/ Romansa / Pijat Yuk, Mas! / Bab 32 Jamu Pemikat dan Racun Persaingan

공유

Bab 32 Jamu Pemikat dan Racun Persaingan

작가: Irbapiko
last update 게시일: 2026-04-24 08:00:09

Hawa dingin dari pendingin ruangan yang berembus di sepanjang lorong mess terapis sama sekali tidak mampu mendinginkan hati Nani yang sedang terbakar hebat. Langkah kakinya yang beralas sandal bulu halus terasa menghentak di atas karpet mahal, meninggalkan jejak kemarahan yang ia pendam sejak melihat Mirah keluar dari kamar Agam semalam.

Bagi Nani, setiap jengkal kemewahan di Elegance Spa adalah wilayah kekuasaan yang harus ia rebut, bukan untuk dibagi.

Nani be

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 73 Mata-Mata di Griya Binal

    Sari berdiri gemetar di depan pintu kaca Griya Binal yang retak. Jejak ledakan botol bensin tempo hari masih terlihat sangat jelas di sana. Napasnya terasa sesak mengingat instruksi Mirah yang terus berputar di kepala.Ia mengusap keringat dingin di telapak tangannya ke rok span ketat. Langkah kakinya terasa berat saat memasuki sarang macan wilayah Barat itu. Bau jamu stamina dan asap rokok murah langsung menyergap indra penciumannya."Cari siapa? Anak baru ya?" tanya Maya dengan nada penuh selidik. Matanya menyipit sambil terus mengikir kuku berwarna ungu gelap yang tajam. Meja resepsionis di depannya tampak berantakan dengan sisa makanan dan botol minuman."Saya disuruh Mas Agam bantu-bantu di sini karena katanya sedang ramai," bohong Sari. Bibirnya terasa kelu dan jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang hebat. Ia berusaha menghindari tatapan Maya yang seolah mampu menembus kebohongannya."Jangan cuma bengong, ambil lap itu dan bersihkan semu

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 72 Tamu Misterius Kiriman Nani

    Sisa aroma dupa dari Elegance Spa masih melekat kuat di rambut Mirah. Langkah kakinya terasa berat saat memasuki lobi Taman Suci yang sunyi. Keheningan ruko di wilayah Selatan pagi ini terasa sangat mencekam.Mirah menyentuh memar di rahangnya yang mulai menguning akibat ulah Agam. Ia memperhatikan Sari yang mendadak sangat rajin mengelap meja resepsionis. Gadis itu tampak ketakutan dan enggan membalas tatapan matanya."Ada tamu VVIP menunggu Mbak Mirah di Kamar Melati," bisik Sari lirih. "Siapa orangnya sampai harus masuk ke kamar itu?" tanya Mirah curiga. "Dia bilang teman lama Mbak dari wilayah Barat," jawab Sari pelan.Jantung Mirah berdegup kencang mendengar kata 'Barat' disebut di wilayahnya. Firasat buruk mulai merayapi tengkuknya yang kini terasa dingin mencekam. Nani pasti sedang merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya untuknya."Bawa minyak zaitun murni ke sana sekarang, Sari," perintah Mirah tegas. "Baik, Mbak, tapi tamu itu terlihat sangat

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 71 Evaluasi Berdarah

    Ponsel di atas meja rias bergetar hebat di tengah malam yang sunyi. Mirah membaca pesan singkat dari Sesil dengan napas yang tiba-tiba tertahan. "Mas Agam mengundang kalian ke markas besar besok pagi tanpa tapi," tulis pesan itu.Di tempat lain, Nani menerima pesan serupa sambil mengelus kalung berlian barunya. Ia tersenyum lebar melihat undangan yang dianggapnya sebagai panggung kehormatan. Bagi Nani, panggilan ke Elegance Spa adalah bukti kekuasaannya mulai diakui.Pagi harinya, pintu jati markas besar itu terbuka dengan bunyi gesekan yang sangat berat. Bau minyak esensial cendana yang mahal langsung menyergap indra penciuman mereka berdua. Mirah berjalan dengan langkah kaku sementara jemarinya meremas map laporan hingga lecek."Masuk dan langsung menuju ruang tengah sekarang juga," perintah Sesil dengan nada dingin. Ia berdiri di balik meja resepsionis dengan tatapan yang sangat meremehkan. Nani hanya membalasnya dengan kibasan rambut yang menebarkan aroma pa

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 70 Ancaman Ormas di Barat

    Botol kaca meluncur cepat dari kegelapan jalanan Jakarta Barat. Dentuman memekakkan telinga terdengar saat kaca depan Griya Binal hancur berantakan. Lidah api langsung menyambar gorden ungu di balik lobi yang pengap.Kekacauan pecah seketika di dalam ruko yang biasanya tenang. Para terapis berteriak histeris saat asap hitam mulai menjilat plafon. Aroma minyak pijat murahan kini kalah oleh bau sangit kain terbakar.Nani berdiri mematung menatap jelaga hitam di dinding putih ruko. Getaran sisa ledakan semalam masih terasa di ujung sepatu hak tingginya. Ia mengamati butiran kristal kaca yang berserakan di atas karpet basah."Jakarta memang tidak pernah mengizinkan aku beristirahat sejenak," batin Nani gusar. Tangannya meremas tas kulit baru hingga buku jarinya memutih kaku. Amarah yang dingin mulai merambat naik dari telapak tangan ke bahunya.Bayangan pria-pria berjaket oranye mulai berkumpul di balik pintu ruko. Mereka menunggu dengan wajah lapar untuk men

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 69 Keajaiban Jari Jemari Mirah

    Lobi Taman Suci terasa sangat sunyi dan mencekik malam ini. Aroma dupa cendana yang kuat gagal menutupi bau keringat ketakutan di udara. Mirah berdiri kaku sambil menatap ujung sepatunya yang mengkilap di atas lantai marmer.Tiba-tiba suara tamparan keras memecah keheningan lobi yang dingin tersebut.Sari tersungkur ke lantai sambil memegangi pipinya yang mulai membengkak kemerahan."Jangan berani-berani membantah perintahku lagi, perempuan tidak berguna!" bentak Agam.Mirah refleks bergerak maju untuk membantu Sari yang sedang merintih kesakitan.Namun, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram lengan Mirah dengan sangat kuat.Agam menarik tubuh Mirah hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja."Lepaskan aku sekarang, Agam!" sentak Mirah sambil menyentak lengannya dengan kasar.Agam melepaskan cengkeramannya lalu menunjuk ke arah koridor remang-remang di belakangnya.Sari masih terisak di pojok ruangan tanp

  • Pijat Yuk, Mas!   Bab 68 Diplomasi Uang Tips

    Nani melangkah masuk ke lobi Griya Binal dengan langkah yang menghentak lantai marmer. Aroma parfum mahalnya beradu tajam dengan bau jamu penguat stamina yang sedang diaduk Maya. "Kumpulkan semua anak-anak di kamar nomor sembilan sekarang juga!" perintah Nani tanpa menoleh sedikit pun.Maya segera berlari kecil menuju area belakang lobi yang remang. Ia memanggil para terapis yang wajahnya nampak layu setelah menyelesaikan shift subuh. "Ayo cepat, Nani sedang dalam suasana hati yang sangat buruk!" teriak Maya dengan nada panik.Nani menyalakan AC ke suhu paling rendah hingga udara dingin menusuk kulitnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan ambisi yang membara di matanya. "Aku tidak mau sekadar omzet, mereka harus tahu cara menguras dompet tamu," gumamnya dengan suara rendah.Siska masuk dengan langkah gontai dan wajah pias karena kelelahan yang luar biasa. Kancing kebaya merah marunnya terlihat hampir terlepas akibat kerja keras semalaman. Nani mengabai

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status