Beranda / Urban / Pewaris Tunggal Berdarah Dingin / 5. Memiliki Kesamaan Tujuan

Share

5. Memiliki Kesamaan Tujuan

Penulis: D'Rose
last update Terakhir Diperbarui: 2024-03-10 07:39:42

"Jangan berisik nanti Kakak bangun!"

"Kamu yang membuat berisik, sedang apa disini?"

"Aku bosan dirumah. Mau jenguk Kakak sebentar."

'Suara dua orang? Kenapa berat sekali untuk membuka mata. Sekujur tubuhku semuanya terasa sakit.'

"Lihat tangannya bergerak!"

'Aku masih hidup? Padahal aku berharap mati saja, semuanya sudah terlanjur hancur lebur.'

"Cepat panggil Kak Eva!" Zee membuka mata dan melihat Raka, bocah yang Zee temui diruang bawah tanah dan yang baru saja pergi tadi pastilah Genta.

'Ada yang aneh, aku mengenali wajah mereka, Tapi terasa berbeda auranya dari terakhir bertemu.' Kesadaran Zee mulai pulih, sekarang dia malah mengamati Raka dengan seksama. 'Bahkan bentuk tubuh mereka sudah berbeda. Mereka bukan anak kemarin sore, mereka sudah tumbuh menjadi anak remaja.'

Hal terakhir yang Zee ingat adalah Tedi memukuli Zee dengan tongkat besi sebelum dia akhirnya menembakkan beberapa peluru kepada Zee.

"Untung peluru itu tidak menembus organ vital. Semuanya masih bisa diselamatkan. Mungkin butuh beberapa bulan untuk pulih." Jelas Raka saat Zee mengernyit kesakitan sambil memegangi kepalanya. Ingin Zee ucapkan terima kasih, tapi mulutnya tidak bisa menyuarakan itu. Hanya erangan kosong yang tanpa arti.

"Tuan Muda mungkin tidak bisa berbicara untuk saat ini. Tapi dengan mengikuti terapi yang sudah dijadwalkan, semuanya akan kembali normal." Suara perempuan di speaker, tibalah dua orang berdiri di samping Raka. Lalu ketiganya menunduk memberi hormat. "Perkenalkan saya Eva." Perempuan yang masih terbilang cantik walau usianya bukan belia lagi. Zee menebak Eva berumur empat puluh tahunan keatas.

"Aku dan Genta kayaknya enggak usah kenalan lagi. Kakak masih ingat kami bukan?" Setelah berdiri, Zee benar sadar. Anak-anak itu sudah tumbuh menjadi pemuda gagah nan tampan.

'Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri. satu minggu? Satu bulan?'

"Tujuh tahun kami mencoba dengan melakukan segala hal sebisa kami demi menyelamatkan nyawa Tuan Muda." Sepertinya Eva menyadari kebingungan Zee.

'Sudah tujuh tahun?! Apa Thea hidup dengan baik? Mungkin Ayah sudah memberitahukan kematianku padanya. Sekarang apa yang harus lakukan?'

"Sembuh." Ucap Genta mantap, tidak ada penjelasan lagi setelahnya.

"Karena kami akan membantu Kakak." Zee merasa hanya Raka yang terlihat normal disini. Penuh dengan ekspresi ceria dalam kata-katanya.

Setelah mendengar penuturan Eva, ternyata Tedi mengambil seluruh wewenang kepala keluarga Theodora yang sebelumnya dipegang oleh Gio. Pada hari Zee dibunuh, secara bersamaan Gio yang mendengar hal itu langsung terkena serangan jantung. Lalu nasib Thea, dia dijodohkan dengan salah satu anak konglomerat rekanan bisnis Araya. Sungguh banyak yang janggal untuk sekedar kebetulan semata, polemik keluarga Theodora tidak pernah sesederhana itu.

Eva berjanji setelah Zee pulih, dia akan membantu untuk merebut kembali apa yang hilang dari tangan Zee. Karena tujuan kehadirannya adalah untuk membantu Zee sesuai perintah dari Gio. Eva juga merasa harus segera menyelamatkan Gio dan mengambil alih perawatan jika ingin nyawa Gio terselamatkan.

***

"Tuan Muda sudah siap untuk melakukan terapi berikutnya." Salah satu suster yang mengurus Zee menyadarkan dari lamunannya.

"Eva dan dua anak itu, ada dimana mereka sekarang?"

"Saya rasa mereka sudah kembali pulang. Mau saya panggilkan untuk segera datang ke rumah sakit?"

"Mungkin setelah terapinya selesai, terima kasih sebelumnya." Zee tidak mau terlalu merepotkan mereka. Sudah mengurusnya sampai tahap ini saja Zee sudah bingung harus membalas budi kepada mereka bertiga dengan cara apa.

Beberapa jam setelah panjangnya rentetan terapi yang Zee jalani. Mereka bertiga hadir di kamar inap. "Tuan Muda memanggil kami?" Eva datang lengkap dua printilan seperti biasa, Genta dan Raka.

"Aku sudah memikirkannya, kita harus bergerak cepat."

"Aku setuju, pemulihan Tuan Muda juga sudah berkembang pesat." Genta berbicara sambil melihat beberapa berkas yang terjepit di papan dada. Mungkin medical report milik Zee.

"Paradise I'm Coming!" Teriak Raka kegirangan, Zee terlihat kebingungan melihat Raka. Mereka akan pergi ke Paradise? Liburan? Tapi itu bukan hal yang ada dalam rencana mereka.

"Disana ada rumah peninggalan Tuan Besar, tempat itu tidak bisa dijangkau oleh Tuan." Eva selalu bisa menebak apa yang ingin Zee katakan. Tidak bukan Tedi tidak punya akses kesana, lebih tepatnya Tedi tidak mengetahui soal tempat itu. Raka mencoba mengalihkan rasa cemas yang mulai tergambar dalam raut wajah Zee. "Sebagai hadiah kesembuhan Kakak, aku belikan ini." Satu buah paper bag dengan merek ponsel ternama. Ternyata benda kecil itu bisa sangat berarti dan jujur saja Zee memang membutuhkannya untuk menghubungi mereka bertiga yang menjadi keluarga baru bagi Zee.

"Terima kasih. Sudah mau berbagi kesulitan bersamaku. Mari kita bersihkan keluarga Theodora dari para hama perusak."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   48. Hampir Saja

    Zee sudah terbiasa bangun pagi, melihat pintu kamar Raka masih menutup, Zee berasumsi kalau Raka masih tidur, biarkanlah. Dirinya akan berlari pagi di sekitaran komplek dan pulang sambil mencari sarapan. Masih dalam jarak dekat, karena belum familiar dengan kawasan sekitar, Zee harus banyak melihat bangunan yang dilewatinya agar tidak tersesat.Lalu matanya menangkap sosok itu, Thea. Sedang berjalan menuju salah satu kafe "Dia sendirian?" Zee melihat kearah kanan dan kiri, memastikan dokter itu tidak ada disekitarnya."Apa ini waktu untuk yang tepat untuk aku berbicara dengan Thea?" Bunyi bel yang dipasang depan pintu berdenting saat pintu terdorong kedalam. Zee mengikutinya tak lama setelah Thea masuk.Thea sudah mengambil pesannya dan memilih duduk depan jedela, walau posisinya agak menjorok. Sinar matahari pagi membuatnya terlihat sangat cantik. "Sial! Zee tenangin hatimu." Zee terciduk sedang memandang kearah Thea. Sekarang mungkin Thea akan menganggap Zee sebagai peria mesum

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   47. Dua Ditraksi

    Raka masih berkutat dengan ponsel milik thea, sementara Zee sudah membuat makanan alakadarnya untuk mereka berdua. Dua cup mie instan tambah toping sosis dan telur menjadi makan malam mereka hari ini."Apa ada kendala? Makan dulu, nanti lanjut lagi. Kalau kamu yang sakit aku bisa repot nanti.""Lebih cepat lebih baik, Kak Zee bisa mencari apa yang selama ini menyangkut dalam pikiran.""Hargai juga aku yang sudah membuatkanmu mie instan yang walaupun makanan sederhana tapi coba kamu pikirkan, selain dirimu siapa yang pernah aku buatkan makanan?""Enggak mau Kak zee tantrum, jadi baiklah aku akan memakannya selagi panas. Puas?""Iya, habiskan dulu baru kamu sentuh lagi ponsel miliki Thea." Zee lanjut menyalakan tv agar tidak ada keheningan, acaranya cukup menghibur lalu tiba-tiba sebuah berita muncul. Berisikan tentang tindakan kriminal keluarga Yuan, aktifitas mafia yang sudah diketahui dan masih dicari keberadaan mereka yang di duga kabur berpencar ke beberapa negara.Zee dan Raka b

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   46. Kunci Rahasia Thea

    "Jadi berapa lama lagi kita harus menunggu mobil yang kamu sewa itu?" Sudah satu jam lamanya mereka terdampar di airport. Thea dan dokter itu sudah menghilang sejak lama. Namun Raka menyakinkan agar Zee tidak panik kehilangan jejak keduanya dengan menyewa sebuah rumah tidak jauh dari rumah yang Thea tempati dengan dokter itu. Supir itu datang sambil terburu-buru. Zee sudah malas menghadapinya, dia serahkan semuanya pada Raka, dengan senyum manis setidaknya Raka masih mau berbasa-basi sebelum serah terima kuncinya. "Ayo Kak Zee, jangan buang waktu banyak-banyak disini." Ucap Raka dengan cengengesan. Keduanya pun pergi meninggalkan airport, hanya berbekalkan maps dan SIM Internasional milik Raka mereka menjelajahi negeri yang belum pernah dikunjungi ini. "Nah Kak Zee, kita sudah memasuki area komplek perumahan yang kita tempati." Raka memberhentikan mobilnya ditepi jalan. "Itu Kak Zee, bisa melihat kearah kanan, seberang jalan ini adalah rumah yang ditempati Thea dan dokter itu." "

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   45. Hal Rumit Lainnya

    Setibanya di Ibu kota, mereka langsung memesan tike hotel. Lebih baik dari yang kemarin, pertama misi kali ini bukan untuk mengungkap identitas Zee sebagai anggota keluarga Theodora kepada pihak asing. Kedua semua transaksi dilakukan atas nama Raka. Itulah kegunaan Raka dibawa di misi kali ini juga. Zee meyakinkan semua pihak cukup hanya mereka berdua untuk melakukan misi penjemputan Thea dan juga bukanlah hal yang membahayakan nyawa mereka berdua. "Urusan perut seharusnya sudah selesai, sekarang waktunya kamu untuk fokus pada riwayat hidup Thea. Laporkan se lengkap-lengkapnya tanpa terkecuali.""Itu urusan gampang, sebentar lagi rampung." Benar saja beberapa menit kemudian laporan itu masuk kedalam email milik Zee. Thea pernah tinggal di kota lain untuk menenangkan diri. Betapa terkejutnya Zee mengetahui bahwa Thea memang istri sah pertama tapi suaminya Thea sudah melakukan pernikahan siri dengan wanita lain. Zee hampir saja kehilangan kendali dan membanting tab yang sedang dipeg

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   44. Pengumuman Resmi

    Makan malam yang menyenangkan. Georgio bahkan mengundang semua anak buahnya yang berada di pulau Paradise untuk kembali bertemu. Banyak laporan yang selama ini perlu dibahas ditambah selingan percakapan ringan, gurauan ala-ala geng mafia. "Zee, kenapa dari tadi mukamu terlihat sangat ceria. Ada berita membahagiakan apa?" Georgio berhasil melepaskan diri dan lebih memilih mendekat pada Zee yang tengah asyik mengobrol dengan Raka, Genta, dana Evan."Nanti saja Zee ceritakan, enggak enak kalau dibahas disini. Lagi pula ini kan acara kakek mana berani Zee merusaknya.""Oh iya, Kakek jadi semakin penasaran. Baiklah kita tunggu sampai acara ini selesai." Lalu chef yang menghidangkan makanan muncul menyapa Georgio. "Tuan Besar, apa makanannya sesuai dengan selera anda.""Tidak ada yang mengecewakan daei masakanmu selalu lezat." "Ah, tapi tolong kali ini maafkan saya. Kebanyakan makanan tersebut bisa tersaji tepat waktu itu berkat bantuan dari cucu menantu anda."Mengingat umur saya yang s

  • Pewaris Tunggal Berdarah Dingin   43. Jodoh Yang Disiapkan

    "Bagaskara.""Hm! Kakek merasa kurang setuju dengan keluarga itu, selain karena Tedi terlalu banyak memiliki kerja sama dengan mereka aku tidak yakin semua itu kerja sama bisnis biasa. Pasti mereka mempunyai rencana yang tidak ketahui.""Aku juga berpikir demikian, apalagi beberapa kali mendapati Thea seperti diabaikan oleh suaminya.""Zee, cari tahu semua kabar terbaru serta keadaan rumah tangga Thea, biarkan Raka melakukan semuanya. Aku memberikan otoritas penuh, jika dia membutuhkan sesuatu segera fasilitasi dengan kualitas yang terbaik." Zee sudah memantapkan diri agar tidak bertindak sembrono lagi, menuruti kehendak kakeknya. Namun perasaannya pada Thea memang tidak pernah padam mendengar hal ini saja sudah membuat Zee sangat senang. Hatinya yang sempat kosong kini kembali membara dan terbakar menjadi semangat "Jika dia tidak bahagia dengan pernikahannya, kamu harus kembali membawa Thea. Kita berdua masih sanggup memberikan bahkan lebih dari sanggup untuk memenuhi kebutuhan Thea

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status