بيت / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / bab¹⁷—Ke rumah Vanila~

مشاركة

bab¹⁷—Ke rumah Vanila~

مؤلف: Na_Vya
last update تاريخ النشر: 2026-03-22 23:30:22

Rasa penasaran membuat Bagas terpaksa keluar kamar, lalu turun tergesa untuk kembali ke taman belakang lagi.

Kali ini dia ingin memastikan jika memang dia belum membuang bingkai rusak itu ke tempat sampah yang ada di taman belakang.

Ada tiga tong sampah di taman belakang, masing-masing sesuai dengan jenis sampah. Bagas membuka tutup pada tong sampah kering, lalu melongokkan kepalanya.

Maniknya terus mencermati benda-benda yang dibuang di tong itu. Namun, bingkai
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰²—Akting~

    Suasana menjadi hening sejenak, diantara mereka tak ada satu pun yang bersuara lagi. Hingga dering ponsel menggema di seluruh ruangan dan memecah kesunyian sesaat itu. Semua mata tertuju pada Bagas, yang sibuk merogoh saku celananya. Rupanya, bunyi tersebut berasal dari ponselnya.. "Maudy?" Keningnya mengernyit saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Dia lantas mengalihkan pandangan ke Marco, dan bertanya. "Bang, Maudy telepon. Gimana?" "Angkat aja. Kalo dia tanya, bilang aja lagi proses." Marco menjawab, lalu beralih pada Rachel. "Chel, gue minta kerja samanya kali ini. Elo bisa 'kan?" tanyanya, berharap gadis itu bisa diajak bekerja sama. Raut gadis itu nampak menahan kesal sedari tadi. "Terserah!" sahutnya galak. Namun, tak urung dia menuruti Marco, dan ikut bersama Vanila. "Gue keluar dulu, ya, Bang. Sementara kalian siapin semuanya," ucap Bagas. Marco mengangguk, lantas gegas menyiapkan segalanya agar terlihat seperti sebuah drama betulan. Kali ini dia akan

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰¹—Persiapan eksekusi(2)

    "Gue cuma jaga-jaga, Gas," sahut Marco, mengambil bungkusan plastik berlabel nama apotek dari tas. Dia lantas mengambil botol air mineral di meja. Bagas membuntuti Marco dari belakang, bertanya-tanya dalam hati perihal rencana yang sama sekali dia tidak tahu. Jenazah? Dapat dari mana Marco, dua jenazah sekaligus, pikir Bagas. "Nah, kalo itu obat apa, Bang?" tunjuk Bagas pada obat yang ada di tangan Marco. "Ini obat penetral. Untuk sementara kita bisa kasih ini dulu ke Roy. Baru nanti kalo udah di rumah sakit bisa dapet penanganan dari dokter," jelas Marco, yang kemudian memasukkan dua butir obat berwarna putih ke mulut Roy, tentu dengan bantuan Bagas. Kondisi Roy yang masih belum sadarkan diri cukup menyulitkan. Apalagi, selama ini Roy mengonsumsi obat tidur secara berlebih. Dan, untuk sementara waktu Marco memberikan obat penetral, untuk mengurangi kandungan yang mungkin sudah menumpuk di tubuh Roy. Sembari menunggu penanganan dari dokter ahli. Mendengar penjelasan yang

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰⁰—Persiapan Eksekusi(1)

    Waktu terus berjalan, dan langit sebentar lagi gelap. Suasana di gubuk itu agak tegang sekaligus mengharukan. Perasaan Bagas pun saat ini campur aduk. Untuk pertama kalinya dia menjalankan rencana besar yang melibatkan banyak orang. Walau semua ini hanya sandiwara, rasa gugup pastinya ada. Apalagi, di luar sana ada anak buah Maudy yang membuntuti. "Papi!" Rachel loncat dari bangku dan berlari, begitu melihat sosok yang baru saja masuk. Sosok yang hampir enam bulan dia tunggu-tunggu kepulangannya. Sang papi yang dia rindu selama ini. "Papi!" Gadis itu memeluk Roy yang terduduk di kursi roda dalam kondisi masih belum sadarkan diri. Menumpahkan segala kerinduannya di pundak renta sang papi, yang tak bergerak sama sekali. Tangisan Rachel pecah, disusul ucapan syukur. Sementara semua orang yang berada di gubuk itu ikut larut dalam pertemuan yang penuh haru, dan emosional. Bagas menyusut lelehan bening yang menetes di pipi dengan lengan. Hatinya cukup merasa lega, lantara

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁹—Diikuti~

    Setelah mengobrol cukup panjang dengan Hendra di kafe dekat kantor, Bagas akhirnya bisa bernapas lega lantaran teman dekat papanya itu mau membantunya. Hendra berjanji akan mendukung Bagas dan memberikan apa yang dibutuhkan untuk memperlancar rencananya. Saat ini, yang Bagas butuhkan sebenarnya hanya sebuah dukungan dari banyak pihak, dikarenakan lawannya bukanlah dari orang sembarangan. Maudy sangat licik, dan Bagas tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah dia berhasil menjatuhkan jalang itu. Kendati di tangannya sudah ada bukti yang jelas dan cukup untuk menyeret Maudy ke penjara. Namun, Bagas harus mencari celah lain supaya hukuman yang diterima Maudy setimpal. Bagas ingin, Maudy mendekam di jeruji besi dengan waktu yang tidak sebentar. Mengingat, jejak kejahatan yang banyak di lakukan selama ini. *** Beberapa jam kemudian... Bagas sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, yakni rumah yang akan menjadi tempat untuk mengeksekusi Roy dan Rachel. Tentunya, di

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁸—Meminta bantuan~

    Bagas menghela panjang guna menjeda seraya meraup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya. Maniknya yang mulai memerah tak bisa menyembunyikan pedihnya luka yang dia alami selama ini. Hendra pun dapat melihat duka yang menggelayuti anak dari sahabatnya itu. Begitu dalam dan pasti sangat menyakitkan."Om, turut berdukacita, Gas. Maaf, karena om gak datang ke pemakaman papamu." Hendra mencodongkan badan, mengulurkan tangan ke pundak Bagas, lalu menepuk-nepuknya. Berharap perkataan yang dia lontarkan akan sedikit meringankan beban pemuda ini."Om nyesel banget karena gak bisa dateng," kata Hendra lagi. "waktu itu kerjaan om lagi banyak-banyaknya. Jadi, om gak bisa balik ke Indonesia mendadak." Bagas mengangguk maklum dan paham akan kesibukan teman papanya itu. "Bagas ngerti, Om. Lagian, semua itu juga udah lewat. Bagas pelan-pelan belajar buat lupain luka itu. Dan papa juga udah tenang di sana."Ucapan yang hanya sekadar untuk menghibur diri sendiri sudah sering dia lontarkan, agar luka di

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁹⁷—Membuka luka lama~

    "Karena urusan saya sudah selesai, saya mohon pamit, Bu." Hendra berdiri, sambil mengamit dokumen yang baru saja ditandatangani Bagas. Urusannya di kantor ini sudah selesai, dan dia segera pamit undur lantaran masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan di kantornya. Maudy dan Bagas menyusul berdiri. "Baiklah, Pak. Terima kasih atas waktunya yang sudah berkenan menyempatkan buat datang ke sini." Maudy mengulurkan tangan, dan Hendra lekas menyambutnya. "Sama-sama, Bu. Urusan klien penting seperti Bu Maudy pasti akan saya dahulukan," ujar Hendra yang sedikit melebih-lebihkan. "Lingga, kamu tolong anter Pak Hendra sampai ke lobby, ya?" pinta Maudy pada Bagas. "Iya, Tan." Bagas mengiyakan. Menuruti perintah Maudy, yang sebenarnya hanya dijadikan sebagai alasan. Kesempatan untuk dirinya yang ingin menanyakan sesuatu kepada Hendra. Ada hal yang sejak tadi menggangu pikiran Bagas. Tentang siapa Hendra yang baru saja dia ingat beberapa saat lalu. Ternyata, dunia ini tak seleb

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status