MasukBab Utama : 1/59 (termasuk 5 bab hari ini)
Raungan naga mengguncang Istana Presiden.Cahaya keemasan menyembur dari tubuh Kevin, menembus lapisan aura hitam yang selama ini menyelimutinya. Lantai marmer bergetar hebat. Retakan menjalar ke segala arah, sementara jendela-jendela pecah akibat gelombang energi yang terus membesar.Di belakang Kevin, bayangan seekor naga raksasa perlahan terbentuk.Sisiknya berkilauan seperti emas cair. Sepasang tanduk menjulang di atas kepalanya, sedangkan matanya memancarkan cahaya yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.Sasha ternganga. “Apa itu?”Kiara mundur beberapa langkah. Sebagai mantan pembunuh bayaran nomor dua Angel of Death, ia sudah menyaksikan banyak hal mengerikan. Namun, tekanan yang terpancar dari naga tersebut membuat seluruh nalurinya berteriak untuk melarikan diri.Amber justru memegangi dadanya. “Aku tahu Kevin punya banyak rahasia, tetapi ternyata dia menyimpan kebun binatang di dalam tubuhnya!”“Diam dan berlindung!” bentak Sasha.“Aku sedang berlindung! Hanya sa
Tekanan spiritual Lilian Arkham menyapu seluruh ruangan Istana Presiden.KRAAK!Lantai marmer di bawah kaki Kevin retak. Napasnya terasa berat, seolah-olah sebuah gunung menindih dadanya. Aura hitam yang menyelimuti tubuhnya bergejolak, tetapi tetap sulit menembus tekanan wanita berambut putih itu.Kevin menggertakkan gigi. Kedua lututnya bergetar, namun ia menolak berlutut.“Jangan mencoba menakutiku dengan kekuatanmu!” bentaknya.Lilian mengangkat sebelah alis. “Aku bahkan belum menggunakan sepersepuluh kekuatanku.”“Kalau begitu, gunakan semuanya!” Kevin menerjang tanpa menunggu jawaban.Api hitam membungkus tinjunya. Ia melesat dengan Langkah Ilusi, meninggalkan tiga bayangan yang menyerang dari arah berbeda.Namun, Lilian hanya mengibaskan lengan bajunya.WUSSS!Ketiga bayangan itu lenyap. Tubuh asli Kevin mendadak terhenti di udara, seolah-olah terperangkap dalam dinding tak kasatmata. Sebelum ia sempat melepaskan diri, sebuah gelombang energi menghantam dadanya.BUUUM!Kevin te
DUAAAAAR!Tubuh Black Rose Angel terlempar melintasi ruangan, menghantam pilar penyangga Istana Presiden dengan suara menggelegar. Batu marmer retak seketika. Serpihan kecil berjatuhan di sekitar kakinya, sementara debu putih mengepul memenuhi udara.Mikaela Wilson terbatuk. Rasa logam memenuhi mulutnya ketika darah merembes dari sudut bibir.“Brengsek!”Ia berusaha berdiri, tetapi rasa sakit menusuk hingga ke tulang rusuk. Setiap tarikan napas terasa seperti menggesekkan pisau di dalam dadanya. Organ dalamnya mengalami luka serius akibat pukulan Kevin.Sejak kapan bocah itu menjadi sekuat ini? Pikirnya dengan mata menyipit.Dahulu, Kevin hanyalah anak yang bisa ia permainkan sesuka hati. Kini, pemuda itu berdiri dengan aura gelap yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.Jangan-jangan Inti Naga Mutiara di tubuhnya sudah terbuka sepenuhnya?Pikiran itu membuat jantung Mikaela berdegup lebih cepat. Jika benar demikian, Kevin bukan lagi lawan yang bisa diremehkan.Belum sempat ia me
Kevin terlempar menembus pintu ruang pertemuan dan menghantam lantai marmer. Debu berhamburan, sementara darah mengalir dari sudut bibirnya.Namun, ia tidak merasakan sakit itu.Kata-kata Mikaela terus bergema di kepalanya.Ibumu sebenarnya masih hidup.Kevin mengangkat wajah. Matanya merah menyala saat menatap Mikaela Wilson, wanita yang selama ini dikenal sebagai Black Rose Angel.“Apa maksudmu?” suaranya serak. “Jangan mempermainkanku!”Mikaela berjalan mendekat sambil mengusap darah di bibirnya. Meski tubuhnya terluka, senyum dingin tetap menghiasi wajahnya. “Perempuan yang tewas dalam pembantaian keluarga Braxton bukanlah ibu kandungmu.”Dunia Kevin seolah berhenti berputar. “Apa?”“Dia hanyalah gadis biasa tanpa akar spiritual. Ayahmu menikahinya setelah meninggalkan ibu kandungmu.”Kevin menggeleng keras. “Diam!” Qi iblis bergetar di sekitar tubuhnya.Mikaela justru tertawa kecil. “Kau ingin tahu siapa ibu kandungmu yang sebenarnya?”Ia mengangkat tangan, lalu meluncurkan gelomb
Mawar hitam di telapak tangan Mikaela Wilson mekar menjadi pusaran energi gelap.Udara di ruangan itu mendadak dingin. Lampu kristal bergetar, sementara retakan menjalar di lantai marmer akibat tekanan spiritual yang dilepaskan kedua pihak.Kevin Braxton menatap kakak senior ketiganya dengan mata merah menyala.Selama bertahun-tahun, ia mencari Black Rose Angel untuk membalaskan kematian orang tuanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pembunuh yang dibencinya adalah wanita yang pernah melindunginya.“Kenapa, Mikaela?” Suara Kevin bergetar menahan amarah. “Apa salah mereka sampai kau harus membunuh mereka?”Mikaela mengangkat wajah. Senyum tipis menghiasi bibirnya. “Karena mereka memilih mati daripada menyerahkanmu.”Ucapan itu menghantam Kevin lebih keras daripada pukulan mana pun. “Aku akan membunuhmu!”BOOOM!Qi iblis meledak dari tubuh Kevin. Ia melesat, menghantamkan tinju hitam ke wajah Mikaela.Namun, Mikaela menghilang sesaat sebelum serangan itu mengenai sasaran.BUGH!Tinju K
Pintu utama Istana Presiden terbuka perlahan.Kevin melangkah masuk dengan wajah dingin. Aroma kayu mahal bercampur wangi bunga segar memenuhi ruangan luas itu. Lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan pada lantai marmer yang mengilap.Namun, Kevin tidak tertarik pada kemewahan tersebut.Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: dokumen tentang pembunuhan orang tuanya telah dicuri. Seseorang mengetahui kedatangannya dan bergerak lebih cepat darinya.Eleanor Smith berjalan di depan, diikuti Ashley White dan Christina Moore. Kiara, Sasha, serta Amber mengikuti dari belakang.“Di mana orang yang menungguku?” tanya Kevin.Eleanor berhenti di depan sebuah pintu besar berukir lambang mawar.“Di dalam.”Kevin menatap ukiran itu. Sebuah mawar hitam dengan duri melingkar di batangnya.Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Lambang itu pernah muncul dalam mimpi buruknya. Ia juga pernah melihatnya pada benda yang tertinggal di tempat kedua orang tuanya dibunuh.B
Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada ki
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Ta
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu kong
Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dip







