LOGIN“Kemarin kamu bilang kalau kamu lagi butuh uang untuk biaya mas kawinmu, makanya mama transfer uang ke rekeningmu!” ucap Melati, ibu Tiko, di sebuah percakapan telepon.
“Tapi kok banyak banget, Ma? Dapet uang darimana sebanyak itu?” tanya Tiko penasaran sekaligus tak percaya dengan nominal uang yang telah dikirimkan oleh ibunya kepada dirinya.
“Ada sesuatu yang aku ingin sampein sama kamu, Nak,” jawab Melati kepada Tiko.
“Sesuatu apa, Ma?”
“Aku harus menyampaikan berita penting ini secara langsung, Nak,” kilah ibunda Tiko berusaha menjelaskan.
“Kebetulan aku juga pengin cerita sesuatu sama Mama,” ucap Tiko. “Aku pergi ke rumah Mama sekarang, ya!”
“Oke, Mama tunggu kamu, ya, Nak!”
Setengah jam kemudian Tiko sudah berada di depan pintu rumah ibunya dengan pakaian basah karena hujan.
Hujan di luar seolah mengiringi kepedihan hati Tiko.
Hati Tiko benar-benar telah hancur setelah calon istrinya mempemalukan dirinya di depan umum. Dan yang lebih memalukan adalah Vio, perempuan yang sangat dicintainya telah meludahi wajahnya tanpa rasa penyesalan sedikitpun di wajahnya.
Setelah beberapa lama Tiko mengetuk pintu barulah Ibu Tiko membukakan pintu untuk anaknya.
Ketika pintu itu terbuka, Melati melihat tampang anaknya terlihat sangat kacau meski berbalut setelan mahal.
“Loh kok kamu basah-basahan gitu, sih?” tanya Ibu Tiko dengan penuh khawatir. “Ayo cepat masuk, dan ganti pakaianmu supaya tidak kena flu.”
Sudah lama Tiko tidak berkunjung ke rumah ibunya. Terakhir kali Tiko mengunjungi rumah ibunya ketika dia pergi bersama Vio untuk mengabarkan pernikahannya. Sekarang Tiko kembali ke rumah ini untuk mengabarkan kalau pernikahannya sudah batal.
Lima belas menit kemudian Tiko sudah berganti pakaian. Sekarang dia mengenakan sebuah T-shirt lamanya, dan sebuah celana track pant.
“Ceritakan sama Mama apa yang terjadi sebenarnya? Apa karena Mama tidak datang ke pesta pernikahanmu makanya kamu terlihat marah sama Mama?” tanya Mama Melati memberondong pertanyaan sambil membawakan secangkir teh panas kepada anaknya. “Diminum dulu tehnya biar badanmu bisa lebih hangat.”
Tiko mengambil secangkir teh pemberian ibunya, dan meminum teh itu dengan tergesa-gesa. Setelah dia menandaskan tehnya, barulah Tiko mulai memberanikan diri bicara kepada ibunya.
“Aku udah ngebatalin acara pernikahanku, Ma!” ucap Tiko dengan setengah ragu.
Mama Melati yang kebetulan sedang menyesap tehnya, tersedak ketika mendengar pengakuan anaknya.
“Apa Mama nggak salah denger?” tanya Mama Melati dengan penuh penasaran.
“nggak sama sekali, Ma. Mama nggak salah denger.
“Loh kenapa?”
“nggak kenapa-kenapa, Ma!”
“Jelas kenapa-kenapa Tiko. nggak mungkin kalau nggak kenapa-napa, acara nikahan kamu gak mungkin batal!”
“Aku kira aku sudah salah milih pasangan, Ma. Vio bukan perempuan yang tepat jadi istriku!”
“Apa semua ini gara-gara uang mas kawin yang kamu butuhin itu, Tiko?” tanya Mama Melati dengan penasaran.
Tiko hanya mengangguk dengan penuh rasa enggan.
“Jadi mereka batalin pernikahamu gara-gara mas kawinnya kurang?”
Tiko mengangguk sekali lagi.
“Barusan Mama kirim uang 10 Milyar buat mas kawinmu, Tiko. Hanya itu yang bisa Mama lakukan buat bantu kamu. Sebaiknya kamu temui Vio sekarang juga untuk memberikan mas kawinmu. Vio pasti akan mau menikah sama kamu, Tiko, kalau tahu kalau kamu punya uang sebanyak itu,” ucap ibunya berusaha memberi Tiko semangat.
Untuk kesekian kalinya Tiko menggeleng.
“Tidak, Ma. Aku sudah tidak berminat. Meski aku sudah punya banyak uang aku tidak akan kembali kepada Vio. Aku kira aku sudah salah memilih pasangan, Ma. Vio ternyata bukan perempuan yang baik buatku.”
“Tapi bukankah selama ini kalian saling mencintai, Nak? Kalian terlihat sangat serasi...”
“Sebaiknya jangan bahas lagi tentang Vio, Ma. Aku sudah malas membahas perempuan itu,” pinta Tiko memohon kepada ibunya. “Nah, justru sekarang aku ingin bertanya sama Mama... Dari mana uang sebanyak itu, Ma?”
“Um, Tiko,” ucap Mama Melati berusaha menjelaskan. “Pertanyaanmu cukup sulit untuk dijawab. Tapi biar aku jelaskan asal uang sebanyak itu.”
“Ya coba jelaskan, aku jadi penasaran.”
“Begini, Nak. Aku ingin bilang kalau sebenarnya keluarga kita berasal dari seorang keluarga konglomerat.”
“Kok bisa? Dan kenapa baru sekarang Mama bilang sama aku?” tanya Tiko meminta penjelasan ibunya.
“Panjang ceritanya, Nak,” jawab Mama Melati singkat, seolah dia tidak mau bicara banyak tentang asal-usulnya. “Yang pasti keluargamu yang sebenarnya bernama Keluarga Salim.”
“Maksudnya Keluarga Salim pemilik Salim Grup itu? Kolonglomerat nomor satu di Indonesia, bahkan di dunia?”
Mama Melati menggangguk pelan.
“Tidak mungkin, Ma, tidak mungkin.”
“Tidak ada kata yang tidak mungkin, Nak. Kenyataannya memang demikian. Kamu adalah pewaris Keluarga Salim.”
“Kenapa Mama baru menceritakannya sekarang?”
“Panjang ceritanya, Nak, suatu hari Mama akan menceritakan semuanya sama kamu. Pelik dan berat. Lagipula, sekarang kamu sedang sedih, Mama tidak mau menambah kesedihanmu. Yang ingin Mama bilang sekarang adalah, mulai saat ini kamu adalah seorang pewaris Keluarga Salim. Kamu adalah seorang milyader.”
Pernyataan Mama Melati tak serta merta membuat Tiko bangga akan dirinya sendiri. Bagi Tiko, semua itu hanyalah berita biasa saja. Karena tak ada bedanya bagi dia menjadi seorang milyader atau bukan. Karena pada kenyataannya Vio tetap meninggalkannya. Yang perempuan itu cintai hanya uang.
“Ma, sebaiknya aku pulang ke rumahku saja!” Tiba-tiba Tiko memecah keheningan.
“Loh bukannya kamu mau nginep di rumah Mama?”
“Sebaiknya aku pulang saja, Ma!” kemudian Tiko pamit kepada Mama Melati dan pulang ke rumahnya di bilangan Jakarta Selatan.
Keesokan Harinya
Tiko baru saja Tiko tertidur pulas setelah semalam tidak bisa memejamkan mati, tiba-tiba seember air dingin membasahi dirinya yang sedang tidur pulas. Dan membuatnya seluruh tubuhnya basah sampai pada ranjang tempat tidurnya.
Byur! Byur!
“Heh bangun!” bentak Vio dengan nada kasar.
Apa aku sedang bermimpi? Tanya Tiko dalam hati. Tapi semuanya nyata. Tubuhnya basah kuyup, dan di depannya ada sosok Vio yang sedang berkacak pinggang seolah sedang menantangnya.
“Vio, ngapain sih kamu di sini? Dan tiba-tiba bangunin aku dengan seember air? nggak sopan banget tau nggak?” gerutu Tiko kepada Vio.
“Ngapain? What? Apa kupingku nggak salah denger ya?” bantah Vio dengan nada ketus.
“Kupingmu nggak budeg kok,” timpal Tiko seraya bangkit dari ranjangnya yang basah karena air.
“Heh, orang miskin. Ngapain sih kamu masih di rumah ini?”
“Lah kok ngapain? Emang rumah ini rumahku kok!” balas Tiko.
“Rumahmu katamu? Jangan sok ngaku-ngaku deh!” ucap Vio dengan mata mendelik. “Apa kamu buta ya? Rumah ini udah jadi milik aku!
“Lihat surat kuasa ini baik-baik dengan mata miskinmu!” ujar Vio sekali lagi, mengumpat pada Tiko. “Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini sekarang juga!”
“Hai, Tiko... ngapain kamu bengong di situ...?” sapa seorang gadis mengejutkan Tiko. Tiko segera sadar siapa gadis cantik berambut hitam pekat dan lurus sebahu yang sedang berdiri di hadapannya. Walau dia mengenal nama dan jabatannya sebagai pegawai atasan, tapi selama ini belum pernah sekalipun dia saling bertegur sapa, apalagi sampai ngomong empat mata. Wanita di depannya terlalu berkelas untuk bisa didekati, orang seperti Tiko harus berpikir banyak kali untuk sekedar menyapa, apalagi untuk bisa dekat dengan gadis dari kelas atas seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan. Mencium bau parfumnya saja orang akan tahu, kalau dia bukan orang sembarangan.“Eh, Ibu Sausan...”“nggak usah panggil aku Ibu, panggil saja namaku, Sausan.”“Oh iya, baik... ada apa ya, Sausan?”“Aku dapat perintah dari Pak Martin, kamu disuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”Bagaikan mendengar petir di siang bolong, sekaget itulah Tiko mendengar ucapan Sausan. Dan bagaikan layang-layang yang putus dari benang
Zack Ryan yang sedang kesal atas perbuatan Tiko karena berani membantah perintahnya jadi naik pitam mendengar suara berisik di depan ruangannya. Segera lelaki berperut buncit itu keluar melihat apa yang terjadi.Rupanya Veronica dan Tiko yang sedang bertengkar. Mendengar Tiko menghina wanita selingkuhannya, tanpa pikir panjang Zack menampar pipi Tiko yang tidak menyadari kehadiran atasannya itu.Tiko cukup kaget melihat Zack Ryan sudah ada di hadapannya, dia tidak dapat berkata-kata apalagi ketika lelaki itu memarahinya habis-habisan.“Jaga bicaramu Tiko, sudah jelas kinerjamu sangat buruk, kalau kamu dibandingkan Vero bagaikan langit dan bumi. Kamu itu nggak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan. Jadi, kamu jangan ngarang-ngarang cerita nggak bener tentang aku dan Veronica hanya untuk menutupi kelemahanmu. Veronica aku pilih jadi wakilku karena dia itu cerdas dan kinerjanya sangat bagus. Jadi jangan sembarangan kamu bikin gosip murahan!” “Dengar tuh Tiko..., mulutmu harimaumu, salah
Kalau bukan karena atasannya yang menelepon langsung, sebenarnya Tiko masih ingin beristirahat beberapa hari di rumah, dia masih perlu waktu menenangkan diri atas kejadian tidak mengenakan yang baru saja dialaminya.Tiko terlambat 1 jam saat tiba di kantor, para karyawan yang sedari tadi sudah mulai bekerja hampir semuanya mencibir dan menyindir pada Tiko yang datang dengan pakaian kemeja kerjanya yang kusut dan wajah muramnya yang kurang enak untuk dilihat...“Bangun siang rezeki dipatok ayam, Tiko..., makanya rezekimu jauh, jadi kamu dicap sebagai orang paling kere saat ini... hehehe...” “Mentang-mentang videonya viral, masuk kerja jadi seenak perutnya, dia pikir udah jadi seleb kali ya?”“Dia pikir perusahaan bapak moyangnya apa, jam segini baru datang...!”Tiko membiarkan ucapan para rekan kerjanya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, sekadar lewat, tidak sedikitpun dia mau diambil pusing.Aku sudah bisa sampai ke kantor saja sudah untung, coba kalian berada pada pos
Melihat Salsa pergi ke washtafel untuk mencuci tangan sebelum menyantap aneka makanan yang dipesan Tiko, teman lelaki Vio yang terkenal dengan sifat mata keranjang dan tidak boleh melihat gadis berwajah bening, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Salsa.“Hmm..., hai cantik.... aku mau minta maaf ya, kalau tadi aku menyinggung perasaaan kamu,” ucap lelaki berpakaian mewah itu yang berdiri di samping Salsa yang sedang mencuci tangannya.“Aku sudah biasa kok dicap macam-macam sama orang lain, jangan khawatir aku nggak marah dan Anda yang terhormat nggak perlu juga minta maaf,” ucap Salsa sambil memandang lelaki di sampingnya melalui pantulan cermin di depannya.“Tadi itu aku cuma mau menasihati kamu aja, agar hati-hati dalam mempercayai orang lain, soalnya zaman sekarang banyak orang yang suka memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Aku tidak mau kejadian yang dialami Vio terulang lagi sama kamu, itu aja kok sebenarnya maksudku, tidak ada maksud sedikit pun aku mau merendahkan kam
“Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba
“Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan. Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement. “Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.Keduanya pergi ke







