Masuk"Terserah kamu mau pakai segimana pun kartu itu tanpa limit." Thea melihat black card yang tersodor padanya. Pikir Zee harusnya ini bisa bekerja. Wanita itu suka shopping bukan?"Apa aku bisa membeli privat jet dengan kartu ini?" Oh ayolah, Zee salah. Thea sudah biasa di manjakan seperti ini sejak dulu."Silahkan saja. Tapi FYI, kita sudah punya dua benda itu." Apa Thea rela menambah biaya perawatan dan pajaknya?Selesai sarapan mereka memiliki agenda kegiatan masing-masing. Thea dan Eva yang langsung berangkat ke rumah sakit.Zee langsung masuk ke ruang kerja. Menyalakan laptop dan mulai ikut meeting virtual yang sudah dijadwalkan Evan yang sedang berada di Ibu Kota.Sebelum itu satu panggilan masuk ke ponsel milik Zee. "Ya Rafli?""Aku mau mengabarkan kalau aku sudah sampai dan berada di sisi Tuan Besar.""Kamu kenapa mengirimku penjaga baru? Aku bukan tua bangka yang tidak bisa apa-apa!" Protes Georgio terdengar dari sebrang sana, sudah Zee duga. Kehadiran Rafli bukan hanya sebaga
"Perasaan awal kita enggak ada yang salah. Ini tumbuh dan aku hanya mencoba membantumu memperjelas semuanya. Bahwa kita saling mencintai.""Engga Revan, ini salah! Aku hanya akan mencintai Jun dan kamu seharusnya enggak mengkhianati sahabatmu dengan cara seperti ini."Zee mulai berpikir, pasti semua ini ada kaitannya dengan kecelakaan lima tahun yang lalu. "Dengar Thea, jauh sebelum Jun mencintaimu. Aku yang lebih dulu mencintaimu, dialah yang merebut kesempatan itu dariku."Sudah Zee duga dari dulu cara pandangan Revan pada Thea hingga saat ini masih mengisyaratkan tatapan penuh cinta. "Bahkan jauh saat kedua orang tuamu menjodohkan kamu dengan Arun. Aku sudah lebih dulu dijodohkan denganmu oleh kakek Georgio, tapi tiba-tiba saja dia jatuh sakit dan kepala keluarga digantikan oleh ayahmu. "Satu persatu hal, yang dikatakan oleh Revan membuat Zee terkejut. Jika hal ini tidak direkayasa, maka semuanya menjadi jelas sekarang.Kenapa Zara membawa Georgio ke negara serta di wilayah keku
Sesampainya disana. Zee merasa semuanya baik-baik saja, seperti bisnis normal pada umumnya. Lalu Zee beranjak ke ruangan staff. Semua Zee periksa dari printilan kecil hingga laporan keuangan kafe ini. Ternyata Evan memiliki bakat hebat dalam mengelola bisinis.Buktinya Evan mampu membangun sistem manajemen yang baik, sehingga walaupun keadaan seperti ini datang, dalam artian tidak dipantau bos atau pemilik bisnis setiap hari. Semuanya berjalan lancar dan juga rinciannya tertulis rapih di dalam laporan. Benar-benar sedetail itu.Untung tadi Zee membawa laptop, setelah selesai mengecek semua printilan kedai kopi. Zee jadi punya waktu untuk mengerjakan tugas perusahaan lainnya yang ada di ibu kota."Tuan, mau dibuatkan apa?" Salah satu barista menawari Zee. Tidak aneh-aneh Zee memesan secangkir kopi hitam pikirnya itu akan membuat Zee segar kembali.Tapi ponsel Zee bergetar dan keningnya berkerut melihat kontak yang tampil di layarnya. "Kakek? Ada apa menelepon?""Bagaimana kabar Thea d
Tidak bisa tidur, Zee putuskan untuk memantau pekerjaan yang di ibu kota secara online. Sebagian besar adalah laporan kerja daily.Georgio masih tinggal di rumah sakit yang dipercaya Zee untuk mengurus kakeknya. Sebagaimana dulu Aya dan juga Thea yakini bahwa disanalah beliau menjalani proses pengobatan.Tidak terasa ternyata matahari sudah mengintip dibalik tirai jendela. Tadinya setelah semuanya beres. Zee hendak pergi ke kamar, tapi harum masakan menguar. Terlebih lagi ini harum masakan rumah dulu."Wah, kamu yang nyiapin semuanya?" Tentu saja hanya Aya yang bisa membuat ini. Zee cepat kedapur dan itu Thea.Rupanya Zee melupakan bahwa gadis kecil yang lama tidak ditemuinya ini sudah bertumbuh dengan sangat cepat untuk jadi wanita, seorang istri dan juga seorang ibu."Tentu siapa lagi yang tahu sarapan favorite Zee yang aneh? Telor kocok dengan tambahan kecap manis sebelum di goreng.""Masakan telur terenak itu ya.. begini!" Langsung ditariknya kursi serta dan sendokan pertama telur
"Aku dengar Thea pulang bersama Kak Zee. Syukurlah, dia sudah kembali bersama keluarganya. Bisakah aku bertemu dengannya, hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.""Tentu saja Nona Thea lebih baik tinggal bersama keluarganya sendiri. Hari sudah larut sepertinya akan mengecewakan Tuan Muda Carson, karena Nona Thea harusnya sudah beristirahat saat ini." Lagi-lagi Evan yang menjawab. Zee hanya duduk memandang Revan dengan tatapan tajam. "Ah, maaf aku melupakan hal ini. kalau begitu aku pamit. Tolong sampaikan salamku untuk Thea."Sepeninggalan Revan, Zee pergi ke ruang makan. piring kasih yang bersih masih berada di hadapan Thea. "Kenapa masih belum makan? menunggu?" Thea mengangguk sebagai jawabannya. tidak mau memperkeruh suasana. Tanpa berkata lagi, Zee duduk mengisi piring dengan nasi dan lau pauk. Suasana ruang makan sangat sepi, tapi Thea diam-diam terus menyuap makan sambil mencuri pandang pada Zee. "Revan. Orang seperti apa di mata Zee?" Zee terlihat termenung, rupanya Th
"Maafkan Zee enggak bisa membantu pada saat itu." Lagi-lagi karena Zee tidak bisa melindunginya dengan baik sebagai seorang kakak. "Bukannya Arun Bagaskara sangat mencintaimu, Thea... Aku bisa lihat dari cara dia memandangi mu sejak dulu. Kamu cinta pertamanya--""Aku dan dia sudah selesai, Zee jangan bahas lagi." Thea langsung memotong perkataan Zee. Hening sesaat terjadi, diantara mereka berdua. Canggung lebih tepatnya."Baiklah, aku enggak akan singgung soal orang itu lagi. Tapi kami harus tahu, ketika kamu pergi setelah bercerai dengan Arun dalam keadaan hamil. Mama dan Papa menyesali perbuatan mereka untuk memaksakan perjodohan ini." Bahkan perkataan Araya terakhir adalah ingin membawa Thea kembali pulang.Semua pembicaraan harus diselesaikan di hari ini juga. Zee yang terbiasa kalah dengan sifat keras kepalanya Thea, namu kali ini harus benar-benar menahan egonya sementara waktu. "Kemudian mereka mulai khawatir dengan kamu yang berada di luar sana, kamu bisa menjadi target dari
Sepakat untuk mendatangi semua taman hiburan yang ada di negara ini. Pilihan pertama adalah taman hiburan yang paling dekat dengan kota tempat mereka menyewa sebuah vila untuk tinggal beberapa waktu.Raka pula yang mengusulkan untuk Zee tidak terlalu banyak membawa anak buah. Dikhawatirkan Niken ti
"Ada perlu apa sampai kalian datang kesini?" Sapaan dari boss ini terdengar tidak ramah. Namun Zee dan yang lainnya masih ingin mencoba sampai mencapai kesepakatan dengannya."Ah, ini perkenalkan Tuan Muda--""Ck, kenapa pergantian Boss ditempatmu selalu cepat sekali?" Zee sendiri merasakan ada nad
Pukul dua belas malam, Zee sedang berdiri di balkon. Menunggu Niken. Konyol memang berpikir malam ini dia juga akan bersenandung dibalkon seperti biasa. Setelah menunggu beberapa menit, penantian Zee tidak sia-sia terdengar suara langkah kaki semakin mendekat."Tuan Muda." Zee langsung berbalik kar
Diujung lorong Zee mengintip sebelum benar-benar menapakkan dirinya. Seorang wanita dengan rambut terurai panjang ditiup angin malam, itu bukan Thea. Zee jelas masih ingat bagaimana peragainya, lalu siapa wanita yang sedang bersenandung ini Zee membatin. Untuk sepersekian detik tatapan mereka bertem







