LOGINDua botol bir yang dipesan oleh Bagas sudah kosong hampir tak bersisa. Dan pemuda itu nampaknya mulai mabuk. Terlihat dari kedua matanya yang sayu dan tidak fokus serta wajahnya yang memerah mirip kepiting rebus. Rambutnya sedikit acak-acakan. Namun, tidak mengurangi ketampanan Bagas sedikit pun. Bibirnya sejak tadi tak berhenti meracau, mengumpat dan memaki Rachel, yang sudah mempermainkannya. Waktu pun terus berjalan, dan malam semakin larut. Kafe sebentar lagi akan tutup, dan seorang waiters masuk untuk memberi tahu Bagas secara halus supaya segera pergi. Diberitahu bahwa kafe akan segera tutup, Bagas mengangguk mengerti, dan langsung merogoh saku di belakang celananya untuk mengambil dompet. Dikeluarkannya sepuluh lembar uang warna merah dari dompet, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja. Uang dari Bagas diterima oleh waiters yang sebelumnya melayani, kemudian dia membantu Bagas yang sudah setengah mabuk berdiri. Bagas diantar sampai pintu keluar kafe yang rup
"Maksud lo?" Manik Bagas menatap tajam Rachel yang sepertinya sengaja ingin mempermainkannya. "Kalo ngomong yang jelas." Ponsel di tangan dia letakkan begitu saja di atas kasur, bahkan membiarkan video yang sempat ditontonnya tadi terus berputar. Kemudian Bagas menurunkan kedua tungkainya dari kasur, lalu beranjak. Bagas berdiri tepat di depan mata Rachel yang masih betah bungkam. Entah apa maksud perkataannya tadi, Bagas sama sekali tidak mengerti. "Elo gak bisa jawab?" Meski marah, Bagas berusaha tidak meninggikan suaranya. Dan dia menuntut penjelasan dari gadis itu. "gue tanya sama lo, Chel? Kenapa lo bisa tau kalo hari ini gue mau ke rumahnya Vanila? Rachel menelan ludah, telapak tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Seperti sedang menahan sesuatu, mulutnya hendak terbuka, lalu tertutup lagi. Oh ya ampun.... Rachel benar-benar sedang menguji kesabaran seorang Bagaskara. Menarik dalam-dalam napasnya, Bagas mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel, tanpa jarak
Bagas ke balkon kamar saat langit sudah menggelap sepenuhnya. Dia lantas menghubungi seseorang yang mungkin sedang menunggu kedatangannya. Vanila. Nama itu terus dipikirkan Bagas seharian ini lantaran dia merasa bersalah. Pada akhirnya dia tidak menepati janji. Dan ini untuk pertama kalinya Bagas membohongi Vanila. Ini semua gara-gara Rachel, yang sudah membuat segalanya berantakan. Gadis itu benar-benar sangat licik hingga Bagas saja tidak bisa menanganinya. Bagas pun terpaksa mengajak Rachel ke sini lagi karena gadis itu terus saja menempel padanya macam lintah, yang tak mau lepas. Tak pernah Bagas sepusing ini menghadapi perempuan. Biasanya dia pintar mengendalikan perempuan, tetapi ini malah kebalikannya. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Vanila menjawab telepon Bagas. "Halo, Van." "Kamu gak jadi ke sini, Gas?" Tuh 'kan... Vanila langsung mencecarnya. Bagas menggaruk kepala yang seharian ini terasa pusing, lalu menjawab, "Sorry, Van. Gue banyak urusan. Jad
Harusnya Bagas sudah menduganya dari awal jika semua ini tidak akan berakhir dengan mudah. Mengingat, Rachel memiliki sifat keras kepala dan pantang menyerah. Terlebih lagi, putri Roy Darmawan itu sangat cerdik dan cukup licik, apabila menyangkut soal Bagas. Baru kali ini Bagas bertemu dengan gadis yang begitu terobsesi padanya, sampai-sampai tidak ragu menggunakan segala cara untuk mendapatkannya. Sejumlah uang yang nominalnya sangat banyak, yang diberi Rachel untuknya sudah menjadi bukti, jika gadis itu memang benar-benar sudah terobsesi. Kini, Bagas tidak bisa lari lagi dari Rachel, dan mau tak mau menuruti keinginannya, agar segalanya tidak semakin bertambah rumit. Bagaimana pula dia bisa bebas jika Rachel mengancam akan membocorkan rahasianya pada Maudy. Segala rencana yang sudah dia susun akan sia-sia. Bagas tak ingin mengambil risiko tersebut. Dan biarlah untuk sementara waktu dia menuruti keinginan Rachel, dan menjadi partner sex gadis itu. Lantas, siapa yang
Matahari mulai meninggi, dan sinarnya menyusup ke celah-celah jendela kamar bernuansa maskulin itu. Di ranjang ukuran king size itu dua insan manusia masih bergelung dengan selimut, saling memeluk satu sama lain. Bagas dan Rachel terlihat begitu nyenyak hingga enggan beranjak meski matahari di luar sana sudah sangat menyengat. Keduanya nampaknya kelelahan karena semalam mereka bercinta habis-habisan.Akan tetapi kedamaian itu harus terganggu oleh suara dering ponsel Bagas yang menggema begitu nyaring di kamar.Sang empunya ponsel tersentak, membuka mata seketika, dan mengerjap-ngerjap. Sinar matahari menyilaukan mata Bagas, yang masih terasa lengket. Bagas mengomel lantaran tidurnya terganggu. "Siapa, sih, pagi-pagi gini gangguin orang tidur." Dengan mata masih terkantuk-kantuk, tangan Bagas menggapai ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping ranjang. Sementara gadis di sisinya hanya bergerak dan bergumam tipis, dan tak bergeser sedikit pun dari pelukan Bagas. Sepasang matan
"Halo, Van?" Bagas berdiri di balik pagar besi pembatas balkon. Angin malam langsung menerpa tubuhnya. Saat mendongak, mata Bagas disuguhi oleh ribuan bintang di langit yang gelap pekat. "Kamu udah tidur, ya?" Suara Vanila selalu terdengar lembut di telinga Bagas. "Belum, Van." Selanjutnya dia mendengar helaan berat di ujung sana. "kenapa, Van?" "Gak pa-pa." Vanila terdiam sesaat, kemudian berkata lagi, "aku gak bisa tidur, Gas." Mendengar itu ketegangan menerpa punggung Bagas seketika. "Lo udah minum obat?" tanyanya, karena dia tahu jika Vanila memiliki riwayat penyakit asma. "Belum." "Kenapa lo belum minum?" Nada pertanyaan Bagas sedikit menuntut serta khawatir. "elo gak boleh telat minum obat, Van." "Iya nanti aku minum." "Gue ke sana, ya?" Kekhawatiran Bagas membuatnya merasa tidak tenang, apabila membiarkan Vanila sendirian di rumah."Gak usah. Udah malem banget." "Kayak gak biasa aja, Van," ucap Bagas. "daripada gue di sini kepikiran lo terus." Dia hendak kembali m