Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹³⁴—Lega~

Share

Bab¹³⁴—Lega~

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-07-04 16:03:19

Bagas memandangi mobil tahanan yang perlahan keluar dari area bandara hingga hilang di balik padatnya lalu lintas.

Rasa puas yang selama ini dia bayangkan ternyata tidak sepenuhnya mampu menghilangkan beban di dadanya. Justru setelah Maudy dibawa pergi, pikirannya dipenuhi banyak hal. Bukan lagi soal penyamarannya sebagai Lingga yang akhirnya terbongkar, melainkan proses hukum yang baru saja dimulai.

Semua bukti yang selama ini dia kumpulkan harus benar-benar mampu menyeret Maudy ke balik jer
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁰—Pulang ke rumah~

    Mobil yang dikendarai Marco perlahan memasuki area parkir sebuah restoran keluarga yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pengadilan Negeri. Begitu mesin dimatikan, seluruh penumpang masih memilih diam selama beberapa saat. Sidang pertama memang telah usai. Namun ketegangan yang mereka rasakan sejak pagi seolah belum benar-benar hilang. Marco memijat tengkuknya pelan sebelum membuka pintu mobil. Dia berkata, "Ayo. Kita isi perut dulu." Kemudian turun lebih dulu. Firman langsung mengangguk setuju. "Gue udah lapar dari tadi." Dia bergegas turun dari mobil. Sandi terkekeh pelan, dan menyahut, "Kirain cuma gue." Dia belum bisa turun, menunggu Bagas dan yang lainnya turun lebih dulu. Bagas lantas turun dari mobil. Dia segera berputar menuju sisi lain untuk membukakan pintu bagi Rachel, yang belum lama terbangun. "Hati-hati." Rachel mengangguk kecil sambil menerima uluran tangan Bagas. "Iya." Vanila yang turun setelahnya langsung berdiri di sisi Rachel. "Sama aku." Bagas hanya

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁹—Belum benar-benar selesai~

    Bagas baru mengembuskan napas panjang ketika mobil yang mereka tumpangi meninggalkan halaman Pengadilan Negeri. Keramaian perlahan tertinggal di belakang. Suara sirene, kilatan kamera, dan teriakan wartawan yang sejak pagi memenuhi halaman pengadilan kini hanya terdengar samar melalui kaca mobil yang tertutup rapat. Untuk pertama kalinya sejak persidangan dimulai. Suasana menjadi benar-benar tenang. Tak seorang pun langsung membuka percakapan. Marco yang duduk di kursi kemudi memilih memusatkan perhatian pada jalan. Sesekali matanya melirik kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan wartawan yang mengikuti mereka. Firman duduk di kursi penumpang depan. Sementara Bagas memilih duduk di bangku tengah bersama Rachel dan Vanila. Sedangkan Sandi duduk di kursi paling belakang. Bagas menoleh ke samping, memerhatikan Rachel yang menyandarkan kepalanya ke jok mobil dengan mata terpejam. Wajah perempuan itu tampak pucat. Meski sejak tadi berusaha terlihat tegar, dia tahu sidang har

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁸—Firasat Rachel~

    Suara percakapan langsung memenuhi lorong Pengadilan Negeri begitu pintu ruang sidang dibuka. Sidang pertama akhirnya selesai. Meski hanya berlangsung tidak terlalu lama, suasana yang tadi memenuhi ruang persidangan masih terasa menyesakkan. Wartawan bergegas keluar sambil menelepon redaksi masing-masing. Beberapa pengunjung masih membahas jalannya sidang, terutama saat penasihat hukum Maudy mulai menyinggung penyamaran Bagas sebagai Lingga. Bagas berjalan paling depan. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya belum benar-benar lepas dari apa yang baru saja terjadi. Eksepsi itu memang sudah dia duga. Penyidik bahkan telah memperingatkannya beberapa hari sebelumnya bahwa tim hukum Maudy hampir pasti akan menyerang legalitas bukti, bukan sekadar membela kliennya. Dan benar saja. Hari ini baru permulaan. Besok atau lusa....Serangan mereka pasti akan semakin tajam. Bagas mengembuskan napas pelan. Di belakangnya, Rachel berjalan berdampingan dengan Vanila. Sesekali Vanila menggenggam l

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁷—Ditunda~

    Ruangan sidang kembali hening. Semua mata tertuju kepada penasihat hukum terdakwa yang berdiri tegak di depan meja pembelaan. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu tampak tenang. Dengan gerakan perlahan, dia membuka sebuah map hitam berisi beberapa lembar dokumen yang telah disusunnya dengan rapi. Tak ada sedikit pun kegugupan di wajahnya. Justru ketenangan itu membuat suasana di dalam ruang sidang terasa semakin menekan. Hakim Ketua mempersilakan. "Silakan menyampaikan eksepsi, Saudara." "Terima kasih, Yang Mulia.".Pengacara Maudy melangkah satu langkah ke depan. Tatapannya menyapu seluruh isi ruang sidang sebelum akhirnya berhenti sesaat ke arah meja Jaksa Penuntut Umum. "Dalam kesempatan ini, kami tidak bermaksud membantah seluruh dakwaan yang telah dibacakan penuntut umum... "Namun, setelah mempelajari surat dakwaan beserta berkas penyidikan, kami menemukan beberapa hal yang patut dipertanyakan dari sisi proses penegakan hukumnya." Beberapa wartawan kembali sibuk menc

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁶—Persidangan#2

    Pintu ruang sidang perlahan terbuka. Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang dibayangkan Bagas. Deretan bangku kayu telah dipenuhi oleh pengunjung sidang, wartawan, serta beberapa orang yang sengaja datang untuk mengikuti kasus yang sejak beberapa hari terakhir ramai diberitakan. Suara percakapan pelan terdengar di berbagai sudut ruangan. Begitu Bagas melangkah masuk bersama Rachel, Marco, Vanila, Sandi, dan Firman, beberapa pasang mata langsung tertuju kepada mereka. Beberapa wartawan yang telah lebih dulu berada di dalam ruang sidang kembali mengangkat kamera. Namun kali ini, petugas pengadilan segera mengingatkan. "Selama persidangan berlangsung, tidak diperkenankan mengambil gambar tanpa izin majelis hakim." Suasana kembali tenang. Bagas mengantar Rachel menuju bangku yang telah disediakan untuk para saksi. "Kamu duduk di sini." Rachel mengangguk pelan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan Jantungnya berdegup semakin cepat. Bagas bisa melihat jemari perempu

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁴⁵—Persidangan#1

    Halaman Pengadilan Negeri yang sejak pagi dipenuhi wartawan mendadak menjadi riuh ketika iring-iringan mobil tahanan memasuki gerbang utama. Suara sirene yang meraung pelan membuat seluruh perhatian beralih ke arah kendaraan berwarna hitam itu. Polisi yang berjaga segera membentuk barikade. "Tolong mundur! Kasih jalan!" Kilatan kamera menyala tanpa henti. Suara rana kamera bersahut-sahutan memenuhi udara pagi. Di sisi lain halaman, Bagas berdiri mematung. Tangannya masih menggenggam tangan Rachel yang berdiri di sampingnya. Dia bisa merasakan jemari perempuan itu mulai mendingin. Bagas menoleh sebentar pada Rachel dan bertanya, "Kamu gak pa-pa?" Rachel menarik napas panjang, dan mengangguk. "Aku... siap." Senyum Bagas terulas tipis, dia mengangguk pelan. Meskipun begitu, dia tahu kalimat itu lebih banyak ditujukan untuk menguatkan dirinya sendiri. Di sebelah Rachel, Vanila berdiri dengan tenang. Perempuan itu sengaja datang bukan untuk menjadi bagian dari masa l

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab²—Informan~

    "Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status