LOGINOliver meneguk salivanya dengan bersusah payah. “Ta-tadi saya bertemu dengan Nyonya Muda di lobi waktu mengantarkan klien kita,” lapornya dengan suara gugup.Ia segera menceritakan rentetan kejadian saat ia memergoki Sherin yang sedang tertahan di meja resepsionis. “Nyonya Muda dipersulit karena namanya tidak ada di jadwal janji temu dengan Anda hari ini,” terang Oliver.Arnold terdiam. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia lupa memberi instruksi pada bawahannya soal kedatangan Sherin. Kelalaiannya ini membuatnya merasa sangat bersalah.Sindiran Clarissa tadi mendadak terngiang di kepalanya. Kini, Arnold baru menyadari bahwa keputusannya untuk merahasiakan status pernikahannya dari publik justru malah mempersulit Sherin dan membuat istrinya itu diremehkan oleh para bawahannya sendiri karena ketidaktahuan mereka.“Kalau memang dia sudah datang, ada di mana dia sekarang?” desis Arnold, kembali menghunus Oliver dengan tajam.“Itulah masalahnya, Tuan Muda,” sahut Oliver sambil menu
“K-Kamu … kenapa ada di sini?” cicit Sherin dengan suara serak tertahan.Alih-alih menjawab, pria itu malah menyeringai sinis. Kening Sherin mengernyit saat menangkap sesuatu yang digenggam pria tersebut—sebuah kain berwarna gelap yang tampak mencurigakan.“Ka-kamu mau apa?” sergah Sherin saat melihat pria itu malah bergerak mendekat ke arahnya. Firasat buruk seketika menyergap seluruh indranya. “Ja-jangan mendekat atau aku akan─Hmpph!”Belum sempat Sherin melayangkan peringatannya, pria itu telah menerjang dengan gerakan kilat dan membekap mulutnya. Sherin meronta hebat, jemarinya mencakar lengan pria itu berusaha melepaskan bungkaman kuat yang menekannya.Akan tetapi, bau tajam zat kimia yang menyengat dari kain yang membekapnya seketika memenuhi rongga pernapasannya. Dalam hitungan detik, kepala Sherin terasa berputar hebat, tenaganya semakin melemah dan akhirnya kegelapan total segera merenggut kesadarannya.Pria paruh baya itu segera melepaskan bungkamannya saat tubuh Sherin terk
Sembari mengusap pergelangan tangannya yang memerah, Clarissa mendongak dengan tatapan remeh. Ia terkekeh kecil. “Bagaimana dengan lahan proyek yang akan kamu kembangkan? Apa kamu tidak takut aku mencemarkan nama baikmu dan membocorkan rahasia pembicaraan rapat kita tadi kepada lawan bisnismu, Arnold?”“Kamu pikir aku tidak menyiapkan rancangan cadangan?” balas Arnold dengan acuh tak acuh.Clarissa tercengang, tetapi kemudian ia tersenyum tipis. “Baiklah … aku akan pergi,” lirihnya seraya bangkit dari duduknya.Dengan tubuh yang masih gemetar, ia menatap Arnold lurus-lurus. “Aku tidak tahu seperti apa wanita yang berhasil menaklukkanmu, Arnold. Tapi, aku ingin tahu … apa dia sanggup menerima masa lalu?”Dahi Arnold mengernyit dalam. Sebelum ia sempat mempertanyakan maksud ucapan itu, Clarissa sudah berbalik dengan angkuh. “Tenang saja. Aku akan pergi seperti yang kamu inginkan.”Wanita itu pun melangkah keluar dengan langkah goyah. Namun, langkahnya terhenti sesaat ketika melihat satu
Sudut bibir Clarissa perlahan mengembang samar. “Arnold, aku tidak tahu kalau kamu ternyata pandai berbohong.”Dahi Arnold mengernyit. Sebelum ia sempat merespon, wanita itu telah bergerak mendekat, lalu dengan lancang melingkari lehernya.“Kamu sengaja bicara seperti ini untuk membuatku cemburu, kan? Padahal tidak ada salahnya kamu akui saja kalau kamu─”Sentakan kasar Arnold memutus ucapan Clarissa. Wanita itu pun terhuyung mundur hingga pinggangnya membentur pinggiran meja dan membuatnya meringis pelan.Namun, Arnold tidak menunjukkan simpati sedikit pun dan malah melayangkan tatapan sinis padanya. “Berhentilah berhalusinasi dan menganggap dirimu masih begitu penting sampai aku harus membuatmu cemburu, Clarissa.”“Jadi … kamu benar-benar … sudah menikah?” Suara Clarissa terdengar bergetar. Ia menatap Arnold dengan lekat seolah ingin mencari kebohongan di mata pria itu. Akan tetapi, yang ia temukan hanyalah tatapan dingin dan asing yang tidak menyisakan sedikit pun kehangatan.Seola
“Jaga bicaramu, Clarissa.” Netra biru Arnold memicing tajam. “Jangan bicara seolah-olah kita masih punya hubungan apa pun.”Clarissa tertawa renyah, sama sekali tidak menganggap serius ucapan Arnold. Perlahan ia bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya yang bergaung pelan di lantai marmer.“Tidak usah berpura-pura,” ucap Clarissa yang kini telah berdiri menghadap Arnold, menyandarkan bokongnya pada pinggiran meja panjang yang menjadi meja rapat mereka sebelumnya. Jemarinya terangkat, lalu perlahan meraih dasi pria itu dan melilitkannya dengan gerakan yang terlihat sensual. “Aku tahu … kamu masih punya perasaan padaku, Arnold.”Sayangnya, godaan wanita itu tidak menggetarkan Arnold sedikit pun. Arnold mendengus dingin. “Apa tidak ada yang bilang padamu? Terlalu percaya diri itu hanya membuatmu terlihat menjijikkan, Clarissa.”Wajah Clarissa langsung berubah nanar, tetapi dengan cepat ia menutupinya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia melepaskan li
“Be-benarkah?” Hailey terperangah. Seulas senyuman mengembang lebar di wajahnya, lalu ia segera menuntun Sherin untuk duduk sejenak di dalam kamar tersebut.Hailey bergegas mengambil sebotol air mineral yang tersedia di dalam kamar tersebut, lalu menyerahkannya kepada Sherin. “Minumlah dulu,” ujarnya setelah membukakan penutup botol mineral tersebut.“Terima kasih,” bisik Sherin lirih.Alih-alih segera meneguknya, ia justru menatap kosong ke arah botol di tangannya. Pikirannya masih tertinggal pada kilasan memori yang baru saja menghantamnya seperti ombak besar."Apa yang kamu ingat, Rin?" tanya Hailey pelan, mencoba menekan rasa penasaran sekaligus cemasnya. "Apa kejadiannya sama seperti yang suamimu ceritakan?”Sherin menarik napas panjang, berusaha menguasai dirinya yang masih gemetar. “Semua sama persis, Hailey,” lirihnya.Bahu Hailey merosot dengan penuh kelegaan. “Syukurlah kalau begitu. Tadi aku pikir kalau dia bohong, aku sendiri yang akan menghajarnya untukmu.”Alih-alih mena







