INICIAR SESIÓN"Perasaan awal kita enggak ada yang salah. Ini tumbuh dan aku hanya mencoba membantumu memperjelas semuanya. Bahwa kita saling mencintai.""Engga Revan, ini salah! Aku hanya akan mencintai Jun dan kamu seharusnya enggak mengkhianati sahabatmu dengan cara seperti ini."Zee mulai berpikir, pasti semua ini ada kaitannya dengan kecelakaan lima tahun yang lalu. "Dengar Thea, jauh sebelum Jun mencintaimu. Aku yang lebih dulu mencintaimu, dialah yang merebut kesempatan itu dariku."Sudah Zee duga dari dulu cara pandangan Revan pada Thea hingga saat ini masih mengisyaratkan tatapan penuh cinta. "Bahkan jauh saat kedua orang tuamu menjodohkan kamu dengan Arun. Aku sudah lebih dulu dijodohkan denganmu oleh kakek Georgio, tapi tiba-tiba saja dia jatuh sakit dan kepala keluarga digantikan oleh ayahmu. "Satu persatu hal, yang dikatakan oleh Revan membuat Zee terkejut. Jika hal ini tidak direkayasa, maka semuanya menjadi jelas sekarang.Kenapa Zara membawa Georgio ke negara serta di wilayah keku
Sesampainya disana. Zee merasa semuanya baik-baik saja, seperti bisnis normal pada umumnya. Lalu Zee beranjak ke ruangan staff. Semua Zee periksa dari printilan kecil hingga laporan keuangan kafe ini. Ternyata Evan memiliki bakat hebat dalam mengelola bisinis.Buktinya Evan mampu membangun sistem manajemen yang baik, sehingga walaupun keadaan seperti ini datang, dalam artian tidak dipantau bos atau pemilik bisnis setiap hari. Semuanya berjalan lancar dan juga rinciannya tertulis rapih di dalam laporan. Benar-benar sedetail itu.Untung tadi Zee membawa laptop, setelah selesai mengecek semua printilan kedai kopi. Zee jadi punya waktu untuk mengerjakan tugas perusahaan lainnya yang ada di ibu kota."Tuan, mau dibuatkan apa?" Salah satu barista menawari Zee. Tidak aneh-aneh Zee memesan secangkir kopi hitam pikirnya itu akan membuat Zee segar kembali.Tapi ponsel Zee bergetar dan keningnya berkerut melihat kontak yang tampil di layarnya. "Kakek? Ada apa menelepon?""Bagaimana kabar Thea d
Tidak bisa tidur, Zee putuskan untuk memantau pekerjaan yang di ibu kota secara online. Sebagian besar adalah laporan kerja daily.Georgio masih tinggal di rumah sakit yang dipercaya Zee untuk mengurus kakeknya. Sebagaimana dulu Aya dan juga Thea yakini bahwa disanalah beliau menjalani proses pengobatan.Tidak terasa ternyata matahari sudah mengintip dibalik tirai jendela. Tadinya setelah semuanya beres. Zee hendak pergi ke kamar, tapi harum masakan menguar. Terlebih lagi ini harum masakan rumah dulu."Wah, kamu yang nyiapin semuanya?" Tentu saja hanya Aya yang bisa membuat ini. Zee cepat kedapur dan itu Thea.Rupanya Zee melupakan bahwa gadis kecil yang lama tidak ditemuinya ini sudah bertumbuh dengan sangat cepat untuk jadi wanita, seorang istri dan juga seorang ibu."Tentu siapa lagi yang tahu sarapan favorite Zee yang aneh? Telor kocok dengan tambahan kecap manis sebelum di goreng.""Masakan telur terenak itu ya.. begini!" Langsung ditariknya kursi serta dan sendokan pertama telur
"Aku dengar Thea pulang bersama Kak Zee. Syukurlah, dia sudah kembali bersama keluarganya. Bisakah aku bertemu dengannya, hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.""Tentu saja Nona Thea lebih baik tinggal bersama keluarganya sendiri. Hari sudah larut sepertinya akan mengecewakan Tuan Muda Carson, karena Nona Thea harusnya sudah beristirahat saat ini." Lagi-lagi Evan yang menjawab. Zee hanya duduk memandang Revan dengan tatapan tajam. "Ah, maaf aku melupakan hal ini. kalau begitu aku pamit. Tolong sampaikan salamku untuk Thea."Sepeninggalan Revan, Zee pergi ke ruang makan. piring kasih yang bersih masih berada di hadapan Thea. "Kenapa masih belum makan? menunggu?" Thea mengangguk sebagai jawabannya. tidak mau memperkeruh suasana. Tanpa berkata lagi, Zee duduk mengisi piring dengan nasi dan lau pauk. Suasana ruang makan sangat sepi, tapi Thea diam-diam terus menyuap makan sambil mencuri pandang pada Zee. "Revan. Orang seperti apa di mata Zee?" Zee terlihat termenung, rupanya Th
"Maafkan Zee enggak bisa membantu pada saat itu." Lagi-lagi karena Zee tidak bisa melindunginya dengan baik sebagai seorang kakak. "Bukannya Arun Bagaskara sangat mencintaimu, Thea... Aku bisa lihat dari cara dia memandangi mu sejak dulu. Kamu cinta pertamanya--""Aku dan dia sudah selesai, Zee jangan bahas lagi." Thea langsung memotong perkataan Zee. Hening sesaat terjadi, diantara mereka berdua. Canggung lebih tepatnya."Baiklah, aku enggak akan singgung soal orang itu lagi. Tapi kami harus tahu, ketika kamu pergi setelah bercerai dengan Arun dalam keadaan hamil. Mama dan Papa menyesali perbuatan mereka untuk memaksakan perjodohan ini." Bahkan perkataan Araya terakhir adalah ingin membawa Thea kembali pulang.Semua pembicaraan harus diselesaikan di hari ini juga. Zee yang terbiasa kalah dengan sifat keras kepalanya Thea, namu kali ini harus benar-benar menahan egonya sementara waktu. "Kemudian mereka mulai khawatir dengan kamu yang berada di luar sana, kamu bisa menjadi target dari
Sekembalinya mereka dari pemakaman, Thea hanya duduk terdiam diatas tempat tidur dengan tatapan kosong. Hari yang mulai gelap dan angin dingin berhembus masuk ke dalam kamar dibiarkan saja dengan jendela kamar yang terbuka.Setelah mengamati cukup lama kondisinya, Zee memutuskan masuk kedalam kamar Thea. Hal yang pertama Zee adalah menyalakan lampu, menutup jendela dan gordennya. Eva datang menyusul membawakan nampan berisikan bubur dan susu. Zee yang menerimanya dan menyuruh Eva kembali beristirahat. "Mau aku suapi atau makan sendiri?"Perasaan Thea saat ini sangat Zee pahami, karena pernah berada di posisi yang sama. Terlebih lagi Thea merupakan anak kandung Tedi dan Araya. Perasaan kehilangannya jauh lebih dalam tentunya. Tapi kondisi Thea sedang hamil, dia tidak boleh mengabaikan bayi dalam perutnya."Kamu dan aku disini. Kita saling memiliki Thea. Enggak usah khawatirkan masa depan atau pun masa lalu."---Seminggu sudah Thea berada di pulau Paradise, tapi tidak ada niatan diri
"Ah, kamu so sweet sekali sih. Bibi jadi ingat Ibumu..." Ada jeda beberapa saat diantara mereka "Bibi sudah melihat beritanya, turut berduka cita. Maaf juga Bibi tidak bisa kesana.""Tidak apa, lagi pula jika Bibi Zara kesana akan terjadi sesuatu karena aku lepas kendali. Sudah pilihan tepat diam,
Beberapa deret angka sudah tersimpan dalam kontak smartphone Zee sebagai pemilik rumah.Sekarang mari kita lihat kedalam. Ada dua kamar yang bisa digunakan. Dapur dan ruang tamu yang seperti ini bisa dibilang rumah ideal untuk keluarga kecil beranak satu.---Malam hari, entah kenapa setelah selesa
Ditengah kebingungan Zee, Araya terlihat buru-buru berjalan sambil merapikan rambutnya."Ibu mau kemana?""Thea sudah ditemukan, Ibu harus pergi menemuinya." Melewati Zee dan berjalan kearah keluar."Ibu aku--""Ibu akan segera kembali setelah semuanya selesai, hm?" Ucapnya sambil mengelus puncak k
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Zee, dengan menekan tombol di remot kontrol, kaca pintu langsung berubah menjadi bening yang sebelumnya sengaja Zee buat buram selama berbicara dengan Eva. Zara langsung membuka pintu saat Zee menganggukan kepala, mempersilahkannya masuk. "Bibi tahu kamu







