Share

Tegangan Tinggi

last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 23:35:04

“Oke, aku berhenti! Maafkan aku!” setelah dengan pergumulannya yang cukup panas tadi akhirnya Bimo mengalah dan memendam hasrat liarnya pada Danira.

Dia benar—benar menghentikan permainan gila tadi.

“Aku bantu rapikan!” Danira menghela napasnya yang masih menderu, sisa—sisa sensasi itu masih sangat terasa.

Bimo benar—benar membantu Danira merapikan apa yang sudah dilepaskannya. Danira sedikit lega aksinya tidak diteruskan.

“Aku mau turun sekarang!” Danira segera menepis tangan Bimo yang hendak membantu lebih. Dia hanya tidak ingin ada kejadian lagi seperti tadi.

Karena itu sebisanya Danira menolak. Agar dia juga bisa lepas dari cengkraman gila Bimo.

Bimo yang seperti kerasukan saat menyentuh tubuhnya hampir membuat dari Danira. Apalagi selama ini kesuciannya masih terjaga.

“Mau menghindariku lagi? Sampai kapan kau mau main petak umpet? Sudah seperti ini pun kamu masih mau bersembunyi!” Bimo menahan tangannya lagi. Dia sepertinya tidak rela Danira pergi.

“Lepaskan aku, Bim. Kamu p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Perawat Papa    Hanya Untukmu

    “Kita lakukan lagi, ya!” wajah Baga yang memelas sudah membuktikan kalau dia benar-benar menginginkannya lagi.“Nggak usah aneh-aneh! Aku sudah katakan nggak mau melakukannya lagi!” Santi yang tetap bersikeras dengan pendirian.Baga malah menyandarkan tubuhnya di dada Santi membuat ruang geraknya terhambat.“Aga, hentikan! Cepat turunkan aku!”Santi meronta. Namun, laki-laki berbadan tegap dan besar itu tidak membuat mudah digoyahkan. Dia tetap memeluk tubuhnya dengan erat.“Sayang … aku tahu kamu menyukainya. Aku tidak akan menggodamu, aku hanya ingin sekali lagi, ya, ya?” persis seperti anak kecil, dia sedang merengek.Untungnya beberapa pengawal dan pelayan yang berada di area tersebut semuanya berbalik.“Atau kamu ingin melakukan hal lainnya, hup!” Santi terkejut, tiba-tiba dia berdiri.Tubuh Santi diangkat dan Baga mulai berjalan keluar dari taman sementara pengawal dan pelayan diperintahkan untuk mengikuti juga membawa kereta bayi milik Santi.“Aga! Aga! Apa yang sedang kau laku

  • Pesona Perawat Papa    Negosiasi Harus Sukses

    “Kamu pasti haus juga kan?” Santi mengangguk pelan.Baga menarik kereta dorong makan dan mengambil minuman, “Ini coklat hangat dan ada jus jeruk hangat. Kamu mau dua-duanya?” Bukan pilihan yang dikatakan Baga, tapi keduanya.Lagi-lagi Santi menurut, Baga menarik kursi agar mereka bisa saling berhadapan. Lalu Baga mengarahkan gelas jeruk hangat lebih dulu ke mulut Santi. Santi meneguknya.Ada sedikit ragu sebenarnya karena sekarang posisinya. “Anakku sedang kelaparan rupanya!” Santi tidak menjawab hanya menerima suapan minuman lagi dari Baga, “biarkan aku bantu,” Baga secara naluri seperti seorang ayah juga suami mengambil alih gendongan tadi dan meletakkan di kereta bayi. Kemudian mengambil lagi satunya dan memberikan pada Santi.“Kamu cantik sekali kalau sedang seperti ini,” Baga merapikan rambut Santi dan meletakkannya di daun telinga. Tentu saja Santi tidak bisa menolak karena posisinya sekarang memang tidak bisa menolak. “Aga!” Dia hanya bersedia.“Aku mengatakan yang sebenarn

  • Pesona Perawat Papa    Bukan Laki-laki Mesum

    “Kenapa terus melihatku? Kamu sudah mulai tertarik padaku?” Santi menelan ludahnya saat mendengar Baga berbicara.Lelaki itu benar-benar seperti kehilangan pikiran. Santi bahkan benar-benar tidak habis pikir kenapa dia bisa bertemu dengan laki-laki itu.“Kamu yakin bisa menggendongnya?” nada bicara Santi sedikit rendah. Dia tidak ngegas atau sewot sendiri.“Sekarang menurutmu bagaimana?! Apa aku terlihat kaku?! Atau anakmu yang kugendong akan jatuh?” Spontan Santi menggeleng. Dia memang tidak melihat tanda-tanda itu. Dibandingkan dengan suaminya Bimo, Ini pertama kalinya Santi melihat anaknya digendong orang lain selain Rossa dan Pak Abdi.“Sepertinya suamiku harus belajar darimu!” Kata Santi berucap tanpa sadar. “Belajar dariku? Kau yakin? Bukankah dia ayahnya?” Santi terdiam saat mendengar ucapan Baga, “ada apa? Kau bertengkar dengannya? Apakah serius? Apa ada kemungkinan kau bercerai dengannya?”Baga bicara terus terang pada Santi. Dia benar-benar sudah bertekad akan mengambil Sa

  • Pesona Perawat Papa    Ungkap Isi Hati

    “Dasar cecunguk bodoh dan nggak tahu diri. Itu namanya dia sedang memberikan kamu kesempatan. Eh, malah kamu tolak!” sergap pak Abdi sedikit emosi saat mendengar ucapan anak yang selalu dianggap mencari masalah.“Udahlah Pa, Santi juga nggak masalah. Dia nggak keberatan. Papa masih mau protes?!” Bimo malah semakin sewot saat pak Abdi melakukan protesnya.“Awas aja kalau sampai terjadi apa-apa sama menantuku. Papa nggak akan maafin sama belain kamu ya. Minta tolong sambil bersujud pun papa nggak akan mau nolongin kamu!” cetus pak Abdi melakukan serangkaian serangan.“Ya ampun, Pa, segitunya. Yang anak Papa itu siapa sih? Aku apa Santi? Papa malah lebih ngebelanya?” dengus Bimo malah tidak mau kalah dengan ucapan Pak Abdi. “Papa beneran ya Bimo, Papa nggak bakal maafin kamu kalau Santi mengambil keputusan yang berbeda dengan pikiranmu. Saat ini Santi itu berada dalam tahap yang harus diperhatikan. Dia akan mudah lelah bukan hanya melayani kamu, tapi juga menjaga anak-anakmu. Dia pasti

  • Pesona Perawat Papa    Masih Butuh Perhatian

    Tidak peduli dimanapun, Lana selalu menjadi teman, adik yang paling baik untuk Santi. Dia akan selalu membelanya. Namun, ada sedikit rasa ragu dalam hati Santi.“Mana kak Bimo, mana orangnya, ma. Kalau aku ada disitu aku yang jambak rambutnya!” Lana masih bersemangat dari ujung pengeras suara telepon Rossa.“Apa sih, kamu, Lana!” Bimo sedikit sewot saat menjawabnya. Dia terdengar tidak suka saat mendengar Lana mengumpatnya.“Kakak, kamu ngapain kak Santi, aku nggak mau ya kakak nyakitin kak Santi. Kalau kakak ngelakuin itu, aku bakal kabur dari sini dan langsung pulang. Aku nggak mau lagi sama Alan!” ujar Santi dalam panggilan dengan nada setengah berteriak.“Aku udah kangen banget pengen ketemu kak Santi dan dua keponakanku … pokoknya kalau kak Bimo macam—macam sama kakak, kakak bilang aku ya!” Santi tidak bisa berkata saat mendapatkan dukungan yang paling besar.Padahal Lana bukanlah adik kandungnya, tapi dia memperlakukan Santi seperti kakaknya sendiri.“Jangan macam—macam Lana, A

  • Pesona Perawat Papa    Mengikuti Arus

    “Apakah dulu aku salah mengambilnya keputusan? Aku terlalu cepat menerima lamaran hanya karena mas Bimo nggak ingin aku kembali lagi dengan Riki!” sambil menyusui, pikiran Santi terus melayang.Ada sedikit rasa sesal Santi jika melihat Bimo sekarang. Bimo seperti menjadi sosok lain setelah dia melahirkan atau itu memang hanya pikiran sempitnya saja.“Kenapa aku merasa mas Bimo berubah? Apa yang salah sebenarnya? Atau memang sejak awal aku yang sudah salah. Harusnya aku nggak ada diantara mereka. Aku bahkan nggak mengetahui banyak tentang kisah cinta mas Bimo sebelumnya. Aku hanya tahu, kalau mas Bimo suka sekali main dengan perawat papa.”Semakin dalam pikirannya, Santi semakin merasa goyah dengan segala prinsip kehidupannya.Dia merasa Bimo sudah berpaling hati atau memang sejak awal, Santi memang hanya seorang pengganti. Sekarang kisah lama suaminya sudah kembali, dia harus segera menyadarinya.Perasaan galau dan menyesakkan itu semakin mengganggu pikiran Santi. Dia tidak menyangka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status