LOGIN“Aku pergi dari rumah ini sekarang juga!” ujar Tiko dengan penuh emosi kepada Vio.
“Cepetan pergi deh, soalnya aku udah enek banget liat tampang miskinmu!” ucap Vio dengan penuh rasa jijik. Bagi Tiko, ekspresi wajah Vio terlihat seperti seorang tukang rentenir yang sedang sedang memaksa menagih hutang.
Tiko sebenarnya ingin mempertahankan rumah ini dari Vio. Sebab rumah ini adalah rumah yang sudah berhasil dibelinya dari uang hasil kerja keras yang selama ini dia kumpulkan. Rencananya rumah ini akan mereka tinggali selepas mereka menikah. Rumah Tiko memang tidak besar, tapi sangat layak untuk ditempati.
Si licik Vio sejak awal sudah membujuk Tiko untuk mengatasnamakan rumah ini menjadi kepemilikan perempuan itu.
Jadilah sekarang Tiko tidak bisa berkutik. Dia seolah terusir dari rumahnya sendiri.
“Semoga betah dengan rumah hasil rampasanmu! Aku doakan kamu tidak akan bahagia tinggal di rumah ini!” ujar Tiko kepada Vio saking kesalnya.
“Hus! Hus! Mending cepetan pergi deh, cowok kere! Aku udah nggak tahan lihat tampang miskinmu!” umpat Vio dengan mata menyalang.
Dengan tubuh yang setengah basah, akhirnya Tiko terusir dari rumahnya sendiri.
Aku harus membuang semua yang berhubungan dengan Vio supaya hidupku bisa move on, gumam Tiko sembari berjalan tanpa tujuan.
Hal pertama yang dilakukannya untuk melupakan perempuan itu adalah menganti nomor ponselnya. Tiko pikir, dengan mengganti nomor ponselnya, dia akan merasa aman dan tidak akan dikejar kejar oleh perempuan jahat itu.
Segera saja Tiko pergi ke konter terdekat untuk mengganti nomor lamanya, dan ketika nomor baru didapatnya, orang pertama yang berhasil dia hubungi adalah Salsa, Sahabatnya.
“Halo Salsa?” ujar Tiko di ujung telepon sambil menyeruput kopi instan.
“Halo juga. Maaf dengan siapa?” tanya Salsa dengan nada ramah.
“Ini aku Tiko, Salsa,” jawab Tiko berusaha menjelaskan.
“Loh kok ganti nomor, Ki? Ada apa?”
“Panjang ceritanya!” kilah Tiko. “Nanti deh aku cerita secara detailnya kalau ketemu!”
“Baiklah,” jawab Salsa dengan berusaha mengerti ulah sahabatnya. “Ada apa, Tiko?”
“Aku ingin cari tempat tinggal baru, Salsa!” ucap Tiko dengan setengah ragu.
“Loh kok cari tempat tinggal baru? Bukannya rumah itu sudah resmi jadi rumahmu?” tanya Salsa dengan penasaran.
“Iya memang rumah itu sudah aku beli dengan kerja kerasku, tapi aku lupa kalau aku mencatatkan di notaris rumah itu atas nama Vio. Jadi sekarang, Vio sudah mengusir aku dari rumahku sendiri. Sekarang aku jadi gelandangan yang tidak punya tempat tinggal.”
“Kamu butuh tempat tinggal? Kamu butuh uang berapa untuk cari tempat tinggal baru?” tanya Salsa berusaha membantu Tiko.
Di saat Tiko sedang kesusahan seperti itu, Salsa selalu hadir mengulurkan bantuannya untuk Tiko. Di manapun dan kapanpun itu, selama Salsa bisa membantu Tiko, dia akan dengan senang hati membantu lelaki itu sebisanya.
“Sepertinya aku butuh uang untuk cari tempat tinggal baru,” ujar Tiko, seolah lupa kalau dirinya sebenarnya punya uang sangat banyak di rekeningnya.
“Boleh, nanti aku coba carikan pinjaman,” jawab Salsa.
“Makasih banget, Salsa.”
“Oh ya, kamu baik baik aja kan, setelah kejadian semalam?” tanya Salsa dengan nada sangat khawatir.
“Tenang aja, aku baik-baik aja, Salsa. Btw, kamu di mana sekarang? Udah di kantor? Kalau udah di kantor aku ke sana deh!”
Perusahaan Prima Proverti
Tiko baru saja duduk di kursi penerima tamu ketika beberapa orang staff marketing sedang menggunjingkan sesuatu dengan sangat antusias.
“Tahu nggak sih, Bu,” ujar salah satu staff pria kemayu dengan nada nyinyir.
“Apa, Pak Ram?” tukas staff yang lain dengan penuh antusias.
“Itu tuh si Salsa, anak baru ituloh anak probation....”
“Ada apa emang dengan si Salsa itu?” tanya yang lain dengan nada mencibir.
“Masa deh baru masuk udah bikin ulah!” timpal salah satu staff yang kemayu dengan mulut pedas.
“Bikin ulah gimana sih aku nggak ngerti!” tanya yang lain dengan kekepoan luar biasa.
“Masa si Salsa itu minta uang gajinya dibayar dimuka sama Pak Bambang!”
“What?”
“Apa aku nggak salah denger?”
“Dasar anak baru nggak tau diri!”
“Iya bener aneh banget deh tuh, Anak. Keterima kerja aja harusnya dia udah bisa bersyukur, eh malah dikasih hati minta jantung.”
“Lagian mana ada sih anak baru minta gajinya dibayar duluan.”
“Emang nggak tahu diri aja tuh anak,” timpal yang lain.
Mendengar para staff yang sedang membicarakan keburukan Salsa, sontak membuat Tiko ingin membungkam mulut mereka dengan lakban.
Kalau semua yang dikatakan oleh para staff bermulut nyinyir itu benar tentang Salsa, mungkin saja Salsa melakukan semua itu demi untuk membantuku? gumam Tiko merasa bersalah.
Aku harus membantu Salsa, pikir Tiko yang kini hendak bangkit dari sofanya. Namun, keinginan Tiko untuk membantu Salsa terjegal oleh para staff yang sangat kepo ketika mendengar Pak Bambang berteriak sangat kencang.
Bahkan, salah satu dari staff itu menempelkan telinganya ke balik pintu ruangan Pak Bambang supaya mendengar percakapan antara Pak Bambang dengan Salsa.
“Kok kamu kurang ajar sekali, anak bau kencur udah berani-beraninya minta uang gaji dimuka. Mending kalau targetmu tercapai, nah, target kamu bulan ini aja kamu masih nol besar. Harusnya kamu tahu diri dengan kapasistasmu! Kecuali memang kamu mau menuruti semua perintahku?” teriak Pak Bambang kepada Salsa.
“Maksudnya gimana, Pak, saya beneran nggak ngerti?” tanya Salsa penuh penasaran.
“Masa kamu nggak tahu sih?”
“Beneran saya nggak tahu, Pak!”
“Kamu tahu apa mau saya!” ujar Pak Bambang dengan suara merayu.
Ketika mendengar perkataan Pak Bambang seperti itu, para staff bermulut nyinyir itu saling mencibir-cibir.
“Palingan si Salsa itu mau deh diajak tidur sama Pak Bambang,” ujar si cowok kemayu.
“Iyalah, tampang kaya Salsa kan emang kaya cewek murahan. Palingan emang dia mau dipake sama Pak Bambang.”
“Ih najis banget ya punya temen kerja gampangan, mending nggak usah kerja aja tapi jadi cabo....”
“Betul mending mangkal aja gampang dapetin duit.”
“Maksud Bapak, saya harus tidur dulu sama Pak Bambang baru Pak Bambang bakal ngeluarin uang gaji dimuka saya begitu?” tanya Salsa dengan nada geram.
“Semuanya harus serba realistis, Sayang,” ujar Pak Bambang dengan sepenuh kemesuman. “Hari gini semuanya gratisan? Mikir pake otak seribu kalipun nggak bakal masuk akal, Sayang. Jadi gimana tawaranku, Dik Salsa?” tanya Pak Bambang sekali lagi.
Terdengar hening seketika. Begitu juga dengan para staff nyinyir itu. Semuanya terdiam menunggu Salsa bicara dan mengambil keputusan.
Begitu juga dengan Tiko.
Tiko berharap kalau sahabatnya, Salsa, tidak akan melakukan hal serendah itu hanya demi uang gaji yang dibayar dimuka. Terlebih lagi, Salsa meminta gaji dimuka hanya untuk menolong dirinya dari kesulitan.
Tidak ada jawaban apa-apa dari mulut Salsa. Justru perempuan itu keluar begitu saja dari ruangan Pak Bambang sehingga membuat para staff pengintip itu terjedot pintu karena terlalu khusuk menguping.
Salsa keluar dari ruangan itu dengan tangisan pilu, dan matanya terlihat sembab.
Setelah Salsa keluar dari ruangan, Pak Bambang pun ikut keluar dari ruangan itu, sambil berkata lantang tak terduga,”Kamu saya pecat, Salsa!”
“Hai, Tiko... ngapain kamu bengong di situ...?” sapa seorang gadis mengejutkan Tiko. Tiko segera sadar siapa gadis cantik berambut hitam pekat dan lurus sebahu yang sedang berdiri di hadapannya. Walau dia mengenal nama dan jabatannya sebagai pegawai atasan, tapi selama ini belum pernah sekalipun dia saling bertegur sapa, apalagi sampai ngomong empat mata. Wanita di depannya terlalu berkelas untuk bisa didekati, orang seperti Tiko harus berpikir banyak kali untuk sekedar menyapa, apalagi untuk bisa dekat dengan gadis dari kelas atas seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan. Mencium bau parfumnya saja orang akan tahu, kalau dia bukan orang sembarangan.“Eh, Ibu Sausan...”“nggak usah panggil aku Ibu, panggil saja namaku, Sausan.”“Oh iya, baik... ada apa ya, Sausan?”“Aku dapat perintah dari Pak Martin, kamu disuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”Bagaikan mendengar petir di siang bolong, sekaget itulah Tiko mendengar ucapan Sausan. Dan bagaikan layang-layang yang putus dari benang
Zack Ryan yang sedang kesal atas perbuatan Tiko karena berani membantah perintahnya jadi naik pitam mendengar suara berisik di depan ruangannya. Segera lelaki berperut buncit itu keluar melihat apa yang terjadi.Rupanya Veronica dan Tiko yang sedang bertengkar. Mendengar Tiko menghina wanita selingkuhannya, tanpa pikir panjang Zack menampar pipi Tiko yang tidak menyadari kehadiran atasannya itu.Tiko cukup kaget melihat Zack Ryan sudah ada di hadapannya, dia tidak dapat berkata-kata apalagi ketika lelaki itu memarahinya habis-habisan.“Jaga bicaramu Tiko, sudah jelas kinerjamu sangat buruk, kalau kamu dibandingkan Vero bagaikan langit dan bumi. Kamu itu nggak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan. Jadi, kamu jangan ngarang-ngarang cerita nggak bener tentang aku dan Veronica hanya untuk menutupi kelemahanmu. Veronica aku pilih jadi wakilku karena dia itu cerdas dan kinerjanya sangat bagus. Jadi jangan sembarangan kamu bikin gosip murahan!” “Dengar tuh Tiko..., mulutmu harimaumu, salah
Kalau bukan karena atasannya yang menelepon langsung, sebenarnya Tiko masih ingin beristirahat beberapa hari di rumah, dia masih perlu waktu menenangkan diri atas kejadian tidak mengenakan yang baru saja dialaminya.Tiko terlambat 1 jam saat tiba di kantor, para karyawan yang sedari tadi sudah mulai bekerja hampir semuanya mencibir dan menyindir pada Tiko yang datang dengan pakaian kemeja kerjanya yang kusut dan wajah muramnya yang kurang enak untuk dilihat...“Bangun siang rezeki dipatok ayam, Tiko..., makanya rezekimu jauh, jadi kamu dicap sebagai orang paling kere saat ini... hehehe...” “Mentang-mentang videonya viral, masuk kerja jadi seenak perutnya, dia pikir udah jadi seleb kali ya?”“Dia pikir perusahaan bapak moyangnya apa, jam segini baru datang...!”Tiko membiarkan ucapan para rekan kerjanya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, sekadar lewat, tidak sedikitpun dia mau diambil pusing.Aku sudah bisa sampai ke kantor saja sudah untung, coba kalian berada pada pos
Melihat Salsa pergi ke washtafel untuk mencuci tangan sebelum menyantap aneka makanan yang dipesan Tiko, teman lelaki Vio yang terkenal dengan sifat mata keranjang dan tidak boleh melihat gadis berwajah bening, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Salsa.“Hmm..., hai cantik.... aku mau minta maaf ya, kalau tadi aku menyinggung perasaaan kamu,” ucap lelaki berpakaian mewah itu yang berdiri di samping Salsa yang sedang mencuci tangannya.“Aku sudah biasa kok dicap macam-macam sama orang lain, jangan khawatir aku nggak marah dan Anda yang terhormat nggak perlu juga minta maaf,” ucap Salsa sambil memandang lelaki di sampingnya melalui pantulan cermin di depannya.“Tadi itu aku cuma mau menasihati kamu aja, agar hati-hati dalam mempercayai orang lain, soalnya zaman sekarang banyak orang yang suka memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Aku tidak mau kejadian yang dialami Vio terulang lagi sama kamu, itu aja kok sebenarnya maksudku, tidak ada maksud sedikit pun aku mau merendahkan kam
“Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba
“Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan. Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement. “Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.Keduanya pergi ke







