Share

Menemui Tunangan

Author: Zhu Phi
last update Last Updated: 2026-02-18 18:23:06

Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.

“Nona!” panggil Kevin.

Annabella menoleh.

Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.

“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhkannya untuk pulang.”

Annabella menatap uang itu, lalu Kevin.

Untuk sesaat… ia tidak berkata apa-apa.

Hanya senyum kecil muncul di bibirnya.

Tanpa balasan, tanpa ucapan terima kasih, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya mantap, rambutnya tertiup angin kota.

Kevin hanya berdiri di sana, memperhatikannya sampai menghilang di antara kerumunan.

Baru setelah itu ia teringat sesuatu.

Janjinya kepada gurunya untuk menemui tunangannya. 

Ia merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi tulisan tangan gurunya.

“Sunset Drive… nomor 21,” gumamnya pelan.

Kevin mengangkat tangan, menyetop taksi.

Perjalanan tidak lama.

Taksi berhenti di depan gerbang besar berornamen besi hitam, tinggi menjulang. Di baliknya berdiri rumah megah—lebih mirip istana kecil daripada rumah pribadi. Taman luas, air mancur, patung marmer, semuanya menunjukkan satu hal... kekayaan yang tak main-main.

Kevin sampai terdiam beberapa saat.

Lalu menekan bel di depan pagar.

Tak lama, seorang pria berseragam pelayan muncul. Wajahnya dingin. Tatapannya langsung menilai dari ujung kepala hingga kaki Kevin yang kembali terlihat lusuh.

“Dilarang mengemis di sini, anak muda,” katanya tajam. “Pergi sekarang… atau aku panggil polisi.”

Kevin tetap tersenyum.

“Aku mau menemui tunanganku.”

Pelayan itu tertawa kecil, meremehkan.

“Tunangan?” ulangnya. “Apa kamu tidak salah tempat? Ini kediaman Keluarga Windsor. Keluarga terkaya di Winchester City.”

Tatapannya semakin sinis.

“Mana mungkin nona kami bertunangan dengan… pengemis.”

Ia berbalik hendak pergi.

“Aku membawa surat tunangan,” kata Kevin santai. “Ditandatangani dan distempel.”

Pelayan itu berhenti.

Kevin mengeluarkan amplop dari dalam tas lusuhnya.

Pelayan itu mengenali amplop itu seketika—kertas khusus, segel lilin, lambang keluarga Windsor.

Ia membukanya.

Matanya membesar saat melihat stempel resmi dan tanda tangan Arthur Windsor.

Wajahnya langsung berubah.

“Maafkan saya, Tuan Muda!” katanya buru-buru. Suaranya kini hormat. “Tuan Besar memang pernah berpesan… jika seseorang datang membawa surat ini, harus disambut sebagai tamu kehormatan.”

Gerbang langsung dibuka.

Sikapnya berbalik total... senyum ramah, tubuh sedikit membungkuk.

“Saya sudah menyiapkan kamar untuk Tuan Muda membersihkan diri,” lanjutnya. “Tersedia pakaian terbaik. Tuan Muda bisa mengenakannya sebelum menemui Tuan Besar, Nyonya… dan tunangan Tuan Muda.”

Kevin mengangguk pelan.

Ia melangkah masuk ke halaman luas itu.

Tanpa ia sadari—nama keluarga yang baru saja disebut pelayan itu… adalah nama yang sama dengan wanita yang baru saja ia selamatkan nyawanya.

***

Kevin berdiri tegak di depan cermin tinggi yang hampir menyentuh langit-langit kamar tamu keluarga Windsor. Cahaya lampu kuning hangat jatuh lembut di permukaan kaca, memantulkan bayangan dirinya dengan begitu jelas hingga terasa asing di matanya sendiri.

Setelan jas hitam itu membungkus tubuhnya dengan sempurna—jatuh pas di bahu, garis potongannya rapi seperti dibuat khusus untuknya. Kemeja putih bersih tanpa satu kerutan pun, sepatu kulit mengilap memantulkan cahaya seperti permukaan air yang tenang. Rambutnya yang biasanya liar diterpa angin pegunungan kini tersisir rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajah yang tegas.

Ia menatap pantulan itu lebih lama dari yang ia sadari.

Sosok di depan kaca itu… terasa seperti orang lain.

Bukan lagi pemuda lusuh yang terbiasa menapaki jalur berbatu dengan sepatu berdebu dan pakaian kasar yang berbau tanah dan angin.

Melainkan pria yang pantas berdiri di tengah pesta kaum elit kota.

Ketukan pelan terdengar di pintu, memecah sunyi kamar.

“Tuan Muda, Tuan Besar sudah menunggu di ruang utama.”

Kevin menarik napas dalam, menenangkan detak jantungnya yang perlahan mengencang. Ia mengangguk tanpa suara, lalu membuka pintu dan melangkah keluar.

Langkahnya bergema pelan ketika memasuki ruang utama kediaman Windsor.

Kemegahan ruangan itu hampir terasa berlebihan—langit-langit tinggi dengan ukiran rumit, lampu kristal besar menggantung seperti gugusan bintang yang membeku di udara. Karpet merah tebal meredam langkahnya, sementara aroma teh mahal mengambang tipis seperti kabut halus yang tak terlihat.

Di tengah ruangan berdiri seorang pria paruh baya dengan punggung tegap dan bahu lebar.

Arthur Windsor.

Tatapannya tajam, memeriksa tanpa membuat gentar. Ada wibawa yang lahir dari kebiasaan memimpin, namun di balik garis wajahnya tersimpan kehangatan yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan.

Di sampingnya berdiri seorang wanita elegan dalam gaun gelap yang jatuh anggun hingga lantai.

Claudia Windsor.

Senyumnya tipis, nyaris formal. Namun, matanya bergerak naik turun, menilai Kevin dengan ketelitian dingin seperti menimbang barang mahal di etalase.

Tepat di sebelahnya berdiri seorang gadis muda—sekitar delapan belas tahun—cantik dengan aura angkuh yang terasa bahkan sebelum ia membuka mulut.

Isabella Windsor.

Tatapannya mendarat pada Kevin… lalu berubah menjadi ekspresi jijik yang tidak berusaha ia sembunyikan.

Arthur melangkah maju terlebih dahulu.

“Kau Kevin Braxton?”

“Benar, Tuan.”

Senyum Arthur muncul—hangat dan tulus, jauh dari basa-basi.

“Aku sudah lama menunggumu.” Ia menjabat tangan Kevin dengan erat. “Dewi Medis Lilian Arkham pernah menyelamatkan nyawaku. Tanpa beliau, aku tidak akan berdiri di sini hari ini.”

Nada suaranya berat, penuh rasa hormat.

Kevin membalas dengan anggukan sopan.

“Guruku menyuruhku datang menemui Anda.”

Suara deham pelan memotong suasana.

Claudia menatap Kevin lagi… kali ini lebih terang-terangan.

“Jadi… ini calon menantu yang kamu maksud dan bangga-banggakan untuk memimpin perusahaan kita?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Pemilik Serbuk Es Api

    Jarum kesembilan menusuk titik meridian di bawah tulang rusuk.Jarum kesepuluh... tepat di atas pusar.Aura keemasan mengalir semakin deras dari tubuh Kevin, menyusup melalui dua belas Jarum Naga Emas yang tertanam presisi di tubuh gadis itu.Luka hitam berbentuk kelopak mawar di dadanya bergetar liar.Asap hitam pekat mulai keluar, berputar di udara seperti makhluk hidup yang meraung tanpa suara.Cynthia tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara di ruangan itu berubah dingin.Kevin membuka matanya.Tatapannya tajam.“Keluar,” bisiknya.Jarum kesebelas dan kedua belas masuk bersamaan.Cahaya emas meledak tipis.Kelopak mawar hitam itu mengkerut, retak—lalu hancur menjadi serpihan asap yang tersedot ke ujung jarum emas.Kevin memutar pergelangan tangannya.Asap hitam itu terjebak dalam pusaran energi emas… lalu lenyap.Luka di dada gadis itu perlahan memudar.Warna pucatnya masih ada, tapi aura kehidupannya mulai kembali menghangat.Napasnya yang tadi tersengal kini stabil.Racun Ibli

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Racun Iblis Darah dan Teknik 12 Naga Emas

    Bau darah yang tipis bercampur wangi obat memenuhi ruangan luas itu.Kevin melangkah mendekat ke sisi ranjang.Gadis itu cantik.Wajahnya halus, bulu matanya panjang, bibirnya pucat hampir keunguan. Namun, seluruh kulitnya terlihat kehilangan warna—seperti bunga yang kehabisan air.Di bagian dada kirinya, tepat di bawah tulang selangka, terdapat luka hitam berbentuk seperti kelopak mawar yang menghitam.Luka itu berdenyut perlahan, seperti bernapas dan hidup.Mata Kevin menyipit.Jantungnya berdetak lebih berat.Itu bukan sekadar luka.Itu sesuatu yang hidup dan berbahaya.Ia mengangkat tangan, merasakan aliran energi di sekitar tubuh gadis itu. Aura kehidupannya tipis… seperti lilin yang hampir padam.Organ-organ dalamnya sedang digerogoti sesuatu.Sesuatu yang ia kenal.Sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.“Racun Iblis Darah…” gumam Kevin pelan.Cynthia yang berdiri di belakangnya langsung menegang.“Kau mengenalinya?”Kevin tidak langsung menjawab.Bayangan api

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Minta Bantuan

    Tatapan Cynthia tak bergeser sedikit pun dari wajah Kevin. Angin sore menyapu halaman luas kediaman Windsor, mengibaskan ujung rambutnya, tapi sorot matanya tetap tajam dan fokus.“Aku butuh bantuanmu,” ucapnya akhirnya.Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tak lagi dominan, tak ada nada perintah. Tapi justru karena itu… terasa jauh lebih serius.“Ada seseorang yang harus kau selamatkan.”Kevin mengernyit tipis. “Kok kakak pilih aku?”Cynthia tak ragu. “Kamu murid jenius guru di bidang medis. Penyakit dan racun apa pun bisa kau sembuhkan dalam sekejap.”Itu bukan sanjungan. Itu keyakinan.Kevin langsung menangkap arah pembicaraan. Tatapannya mengeras.“Pasien?” tanyanya singkat.Cynthia mengangguk.“Seorang gadis yang terluka parah.” Ia berhenti sepersekian detik, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Aku tidak bisa membawa dokter biasa. Tidak ada yang boleh tahu tentang dia.”Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh rahasia.“Bagaimana lukanya?” Kevin bertanya lagi, sorot matan

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Kakak Pertama

    Ruangan itu langsung sunyi lagi.Arthur Windsor menatap pelayan itu lama, alisnya berkerut dalam.“Adik… seperguruan?” ulangnya perlahan, seperti memastikan ia tidak salah dengar. “Kamu yakin tidak salah orang?”Nama itu terlalu besar untuk dianggap sepele.Cynthia Spencer.CEO dari salah satu konglomerasi terbesar di Eldoria Country. Wanita yang kekayaannya bahkan melampaui keluarga Windsor berkali-kali lipat.“Kenapa orang sehebat dia… datang menjemput Kevin?” gumam Arthur, masih tak percaya.Annabella ikut menatap Kevin. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.“Ayah… mungkin ada kesalahan,” katanya. “Tidak mungkin Kevin punya kakak seperti Cynthia.”Isabella mendengus, mencibir tanpa menyembunyikan nada merendahkan.“Atau mungkin…” katanya santai, “dia datang untuk menghabisi gembel ini.”“Jaga mulutmu, Bella!” bentak Arthur tajam. Tatapannya penuh amarah. “Siapa pun yang berani macam-macam dengan calon menantuku, aku sendiri yang akan berdiri di depannya.”“Ayah... ingat kesehatan

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Hinaan Putri Windsor

    Isabella tertawa kecil. Suaranya tipis dan tajam.“Ini?” ulangnya dengan nada merendahkan. “Ayah, serius?”Arthur mengernyit. “Isabella.”Namun, gadis itu tidak berhenti. Tatapannya menyapu Kevin dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis.“Dia terlihat seperti orang desa yang kebetulan dipakaikan jas mahal. Apa benar dia tunanganku?”Kevin tidak bereaksi. Wajahnya tenang tanpa terpengaruh dengan hinaan Isabella..Claudia menambahkan dengan suara halus namun menusuk,“Aku menghormati hutang budimu kepada Dewi Medis… tapi perjodohan ini, bukankah terlalu terburu-buru?”Arthur menghela napas panjang.“Sebuah janji tetaplah janji.”Isabella mendengus keras.“Janji? Ayah ingin aku menikah dengan pria yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?”Tatapannya semakin tajam.“Aku lebih percaya pengawal kita daripada dia.”Kevin akhirnya membuka suara. Nada ucapannya datar, tenang, tanpa getaran emosi sedikit pun.“Jika Nona tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Aku datang hanya untuk menjala

  • Pesona Lima Kakak Cantik Sang Jenius Medis    Menemui Tunangan

    Annabella tersenyum tipis, lalu berbalik hendak pergi.“Nona!” panggil Kevin.Annabella menoleh.Saat itulah Kevin melemparkan segepok uang ke arahnya. Uang kertas yang terlipat rapi mendarat di tangannya.“Anggap saja itu untuk membayar kesalahanku padamu,” kata Kevin jujur. “Kamu pasti membutuhkannya untuk pulang.”Annabella menatap uang itu, lalu Kevin.Untuk sesaat… ia tidak berkata apa-apa.Hanya senyum kecil muncul di bibirnya.Tanpa balasan, tanpa ucapan terima kasih, ia berbalik dan berjalan pergi, langkahnya mantap, rambutnya tertiup angin kota.Kevin hanya berdiri di sana, memperhatikannya sampai menghilang di antara kerumunan.Baru setelah itu ia teringat sesuatu.Janjinya kepada gurunya untuk menemui tunangannya. Ia merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi tulisan tangan gurunya.“Sunset Drive… nomor 21,” gumamnya pelan.Kevin mengangkat tangan, menyetop taksi.Perjalanan tidak lama.Taksi berhenti di depan gerbang besar berornamen besi hitam, tinggi menjula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status