เข้าสู่ระบบ“Apa ini, lowongan pekerjaan?” Asuki melihat sebuah iklan yang tidak sengaja muncul di layar ponselnya.
Setelah memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang kasir di sebuah gerai market hari ini, bak mendapatkan durian runtuh Asuki tersenyum gembira mendapati sebuah lowongan pekerjaan sebagai asisten dari Agensi Starlight, Co. “Tunggu, Agensi Starlight, Co? Jadi ini lowongan untuk menjadi asisten artis?” Senyum Asuki makin lebar. Agensi Starlight, Co dikenal sebagai salah satu agensi terbaik yang ada di Kota Tokyo. Bahkan semua aktor dan artis dibawah naungannya adalah artis-artis papan atas dan terkenal. Bayangan banyaknya angka pada gaji menjadi asisten artis di agensi Starlight, Co memenuhi kepala Asuki. “Lowongan hanya dibuka jam satu siang dan langsung wawancara….” Asuki berbinar membaca iklan diponselnya, dia melirik jam yang tertera di atas layar kemudian melihat lokasi tempat lowongan dibuka. Aku masih punya waktu, aku bisa ganti menaiki rute kereta lain menuju Ebisuminami, Shibuya gumamnya. Asuki pun segera turun di stasiun kereta terdekat dan mencari jalur kereta lain menuju lokasi lowongan pekerjaan berada. Wanita berambut hitam pendek dengan pita menempel di kepalanya sudah bertekad akan mengikuti wawancara lowongan yang dibuka hanya hari ini. Beruntung berkas-berkas lamaran Asuki sebelumnya di gerai market ikut dibawa pulang olehnya, Asuki bisa lebih menghemat waktu tidak perlu kembali ke Apaato lagi. Meski hanya menggunakan celana jeans dan kaos putih oversize, Asuki nekat pergi melamar untuk posisi asisten artis. Lima menit sebelum jam satu siang Asuki tiba di gedung Agensi Starlight, Co Ebisuminami, Shibuya. Ada sekitar sepuluh orang yang mengantri di depannya menunggu pegawai memeriksa identitas dan kelengkapan berkas mereka. Asuki diberikan nomor tanda pengenal sebelum diminta masuk ke dalam gedung mengikuti petunjuk yang sudah diletakkan di sekitar sana. Gedung bertingkat delapan dengan hiasan lampu-lampu kristal dan lantai marmer yang mengkilap terlihat menghiasi lobby gedung Agensi Starlight, Co. Seorang resepsionis yang menurut Asuki lebih cocok menjadi artis tersenyum dan membungkuk sopan menyapa seorang pria berumur hampir enam puluh tahun dengan jas dan kacamata yang membingkai wajahnya. Asuki sempat mendengar resepsionis wanita menyapa pria itu dengan sebutan Shachou (direktur utama) sebelum Asuki berlalu bersama sepuluh orang peserta pelamar yang lain, masuk ke dalam sebuah aula. Asuki terkejut mendapati ada hampir seratus orang duduk tertib di aula. Nyalinya mendadak ciut tidak yakin apa dia bisa mendapatkan pekerjaan ini atau tidak. Semua peserta yang hadir di sana tampak rapi menggunakan kemeja dan jas, rok maupun celana berbahan kain lengkap dengan sepatu pantofel pada pria dan sepatu berhak pada wanita. Asuki menatap kedua kakinya yang hanya berbungkus sepatu kets dengan pakaian santai. Astaga … dari penampilan luar saja aku sudah kalah, gumamnya tertunduk. Asuki menempati kursi di barisan paling belakang karena tiba hampir terlambat. Masing-masing peserta pelamar memegang dokumen mereka ditangan. “Eh, aku dengar posisi asisten yang dibuka untuk mantan idol Kento Yamaguchi itu, apa benar?” Suara bisik-bisik di kursi depan Asuki terdengar. Asuki menajamkan telinga, ikut penasaran dengan perbincangan dua wanita peserta pelamar di depannya. “Sepertinya begitu. Kalau tidak salah Kento akan menyelesaikan syuting drama terakhirnya besok. Ada banyak rumor yang mengatakan kalau Kento selalu berganti asisten setiap syuting drama terbarunya selesai, kan?” sahut wanita peserta pelamar yang lain. “Tapi mereka tidak menjelaskan kalau posisi asisten ini benar untuk Kento atau tidak. Kalau memang benar posisi ini untuk dia, aku pasti akan melakukan yang terbaik. Saat wawancara nanti mereka pasti akan bertanya tentang apa kebiasaan dan apa yang disukai Kento, untung saja aku adalah salah satu penggemarnya jadi semua hal tentang Kento aku pasti bisa menjawabnya dengan benar!” Dua peserta wanita di kursi depan Asuki saling beradu mulut siapa yang akan lolos di antara mereka berdua. Terlihat jelas kalau mereka adalah penggemar berat Kento Yamaguchi. Asuki geleng-geleng kepala mendengar perdebatan mereka. Kalau memang benar posisi asisten ini untuk Kento, aku juga harus mempersiapkan diri dengan baik! Batin Asuki bersemangat. Sedikit banyak Asuki tahu siapa Kento Yamaguchi. Pria berumur 29 tahun itu sering wara wiri di iklan televisi, papan reklame LED bahkan foto-fotonya menghiasi hampir semua toko-toko brand ternama di Tokyo. Kento dulunya adalah idol yang kini fokus menjadi model dan aktor, setelah berpindah agensi Kento semakin dikenal. Drama yang dia perankan juga sudah cukup banyak. Asuki merasa tidak ada satupun warga Jepang yang tidak kenal dengan sosok pria berwajah lembut namun memiliki rahang yang tegas itu. Seorang pegawai terdengar mulai memanggil nomor tanda pengenal peserta pelamar satu per satu. Asuki menggunakan kesempatan itu untuk mencari tahu lebih banyak tentang Kento di ponselnya. Satu jam menunggu kini giliran Asuki dipanggil. Dia bersama lima peserta pelamar yang lain masuk ke dalam ruangan yang terlihat seperti ruangan rapat dengan karpet bulu memenuhi lantai ruangan. Asuki duduk di bagian tengah diapit dua orang di samping kanan dan kiri. Tepat di depannya duduk pria yang disapa Shachou oleh resepsionis di lantai lobby tadi. Di atas meja papan nama pria itu bertuliskan Omega shachou. Ada dua orang lain lagi yang duduk berhadapan dengan Asuki dan peserta pelamar yang lain. Mata tajam direktur Omega tertumbuk pada penampilan Asuki yang jelas terlihat sangat berbeda dengan empat orang yang duduk bersamanya. Asuki merasakan atmosfer tidak enak, dia mendadak kikuk dan menunduk malu karena tidak mempersiapkan diri dengan baik. “Kamu…,” tunjuk direktur Omega tiba-tiba. Asuki mendongak perlahan mencari tahu siapa yang dimaksud direktur Omega. Mata monolid Asuki melebar saat dilihatnya jari direktur Omega mengarah padanya. “Sa–saya?” “Iya kamu,” seru direktur Omega masih menunjuk Asuki. Asuki berdiri dan membungkukkan badan. “I–iya Direktur Omega?” ucapnya terbata. “Siapa namamu?” “Sa–saya Asuki Miyazaki,” jawabnya gugup. Tangan Asuki mulai dingin, direktur Omega menatapnya penuh selidik. Semua yang ada di sana ikut memandang Asuki dalam diam. Hampir lima menit ruangan itu sunyi senyap, Asuki bahkan bisa mendengar bunyi jarum jam di dinding. Direktur Omega lalu berbisik pada seorang wanita berpakaian formal disampingnya. “Maaf, selain Asuki Miyazaki mohon peserta pelamar yang lain meninggalkan ruangan ini.” Wanita berpakaian formal yang dipanggil Hisho (sekretaris) oleh direktur Omega pun mempersilahkan keempat wanita peserta pelamar keluar. Wajah mereka terlihat penuh tanda tanya. “Silahkan duduk Nona Asuki,” ucap Hikari sekretaris direktur Omega. Asuki menelan salivanya kasar, ada apa ini? Apa aku akan akan dimarahi karena berpakaian tidak rapi seperti peserta pelamar yang lain? batin Asuki makin gugup. “Saya membaca CV-mu. Kamu baru saja berumur 21 tahun rupanya.” Direktur Omega membuka suara setelah empat wanita peserta pelamar keluar. “I–iya Direktur Omega,” sahut Asuka terbata. “Tidak perlu gugup Asuki. Saya lihat kamu adalah kandidat yang paling cocok untuk posisi ini, jadi … kamu diterima!” “A–apa!?” Asuki refleks berdiri menutup mulutnya. “Di–diterima? Apa benar?” Direktur Omega mengangguk menahan tawa melihat ekspresi Asuki yang tidak percaya menatap dia dan Hikari bergantian. “A–apa saya tidak perlu menjawab pertanyaan apapun? Atau apa saya tidak perlu melakukan sesuatu Direktur Omega?” “Kenapa, kamu ingin saya memberikanmu pertanyaan juga layaknya wawancara pada umumnya?” tukas direktur Omega masih menahan tawa. Disampingnya Hikari sudah cekikikan. “Bu–bukan begitu Direktur Omega. Saya hanya … hanya … bingung kenapa harus saya yang diterima.” Suara Asuki makin mengecil, gelak tawa seketika memenuhi ruang rapat. Direktur Omega dan Hikari tidak bisa lagi menahan tawa melihat tingkah Asuki. Asuki terduduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia masih tidak percaya dirinya yang diterima dan bukan orang lain yang terlihat bersungguh-sungguh mempersiapkan diri melamar pekerjaan ini. “Kamu akan tahu alasannya nanti kenapa kamu yang saya terima dan bukan orang lain.” Direktur Omega masih tertawa saat mengambil sebuah dokumen di meja. “Ini kontrakmu sebagai asisten. Ada beberapa poin yang wajib kamu isi, tapi satu poin yang paling penting yang saya beri tanda disitu adalah, kamu dilarang menjalin hubungan terlarang dengan artismu!” Asuki maju mendekati meja dan mengambil dokumen dari tangan direktur Omega. Di dalam sana tertulis Asuki akan menjadi asisten dari Kento Yamaguchi tepat seperti apa yang digosipkan dua orang wanita peserta pelamar tadi. Di bawahnya juga tertera tulisan ber-capslock sesuai dengan apa yang baru saja dikatakan oleh direktur Omega. Dia dilarang menjalin hubungan terlarang dengan Kento. “Ingat, tidak boleh menjalin hubungan terlarang dengan artismu Asuki ashisutanto (asisten)! Kamu akan langsung dipecat dan membayar uang ganti rugi jika kamu sampai melanggarnya!” Suara berat dan sorot mata tajam direktur Omega menunjukkan ketegasannya dalam satu poin penting dikontrak Asuki. Asuki tahu ini adalah kesempatan emas dan dia tidak boleh ragu-ragu. Lagipula siapa juga yang mau memiliki kisah cinta dengan seorang idola semua orang. Membayangkannya saja Asuki sama sekali tidak tertarik. Asuki datang ke Tokyo murni ingin mendapatkan pekerjaan yang baik dan bisa membantu ibunya di desa. “Baik. Saya tidak akan mengecewakan anda Direktur Omega!”“Jadi, kita benar masih akan terus bersama?” Asuki mengangguk pasrah. Setelah pertengkaran mereka semalam, Kento berhasil meyakinkan wanitanya. Hubungan mereka tidak akan berakhir. “Tapi, kamu harus janji hubungan kita tidak akan diberitahukan pada orang lain. Aku tidak mau kamu harus kehilangan apapun hanya karena hubungan kita berdua,” pinta Asuki penuh keseriusan. “Tentu, aku janji!” Kento mengangkat tangan, menunjuk dua jari dengan senyum mengembang. Tidak apa-apa mereka harus backstreet mulai sekarang bagi Kento yang terpenting adalah dia tidak akan kehilangan Asuki dihidupnya. “Aku mencintaimu…,” bisik Kento lembut. Asuki tersipu, menganggukkan kepala dengan senyum sama mengembangnya seperti Kento. Dua orang itu berpelukan mesra, mencuri-curi kesempatan mengecup pipi dan bibir mereka bergantian. Semerbak wangi bunga bermekaran dan kupu-kupu indah bertebrangan terasa mengelilingi kamar Kento yang temaram. Luapan cinta yang terasa manis dan harum memenuhi Asuki dan Kento, pe
Sepeninggalnya Kento, Asuki mondar mandir gelisah di apartemen Kento. Setelah menghubungi sekretaris Hikari dua jam yang lalu, Asuki semakin cemas. Hikari tidak menghubunginya sama sekali, sudah cukup lama Asuki menunggu dalam kekhawatiran. Apakah Kento baik-baik saja di sana atau telah terjadi sesuatu sampai Asuki tidak kunjung menerima berita dari Hikari. Mengetuk-ngetuk layar ponsel di tangan, Asuki berjengkit saat sebuah panggilan yang ditunggunya tertera di layar. “Moshi moshi (halo),” sapa Asuki. “Nona Asuki….” Suara sekretaris Hikari terdengar berbeda, perasaan Asuki seketika tidak enak. “Ada apa Sekretaris Hikari, apa terjadi sesuatu?” tanya Asuki. Hikari menarik nafas panjang dan menggumam. “Sedikit,” jawabnya lemah. “Ada apa, apa yang terjadi?” Sekretaris Hikari menceritakan kejadian di ruang direktur Omega beberapa menit yang lalu pada Asuki. Mendengar penuturan Hikari, Asuki menggigit bibir cemas.Rupanya Kento masih saja memaksa, menuntut Asuki tetap bekerja menja
Kento tiba di gedung agensi Starlight, Co tempat pria itu bernaung selama ini. Membanting pintu mobil dan melemparkan kunci pada satpam yang berjaga, Kento melangkah lebar sedikit tergesa menuju lift. Kedatangan Kento membuat perhatian beberapa pegawai agensi terkejut sekaligus tidak heran. Berhentinya Asuki sebagai asisten pribadi Kento sudah diketahui seluruh pegawai agensi. Mereka yakin Kento akan bertemu dengan asisten pribadinya yang baru hari ini. Di depan pintu lift yang tidak kunjung terbuka, Kento mengetuk kaki tidak sabar. Dua orang pegawai yang ikut menunggu bersama Kento saling berbisik di dekatnya. “Benarkah?” “Iya, aku dengar nona Asuki dipaksa berhenti karena kontraknya,” bisik pegawai wanita berkemeja baby blue.Kento menggulung alis, tidak sengaja mendengar bisik-bisik mereka. Kento lalu berbalik menatap dua orang pegawai itu tajam. “Apa maksudmu dengan kontrak Asuki?!” tanyanya. Keduanya berjengkit, mundur. “I–itu….” “Ada apa, katakan padaku!?” seru Kento. “G
Siang ini setelah makan siang bersama, Asuki dan Kento duduk di sofa ruang tamu. Kento merebahkan tubuh bersandar nyaman menikmati hari libur cutinya. Asuki meletakkan camilan apel berpotong kelinci di meja. Kento tersenyum menatap lama apel penuh kenangan yang disiapkan Asuki. “Sudah lama aku tidak melihat apel bentuk begitu lagi darimu Sayang…,” tukas Kento. Asuki menyodorkan potongan apel ke mulut Kento. “Benarkah?” “Iya. Sepertinya hari ini cukup spesial,” goda Kento menerima suapan Asuki. Asuki hanya tersenyum, larut lagi dengan kekalutan pikirannya. Sejak semalam Asuki telah membulatkan hati, dia harus mengakhiri hubungannya bersama Kento. “Sayang, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Asuki. Wajah Asuki tampak serius, Kento bangun mengatur duduk. “Ada apa?” Asuki berhenti menyuapi Kento dan duduk berhadapan dengan Kento. Gugup mendera Asuki. “Aku … aku ingin memberitahumu kalau aku sudah mengirimkan surat pengunduran diriku pada direktur omega tadi pagi. Aku … akan berhe
Ucapan terakhir direktur Omega ditelepon masih terngiang-ngiang di kepala Asuki. Hubungan yang masih seumur jagung dipaksa harus berhenti karena ancaman yang terdengar tidak main-main dari petinggi agensi tempat Kento bernaung. Asuki gundah, memilih tetap mempertahankan cintanya pada Kento, Kento mungkin harus kehilangan karir cemerlangnya selama ini. Asuki tidak mau egois, namun tidak mau juga berpisah dari Kento. Asuki benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Layar laptop di depan Asuki masih menyala, dia sedang mengetikkan surat pengunduran dirinya sebagai asisten Kento. Malam ini Kento masih berada di lokasi syuting, mengambil set gambar terakhir. Sedang Asuki mengurung diri di ruang ganti Kento sendirian. Bunyi ketukan tiba-tiba di pintu membuyarkan pikiran Asuki yang refleks menutup laptop. Seorang wanita masuk menyapa Asuki. “Selamat malam Nona Asuki,” sapanya. Asuki tersenyum membalas sapaan sekretaris Hikari. “Selamat malam.” Hikari duduk di dekat Asuki. “Tuan Kento mas
Dua hari setelah pertemuan Asuki dan Direktur Omega menyisakan kesesakan dihati Asuki. Selama waktu-waktu yang berlalu Asuki lebih banyak diam dan melamun. Menemani Kento di lokasi syuting dan tetap menjalankan pekerjaannya sebagai asisten model dan aktor itu, Asuki berpikir keras. Tatapan sendunya tidak pernah lepas dari Kento dan Kento pun merasakannya. Asuki bersikap aneh dan tidak biasa, bahkan malam ini Asuki terus menutup mulut selama Asuki menyiapkan makan malam untuk mereka. “Sayang….” Kento melingkar pinggang Asuki dari belakang. Asuki terenyak, “Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” Kento menggeleng, menyandarkan kepala ke bahu Asuki. “Apa yang sedang kamu masak?” tanyanya. “Steak, kamu mengatakan ingin makan steak bukan? Aku menyiapkannya untukmu,” jawab Asuki melepaskan rangkulan Kento. “Duduklah, makanannya sebentar lagi siap,” pinta Asuki. Kento tidak menyahut dan patuh mengikuti ucapan Asuki. Mungkin berbicara dengan Asuki setelah makan malam akan lebih baik pikirnya. S
Getar ponsel terasa di saku celana Asuki. Pesan masuk tertera di sana dari direktur Omega. Asuki membukanya cepat dan membacanya. ‘Kembali ke apartemen Kento sekarang juga Asuki, aku tahu apa yang terjadi dua minggu ini. Datanglah setiap hari ke apartemen Kento dan pulang saat Kento tidur dimalam
“Aaahh….” Kento meringis memegang kepalanya yang terasa berat, tubuhnya ngilu. Kento memijat pelan belakang kepalanya yang ikut berdenyut. Sepertinya aku minum terlalu banyak bir semalam, batinnya.Kento berusaha bangun dari tempat tidur, dia memaksa kaki panjangnya berjalan keluar dari kamar. Kent
Dua minggu sebelumya… Bunyi kecupan bibir terdengar memenuhi ruangan kamar berwarna abu dengan lampu kristal menggantung diatas. Yoshimura merangkul erat leher wanita berpakaian kimono berwarna putih dengan corak bunga sakura di depannya dan memperdalam tautan bibir mereka. Saling memainkan lidah
Hari baru, semangat baru, pekerjaan baru dan disinilah Asuki berada, di dalam kantor direktur Omega pemilik Agensi Starlight, Co. Asuki duduk manis menunggu direktur Omega yang kemarin memintanya datang ke kantor untuk sama-sama pergi ke apartemen Kento Yamaguchi.Memakai sepatu kets yang menurut







