Masuk“Kamu sudah siap?” tanya Asuki. “Ya, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat cocok menggunakan pakaian ini?” Asuki menyorot penampilan kekasihnya dari atas ke bawah, entah kenapa Kento merasa pakaian semi jas yang dikenakannya terasa tidak pas di badan. Asuki tersenyum geli melihat Kento. “Aku tidak percaya kamu ternyata bisa juga merasa tidak percaya diri dengan dirimu sendiri Sayang,” godanya. Kento mencebik, “Aku juga manusia biasa kamu tahu…!” sinisnya. Asuki tertawa mendekati Kento. “Kamu selalu tampak sempurna di mataku Sayang….” Kento tersipu, Asuki mengatur kembali kerah kemeja Kento mendaratkan kecupan sekilas di pipinya. “Semua pakaian yang kamu pakai akan selalu terlihat pantas jika kamu memakainya,” ucap Asuki lembut. Wajah Kento semakin merona, Asuki paling tahu memuji pria tinggi itu. “Bersiaplah, sebentar lagi syuting akan dimulai,” sambung Asuki. Kento mengangguk, membalas kecupan singkat Asuki di bibir. “Aku mencintaimu…,” tandas Kento bahagia. Pasangan kekas
Kento membawa mobil pulang ke apartemen setelah melihat Asuki lebih tenang. Asuki duduk diam di sampingnya, tidak mengeluarkan kata sedikitpun. Sehabis menangis menumpahkan ketakutan dan kekesalan Asuki diam seribu bahasa, Kento bahkan tidak digubrisnya yang sejak tadi membujuk Asuki. Asuki keluar lebih dulu dari mobil begitu mereka tiba di parkiran basement apartemen meninggalkan Kento yang memanggilnya berulang kali. Kento menarik nafas panjang, Asuki benar-benar marah batinnya. Beruntung Asuki masih mau menunggu Kento di dalam lift hingga Kento tidak perlu menunggu lift berikutnya. “Sayang…,” panggil Kento. Asuki diam, mereka berdiri cukup jauh. “Sayang…,” panggil Kento lagi mendekat, namun bunyi pintu lift terbuka menghentikan langkah Kento. Asuki menghambur keluar. Kento sekali lagi menarik nafas panjang, memanjangkan langkah mengikuti Asuki dari belakang. Masuk di dalam apartemen, Kento segera menahan Asuki tidak mengizinkan wanitanya menghindari dia lagi. “Sayang
“Kencan?” “Iya, kita tidak pernah kencan selama ini bukan? Aku juga ingin punya momen kencan seperti pasangan pada umumnya,” tukas Kento.Asuki terdiam, sejak tiga hari yang lalu Kento terus memberondong Asuki dengan keinginannya untuk kencan diluar. Seperti pasangan lain yang bebas keluar kencan pergi ke festival musim panas, Kento ingin melakukannya juga bersama Asuki. Asuki bingung harus memberi jawaban apalagi pada Kento. Semua alasan tentang Kento yang seorang publik figur dan dirinya yang diketahui orang banyak sebagai asisten Kento, sudah diberikan Asuki. Tapi Kento terus saja memaksa, Kento bahkan berkata kalaupun hubungan mereka terekspos nantinya, Kento akan dengan senang hati mempublikasikannya ke publik tentang hubungan mereka. Asuki kehabisan alasan lagi. “Ayolah Sayang, apa kamu malu keluar denganku?” bujuk Kento berpura-pura sedih. Asuki menggigit bibir, bagaimana ini? Kento terlihat sangat mengharapkan kencan orang biasa ini. “Kita kencan ok?” bujuk Kento lagi.
Syuting hari pertama setelah peristiwa kebakaran waktu lalu dimulai. Jadwal tayang yang harusnya diadakan akhir bulan ini terpaksa diundur, tim produksi mengambil keputusan untuk mengganti lokasi syuting lanjutan mereka. Kento datang bersama Asuki lebih awal demi bisa beradaptasi dengan lokasi syuting yang baru. Ruang-ruang set dan properti kebutuhan syuting tertata rapi di sana. Kento dibawa tim kru ke ruang ganti dan istirahatnya. “Silahkan Tuan Kento….” Tim kru wanita membuka pintu. Kento masuk diikuti Asuki. Di dalam ruangan berpendingin udara dengan warna putih yang mendominasi terlihat lebih luas dari ruang istirahat Kento sebelumnya. Tim menyediakan ranjang kecil di dekat pintu menuju kamar mandi juga sofa panjang berwarna abu yang turut disediakan oleh mereka. Tim kru wanita yang membawa mereka pun pamit setelah Asuki membungkuk berterima kasih. Kento duduk di sofa, merebahkan diri sebentar sebelum di make up. “Ada yang ingin kamu makan?” tanya Asuki. Kento menggeleng,
Hari-hari Sebelumnya…“Kamu tidak pulang?” Miyano terkejut mendapati Yamazaki masih ada di apartemennya. Pria itu tampak berantakan dengan mata bengkak. Yamazaki hanya menjawab dengan gelengan kepala lemah. Miyano berdecak melepas mantel dan tas. Seperginya Miyano tadi pagi meninggalkan Yamazaki seorang diri di apartemen malah membuat Yamazaki kembali meratapi kesedihannya kehilangan Asuki. Miyano tidak menyangka kepahitan Yamazaki sampai begini. “Kamu sudah makan?” Yamazaki menggeleng lagi. Miyano membuka kulkas mendapati isi dalamnya kosong, dia belum sempat belanja bulanan akhir ini. “Bangunlah, kita akan pergi makan diluar,” perintah Miyano. “Aku tidak mau, kamu tidak lihat keadaanku?!” tunjuk Yamazaki pada dirinya. “Kenapa, apa orang patah hati tidak boleh makan!?” sindir Miyano. “Ck, bukan begitu. Aku malas keluar, aku tidak mau orang yang melihatku justru mengira kamu telah menindasku. Aku sedang tidak ingin bertemu orang banyak!” tukas Yamazaki beralasan. Miyano mendeng
“Apa yang kamu ingin bicarakan dengan Asuki?” selidik Kento. Mereka beriringan masuk ke dalam apartemen. Direktur Omega duduk di sofa menyilangkan kaki santai. “Ada yang penting, kamu bisa istirahat dulu sebentar,” sahut direktur Omega. Kento memicing, “Apa yang penting sampai aku tidak bisa tahu!?” “Kamu tidak perlu tahu karena ini bukanlah ranahmu! Aku bicara sebagai direktur agensi pada asisten yang aku gaji untukmu!” sarkas direktur Omega. Wajah Kento semakin menunjukkan aura tidak suka, melihat direktur Omega tiba-tiba datang ke apartemennya saja sudah membuat Kento kesal ditambah harus menghadapi sikap sok berwenangnya. Kento mengepal menahan emosi. “Tuan Kento, aku akan bicara sebentar dengan direktur Omega. Bagaimana kalau Tuan Kento mandi dulu dan aku akan menyiapkan makan malam juga untukmu dan direktur Omega?” tukas Asuki menengahi. Ditatapnya Kento penuh harap, meminta agar pria itu berhenti mengadu mulut dengan pemimpin Starlight, Co. Asuki tidak mau mereka berteng
“Cu–cukup…,” desah Asuki. Kento masih bermain-main di bawah sana, bibir dan lidahnya memaksa masuk diantara lubang kecil, sempit Asuki. Rasa manis bercampur saliva yang disesap Kento meninggalkan candu yang menggetarkan mulut Kento. Sensasi itu membuat celana Kento sesak. Kento membuka kaki Asuk
Makan malam romantis sengaja diatur Kento diluar kediamannya. Lampu-lampu panjang ditarik memenuhi halaman dengan bunga mawar kuning diletakkan diatas meja. Kento mengajak Asuki keluar setelah memastikan semuanya selesai. Makan malam perdana mereka sebagai sepasang kekasih ingin Kento berikan deng
“Asuki, hati-hati!” Kento berteriak panik memanggil wanitanya. Asuki berjengkit mundur mendengar teriakan Kento. Pijakannya goyah dan tersungkur di tanah, Kento bergerak cepat menarik Asuki. “Kamu baik-baik saja?” cemas Kento. Tangannya membolak balikkan tubuh Asuki memeriksa Asuki cermat. “Aku
Yamazaki duduk meneguk bir di tangan, dua hari setelah bertemu Asuki dan mengetahui hubungannya dengan Kento menyisakan penderitaan yang mendalam di hati Yamazaki.Pria berambut lurus dengan warna mentereng itu menangis sedih menikmati dingin malam kota Tokyo. Yamazaki belum kembali ke desa Shiraka







