MasukSelamat bobo cantik hehehe
“Jadi … sejak awal kalian sudah merancang untuk membunuh ibuku demi menguasai hartanya?” desis Sherin dengan suara dingin, memendam kebencian yang tak tertahankan. Ia sangat yakin Penelope memiliki andil besar dalam kecelakaan yang menimpa ibunya.Penelope terdiam sesaat. Senyumnya membeku di bibir, tetapi hanya sepersekian detik sebelum berubah menjadi seringai miring yang terlihat lebih berbahaya.“Oh, Sayang ...," ucap Penelope dengan nada lembut penuh kepalsuan. Tangannya terangkat, mengelus pipi Sherin dengan sentuhan yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang."Jangan berburuk sangka sampai sejauh itu. Ini hanyalah akibat yang harus ibumu tanggung karena sudah merampas apa yang seharusnya aku dan Paula dapatkan,” lanjut Penelope dengan angkuh, tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan atas semua perbuatan yang telah ia lakukan di masa lalu.Dahi Sherin mengernyit. Kebingungan bercampur amarah memenuhi wajahnya. "Merampas? Apa maksudmu? Ibuku adalah istri sahnya. Jangan seenaknya
David Scarlet masih bungkam hingga cibiran sinis meluncur dari bibir Penelope. “Sudahlah … ceritakan saja, David. Tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan. Kasihan kan kalau dia sampai tidak tahu anak siapa dia sebenarnya kalau ditanya malaikat pencabut nyawa nanti.”Tatapan David langsung berpindah pada Penelope. Ia pun menghardik wanita itu dengan kesal, “Diam, Penelope. Apa kamu belum cukup menambah masalahku, hah?”Penelope berdecak malas. “Berhenti menjadi pahlawan kesiangan, David. Semua sudah terlambat. Kamu pikir, dengan kamu menutupinya, semua perbuatanmu ini akan termaafkan,” ejeknya.David mengepalkan kedua tangan di kedua sisi tubuhnya. Meskipun kesal, tetapi ia tidak dapat menyangkal ucapan istrinya tersebut.“Baiklah. Kalau kamu tidak mau bicara, biar aku saja,” ujar Penelope sembari menahan sakit di pipi kanannya. Ia berjalan tertatih-tatih, menghadap Sherin yang masih terpaku dalam keterkejutan yang amat dalam.“Dengar baik-baik, Gadis Bodoh,” desis Penelope seraya menge
Rasa dingin yang menusuk tulang dan aroma beton lembap menjadi hal pertama yang dirasakan Sherin saat kesadarannya perlahan merayap naik. Kepalanya terasa sangat berat, berdenyut hebat seolah baru saja dihantam benda tumpul.Sherin mencoba menggerakkan tangannya, tetapi rasa perih segera menjalar di pergelangan tangannya. Samar-samar ia mendengar suara rintik hujan yang menggema entah dari mana.“Enghh ....”Lenguhan kecil lolos dari bibirnya yang kering. Pandangannya masih buram, tetapi ia dapat merasakan tubuhnya terasa kaku, seolah sedang terikat pada sesuatu yang dingin dan kokoh.Beberapa kali Sherin mengerjap, memaksa matanya menyesuaikan diri. Perlahan, bayangan di sekelilingnya menjadi jelas. Ia berada di sebuah ruangan luas yang suram, dipenuhi pilar-pilar beton kasar yang menjulang seperti penjara tanpa jeruji.‘Ini … di mana?’Manik zamrudnya perlahan menyapu sekeliling, hingga akhirnya tertuju pada dua sosok yang berdiri cukup jauh dari tempatnya bersandar. Keduanya terlih
Arnold memerintahkan karyawannya untuk memutar ulang rekaman beberapa menit sebelum Sherin masuk ke koridor itu. Fokusnya kini tertuju pada setiap orang yang keluar masuk dari area tikungan tersebut.“Tunggu," gumam Arnold saat menangkap kejanggalan dari rekaman yang ditayangkan sebelumnya. "Putar ulang kamera satu.”Sang petugas dengan gemetar menggeser kursor pada linimasa rekaman pada video yang dimaksud. Mata biru Arnold menyipit semakin tajam, terpaku pada sosok pria dengan seragam petugas kebersihan berbelok ke tikungan yang sama sesaat setelah Sherin menghilang.Dengan cepat pandangan Arnold beralih ke monitor lainnya yang menangkap sosok yang sama di titik yang berbeda. Ia membandingkan visual troli yang didorong petugas kebersihan tersebut dengan seksama.Sebelum tikungan, troli itu tampak kosong. Sesudahnya, setelah keluar dari tikungan yang sama, sebuah kantong hitam berukuran sangat besar muncul di tumpukan paling atas, membuat beban troli itu terlihat jauh lebih penuh dan
Sorot mata Arnold seketika menggelap, menghunus Oliver dengan tajam. “Kamu yakin USB ini jatuh dari tas itu?”Oliver mengangguk cepat dengan wajah sedikit memucat. Ia juga tidak percaya flashdrive itu akan muncul dari dalam tas itu. Tadi ia tidak sengaja melihat benda berkilau itu terpental keluar dari saku pinggiran tas bekal itu.‘Bagaimana Sherin bisa mendapatkan USB ini?’ batin Arnold, menatap flashdrive di telapak tangannya. Satu dugaan yang paling ia takutkan mendadak menghantam kepalanya.Arnold bergegas beranjak dari tempatnya. Sembari menyambar jasnya, ia berjalan cepat keluar dari ruangan. Langkah kakinya yang lebar menggema di sepanjang koridor.Oliver mengikuti dengan sigap di sampingnya. “Ada apa, Tuan Muda?”“Aku rasa kecelakaan yang hampir menimpa istriku empat hari lalu ada kaitannya dengan USB itu,” gumam Arnold dengan napas memburu. Jarinya menekan tombol lift di depannya dengan tidak sabaran.Oliver mengerjap syok. “Maksud Anda … Shadow Eagle mengincar Nona karena m
Oliver meneguk salivanya dengan bersusah payah. “Ta-tadi saya bertemu dengan Nyonya Muda di lobi waktu mengantarkan klien kita,” lapornya dengan suara gugup.Ia segera menceritakan rentetan kejadian saat ia memergoki Sherin yang sedang tertahan di meja resepsionis. “Nyonya Muda dipersulit karena namanya tidak ada di jadwal janji temu dengan Anda hari ini,” terang Oliver.Arnold terdiam. Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ia lupa memberi instruksi pada bawahannya soal kedatangan Sherin. Kelalaiannya ini membuatnya merasa sangat bersalah.Sindiran Clarissa tadi mendadak terngiang di kepalanya. Kini, Arnold baru menyadari bahwa keputusannya untuk merahasiakan status pernikahannya dari publik justru malah mempersulit Sherin dan membuat istrinya itu diremehkan oleh para bawahannya sendiri karena ketidaktahuan mereka.“Kalau memang dia sudah datang, ada di mana dia sekarang?” desis Arnold, kembali menghunus Oliver dengan tajam.“Itulah masalahnya, Tuan Muda,” sahut Oliver sambil menu







