Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹—Masuk Perangkap🔞

Share

Pesona Pria Plus-plus
Pesona Pria Plus-plus
Author: Na_Vya

Bab¹—Masuk Perangkap🔞

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-02-10 22:10:41

"Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.

Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik berwarna merah meremat rambut Bagaskara —pemuda yang dikenalnya sebagai Lingga, sementara kedua paha miliknya makin terentang lebar, seolah memberi akses pada sang pemuas di bawah sana.

"Euhh …." Maudy mendesah lagi, kali ini dia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. "Ini enak banget, Lingga," erangnya seraya mendongak, dengan satu tangannya bertumpu pada tepi kitchen island.

Ruangan yang seharusnya untuk memasak itu kini telah berubah menjadi area panas, karena ulah dua manusia tanpa sehelai benang, yang saat ini sedang beradegan intim.

Bagas— gigolo bayaran Maudy menyeringai puas menyaksikan salah satu pelanggan tetapnya hampir mencapai puncak klimaks. "Lepasin, Tan," ucapnya, yang makin memperdalam permainan lidahnya di lembah basah milik Maudy.

"Lingga, kamu … Na-kal!" Inti milik Maudy semakin basah dan mengetat saat Bagas terus memainkannya. Hingga sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan lepas tanpa kendali, membuat tubuh polosnya menggelinjang. "Lingga …." Erangan panjang meluncur erotis, menggema di seluruh area pantry.

Napas Maudy putus-putus, seiring dadanya yang memiliki ukuran cukup besar naik turun. Seluruh tubuhnya terasa ringan dalam sekejap karena dia telah mencapai puncak kenikmatan, yang luar biasa.

Melihat pelanggannya puas, Bagas tentu merasa senang. "Gimana, Tan?" Pemuda itu berdiri, mengusap pipi Maudy yang masih merah dan terasa hangat. Sisa-sisa kepuasan masih berjejak di sepasang matanya yang sayu.

"Enak, Lingga," sahut Maudy yang napasnya berangsur teratur.

Punggung Maudy menegak, menatap ketampanan wajah Bagas, yang telah membuatnya tergila-gila dengan sorot mendamba. Wanita berambut panjang lurus itu lantas meraba dada polos Lingga, sambil menggigit bibirnya dengan sensual.

Dan Bagas tahu persis akan berlabuh ke mana tangan lembut itu. Maudy menyusuri setiap jengkal tubuh polosnya yang begitu maskulin, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna di bagian-bagian yang seharusnya. Berkat latihan fisik yang sering dia kerjakan dengan rutin.

Hanya menyentuh saja membuat darah Maudy kembali berdesir panas. Hasratnya masih belum terpenuhi secara tuntas, karena dia masih belum berkesempatan untuk menikmati milik Bagas yang masih menegak di bawah sana. Keras dan panas.

"Tapi, Tante masih pengen icip ini." Maudy merengek manja bak anak kecil yang meminta mainan. "Lingga gak pengen apa masukin tante?" Dia mengurut milik Bagas dengan gerakan maju mundur, membuat pemuda itu mengerang singkat.

Namun erangan itu berubah menjadi kekehan saat melihat Maudy yang merengek padanya seperti anak kecil. Dan rengekan ini tak sekali dua kali dia dengar dari para pelanggannya, yang menginginkan lebih dari sekadar sentuhan lidah. Sebab, Bagas tak pernah bahkan sama sekali tidak mengizinkan siapa pun menikmati benda pusakanya.

Aneh?

Memang terdengar cukup aneh. Karena hal itu terdengar sangat kontradiktif dengan profesi yang dijalani Bagas selama ini. Mana ada seorang gigolo pemuas wanita kesepian tidak pernah sekalipun memasuki lobang-lobang surgawi milik pelanggannya?

Ada. Bagas contohnya. Dan hal itu menjadi daya pikat tersendiri bagi Lingga yang bukan nama sebenarnya. Nama asli Lingga adalah Bagaskara Saputra. Namun, para pelanggannya mengenalnya sebagai Lingga. Gigolo berwajah oriental dan bermata sayu.

Buat jaga-jaga aja, sih... dan tentunya menghindari masalah. Soalnya sering kejadian, suami-suami para pelanggannya mukulin Bagas kalo pas gak sengaja ketemu.. Resikonya, muka cakepnya babak belur.

"Kenapa, sih, kamu gak mau masukin tante?" Maudy tak menyerah dalam merayu Bagas agar mau mengiyakan permintaannya. "Kita udah main puluhan kali, loh. Masa tante gak boleh icip ini." Dia sengaja menekan sentuhannya pada milik Bagas yang membuatnya penasaran.

Bagas mengusap dada Maudy yang ujungnya mengetat, lalu berkata, "Kan, gak harus masuk, Tan. Ada banyak cara buat nyenengin Tante. Seks itu gak melulu harus masuk." Dia membungkuk, menggigit ujung dada Maudy dan mengisapnya sekilas.

Gelenyar aneh kembali menyerang tubuh Maudy, sementara tangannya belum mau melepas milik Bagas. "Geli, Lingga," protesnya, tetapi juga menikmatinya. "kamu curang!"

"Kalo Lingga curang, gak mungkin Tante bisa sampe berkali-kali klimaks," sahut Bagas disela-sela memainkan puncak dada Maudy.

"Kenapa, sih, Lingga gak mau masukin?" Maudy protes lagi di sisa kesadarannya yang hampir menipis karena saat ini dia menginginkan lagi.

Bagas menyudahi isapannya, lalu menegak. Sambil membelai rambut Maudy, dia menjawab, "Karena Lingga cuma mau ngelakuin pengalaman pertama itu sama istri Lingga, Tan." Jawaban itu masih bisa dikatakan masuk akal 'kan? Agar si Maudy ini gak curiga.

"Istri?" Manik Maudy menatap lekat-lekat wajah Lingga yang nampak serius. "Lingga mau nikah?"

Tuh, kan... Maudy langsung penasaran.

"Hmm." Telapak tangan Bagas berpindah di pipi Maudy. "Aku perhatiin Tante makin cantik. Kayak Kim Kardashian," katanya, yang mulai melancarkan aksinya, kemudian memerhatikan bentuk hidung Maudy yang makin mancung. "kayak … Ada yang diubah lagi."

"Jeli juga mata kamu, ya," kata Maudy, menyentuh ujung hidung Bagas sambil mengerling. "Tante emang abis oplas kemarin waktu di Thailand. Bagus, gak hasilnya?" Empat bulan yang lalu dia sengaja terbang ke Bangkok untuk operasi plastik.

"Bagus, Tan. Makin cantik," puji Bagas, lantas menyentuh dada Maudy dan meremasnya. "Ini kayaknya juga tambah gede, Tan. Ditambahin lemak mana lagi?"

Remasan di dadanya, membuat Maudy mengerang. "Tante tambahin lemak paha. Biar kamu makin betah di sini." Maudy menyodorkan dadanya agar Bagas bisa lebih leluasa menjelajahinya.

"Pantes paha Tante makin ramping dan kenceng," ucap Bagas. "aku suka ini, Tan." Dia mengisap lagi puncak dada Maudy.

"Geli, Lingga." Maudy kegelian, dan makin gelisah. "Lingga, kamu mau nikah?" Maudy nampaknya masih penasaran, hingga tidak sadar bertanya demikian.

Bagas sontak menghentikan isapannya, seringai licik terbit di sudut bibir. Punggungnya menegak, dan dia pun menjawab ambigu, "Hmm … Bisa iya bisa enggak." Sorot matanya berubah dingin, tetapi nampaknya Maudy tidak menyadarinya.

Bila diperhatikan dengan saksama, nampaknya perempuan di hadapannya ini sedang menimbang-nimbang.

Bagas tentu bisa membaca isi pikiran Maudy saat ini. Selama hampir mengenalnya, Maudy ini tipe perempuan yang harus bisa memiliki apa yang diinginkannya.

Apalagi selama hampir kurang lebih setahun dia dan Maudy bersama. Bagas yakin seratus persen jika perempuan ini sangat menginginkannya.

Mengingat, jika Maudy selama ini kesepian dan haus belaian.

'Bagus. Kena 'kan, lo?' Bagas membatin senang ketika melihat Maudy yang nampaknya mulai masuk ke dalam perangkapnya. 'Dasar jalang!'

Ini semua memang sudah direncanakan Bagas sejak lama. Memancing Maudy agar makin penasaran.

Pernikahan?

Mungkin itu hanyalah satu-satunya cara agar Bagas bisa menjerat Maudy lebih erat. Mengendalikan hidup wanita jalang ini.

"Tan?" Bagas mengusap pipi Maudy.

Maudy terhenyak, menatap Bagas dengan tatapan penuh damba. "Lingga yakin mau nikah?" tanyanya tiba-tiba.

Kening Bagas mengernyit. "Maksudnya?"

Ah, Bagas cuma pura-pura tidak paham maksud Maudy.

"Nikah." Maudy memainkan telunjuknya di dada polos Bagas. "nikah sama tante."

Bolehkah Bagas berjingkrak sekarang?

"Nikah sama Tante?"

"Hmm." Maudy mengangguk.

Raut Bagas pura-pura terkejut, dan ada seringai licik yang terulas tipis di sudut bibir.

'Yes, akhirnya jalang ini masuk juga ke perangkap gue.'

***

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸¹—Impas~

    Bagas menuruti keinginan Theresa, yang memintanya untuk bertemu di suatu tempat. Bukan karena dia menerima begitu saja perintah dari perempuan itu. Bagas hanya tidak ingin mengundang masalah yang lebih besar lagi. Apalagi Theresa ini tipe orang yang tidak sabaran dan suka mengancam. Rese banget 'kan? Antara menyesal dan kapok karena dia sudah salah memilih rekan kerja sama kali ini. Mulut Theresa rupanya mirip ember. Dan Bagas ingin sekali menyumpal mulut itu dengan kaos kaki. CK! Dia mendatangi sebuah kamar hotel yang letaknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit. Kamar hotel yang bisa dibilang cukup luas dan mewah. Agaknya Theresa ini memang bukan perempuan sembarangan. Oh, Bagas hampir lupa kalau perempuan itu adalah putri dari wakil direktur rumah sakit swasta terbesar di ibukota. Sudah pasti, Theresa memiliki selera yang tinggi. Terbukti dengan pemilihan kamar hotel bintang satu yang menjadi tempat mereka bertemu siang ini. Ketika Theresa keluar dari kamar mandi

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁸⁰—Maju kena mundur kena~

    "Berengsek! Jalang licik!" Bagas memaki setang mobil yang sama sekali tidak mempunyai salah padanya. Menyalurkan amarahnya pada Maudy yang beberapa saat lalu memintanya untuk menyingkirkan Roy dan Rachel dari dunia ini. Secara tidak langsung perempuan itu meminta Bagas untuk menghabisi nyawa ayah dan putrinya. Bener-bener gila 'kan? Bagas sama sekali tidak menyangka jika Maudy memiliki rencana yang sangat berbahaya dan beresiko cukup besar. Apalagi, dia menyeret Bagas untuk masuk ke dalam rencananya itu. Ini namanya bukan beruntung, tapi dobel sial. "Enam bulan lalu jet pribadi yang bawa suami tante ke London mengalami kecelakaan dan semuanya dikabarkan meninggal di tempat. Satu-satunya yang selamat cuma suami tante, Lingga." Bagas mengingat kembali perkataan Maudy saat menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa Roy. Perempuan itu juga menceritakan bagaimana dia selama ini sengaja menyembunyikan Roy yang masih hidup dari Rachel dan publik. "Kenapa Tante gak ceri

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁹—Perintah gila Maudy~

    Bagas dan Maudy berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit dengan didampingi seorang pria berjas serba hitam dan berkaca mata berwarna senada. Pria berpenampilan misterius itu menyambut Maudy dengan sangat hormat di depan lobi, tanpa mengatakan apa pun. Sementara Bagas masih menerka-nerka sendiri dalam hati—perihal Maudy yang dengan mudah membawanya ke tempat ini. Jadi, untuk sementara ini biarlah Bagas pura-pura bodoh dan tidak tahu menahu soal rencana jalang itu. 'Gue penasaran sama kondisi si Roy.' Bagas membatin sambil membayangkan Roy Darmawan yang sedang terbaring koma di ranjang pesakitan. "Lingga ...." Suara Maudy memecah lamunan Bagas yang isi kepalanya sangat sibuk dengan berbagai rencana setelah ini. Dan dia baru sadar jika sudah berada di depan sebuah ruangan VVIP. "Ya, Tan?" Dia menyahut seraya melirik ke sekeliling yang nampak sepi. Berbeda dengan ruangan umum lain, yang biasanya ramai pengunjung pasien. 'Kayaknya ini kamarnya si Roy.' Batin Bagas menyi

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁸—Diajak Maudy~

    Hampir lewat tengah malam, Bagas kembali ke rumah yang hampir sebulan ini dia tempati. Tubuh yang lelah dan pikiran yang kacau, membuat Bagas memutuskan untuk langsung masuk ke kamarnya. Meskipun dia dan Maudy berstatus suami istri, mereka masih tidur di kamar yang terpisah. Entah apa alasannya, Bagas sendiri tak berminat mencari tahu. Dia justru senang karena tidak sekamar dengan jalang itu. Ya ... walau terkadang Maudy sering tidur di kamarnya, di saat perempuan itu meminta haknya. Sebagai orang yang sudah dikontrak, tentu Bagas harus memberinya. Suka atau tidak suka, itu sudah menjadi kewajibannya. Ketika kakinya melangkah masuk ke kamar, Bagas tercengang saat mendapati Maudy duduk bersandar di ranjangnya. Apalagi dengan penampilannya yang seksi. Baju tidur bahan lace tipis yang memperlihatkan lekukan tubuh Maudy. Seketika Bagas menelan ludah. Haisshhh... "Tan?" Bagas menutup pintu, lalu mendekati Maudy. Perasaannya mulai tidak enak, seperti seorang suami sungguhan yang

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁷⁷—Curhatnya seorang Bagas~

    Beberapa jam kemudian...Perasaan itu tidak bisa dikendalikan oleh Bagas, yang detik ini baru menyadari arti Vanila di dalam hidupnya. Mengenal sosok perempuan itu dari usianya 15 tahun hingga sekarang sudah menginjak 24 tahun. Vanila selalu ada untuknya dalam situasi terberat sekalipun.Ketika Bagas kehilangan sang papa, Vanila hadir memberi support dan membantunya bangun dari keterpurukan. Ketika Bagas harus menghadapi cacian dan olokan dari teman-teman sekelasnya, Vanila selalu membela dan menguatkannya. Dan, ketika Bagas berada dalam titik terendahnya, Vanila menjadi satu-satunya orang yang tetap berada di sisinya hingga saat ini.Namun ... Mengapa Bagas baru menyadari akan hal itu? Kebersamaan yang telah terajut selama ini, ternyata menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya. Tanpa Bagas sadari jika dia sangat membutuhkan Vanila untuk selalu berada di sisinya.Akan tetapi, semesta mungkin belum mengizinkan Bagas untuk memiliki Vanila, lantaran perbedaan keyakinan yang begitu memb

  • Pesona Pria Plus-plus    bab ⁷⁶—Pilihan~

    Ide dadakan merayakan ulang tahun di hunian baru tercetus begitu saja oleh Bagas. Kendati sederhana dan apa adanya. Namun, kebersamaan dan doa-doa yang dipanjatkan tak ternilai harganya jika dibanding dengan pesta meriah dan mewah. Untung saja sewaktu di toko kue Bagas kepikiran ingin makan yang manis-manis. Jadi kue itu bisa sekalian dianggap sebagai cake ulang tahun untuk Vanila, walau tanpa lilin. Bagas memesan makanan dan minuman secara online. Beberapa menu favorit Vanila pastinya. Dia juga memesan banyak camilan untuk yang lain. Pesta kecil-kecilan itu berlangsung tidak lama karena masing-masing dari mereka harus kembali ke rumah. Sandi, Marco dan Firman pamit pulang agar Vanila bisa segera beristirahat. Setelah ketiga pria itu pergi, tinggal Bagas yang masih di unit Vanila. "Ini nanti biar gue yang beresin. Lo mending istirahat aja, Van," kata Bagas, menunjuk meja makan yang masih penuh dengan beraneka makanan dan minuman serta kue yang sudah dipotong sebagian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status