LOGIN"Malem ini gue gak pulang," ucap Bagas yang berniat menginap di rumah Marco. Yang sebenarnya adalah dia malas pulang ke rumah dan bertemu Maudy. Dia muak melihat wajah jalang itu. "Iya. Lo tidur di sini aja," sahut Marco, yang langsung tahu maksud perkataan Bagas. "lagian malem ini gue ada tugas di luar. Paling gak, ada cowok yang jagain Rachel sama Vanila." Bagas mengangguk, dan berkata, "Makasih ya, Bang. Udah repot-repot bantu gue sampe sekarang." "Yaelah, Gas. Kayak sama siapa aja, lo? Santai, Gas... Gue malah seneng bisa bantu lo." Marco menepuk-nepuk pundak Bagas. Lantas dia berdiri. "ya udah, nanti lo bisa tidur di kamar gue." Bagas mengangguk, lalu ikut berdiri. "Lo mau berangkat jam berapa, Bang?" Marco melirik jam digital di pergelangan tangan. "Bentar lagi. Gue nunggu dicalling dulu," ucapnya sambil memasukkan senjata api ke dalam saku jaket kulit. "ayo masuk dulu." Bagas dan Marco masuk. Keduanya mengobrol sebentar di ruang tamu—membahas untuk pertemuan be
"Halo, Om?" Bagas memilih duduk di teras, sambil mendengarkan Hendra yang baru saja menelponnya. "Halo, Gas. Apa kabar?" "Baik, Om. Baik. Om sendiri gimana?" Bagas tentu harus bertanya balik. Biar bagaimanapun Hendra sudah mau repot-repot membantunya.. "Om baik, Gas." "Syukurlah." Bagas mengeluarkan kotak rokok dari saku jaket beserta korek. Tak lama kemudian Marco menyusul keluar dan ikut duduk di samping Bagas. Pria itu meletakkan senjata api di atas meja, lalu mengambil sebatang rokok milik Bagas, dan menyulutnya. Bagas melirik senjata api yang di atas meja sambil mendengarkan Hendra bicara. "Besok kita ketemuannya siang aja, ya, Gas. Nanti om sharelok lokasinya," kata Hendra, membahas pertemuannya dengan Bagas. "Iya-iya, Om. Gak masalah. Soalnya, aku besok ke kantor dulu sama temen-temen. Maudy nyuruh ke sana." "Hmm. Iya-iya." "Ya sudah. Sampai ketemu besok." "Oke-oke, Om." Bagas meletakkan ponselnya di atas meja setelah obrolan dengan Hendra berakhir. Di
"Lo dikasih saham sama Maudy?" Tiba-tiba Rachel menyahut dengan nada bicara terdengar tidak percaya sekaligus tak terima. "Kapan? Kok, gue gak tau?" Tatapan Rachel tertuju pada Bagas yang nampak fokus menyetir. Vanila bahkan sampai terkejut mendengar Rachel yang tiba-tiba menyahut dengan nada bicara agak tinggi. Sedangkan Bagas melirik gadis itu dari kaca spion tengah. Pemuda itu menghela panjang, merasa bingung menjelaskannya pada Rachel yang saat ini menuntut jawabannya. Tak heran gadis itu terkejut bukan main. Sebab, Bagas sama sekali tidak menceritakan perihal saham yang dijanjikan oleh Maudy. Belum. Dan sebenarnya Bagas tak berniat memberitahu. Namun, semua sudah terlanjur. Rachel sudah mendengarnya. Mau tak mau Bagas harus bicara supaya gadis yang sedang mengandung anaknya itu merasa tenang. "Beberapa hari yang lalu, sih," jawab Bagas lirih, sambil melirik Rachel dari kaca spion tengah. Rachel mendengkus, melipat tangan di dada, dan menyahut, "Bisa-bisanya dia
Beberapa hari kemudian~ Kondisi Rachel yang sudah cukup membaik, telah mendapatkan izin dari dokter untuk pulang. Namun, dengan catatan gadis itu harus betres untuk sementara waktu lantaran kandungannya yang masih lemah. Di trisemester awal seperti sekarang memang ibu hamil harus memperbanyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran. Hal tersebut dapat mengganggu kondisi mental sang calon ibu, apalagi usia Rachel yang masih sangat muda dan belum memiliki banyak pengalaman. Di usianya yang masih sembilan belas tahun, tentu akan ada banyak faktor yang tidak mendukung. Sementara, hati gadis itu sedang tidak baik-baik saja karena masih teringat dengan pernyataan Bagas yang sangat jujur. Rachel sampai tidak bisa tidur dan gelisah semalaman. Memikirkan nasibnya setelah menikah dengan Bagas yang tidak mencintainya. Entah akan seperti apa rumah tangganya kelak. Yang jelas, hidupnya mungkin akan terasa hampa dan kosong. Percuma hidup bersama, jika hati dan cinta suaminya sudah jadi mili
Baru kali ini, Rachel merasa tidak nyaman berduaan dalam satu ruangan dengan Bagas. Meskipun bibirnya memaksa untuk tersenyum, tetapi sesuatu yang mengganjal di hati tak kunjung hilang. Rachel resah, cemas, takut dan was-was. Mendengar kabar kehamilannya saja, dia masih syok bukan main. Lantas, kini Bagas ada di sampingnya, duduk dekat dengannya, menatapnya dengan raut yang sama sekali tak terbaca. Sejak lelaki itu masuk sampai detik ini belum bersuara sama sekali. Namun, dari sorot mata yang bisa Rachel bisa baca, bila Bagas seakan hendak memuntahkan banyak sekali pertanyaan padanya. "Lingga, gue—" "Ada yang mau lo jelasin?" Kalimat Rachel tersekat di tenggorokan ketika Bagas menyelanya dengan pertanyaan. Untuk menelan ludah saja rasanya sangat susah, tatapan lelaki yang sangat dia sukai itu begitu mengintimidasi. Rachel seperti tengah berada di ruang persidangan. "Elo diem, karena lo gak bisa jawab pertanyaan gue," ujar Bagas, yang lantas berdiri seraya membuang kasar napasnya
Merasa situasi yang mungkin mulai tak terkendali, Sandi lantas berdiri. "Udah, Fir, udah. Inget, ini lagi di rumah sakit." Dia menengahi kedua lelaki yang sudah dianggapnya seperti adik. Tak berniat membela atau memilih keduanya. Namun, perkataan Firman tentang Bagas memang ada benarnya. Sandi pun tidak akan pernah mendukung apabila Bagas membuat keputusan yang salah nantinya. "Kesel gue, Bang, sama nih orang! Gak ada pendirian sama sekali!" Firman rupanya belum puas mengoceh, dia ingin sekali memukul kepala Bagas agar temannya itu bisa berpikir sedikit saja. "Bilangnya cinta sama Vanila, tapi celup sana celup sini! Ck!" Firman menendang udara, meluapkan kekesalannya kepada Bagas yang tidak bisa dia salurkan secara langsung. Sebagai sesama teman, dia hanya ingin melihat Vanila mendapatkan laki-laki yang tepat. Bagas geram, merasa tak terima Firman menilainya sebagai laki-laki yang tidak punya pendirian. "Eh, elo gak ada hak, ya, bilang gitu sama gue! Tau apa lo soal gue, hah! T