로그인“Mereka… datang.”Gardan mengerutkan kening. “Siapa? Siapa yang bakal datang?”Sang Vampir tidak langsung menjawab. Ia menatap warung gaib yang masih berdiri kokoh di tengah guncangan, kemudian kembali memandang Gardan.“Serap energiku.”“Hah?” Gardan terbelalak. “Maksud kamu?”“Serap energiku. Sekarang.”Gardan menatapnya kebingungan. “Lho, kenapa tiba-tiba? Emangnya kamu…”“Nggak ada waktu buat jelasin,” potong Sang Vampir. “Lakuin aja. Nanti kamu bakal ngerti sendiri.”Yara segera mendekati Gardan dan menahan lengannya. “Dan, ati-ati. Ojo langsung percoyo karo dia!”“Iyo, Mas,” sahut Siti dengan wajah cemas. “Kita ora ngerti apa sing dia rencanain.”Gardan kembali memandang Sang Vampir. Ia masih teringat bagaimana makhluk tersebut mempermainkannya dalam pertarungan sebelumnya, bahkan mengancam akan membunuhnya.Namun, kali ini Sang Vampir tampak benar-benar serius.“Jadi... aku harus nyerap energi kamu?”“Iya. Cepat!”GRRRRMMMM!Tanah kembali berguncang hebat. Sebuah pohon besar t
“Kekuatan super?” tanya Gardan kepada Siti.Siti mengangguk pelan. “Iyo, Mas. Aku juga awalnya pikir cuma adrenalin. Tapi beberapa kali aku ngerasa tenagaku kok yo jauh lebih kuat daripada biasane.”Yara mendadak teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah salah satu meja di warung, lalu menunjuk bagian pinggirnya.“Waktu Siti kesakitan semalam, dia bikin pinggiran meja remuk, Dan. Aku kira kayune wis tua, tapi...”Gardan mengamati kedua tangan Siti.“Mungkin ada hubungannya sama kehamilanmu, Sit,” gumam Gardan.Yara mengangguk. “Aku yo mikir begitu. Janinnya bukan manusia biasa, Dan. Mungkin ono sesuatu sing ikut memengaruhi tubuh Siti.”Gardan terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana tubuhnya sendiri pernah mengalami perubahan setelah menyerap energi dari makhluk-makhluk gaib.Kekuatan yang sebelumnya tidak pernah ia miliki kini menjadi bagian dari dirinya.“Aku bisa ngerti rasanya, Sit,” ujar Gardan. “Sejak menyerap energi Genderuwo, Werda, dan Wewe, aku kayak bisa akses kekuatan mereka. Cu
Gardan masih berdiri kaku ketika Siti memeluknya erat. Kedua tangannya yang semula menggantung perlahan bergerak, membalas pelukan perempuan itu dengan hati-hati.“Aku kira kamu nggak bakal balik lagi, Mas,” bisik Siti di dadanya.Gardan menunduk. Rambut panjang Siti menyentuh dagunya, membawa aroma yang terasa begitu akrab.“Maafin aku ya, Sit.”Siti mengangkat wajahnya, tetapi Gardan justru kesulitan mempertahankan kontak mata.“Aku tahu aku nggak seharusnya ninggalin kamu begitu aja tadi. Apalagi setelah semua yang kamu alami,” lanjutnya. “Aku cuma... nggak tahu harus gimana waktu dengar soal kehamilanmu.”Siti perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya turun ke depan perut yang kini semakin membesar. Pandangannya tertuju pada lantai kayu warung.“Aku yo ngerti, Mas. Kamu pasti kaget. Semua... pasti kaget.”Gardan berhenti sebentar, lalu memberanikan diri menatap Siti.“Tapi aku lebih takut lagi kalau kamu harus menghadapi semuanya sendirian.”Mata Siti mulai berkaca-kaca. Ia
BRUAAKKK!!!Tubuh Sang Pangeran Vampir terhempas ke tanah. Debu beterbangan ketika punggungnya menghantam permukaan arena latihan yang keras."Hahaha! Bangun, Pangeran!"Seorang remaja bertubuh kekar berdiri beberapa langkah di hadapannya, menyeringai sambil memperlihatkan kedua taringnya."Katanya keturunan raja? Masa begitu aja udah tumbang?"Tawa sejumlah peserta pelatihan lainnya terdengar dari pinggir arena.Sang Pangeran Vampir berusaha bangkit.Wajah tampannya kini dipenuhi debu, seragam latihan hitamnya tampak kusut. Kedua matanya yang semula berwarna gelap perlahan berubah merah."Aku belum kalah!"Ia menerjang lawannya dengan kecepatan luar biasa. Namun, pukulannya meleset ketika lawan tersebut dengan mudah menghindar ke samping.BRUKK!Sang Pangeran Vampir kembali tersungkur setelah kakinya disapu."Tenaganya besar, tapi otaknya nggak dipakai!" ejek lawannya."Udah lemah, bodoh lagi!" sahut peserta lain, disambut gelak tawa.Sang Pangeran Vampir menggertakkan giginya. Ia me
"Udah, nggak usah muter-muter lagi!"Gardan mengangkat salah satu tangannya, menghentikan Sang Vampir sebelum pemuda itu sempat melanjutkan perkataannya."Sebenarnya mau kamu apa sih?!"Sang Vampir mengangkat sebelah alisnya. Ia tampak sedikit heran melihat Gardan yang mendadak kembali meninggikan suara."Maksud kamu ap...?""Nggak usah pura-pura!" potong Gardan.Ia melangkah maju, kemudian berhenti sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur setelah pertarungan sebelumnya."Kenapa kamu peduli sama apa yang bakal aku lakuin? Kenapa itu penting? Hah?!"Sang Vampir membuka mulutnya, tetapi Gardan kembali menyela."Dan... bukan cuma kamu!"Gardan menunjuk ke arah pemuda tersebut, lalu menurunkan tangannya dengan kesal."Dari awal aku datang ke sini, kalian selalu muncul di sekitar aku. Satu per satu."Ia berhenti sejenak, mencoba mengatur napas."Ada yang awalnya mau bunuh aku, ada yang bahkan nggak tahu kalau dirinya sendiri berubah jadi monster
Siti perlahan mengulurkan tangannya, mencoba meraih tangan Gardan yang masih mengepal di sisi tubuhnya. Ujung jemarinya menyentuh punggung tangan pemuda itu sebelum akhirnya menggenggamnya dengan hati-hati. "Dan..." panggil Siti lirih.Gardan menunduk, memperhatikan tangan Siti yang menggenggam tangannya. Untuk beberapa saat, ia membiarkannya. Tetapi ketika Siti mencoba mempererat genggaman tersebut, Gardan justru perlahan menarik tangannya."Maaf, Sit. Aku... mau keluar sebentar. Cari angin."Siti mendongak. "Dan, aku...""Nanti kita ngobrol lagi, ya," potong Gardan. Ia berusaha tersenyum, tetapi wajahnya justru terlihat semakin canggung. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu warung tanpa menunggu jawaban Siti.Yara yang sejak tadi memperhatikan keduanya segera bangkit dari kursinya."Dan! Gardan!"Namun, Gardan tetap berjalan hingga akhirnya menghilang di balik pintu warung.Siti menundukkan wajahnya. Air mata yang sempat mereda kembali mengalir di kedua pipinya. "Ini







