LOGINPagi harinya, Zee pergi keruang tengah rumah. anak buah Zee lebih banyak dari biasanya. Penjagaan diperketat. Karena Revan sudah ada disini. "Ian. Apa dokter sudah selesai memeriksa kondisinya?""Iya Tuan." Zee langsung menuju kamar tamu yang sudah di persiapkan khusus untuk Revan.Karena di masih kurang sehat maka Zee bermurah hati hanya membelenggu kedua kakinya dengan rantai panjang. Revan masih bisa berjalan kesana kemari bahkan untuk urusan kamar mandi juga tidak masalah."ZEE!" Revan mencoba menerjang, tapi jarak jangkauan rantai membuatnya tidak bisa menyentuh Zee yang berada jauh dari ambang pintu kamar. "Ini demi kebaikanmu Revan. Kamu sedang tidak sehat. Jika aku tidak begini. Ibumu akan lebih marah padaku.""Sialan dasar Iblis!""Ckckckc, sesama iblis dilarang saling mengatai. Paham." Zee kembali melenggang meninggalkan area kamar tamu. "Jangan biarkan keluar dari kamar ini tanpa instruksiku." Instruksinya pada Ian. "Siap Tuan!" Selanjutnya, Zee langsung tancap gas menu
Setelah berbicara dan mendapatkan kesepakatan dengan Arun. Zee tidak meninggalkan Thea dan Arun memberikan ruang itu pada Zee. Di ruangan rawat itu hanya berisikan Thea dan Zee. Tangan Zee tidak lepas, memegangi erat tangan Thea untuk beberapa menit berlalu hingga Zee merasakan gerakan dari jari-jari Thea dalam genggamnnya."Thea!" Suara panggilan Zee membuat perlahan kesadaran Thea kembali. "Kamu enggak apa-apa?"Terlihat sekali wajah Thea merasa bersalah tapi Zee tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya, tanpa menunggu penjelasan keluar dari mulut Thea. Rasa lega dihati Zee karena bisa lagi melihat Thea membuka mata. Beberapa jam yang lalu Zee sangat ketakutan akan kehilanga Thea, Zee takut akan hilang seperti Aya yang meninggalkan Zee selama-lamanya. Tepat pada saat itu, Arun masuk kedalam ruang rawat inap dan mata Thea menangkap sosok itu. Suasana menjadi sangat canggung diantara keduanya, beberapa detik. "Arun sedang apa disini?" Tanya Thea. Ah, Zee hampir melupakan kun
"Terserah kamu mau pakai segimana pun kartu itu tanpa limit." Thea melihat black card yang tersodor padanya. Pikir Zee harusnya ini bisa bekerja. Wanita itu suka shopping bukan?"Apa aku bisa membeli privat jet dengan kartu ini?" Oh ayolah, Zee salah. Thea sudah biasa di manjakan seperti ini sejak dulu."Silahkan saja. Tapi FYI, kita sudah punya dua benda itu." Apa Thea rela menambah biaya perawatan dan pajaknya?Selesai sarapan mereka memiliki agenda kegiatan masing-masing. Thea dan Eva yang langsung berangkat ke rumah sakit.Zee langsung masuk ke ruang kerja. Menyalakan laptop dan mulai ikut meeting virtual yang sudah dijadwalkan Evan yang sedang berada di Ibu Kota.Sebelum itu satu panggilan masuk ke ponsel milik Zee. "Ya Rafli?""Aku mau mengabarkan kalau aku sudah sampai dan berada di sisi Tuan Besar.""Kamu kenapa mengirimku penjaga baru? Aku bukan tua bangka yang tidak bisa apa-apa!" Protes Georgio terdengar dari sebrang sana, sudah Zee duga. Kehadiran Rafli bukan hanya sebaga
"Perasaan awal kita enggak ada yang salah. Ini tumbuh dan aku hanya mencoba membantumu memperjelas semuanya. Bahwa kita saling mencintai.""Engga Revan, ini salah! Aku hanya akan mencintai Jun dan kamu seharusnya enggak mengkhianati sahabatmu dengan cara seperti ini."Zee mulai berpikir, pasti semua ini ada kaitannya dengan kecelakaan lima tahun yang lalu. "Dengar Thea, jauh sebelum Jun mencintaimu. Aku yang lebih dulu mencintaimu, dialah yang merebut kesempatan itu dariku."Sudah Zee duga dari dulu cara pandangan Revan pada Thea hingga saat ini masih mengisyaratkan tatapan penuh cinta. "Bahkan jauh saat kedua orang tuamu menjodohkan kamu dengan Arun. Aku sudah lebih dulu dijodohkan denganmu oleh kakek Georgio, tapi tiba-tiba saja dia jatuh sakit dan kepala keluarga digantikan oleh ayahmu. "Satu persatu hal, yang dikatakan oleh Revan membuat Zee terkejut. Jika hal ini tidak direkayasa, maka semuanya menjadi jelas sekarang.Kenapa Zara membawa Georgio ke negara serta di wilayah keku
Sesampainya disana. Zee merasa semuanya baik-baik saja, seperti bisnis normal pada umumnya. Lalu Zee beranjak ke ruangan staff. Semua Zee periksa dari printilan kecil hingga laporan keuangan kafe ini. Ternyata Evan memiliki bakat hebat dalam mengelola bisinis.Buktinya Evan mampu membangun sistem manajemen yang baik, sehingga walaupun keadaan seperti ini datang, dalam artian tidak dipantau bos atau pemilik bisnis setiap hari. Semuanya berjalan lancar dan juga rinciannya tertulis rapih di dalam laporan. Benar-benar sedetail itu.Untung tadi Zee membawa laptop, setelah selesai mengecek semua printilan kedai kopi. Zee jadi punya waktu untuk mengerjakan tugas perusahaan lainnya yang ada di ibu kota."Tuan, mau dibuatkan apa?" Salah satu barista menawari Zee. Tidak aneh-aneh Zee memesan secangkir kopi hitam pikirnya itu akan membuat Zee segar kembali.Tapi ponsel Zee bergetar dan keningnya berkerut melihat kontak yang tampil di layarnya. "Kakek? Ada apa menelepon?""Bagaimana kabar Thea d
Tidak bisa tidur, Zee putuskan untuk memantau pekerjaan yang di ibu kota secara online. Sebagian besar adalah laporan kerja daily.Georgio masih tinggal di rumah sakit yang dipercaya Zee untuk mengurus kakeknya. Sebagaimana dulu Aya dan juga Thea yakini bahwa disanalah beliau menjalani proses pengobatan.Tidak terasa ternyata matahari sudah mengintip dibalik tirai jendela. Tadinya setelah semuanya beres. Zee hendak pergi ke kamar, tapi harum masakan menguar. Terlebih lagi ini harum masakan rumah dulu."Wah, kamu yang nyiapin semuanya?" Tentu saja hanya Aya yang bisa membuat ini. Zee cepat kedapur dan itu Thea.Rupanya Zee melupakan bahwa gadis kecil yang lama tidak ditemuinya ini sudah bertumbuh dengan sangat cepat untuk jadi wanita, seorang istri dan juga seorang ibu."Tentu siapa lagi yang tahu sarapan favorite Zee yang aneh? Telor kocok dengan tambahan kecap manis sebelum di goreng.""Masakan telur terenak itu ya.. begini!" Langsung ditariknya kursi serta dan sendokan pertama telur
"Ah, kamu so sweet sekali sih. Bibi jadi ingat Ibumu..." Ada jeda beberapa saat diantara mereka "Bibi sudah melihat beritanya, turut berduka cita. Maaf juga Bibi tidak bisa kesana.""Tidak apa, lagi pula jika Bibi Zara kesana akan terjadi sesuatu karena aku lepas kendali. Sudah pilihan tepat diam,
Beberapa deret angka sudah tersimpan dalam kontak smartphone Zee sebagai pemilik rumah.Sekarang mari kita lihat kedalam. Ada dua kamar yang bisa digunakan. Dapur dan ruang tamu yang seperti ini bisa dibilang rumah ideal untuk keluarga kecil beranak satu.---Malam hari, entah kenapa setelah selesa
Ditengah kebingungan Zee, Araya terlihat buru-buru berjalan sambil merapikan rambutnya."Ibu mau kemana?""Thea sudah ditemukan, Ibu harus pergi menemuinya." Melewati Zee dan berjalan kearah keluar."Ibu aku--""Ibu akan segera kembali setelah semuanya selesai, hm?" Ucapnya sambil mengelus puncak k
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Zee, dengan menekan tombol di remot kontrol, kaca pintu langsung berubah menjadi bening yang sebelumnya sengaja Zee buat buram selama berbicara dengan Eva. Zara langsung membuka pintu saat Zee menganggukan kepala, mempersilahkannya masuk. "Bibi tahu kamu







