MasukGetaran ponsel di atas meja membangunkan pria itu esok pagi. Nigel Luca duduk, lalu mengecek waktu dan sederet pesan serta panggilan tak terjawab di ponselnya. Melihatnya, tanpa sadar Nigel tersenyum tipis.
Puas.
Pria itu melirik ke samping, tempat perempuan yang kemarin ia beli di pelelangan masih terlelap. Banyak tanda merah mewarnai kulit putih perempuan itu sekarang.
Nigel kemudian bangkut berdiri, mengenakan jubah mandi, lalu menghubungi asistennya.
“Selamat pagi, Tuan.” Dizon, pria yang membawa Bea ke hadapan Nigel semalam, segera menyapa tuannya di telepon.
“Bagaimana?”
Si seberang saluran telepon, Dizon mengangguk singkat.
“Tunangan Anda mengamuk, marah besar, saat dia mendengar kabar Anda membeli model cantik di pelelangan tadi malam, Tuan. Pagi ini Nona Betrix dilarikan ke rumah sakit karena sempat pingsan setelah mendengar Anda juga menghabiskan malam dengan model tersebut.”
Kepuasan di wajah Nigel makin tampak nyata.
Sudah ia duga, perbuatannya semalam akan mendapatkan reaksi memuaskan, didukung dengan obsesi konyol Alina Betrix, tunangannya.
“Lalu … untuk data wanita itu juga sudah saya kirim tadi, Tuan,” ujar Dizon kemudian saat bosnya tak lagi merespons..
“Hm.”
“Wanita itu bernama Bea Flint, dia seorang model yang cukup terkenal di kota ini. Dia putri tertua di keluarga Flint, dan kabarnya semalam dibawa ke aula lelang dalam keadaan tidak sadar. Saya rasa, keluarganya mengorbankan ia demi uang.”
Dizon lalu melanjutkan laporannya, “Nona Flint sendiri hanya memiliki seorang ayah tiri dan adik angkat. Mendiang ibu kandungnya adalah pemilik asli CL Corp, perusahaan yang saat ini nyaris bangkrut karena ketidakmampuan mereka untuk bersaing. Namun–”
“Persingkat.”
Hening sejenak, sebelum Dizon menambahkan, “Nona Bea Flint merupakan kandidat yang sesuai, apabila Tuan ingin menggunakan beliau untuk membalas Nona Betrix, Tuan.”
Nigel mengangguk. Lalu, mengakhiri telepon sebelum menoleh ke arah tempat tidur karena Bea melenguh pelan. Tampaknya gadis itu akan segera bangun.
***
“Ahh, shhh. Sakit sekali.”
Bea merintih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. “Apa yang terjadi, kenapa semua tubuhku rasanya sakit begini?” gumamnya dengan mata masih setengah tertutup.
“Akhirnya kau bangun.”
Suara berat seseorang mengejutkan Bea. Seketika kedua matanya terbuka lebar, kantuknya yang masih tersisa tadi seakan langsung lenyap.
Bea menoleh ke arah sumber suara, dan matanya semakin melotot saat melihat seorang pria baru saja keluar dari kamar mandi dengan kondisi bertelanjang dada—hanya pakai handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
“Aaaa! Siapaa kamu?!” Bea menjerit histeris sembari menutup kedua matanya dengan telapak tangan. “Apa yang kau lakukan di kamarku?!”
Sebelah alis Nigel terangkat menatap Bea yang masih menutup mata dengan telapak tangan.
“Lihat sekelilingmu.”
Bea mulai memperhatikan sekitar, dan baru menyadari tempat itu sangat asing baginya. Bea baru sadar jika itu bukan kamarnya.
“Tunggu, sepertinya aku melupakan sesuatu.” Bea bergumam bak orang bodoh.
“Pakai bajumu.”
Bea terkejut ketika Nigel tiba-tiba melempar sebuah gaun ke arahnya. Ia kemudian lebih syok lagi saat mendapati dirinya tidak mengenakan pakaian apa pun di bawah selimut.
“A-apa yang telah Tuan lakukan padaku!?”
“Omong kosong. Kaulah yang memohon.”
“A–”
Ingatan soal pelelangan tadi malam membanjiri kepalanya, membuat wajah Bea memerah tak karuan. Apalagi saat ia mengingat permainan panas mereka semalam.
“Bodoh, kamu bodoh, Bea! Apa yang kamu lakukan tadi malam?” jerit Bea dalam hati sembari menunduk dalam-dalam dan merapatkan selimut di sekeliling tubuhnya. Merasa malu dan kesal pada diri sendiri.
Semuanya memang gara-gara Jimmy, tapi di mata pria ini, Bea memang tampak menggodanya terlebih dahulu!
Ah, Jimmy. Benar. Ia harus membuat perhitungan dengan pria itu. Sudah Bea duga, ayah tirinya itu hanya menggunakan alasan kebangkrutan perusahaan untuk menghancurkan Bea.
Ck, memang Bea tidak salah membencinya sejak awal. Ia membiarkannya tetap berkeliaran setelah ibunya meninggal hanya karena pria itu bisa dimanfaatkan mengurus perusahaan–karena ialah mantan karyawan sang ibu. Ditambah lagi, Bea lebih suka pekerjaannya sebagai model.
Namun, Bea tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini.
Sementara Bea sibuk dengan pikirannya, Nigel sudah berpakaian rapi. Pria itu sedang mengamati Bea yang masih menunduk di tempat tidur.
“Kalau kau sudah bisa berpikir, ada beberapa hal yang perlu kau tahu sebelum kita bertemu lagi..”
Ucapan Nigel itu menyentak Bea. Perempuan itu menatap Nigel dengan pandangan bingung.
“Bukankah … tugas saya sudah selesai, Tuan?” tanya Bea.
“Kau kira uang 100 miliar bisa lunas hanya dengan permainan satu malam?”
Hati Bea mencelos.
“Sshh, panas sekali.” Bea bergerak tak nyaman.Ia menggapai leher Nigel yang sedang menggendongnya. Tak hanya mengusap, Bea mulai menciumi leher Nigel.“Tenang ‘lah sebentar. Jangan sampai aku menyerangmu di sini, Bea.” Nigel berdesis menahan diri dari godaan.Jika biasanya Nigel disebut sebagai pria batu yang tak tertarik sama sekali kepada rayuan wanita. Sekarang pria itu tampak sangat murahan di depan Bea.Hanya dengan sentuhan jari Bea, Nigel bisa langsung terangsang. Tak heran Nigel sampai mengira Bea memakai obat pemikat.Nigel terus melangkah sembari menggendong Bea ala bridal style. Pergerakan Bea malah semakin liar.Efek obat itu semakin kuat. Bea tak terkendali.“Sialan.” Nigel mengumpat. “Obat sekuat ini diberikan kepada wanitaku? Beraninya memberi obat untuk melempar wanitaku kep
Fitri berusaha melawan sekumpulan pria dengan tetap memegangi Bea. Namun, ia jadi kesulitan.Saat Fitri tampak semakin tersudut, salah satu di antara pria itu menarik lengan Bea.“Nona!” Fitri berusaha menarik kembali Bea, tetapi dihalangi oleh pria-pria lain. “Brengsek! Kalian mau mati? Dia adalah wanita milik Tuan Utama Luca!”“Tidak usah banyak bicara, Nona. Kamu pun nanti akan dapat jatah dari kami.” Para pria itu malah tertawa mengejek Fitri.Fitri menendang dan memukul mereka semua. Kemudian ia berlari mengejar pria yang kabur membawa Bea.Pergerakan Fitri lagi-lagi dihalangi oleh sekumpulan pria tadi. Situasi itu membuat Jimmy tersenyum puas. Ia merasa rencananya sudah berhasil.Sedikit lagi, pria suruhannya akan tiba di kamar yang sudah ia siapkan untuk Bea.“Setelah ini asisten pribadinya
“Waw, siapa ini?”Bea menoleh ke belakang. Suara sinis itu berasal dari mulut Alika.Bea berdecih malas. Ia kembali fokus kepada minuman di tangannya.Alika menggeram. Ia selalu kesal dan marah saat Bea mencuekinya. Sangat berani.Kali ini Alika tak sendiri. Ia bersama beberapa nona muda keluarga kaya.Pesta bisnis yang dihadiri oleh orang-orang penting ini, tentu menjadi tempat berkumpulan orang kaya. Entah itu tuan utama, tuan muda, sampai nona muda seperti Alika dan teman-temannya.Seperti yang diucapkan oleh Bea sebelumnya, lelang amal dalam acara ini akan menjadi ladang unjuk kekayaan antara penguasa bisnis negara. Para orang angkuh akan bersaing demi gengsi keluarga.Saling serang, saling sindir, atau malah saling jilat demi mendapatkan hati orang yang lebih berpengaruh.Itu ‘lah gemerlap dunia
“Tuan.”Nigel menoleh. Dizon masuk dan mendekat ke arah meja kerjanya.Melihat ekspresi Dizon yang tampak ragu, Nigel curiga.“Katakan,” cetus Nigel datar.Dizon menunduk. Ia meletakkan map di atas meja Nigel.“Hasil penyelidikan tentang detail biodata Nona Chloe, Tuan.”Nigel memandangi map berwarna merah itu. “Lengkap?”Dizon mengangguk. “Lengkap, Tuan. Semua tentang ibu kandung Nona Chloe, bahkan ... tentang ayah kandungnya.”Sebelah alis Nigel terangkat. Dizon tampak ragu membahas ayah kandung Bea.Nigel membaca biodata itu seksama. Matanya memicing melihat seseorang yang ikut hadir dalam dokumen itu.Dizon langsung menunduk saat Nigel menatapnya tajam.“Sudah dipastikan?” desis Ni
“Brengsek!”Teresa kaget saat Jimmy tiba-tiba membanting ponsel. “Kenapa? Membuat kaget saja.”Rahang Jimmy mengeras. Sorot matanya tampak begitu tajam. “Tidak mungkin dia yang mengirim ini ‘kan? Wanita brengsek itu baru beberapa hari mengurus keuangan kantor. Tidak mungkin sudah langsung dapat data keuangan tentang penggelapan dana yang aku lakukan. Apalagi selama ini semua itu tidak pernah terdeteksi siapa pun. Sebagai anak ingusan yang baru terjun ke dunia bisnis, mustahil dia bisa mengetahui keanehan dalam pembukuan. Pasti ada orang lain yang ingin memanfaatkan situasi ini.”Jimmy memukul meja. Tangannya terkepal erat, ia marah.“Kenapa, sih? Tiba-tiba marah begini. Apa? Wanita brengsek yang kamu maksud itu, si Bea itu?” tanya Teresa heran.Jimmy menarik napas dalam. “Ada yang mengancamku. Dia mengirim pembukuan, buk
“Dizon.”“Ah, iya?” Dizon sedikit kaget ketika Bea kembali memanggilnya. “Oh, itu. Tuan Utama ada urusan mendadak, Nona. Mungkin sebentar lagi juga kembali. Saya akan menyusulnya sekarang.”Mata Bea memicing. “Memangnya urusan apa lagi malam-malam begini?”“Menidurimu.”“Setan!” Bea mengumpat keras karena kaget oleh suara berat Nigel di belakang tubuhnya.Wanita itu langsung membalikkan badan, dan semakin kaget melihat kondisi tubuh Nigel yang penuh oleh bercak darah.Wajah Bea seketika memucat. “K-kamu kenapa?”Dengan tenang Nigel memberikan pistol dan pisau kepada Dizon.Bea meneguk ludahnya kasar. Bau anyir dari tubuh Nigel mulai tercium.“Kamu terluka?” Bea melirik Dizon yang tampak tenang. “K
Bea tak malu lagi. Demi bisa segera bekerja, ia langsung mencium lembut bibir Nigel.Nigel menahan tengkuk Bea. “Ini bukan ciuman.”Bola mata Bea bergerak. Ia menatap Nigel yang sedang tersenyum miring.Bea melipat bibir.
“Benar-benar brengsek! Bahkan dia menggoda Nigel di depan umum seperti ini? Sampai video mereka jadi trending. Benar-benar wanita murahan! Penggoda!”Alika marah besar. Ia melempar tablet, bahkan seluruh benda terdekat.“Tenang dulu, Say
Kedatangan Nigel di perusahaan CL Corp, membuat gaduh. Karyawan sudah bersiap untuk pulang, jadi sudah tak bekerja.Bisik-bisik selalu menjadi senandung mengantar langkah Nigel. Ia sudah terbiasa.Selagi orang-orang tak membicarakan hal yang tak ia sukai,
“Astaga, itu benar-benar Nigel Luca.”“Beberapa hari ini aku sering melihat mobil itu datang ke sini pagi dan sore. Ternyata itu benar-benar mobil Tuan Utama Luca, ya?”“Iya, dan yang keluar dari sana adalah Bea Chloe, alias Nona Chloe, ahli waris mendiang Presdir Chloe. Dari kabar yang beredar, Ni







