LOGIN“Baiklah. Aku janji, lain kali aku akan cerita,” ujar Arnold sembari mengusap punggung tangan wanita itu. “Jangan terlalu emosional begitu. Pudding bisa ikut terpengaruh. Maafkan aku, hm?”Mendengar penyesalan Arnold, Sherin pun memaksakan senyuman kecil di bibirnya meskipun rasa cemas masih menggelayuti dadanya.“Kalau begitu, sekarang makanlah,” tuntut Sherin dengan nada yang tidak menerima penolakan.“Kalau kamu sampai jatuh sakit hanya karena telat makan, bagaimana kamu bisa mengurusku dan Puding kecil kita nanti?” imbuh wanita itu, mengingatkan.“Iya, Sayang,” jawab Arnold patuh. Namun, tatapannya tertuju pada tablet kerjanya yang tergeletak di meja. “Tapi, aku akan memakannya setelah selesai membaca satu laporan kerja ini.”Sherin refleks mendelik suaminya dengan tajam.“Arnold─!”Pria itu refleks mengangkat kedua tangannya, menyerah kalah sebelum Sherin sempat meluncurkan omelan panjang. “Baiklah, Sayang. Aku mengerti,” ucapnya, benar-benar tidak berdaya di bawah kendali wanita
“Bagaimana? Apa makanannya sesuai dengan seleramu? Apa kamu masih mau pesan makanan yang lain?”Rentetan pertanyaan itu membuat Sherin yang tengah mengunyah nyaris tersedak.Arnold refleks meraih gelas di sampingnya dan menyodorkannya dengan cepat. “Pelan-pelan,” gumamnya dengan panik.Sherin segera meneguk air itu, sementara Arnold mengusap punggungnya dengan lembut, seolah khawatir hal kecil bisa menyakiti istri kesayangannya itu.Beberapa detik kemudian, Sherin akhirnya berhasil menelan makanannya. Ia terkekeh pelan.“Arnold, santai sedikit,” hibur Sherin saat melihat ketegangan di wajah sang suami.Masih dengan sisa tawa di bibirnya, wanita itu melanjutkan, “Ini sudah lebih dari cukup. Sup kaldu jahenya benar-benar bikin perutku nyaman. Risotto Primavera dan saladnya juga enak. Aku bahkan tidak sanggup menghabiskannya. Jadi, jangan memesan apa-apa lagi.”Helaan napas lega pun meluncur dari bibir Arnold. “Syukurlah kalau kamu menyukainya. Aku senang selera makanmu sudah kembali.”Sh
Sepengetahuan Sherin, Oliver seharusnya sedang sibuk mengawasi proyek kota mandiri yang baru dikerjakan oleh Windsor Group.Setelah berhasil membuka brankas yang tersimpan di bank luar negeri, Arnold mendapatkan sertifikat tanah proyek pembangunan yang sebelumnya ingin digarap oleh mendiang ayahnya.Di dalam brankas itu juga tersimpan bukti transaksi gelap Frans Langdon yang pernah Richard Windsor selidiki serta blue print proyek kota mandiri yang pernah Richard diskusikan bersama Natalie Callen dulu.Karena itu, Arnold ingin melanjutkan kembali impian sang ayah yang sempat tertunda karena ancaman Shadow Eagle.“Tentu saja saya harus ada di sini untuk memastikan semua persiapan perjalanan Anda berjalan dengan baik, Nyonya Muda,” sahut Oliver seraya membungkuk hormat, mencoba menenangkan keraguan Sherin.Namun, Sherin masih tidak puas dengan jawaban tersebut. Tatapannya tertuju pada Ryan. Pria itu tampak berkharisma dengan seragam pilot lengkap, meninggalkan tanda tanya besar di dalam k
Malam itu benar-benar menjadi momen bersejarah dalam hidup Arnold. Pria yang biasanya memegang kendali di dunia bawah tanah itu kini harus berkutat di dapur di tengah malam buta demi sepiring puding mangga.Tidak lupa ia memakai apron merah muda yang ia paksa Alvin carikan untuknya bersama bahan-bahan premium yang ia perlukan dalam membuat menu yang istrinya inginkan.Di sudut dapur, Sherin duduk manis memperhatikan setiap gerak-gerik suaminya. Sesekali ia memotret pemandangan langka itu secara diam-diam.Tawa kecilnya sesekali pecah saat melihat Arnold yang tampak begitu serius membaca instruksi resep di ponselnya layaknya sedang menganalisis laporan saham.Begitu puding itu selesai, Arnold segera mendinginkannya di chiller. Ia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi istrinya.Namun, saat ia kembali ke meja, Sherin justru sudah terlelap dengan wajah bersandar di atas lipatan lengannya. Arnold hanya bisa tersenyum pasrah, menggendong istrinya kembali ke kamar, dan membiarkan puding itu
[Satu bulan kemudian]“Sayang, apa kamu tadi ada mendengar sesuatu?” seru Arnold dengan mata berbinar penuh antusias. Kepalanya masih menempel lembut di perut istrinya yang masih terlihat rata. “Sepertinya Pudding kecil kita barusan menendangmu.”Ia menatap Sherin dengan harapan yang begitu jelas di wajahnya, seolah-olah momen kecil itu adalah keajaiban terbesar yang pernah ia temukan sepanjang hidupnya.Sherin pun terkekeh geli. Jemarinya menyisir rambut suaminya dengan penuh sayang. “Suamiku, aku baru hamil dua bulan. Kalau di usia segini dia sudah bisa nendang, aku rasa nanti besar dia bisa jadi atlet nasional,” selorohnya.“Tapi, tadi aku benar-benar mendengar suaranya,” balas Arnold, masih bersikeras. Alisnya sedikit berkerut, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Sherin menahan tawa, lalu berdeham kecil. Rona merah tipis telah menyembul di kedua pipinya. “Aku rasa … itu suara perutku,” cicitnya.Arnold terdiam sesaat. Lalu, perlahan senyum jahilnya muncul di bibirnya. “Oh, j
“Arnold, kenapa diam? Apa dia ….”Sherin menggigit bibirnya dengan erat. Dalam benaknya muncul satu kemungkinan terburuk, yakni nyawa Leon tidak berhasil terselamatkan. Buliran bening kembali berjatuhan dari sepasang netra zamrud gadis itu.Melihat sang istri yang menangisi rivalnya, hati Arnold pun bergolak dipenuhi rasa cemburu yang menyesakkan. Ia memalingkan wajahnya dengan jengah sembari menghela napas panjang, mencoba meredam amarah yang nyaris meledak.“Jangan sia-siakan air matamu untuk bajingan sialan itu, Istriku. Dia tidak pantas mendapatkannya,” desis Arnold dengan suara yang diselimuti kekesalan.Sherin mengerutkan keningnya, menatap suaminya dengan penuh tanya. “Apa dia juga ... selamat?” selidiknya dengan secercah harapan yang terdengar jelas dalam suaranya. Tangannya meremas lengan kokoh Arnold, membuat pria itu kembali mengalihkan pandangan ke arahnya.Arnold mendengus. “Apa bajingan itu sangat berharga bagimu?"Sherin tersenyum kikuk. Ia tahu suaminya itu sedang terba
[Satu bulan kemudian.]“Selamat atas pembukaan galerinya dan titip salamku kepada ibumu ya, Rin. Maaf kalau Mama tidak bisa hadir,” pesan Beatrice kepada menantunya melalui telepon.“Baik, Ma. Akan kusampaikan,” jawab Sherin seraya tersenyum tipis. “Semoga urusan Mama di sana berjalan lancar. Terim
“Aku ke ruang kerja dulu ya, Sayang,” pamit Arnold kepada istrinya ketika mereka baru saja menginjakkan kaki di pintu masuk kediaman Windsor. Sherin memanyunkan bibirnya. “Kamu mau langsung kerja? Bukannya tadi kamu sudah janji sama dokter untuk─” Cup! Kalimat Sherin terputus oleh kecupan kil
Paula hendak menerjang ke arah Sherin, tetapi kedua pengawal Arnold langsung bertindak, membekuk kedua tangannya dan menjauhkannya dari Sherin."Aarggh!" Paula menjerit histeris, meronta seperti orang kesurupan. Matanya yang memerah menyalang tajam seolah ingin menguliti Sherin hidup-hidup."Seharu
“Bukannya … rumah ini sudah disita?” gumam Sherin sambil menoleh kepada Arnold.Pria itu mengulum senyum simpul. Sejak ia melayangkan perintah untuk memasukkan nama perusahaan Scarlet ke dalam daftar hitam rekanan Windsor Group, satu per satu perusahaan yang menjadi mitra bisnis David Scarlet memut







