya."Tuan Aamir?" Aluna memastikan. Mas Aamir yang sama kah, yang dimaksud pria in







