Se connecterJam dinding telah menunjukkan pukul 11 malam ketika Rindu terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya terasa kering karena tidak sempat minum sebelum tidur.Gadis itu memutuskan untuk beranjak dari tempat berbaringnya. Lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur.Selama Hesti dan Cakra tinggal di rumah ini, Rindu dan Seno memang memutuskan untuk tidak sekamar. Selain karena mereka belum menikah, keduanya juga tidak ingin menimbulkan kesan yang buruk di mata Hesti dan Cakra. Walaupun sebenarnya semuanya telah mengetahui hubungan mereka yang di luar batas.Dalam keadaan yang gelap, Rindu dengan hati-hati berjalan menyusuri lorong kamar yang sepi. Gadis itu hampir sampai di tempat tujuannya saat mendapati sepasang lengan tiba-tiba melingkar di pinggangnya.Rindu yang terkejut hampir saja memekik jika saja sosok itu tidak membungkam bibirnya dengan tangan."Paman." bisik Rindu begitu mencium aroma khas dari pria yang dia kenali."Kenapa belum tidur?" tanya pria itu dengan suara b
Rindu tidak dapat menahan senyum bahagianya ketika menyambut kedatangan bibi keduanya di bandara. Sebelumnya, Rindu sempat hilang kontak dengan Hesti karena ponsel sang bibi yang hilang.Rindu memang tidak terlalu dekat dengan keluarga bibi keduanya, Hesti. Hal itu karena setelah menikah, Hesti diboyong ke luar pulau oleh suaminya.Sedari dulu, Hanum dan Hesti sering terlibat konflik. Dan puncaknya ketika Hanum yang memutuskan hubungan dengan suami Hesti yang sekarang untuk bisa menikah dengan Seno. Sehingga sejak saat itu, hubungan mereka semakin merenggang dan dingin.Hesti tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kampung halamannya. Selain karena suaminya yang tidak memberinya ijin, dia juga merasa malas jika harus bertemu dengan Hanum, sang kakak yang selalu iri padanya.Sejak dulu, Hesti hanya dekat dengan Heru. Kakak tertuanya itu selalu menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah. Sehingga ketika dia mendapat kabar jika kakaknya Heru beserta istrinya meninggal karena kecelakaan, He
Selama tiga hari Hanum di rawat di rumah sakit pengayoman. Dan selama itu dia terlihat sangat menyedihkan. Kini dia telah dimasukkan ke dalam sel. Berkumpul bersama dengan para tahanan yang lain.Hanum yang biasa bersolek dengan perhiasan yang selalu melekat di tangan dan jari manisnya, kini tampak berantakan dengan wajah kuyu yang selalu muram. Tidak ada lagi serentetan gelang yang menghiasi lengannya. Yang ada justru sepasang borgol yang melingkari pergelangan tangannya.Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat cukup jelas. Wajahnya pucat pasi tanpa sapuan bedak. Juga tatapannya yang biasa congkak, telah digantikan dengan tatapan sendu nan sayu.Setiap harinya Hanum hanya termenung dengan pandangan kosong. Tak dia hiraukan keadaan yang ada di sekelilingnya. Dia terlalu terpaku dengan problematika yang terjadi di dalam hidupnya saat ini.Beberapa kali Hanum mengacuhkan pertanyaan dari para wanita yang menjadi teman satu selnya. Dan dari reaksi yang wanita itu berikan, membuat mereka
Greb"Apa kamu sudah lega sekarang?" tanya Seno memeluk Rindu dari belakang. Pria itu menumpukan dagunya di pundak gadis itu.Rindu bergeming dan menghela napas berat. Senyum samar tampak menghiasi wajahnya saat ini."Rindu lega karena bisa membongkar kejahatan Bibi selama ini dan memberikan pelajaran berharga untuknya, Paman. Tapi Rindu juga sedih karena sekarang Rindu tidak mempunyai siapa-siapa lagi." lirih Rindu di akhir kalimatnya.Seno mengeratkan dekapannya seolah ikut merasakan kesedihan yang Rindu rasakan. Beberapa kali dia mendaratkan kecupannya pada puncak kepala gadis itu."Kamu tidak sendirian, Sayang. Ada Paman, dan calon anak kita yang akan selalu menemani kamu." bisik Seno sembari mengelus perut Rindu.Pundak Rindu bergetar disusul dengan isakan kecil yang mulai terdengar dari bibir gadis itu. Rindu lantas berbalik, membenamkan wajahnya di dada Seno yang menjadi tempat ternyaman untuknya berkeluh kesah."Terimakasih karena Paman tidak meninggalkan Rindu." lirih Rindu m
Hanum membuka kedua matanya yang tampak berkunang-kunang. Kelopak matanya menyipit, berusaha menghalau cahaya yang masuk ke dalam retinanya."Tahanan nomor 302 sudah sadar, Dok." kata seorang wanita yang baru saja memeriksa keadaan Hanum.Hanum menatap langit-langit ruangan yang dia tempati saat ini. Terasa begitu asing dan dingin. Dia hendak memegangi kepalanya yang terasa pening dengan tangan kirinya, ketika merasakan pergerakannya terbatasi.KruncingKruncingSuara besi yang saling beradu membuat Hanum mengernyit. Dengan sisa kesadarannya dia melirik ke bawah, mendapati tangan kirinya yang tengah diborgol dengan brankar yang dia tempati.Netra bening Hanum seketika membelalak. Dadanya bergemuruh hebat dengan ledakan air mata yang membasahi pelupuk matanya.Hanum berpikir jika semua ini hanyalah sebuah mimpi. Semua yang dia alami beberapa waktu lalu, ternyata benar-benar sebuah kenyataan yang menyakitkan."Tidak. Ini semua pasti hanya mimpi hiks." Hanum terisak, masih mengelak denga
Hancur sudah pertahanan yang selama ini dia bangun. Raut wajah congkak dan arogan yang selama ini selalu menghiasi wajahnya, kini telah berganti dengan raut menyedihkan. "Apa Bibi masih perlu bukti?" tanya Rindu dengan senyum kecil. Gadis itu lantas menangkup wajah Seno. Lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir sang paman. Tentu saja dengan mesra Seno membalas ciuman Rindu di depan Hanum yang semakin terpuruk. Di depan matanya kini dia melihat pria yang sangat dia cintai tengah berciuman dengan keponakannya sendiri. Betapa hancurnya hidup Hanum saat ini. "Sudah, Sayang. Kita bisa lanjutkan nanti." kata Seno menghentikan gerakan Rindu yang menginginkan lebih. Bahkan Seno memperlakukan Rindu dengan begitu lembut. "Tega kamu, Mas. Bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu dengan keponakanku. Lelaki macam apa kamu, Mas?" maki Hanum dengan mata memerah. "Dan kamu! Dasar gadis licik tidak tahu diri! Wanita j*lang." umpat Hanum menunjuk wajah Rindu. Plak Suara tamparan yang begit
Rindu terbahak-bahak setelah keluar dari ruangan pamannya, Seno. Gadis itu masih ingat bagaimana raut syok Seno setelah dia sempat mencium pipinya. Jujur saja Rindu merasa terhibur dengan segala reaksi yang pamannya itu berikan.Bersenandung kecil sembari memainkan kunci motor yang ada di tangannya
Seno dengan reflek menjatuhkan Rindu yang sejak tadi duduk di atas pangkuannya. Membuat gadis itu memekik dan mengaduh kesakitan karena bongkahan padatnya menghantam lantai dengan cukup keras."Aduhh.. Paman.." ringis Rindu.Seno yang tersadar sontak membantu Rindu untuk bangun. Lalu mendudukkan ga
Kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon mengusik tidur seorang gadis cantik yang masih setia bergelung di dalam selimut tebal. Hawa dingin yang menerpa kulit karena hujan semalam yang turun dengan deras, membuat gadis itu enggan keluar dari tempat nyamannya.Namun gedoran pintu kamar y
Rindu tersenyum sinis saat melihat seorang wanita paruh baya yang tampak tersenyum bahagia saat mendapatkan sebuah kalung emas dari pria paruh baya yang ada di depannya.Dadanya bergemuruh dengan mulutnya yang terkatup rapat untuk meredam amarah yang ada di dalam dirinya. Ketika melihat orang yang







