LOGINBab Utama : 1/59 (termasuk 5 bab hari ini)
Ledakan terakhir mengguncang jalan tol.BOOOOM!Api hitam kemerahan dan petir biru pecah menjadi gelombang energi yang menyapu pepohonan. Debu beterbangan, aspal retak, dan udara dipenuhi aroma hangus seperti logam terbakar.Kevin berdiri dengan napas berat. Pedang spiritual api masih berada di tangannya.Di hadapannya, Angelica Wilshire terdorong mundur beberapa meter. Sepatu botnya meninggalkan dua garis panjang di atas aspal sebelum akhirnya berhenti.Darah menetes dari sudut bibirnya.Namun, Angelica belum jatuh. Ia mengangkat wajah.“Luar biasa.”Kevin menyipitkan mata.Angelica mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan. “Jadi selama ini kau benar-benar menyembunyikan kemampuanmu.”“Aku tidak menyembunyikannya.” Kevin menarik napas. “Aku hanya belum punya alasan untuk menggunakannya.”Angelica tertawa pendek. “Jawaban yang sombong.”“Bukankah kau yang menyerangku lebih dulu?” sindir Kevin.Angelica terdiam.Kevin mengangkat satu alis. “Jadi siapa sebenarnya yang sombong?”
Ledakan energi mengguncang jalan tol.BOOM!Dinding Api Neraka milik Kevin bergetar hebat ketika petir biru Angelica menghantamnya. Tanah di bawah kaki Kevin retak membentuk jaring laba-laba. Kerikil dan serpihan aspal beterbangan, sementara panas menyengat membuat udara di sekitar mereka seperti terbakar.Kevin menggeser kaki kanannya.Sret!Tubuhnya terdorong hampir sepuluh meter. Namun, ia tetap berdiri.Api hitam kemerahan masih menyelimuti tubuhnya.Angelica melayang beberapa meter di udara. Rambut panjangnya berkibar liar diterpa energi petir.“Masih bertahan?” tanyanya.Kevin mengusap darah tipis di sudut bibirnya. “Kalau hanya sebesar itu, kau masih belum cukup kuat untuk membunuhku.”Mata Angelica menyipit. “Kalau begitu coba terima yang berikutnya.”Kedua tangannya bergerak cepat membentuk segel.Langit seketika berubah gelap. Ratusan kilatan petir muncul di antara awan.“Ilmu Petir Surgawi—Sembilan Naga Petir!”Sembilan naga raksasa terbentuk dari petir biru. Sisik mereka be
Kevin berdiri di atas kap mobil Hilux dengan pedang spiritual api masih menyala di tangannya.Namun, api itu mendadak bergetar. Bukan karena angin pegunungan... melainkan karena sosok gadis yang baru saja turun dari mobil.Rambut panjangnya bergerak diterpa angin. Wajahnya terlihat tenang, hampir tanpa emosi. Pakaian hitam yang dikenakannya berkibar ringan, memperlihatkan aura kultivasi yang jauh lebih kuat daripada tiga penyerang sebelumnya.Kevin menatapnya dengan mata melebar. “Angelica...?”Gadis itu tersenyum tipis. “Sudah lama, Kevin.”Dada Kevin terasa sesak. Angelica Wilshire.Gadis yang dahulu selalu berdiri di depannya ketika ia dibully di Sekte Medis Kuno. Saat para murid senior mengejeknya sebagai anak pembawa sial, Angelica-lah yang mengusir mereka. Saat Kevin dipukuli karena dianggap tidak berguna, Angelica diam-diam mengobati luka-lukanya.Bagi Kevin, Angelica adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar bisa dipercaya.Namun, kini gadis itu berdiri di
Mobil Hummer hitam melaju dengan kecepatan sedang di jalan tol menuju Kansas City. Deru mesin terdengar stabil, bercampur dengan suara ban yang menggilas aspal dan hembusan pendingin udara.Kevin duduk di balik kemudi. Kedua tangannya tetap tenang mengendalikan setir, sementara matanya sesekali bergerak ke kaca spion.Kiara duduk di sampingnya, memandang jalan panjang yang membentang di depan. Di kursi belakang, Sasha dan Amber duduk bersebelahan. Selama hampir dua jam perjalanan dari Brixtone City, mereka telah membicarakan banyak hal... mulai dari Mikaela, Presiden Eleanor Smith, hingga kemungkinan bahwa Lilian Arkham sedang menyiapkan rencana yang jauh lebih besar.Namun, pembicaraan itu mendadak terputus ketika Amber mengelus perutnya.“Aku lapar!” Suara itu terdengar seperti pengumuman darurat.Sasha langsung mengangkat tangan. “Aku juga!”Kiara menoleh ke belakang. “Kalian baru saja makan sebelum berangkat.”“Itu sudah dua jam lalu,” jawab Amber dengan wajah serius. “Dalam kondis
Kevin menyelesaikan penjelasannya. Ruang tamu rumah Mikaela mendadak terasa jauh lebih sempit.Kiara berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Sasha duduk di ujung sofa, sementara Amber bersandar di dekat jendela yang pecah. Angin malam masuk melalui celah kaca, membawa aroma aspal basah dan debu bangunan.Tak seorang pun langsung berbicara. Mereka baru saja mendengar cerita yang semakin sulit dipercaya.Empat kakak seperguruan Kevin ternyata telah berbalik menjadi lawan. Mikaela Wilson menghilang. Dan yang lebih mengerikan, Mikaela juga sedang diburu oleh Cynthia, Julie, Ashley, dan Christina.Sasha akhirnya memecah keheningan. "Jadi sekarang kita tidak tahu siapa kawan dan siapa musuh?"Kevin mengangguk. "Benar."Amber mengembuskan napas panjang. "Bagus. Aku sudah lama tidak menikmati hidup serumit ini."Kiara meliriknya. "Ini bukan waktunya bercanda.""Aku tahu." Amber mengangkat kedua tangan. "Aku cuma berusaha menjaga kesehatan mental."Kevin hampir tersenyum, tetapi ekspresin
Kevin akhirnya memutuskan untuk tetap berada di rumah Mikaela.Ia duduk di sofa ruang tamu yang masih utuh, sementara beberapa serpihan kaca berserakan di lantai akibat pertarungan sebelumnya. Udara malam masuk melalui jendela yang pecah, membawa aroma tanah basah dan suara kendaraan yang sesekali melintas di kejauhan.Di luar rumah, suasana jauh lebih berisik."Hei! Kalian mau bertanggung jawab tidak?!""Itu rumah siapa sebenarnya?!""Lihat jalan kami! Hancur semua!""Ini bukan tempat latihan bela diri!"Kevin mendengar semuanya. Namun, ia sama sekali tidak berniat keluar.Ia menyandarkan kepala ke sofa. "Berisik sekali..."Lalu ia memejamkan mata.Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam menghadapi pengkhianatan, pertarungan, dan rahasia tentang Guru, ia mencoba menenangkan pikirannya.Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit. Ponselnya tiba-tiba bergetar.Kevin membukanya. Ia hendak memeriksa pesan dari Kiara, tetapi sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan justru muncul
Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Ta
Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu kong
Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dip
Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.“Nona!” panggil Kevin.Annabella menoleh.Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhka







