Home / Urban / Pewaris Yang Teraniaya / Bab 65. ISTANA CLIRING RAS KADAL ULAR

Share

Bab 65. ISTANA CLIRING RAS KADAL ULAR

Author: MN Rohmadi
last update publish date: 2026-08-08 10:02:15

Bab 65. ISTANA CLIRING RAS KADAL ULAR

Begitu sampai di rumah, pemancing itu langsung masuk ke kamar dan tidur dengan tubuh menggigil, hingga akhirnya dia sakit selama tiga hari saking takutnya mendapatkan ikan sidat raksasa itu.

Apalagi saat membayangkan saat melihat mata ikan sidat raksasa itu seperti mata seorang kakek tua yang sudah pasrah untuk dimakan

Hingga akhirnya pihak keluarga dan kerabatnya datang menjenguk, dan begitu mendengar ceritanya, banyak orang menebak kalau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 65. ISTANA CLIRING RAS KADAL ULAR

    Bab 65. ISTANA CLIRING RAS KADAL ULAR Begitu sampai di rumah, pemancing itu langsung masuk ke kamar dan tidur dengan tubuh menggigil, hingga akhirnya dia sakit selama tiga hari saking takutnya mendapatkan ikan sidat raksasa itu. Apalagi saat membayangkan saat melihat mata ikan sidat raksasa itu seperti mata seorang kakek tua yang sudah pasrah untuk dimakan Hingga akhirnya pihak keluarga dan kerabatnya datang menjenguk, dan begitu mendengar ceritanya, banyak orang menebak kalau Ikan sidat itu adalah ikan penunggu Kedung sungai Serayu tempat pemancing itu mencari ikan. Dan saking tua nya umur ikan sidat itu, hingga seperti mempunyai kesadaran spiritual dan berubah menjadi siluman. Keanehan lain terjadi, keesokan harinya, beberapa warga mendatangi tempat pemancing itu mendapatkan ikan sidat untuk membuktikan ceritanya, namun ikan sidat itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya kail, joran dan pakan ikan yang masih tergeletak di atas rerumputan. Hal ini ten

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 64. CLIRING RAS KADAL ULAR

    Bab 64. CLIRING RAS KADAL ULAR “Namaku Dewa, saya sengaja datang ke hutan Sanggabuana ini untuk mencari Naga Jawa,” kata Dewa dengan nada datar. “Apa? Kamu ingin mencari rakyatku? Apa yang akan kamu lakukan terhadap rakyatku?” bentak Raja ular Naga Jawa dengan suara menggelegar. Dalam pikiran sang Raja ular Naga Jawa, dia menduga kalau Dewa ingin mengeksploitasi rakyatnya, yang termasuk sebagai binatang langka. Dan rakyatnya akan diperjual belikan, sebagai barang dagangan.. Dewa sepertinya bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Raja ular Naga Jawa di depannya. Kemudian dengan nada santai dia berkata, “Kedatangan saya hanya penasaran dengan bentuk ular Naga Jawa yang ada di Indonesia ini. Karena ada beberapa mitos yang menyatakan kalau Naga itu mempunyai empat kaki, dan kakinya seperti kaki elang atau kaki reptil.” “Ha ha ha ha… mana ada ular Naga mempunyai kaki? Namanya ras ular tentu saja tidak mempunyai kaki,” jawab Raja ular Naga Jawa sambil tersenyum penu

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 63. RAJA ULAR NAGA JAWA

    Bab 63. RAJA ULAR NAGA JAWA “Ini yang disebut ular Naga Jawa?” kata Dewa dengan suara lembut sambil memeriksa Naga Jawa di tangannya. Jenis ular Naga Jawa ini tidak berbisa, tidak seperti ular cobra. Akan tetapi karena bentuknya yang menyeramkan orang akan waspada jika bertemu dengannya. “Tapi kenapa Naga ini bentuknya sangat kecil? Apakah ini anakan ular Naga? Ataukah telah terjadi regenerasi beribu-ribu tahun lamanya, sehingga bentuknya mengecil? Seperti halnya manusia kuno menurut kitab suci, awalnya setinggi tiga puluh sampai tiga puluh lima meter, akan tetapi setelah jutaan tahun beregenerasi, kini hanya tinggal setinggi dua meter.” Dewa tampak merenung sambil memeriksa ular Naga Jawa di tangannya. Setelah puas memeriksa ular Naga Jawa yang ditangkap, Dewa segera meletakkan kembali Naga Jawa itu di bebatuan. Kemudian Naga Jawa itupun langsung menghilang dibalik tumpukan bebatuan, memasuki sebuah celah. Karena penasaran, Dewa segera mencari kemba

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 62. HARIMAU JAWA

    Bab 62. HARIMAU JAWA Dengan santainya Dewa melanjutkan perjalanan memasuki hutan Sanggabuana. Dia penasaran dengan informasi di media sosial dengan keberadaan Naga Jawa Naga di Jawa berasal dari ras ular tanpa ada kaki seperti kadal. Hal ini bisa dilihat pada relief-relief yang ada di candi Naga maupun candi-candi lainnya yang ada di Jawa. Bahkan Jung Jawa dan kapal-kapal perang Kerajaan Majapahit di bagian depannya ada relief Naga yang sangat gagah tanpa kaki Dan yang paling abadi sampai sekarang di alat musik gamelan Jawa, disana ada patung maupun ukiran sepasang Naga tanpa kaki. Akan tetapi di Indonesia ada sebuah pulau yang dihuni oleh ras kadal purba yang bernama Komodo. Bahkan para ilmuwan mancanegara ada yang memberi nama kadal purba atau Komodo itu sebagai Naga. Padahal kalau kita bisa memikirkan, sebenarnya binatang purba seperti Tyrex maupun dinosaurus lainnya, binatang itu lebih menyerupai kadal purba dan bisa juga dinosaurus itu adalah

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 61. HUTAN SANGGABUANA

    Bab 61.HUTAN SANGGABUANA Dengan mata yang dipenuhi dengan embun, Bambang Atmaja mengiringi kepergian jasad anak kedua dan menantunya hingga ke pemakaman akhir. Demikian juga dengan Darius Atmaja, meskipun semasa hidupnya dia selalu dijahati adik-adiknya, sepasang matanya juga ikut memerah menahan kesedihan. Masa-masa indah saat mereka masih kecil, kembali terbayang di ingatan nya. Masa kecil yang indah dan gelak tawa, tanpa ada rasa iri serta cemburu dan keserakahan akan harta. Hanya Dewa yang berdiri diam tanpa ekspresi, seakan yang dikubur bukan keluarganya, akan tetapi hanya binatang atau anjing yang mati ketabrak mobil. Usai acara pemberian doa, setelah kedua jasad dikubur, Bambang berpamitan dengan keluarga besan dan kedua cucunya untuk pergi ke rumah Joko Atmaja. “Pak Besan, mohon maaf, kami terpaksa meninggalkan kalian. Saya titip kedua cucu dalam perawatan kalian.” “Baik, saya akan menjaga kedua cucu dengan baik. Tolong sampaikan ucapan be

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 60. TAKZIAH

    Bab 60. TAKZIAH Ekspresi wajah Angelina Widodo tampak menjadi jelek, melihat sikap Dewa yang masih saja bersikap santai. “Paman dan bibimu terkena serangan jantung dan mereka berempat meninggal dunia.” “Terus, kalau mereka mati apa urusannya dengan kita?” “Dewa, jaga kata-katamu! Dimana rasa empati dan rasa hormatmu kepada paman bibi adik dari ayahmu?” Ekspresi wajah Angelina semakin buruk, begitu mendengar jawaban Dewa yang terlalu cuek dengan berita duka ini. Demikian juga dengan Darius Atmaja serta Bambang Atmaja, mereka juga menatap dengan ekspresi tidak percaya melihat sikap Dewa. “Dewa, bagaimanapun juga mereka adalah pamanmu. Cepat kamu bersiap, kita sekeluarga akan takziah ke rumah paman dan bibimu,” dengan nada sabar, Bambang Atmaja meredakan emosi antara anak dan ibu di depannya. “Untuk apa saya ikut takziah, biarkan saja mereka mati. Bukankah selama hidupnya, mereka selalu mengganggu Romo dan Bunda?” Seakan tidak peduli dengan naseha

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 28. DATANG KE SEKOLAH SMA NYA

    Bab 28. DATANG KE SEKOLAH SMA NYA “Bukankah Mas Dewa sudah mati?” “Huss… jangan keras-keras kalau ngomong, bagaimana kalau itu adalah arwahnya Mas Dewa yang ingin menjenguk sekolah ini.” “Hiii… bagaimana ini? Apakah kita sapa Mas Dewa?” “Kamu saja yang sapa sana, kalau saya sih nger

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 27. MENGEJUTKAN SATPAM SEKOLAH SMA NYA

    Bab 27. MENGEJUTKAN SATPAM SEKOLAH SMA NYA “Argh…!” “Brengsek, apa-apaan? Kenapa mobil di depan mundur begitu kencang menabrak mobilku?” “Tiin… tiin… tiin…!!” “Hoi… bisa nyetir apa gak sih?” Suara klakson dan makian terdengar silih berganti berbarengan dengan jeritan dari penum

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 22. SETUMPUK UANG YANG MENGEJUTKAN

    Bab 22. SETUMPUK UANG YANG MENGEJUTKAN Dewa yang sudah mengenal perbedaan waktu di dunia siluman dan di dunia Fana hanya bisa menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum asam. Kemudian Dewa pura-pura bodoh agar tidak memperpanjang obrolan keluarganya Aisyah. “Kang makan dulu, sepertinya

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 21. HUTAN ALUSAN ATAU HUTAN SILUMAN

    Bab 21. HUTAN ALUSAN ATAU HUTAN SILUMAN “Apa yang terjadi? Kenapa saya malah tidur? Bukankah sebelumnya saya sedang duduk bersemedi? Di mana mustika ungu itu? Kenapa menghilang?” Dengan kesadaran yang belum pulih seratus persen, Dewa mencoba berdiri. Kemudian dia memeriksa peti kayu jati d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status