Share

Part 6

Penulis: Hanina Zhafira
last update Tanggal publikasi: 2023-03-23 13:32:59

Pisah Terindah

#6

Sudah hampir seminggu aku bersikap dingin pada Mas Danar. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan berdiam diri di kamar.

Semua pekerjaan rumah tangga tetap kulakukan seperti biasa. Semua keperluan Mas Danar tak ada satu pun yang terlewatkan olehku. Hanya saja aku menghindari untuk bertatap muka dengannya. Entahlah, rasanya terlalu menyakitkan kenyataan ini. Setiap melihat wajah Mas Danar, seketika itu juga rasa amarah dan kecewa yang susah payah kuredam kembali bergejolak.

Hingga saat ini, hati dan otakku masih belum bisa menerima kenyataan ini. Aku masih berharap bahwa semuanya hanyalah bunga tidur.

Ah, Mas Danar, satu-satunya orang yang kupercaya menyandarkan hidupku ternyata dia jugalah yang membuatku karam.

Benar sekali untaian kata-kata bijak, bahwa berharap pada manusia hanya akan berujung kecewa. Semakin besar harapan yang ditanam akan semakin besar juga kekecewaan yang akan dituai.

Tatapanku kembali tertuju lurus pada cermin besar yang ada di depanku. Terlihat wajahku menyiratkan rasa yang tengah berkecamuk di dalam hati. Kusut!

Selang beberapa detik pandangan kualihkan pada foto pernikahan kami yang dipasang di dinding di sebelah kiri. Aku tersenyum hambar ke arah foto yang menampilkan senyum bahagia aku dan Mas Danar.

Terlintas lagi dalam bayangan, bagaimana perjuanganku meyakinkan hati untuk percaya pada pernikahan. Hingga akhirnya aku berani melangkah.

Sedari awal, aku sudah mewanti-wanti pada diriku sendiri bahwa setiap penikahan pasti ada cobaannya dan aku menanamkan tekat akan bertahan pada pernikahanku sepelik apa pun masalah yang mendera. Aku mendambakan keluarga yang utuh, keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Yang tidak pernah kurasakan di kehidupanku sebelumnya. Aku pun tidak mau anak-anakku akan mengalami hidup seperti aku. Namun, tak pernah terpikir sama sekali olehku jika cobaannya akan seperti ini.

"Dara."

Aku tersentak ketika menyadari Mas Danar sudah ada di dekatku. Sepertinya aku terlalu larut dalam lamunan sehingga sama sekali tidak mendengar suara pintu kamar dibuka. Tanpa banyak membuang waktu aku langsung berdiri dan hendak meninggalkan kamar.

Mas Danar langsung menggeser posisi berdiri persis di hadapanku.

"Dara, tolong, jangan lagi menghindar! Kita harus bicara. Kita harus mencari penyelesaian untuk masalah kita ini."

Aku menatap sekilas pada Mas Danar lalu berkata setengah berbisik, "Kamu yang bermasalah, Mas. Bukan Aku!"

Mas Danar menarik napas berat. "Ya, Okey, ini masalah aku. Tapi, ini berkaitan dengan kamu. Kamu tolong ngertiin aku juga, dong! Kamu butuh waktu, okey, aku sudah beri kamu ruang dan waktu beberapa hari ini. Sekarang kita bicarakan solusinya. Tolong ngertiin posisi aku, Dara!"

Kali ini aku menatap tajam pada Mas Danar. "Mas? Kamu minta aku ngertiin kamu? Kamu sadar nggak,sih, yang tersakiti di sini adalah aku! Penyebabnya itu kamu dan bisa-bisanya kamu berkata seolah-olah kamu yang korban, kamu yang paling menderita. Playing victim banget kamu!"

Mas Danar mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi dia mengembuskan napas kasar.

"Permasalahan ini tidak bisa dibiarkan ngambang berlama-lama, Dara. Cepat atau lambat harus diselesaikan! Nggak mungkin selamanya kita akan menjalani hari-hari seperti ini."

Aku tersenyum sinis pada Mas Danar. Entah di mana hatinya saat ini. Lelaki yang selama ini kukenal selalu berusaha menjaga perasaan orang lain, tidak enakan, serta tidak tegaan. Sekarang dia seakan telah menjelma menjadi orang lain yang tidak kukenal wataknya.

Walaupun di hatiku telah bertumpuk kata-kata yang hendak diluapkan tetapi mulutku seakan sangat berat untuk mengucapkannya. Rasanya hanya akan buang-buang energi saja. Toh, tidak akan merubah apa-apa lagi.

Di satu sisi aku pun setuju seperti kata Mas Danar, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus ada penyelesaian dari masalah ini. Akan tetapi penyelesaiannya apa? Tentu saja penyelesaiannya adalah permintaan yang diajukan Mas Danar padaku. Apa lagi selain dari itu?

"Lalu, mau Mas apa?" tanyaku lirih.

"Seperti pertama kubilang," jawab Mas Danar datar.

Kali ini kutatap dalam-dalam kedua mata mas Danar. Dengan suara yang masih lirih aku bertanya, "Kalau aku tidak mau, apa kamu akan meninggalkan dia?"

Lagi-lagi Mas Danar menghela napas berat sambil satu tangannya mengusap wajah. Selang hitungan detik, Mas Danar pun membalas tatapanku dengan sorot mata yang sendu. Kedua tangannya memegang pundakku.

"Aku mencintai kamu Dara. Sangat mencintai kamu, sekarang dan sampai kapan pun. Aku minta maaf sebesar-sebesarnya, aku tidak mungkin melakukan itu sekarang. Kondisinya tidak memungkinkan untuk itu. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf, Dara."

Seketika itu juga tetes demi tetes air mataku berjatuhan. Kembali dadaku dikuasai sesak. Tulang benulangku seakan tak mampu lagi menopang raga. Lemas dan remuk hingga ke hati.

"Jadi?"

Mas Danar mengusap air mata yang menetes di pipiku.

"Semua akan baik-baik saja, Sayang. Aku akan tetap dan selalu mencintai kamu dan Shahna."

"Tidak Mas. Kalau kamu mencintai kami, ini tidak akan pernah terjadi."

"Dara ... semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku --"

"Aku akan siapkan gugatan cerai," potongku sembari menepis tangan Mas Danar dariku.

"Dara, jangan egois. Ini bukan hanya antara kita berdua. Ada Shahna di antara kita."

Aku berdecak. Mas Danar benar-benar tidak berkaca sama sekali. Entah siapa yang sebenarnya egois.

"Kamu bilang aku egois, lalu kamu apa namanya, Mas?"

"Tidak akan pernah ada perceraian di antara kita, Dara. Aku hanya minta sedikit pengertian dari kamu."

"Kalau aku tetap mau?"

"Apa kamu tega jika Shahna tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh?"

Aku menggeleng dengan senyuman pilu. Bisa-bisanya Mas Danar memutar balikkan kenyataan. Malah aku yang diposisikan sebagai sosok yang egois. Benar-benar tidak sadar diri. Namun, aku sudah tidak berminat untuk berdebat. Hanya akan menghasilkan lelah yang sia-sia.

Mungkin inilah yang dimaksud oleh Windi. Kalau memang aku dan Shahna berharga bagi Mas Danar, tidak akan pernah ada perempuan itu hadir di antara kami. Dan Mas Danar tidak akan meninggalkan perempuan itu demi aku dan Shahna.

"Dara, tolong, aku benar-benar minta pengertian kamu. Kamu dan Shahna tetap akan menjadi prioritas aku."

Sejujurnya, aku muak mendengar Mas Danar selalu membawa-bawa Shahna dalam masalah ini. Sekarang dia menjadikan Shahna sebagai tameng. Kemarin-kemarin, ketika dia menceburkan diri dalam pengkhianatan ini, Shahna dikemanakannya?

"Kamu tidak mau kita bercerai dan juga tidak mau meninggalkan perempuan itu?" Aku menatap nanar pada Mas Danar. "Okey, Mas."

Aku bergeser ke samping untuk mengambil kertas yang ada di laci meja rias.

"Ini." Aku menyodorkan HVS yang sudah berisi tulisan pada Mas Danar.

"Apa ini?"

"Kamu bisa baca, kan?"

Mata Mas Danar pun tertuju pada kertas itu. Terlihat beberapa kali ia mengernyit.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mahzuni
ayo ddonk lanjut seneng bgt bagus jgn cicil
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pisah Terindah   Part 67

    Pisah Terindah#67 "Kehadiranmu membuat anakku kehilangan bapaknya saat seusia kamu sekarang." Ingin kuteriakkan kalimat itu di depan wajahnya. Tapi kalimat itu hanya ada dalam benakku saja. Terkurung di sana. Aku tahu, dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak salah apa-apa. Takdir yang menempatkan dia menjadi anak dari seorang bapak yang menghianati pernikahannya dan seorang ibu yang tidak bisa menempatkan diri. Atau lebih tepatnya tidak tahu diri. Segera aku beristigfar dalam hati. Aku tidak boleh hanyut dalam masa lalu. Aku tidak boleh terperangkap dalam sakit hati dan luka yang berlarut-larut. Move on, Dara! Untuk beberapa saat hanya ada hening. Sampai akhirnya Mas Danar bersuara dengan nada canggung. "Tumben mampir, dari mana?" "Sengaja mau ke sini. Mumpung ada kamu di sini sekalian ada yang mau aku sampaikan." "Misha, ikut nenek ke belakang!" Ibu meraih tangan Misha dan bersiap menggandengnya ke belakang. Namun, langkah yang sudah dimulainya mendadak berhenti mendengar penutura

  • Pisah Terindah   Part 66

    Pisah Terindah #66 "Ibu apa kabar?" Aku menyalami ibu Mas Danar dan sejenak kami berpelukan. Setelah itu giliran Shahna yang mencium tangan neneknya. Untuk beberapa saat Shahna berada dalam dekapan neneknya. Memang sudah lumayan lama mereka tidak bertemu. Kalau tidak salah, terakhir bertemu sekitar dua tahun yang lalu. Meski tak pernah membatasi komunikasi dan juga interaksi antara Shahna dan keluarga papanya tetap saja tidak ada pertemuan rutin antara Shahna dengan mereka. Tentu kesibukan dan prioritas masing-masing orang berbeda. Jangankan dengan nenek atau saudara-saudara papanya, dengan papanya saja Shahna bisa berbulan-bulan bahkan hitungan tahun tidak bertemu muka. Ya, begitulah perpisahan. Mau tidak mau akan ada hal-hal yang memang akan terlewatkan. Suasana di rumah ini masih tidak jauh berbeda. Perabotannya, tatanannya, serta halamannya yang luas dengan beberapa pohon berbuah di beberapa sisi. Bagian samping dan belakang rumah adalah tempat favorit Shahna kalau berkunju

  • Pisah Terindah   Part 65

    Pisah Terindah #65 Aku menarik napas lega dan berucap syukur atas kemenangan kami dalam kasus ini. Joan Persada, tbk dinyatakan menang atas rivalnya PT.Jaya Mandiri. Meskipun semenjak setengah perjalanan sudah terlihat celah bahwa kami akan memenangkan perkara ini, tetap saja aku merasa sangat terharu mendengar hakim membacakan keputusan. Antara tak menyangka dan juga bangga melebur jadi satu. Pertama mengomandoi sebuah penyelesaian kasus dan berhasil memenangkannya merupakan sebuah pencapaian, prestasi, serta pembuktian tersendiri bagiku.Betapa Tuhan teramat baik padaku. Terlebih kemenangan itu kuraih di depan orang yang dulu pernah menggoreskan luka dalam hidupku. Orang yang pernah berprasangka sangat buruk padaku. Orang yang pernah mematahkan semangat hidupku. Ada hal yang tak kalah penting yang kudapatkan dari kasus ini. Yaitu kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Lewat beberapa unjuk data dan fakta di persidangan terbukalah dokumen yang manyatakan bahwa PT. Jaya Mandir

  • Pisah Terindah   Part 64

    Pisah Terindah #64 POV Danar Terkesima!Itulah yang bisa mewakili diriku saat pertama kali mata ini melihat sosok seorang pengacara debutan yang akan menangani kasus yang tengah dihadapi perusahaan tempatku menggantungkan hidup. Awalnya aku sempat mendebat keputusan Joan. Menurutku akan lebih baik memakai jasa pengacara yang sudah kaya pengalaman. Apalagi melihat rekam jejak lawan. Mereka sudah cukup lihai bermain dalam kasus serupa. "Daripada kepalang tanggung, lebih baik nyebur total. Sama-sama ngeluarin uang juga, kan? Tak apa keluar uang lebih banyak dengan peluang menang besar daripada ekonomis tapi di depannya gelap." Aku mencoba menguraikan beberapa alasan logis. Namun, sang pemilik perusahaan tetap pada keputusannya. Entah apa alasan di balik ketetapan hatinya itu. Meskipun berteman dekat, tetap saja di perusahaan statusku adalah seorang pekerja atau lebih tepatnya bawahan. Tentu aku tidak bisa mengintervensi ataupun memaksakan pendapat. "Kita awali dengan optimis. Kada

  • Pisah Terindah   Part 63

    Pisah Terindah #63Langkahku yang semula panjang mendadak memendek ketika melihat Shahna sudah ada di ruang tunggu tersebut. Namun, dia tidak sendiri. Dia tengah asyik berbincang disertai bibirnya melengkungkan senyum. Bahkan saking asyiknya dia tidak menyadari kedatanganku. Sementara sosok yang duduk menemaninya, walau wajahnya tak menghadap padaku, aku tahu pasti dia siapa. "Mas Danar? Buat apa dia di sini?" Kalimat itu lirih mengalir dari bibirku. Setelah sempat terpaku beberapa saat aku melangkah mendekati Shahna. "Sayang, maaf, ya, Mama sedikit terlambat. Udah dari tadi keluarnya?" "Nggak apa-apa Mama, malah Shahna senang ditemani Papa." "Oh, iya, ada yang kelupaan. Shahna ke kelas dulu ya," seru Shahna seraya berlari ke arah kelasnya. Aku mengambil posisi duduk di tempat yang tadi diduduki Shahna. Sementara Mas Danar tadi ikut berdiri ketika Shahna beranjak. "Apa kabar, Dara?" Nada suara Mas Danar menyiratkan adanya keraguan pada pertanyaannya. Aku tak langsung meresp

  • Pisah Terindah   Part 62

    Pisah Terindah #62Meski malam semakin larut, tetapi rasa kantuk belum juga datang menyambangi. Biasanya jam seperti ini aku sudah terlelap baik itu karena kelelahan atau karena harus bangun lebih pagi lagi esok harinya dengan kondisi yang bugar. Namun kali ini sepertinya aku akan terjaga lebih lama lagi. Pikiranku masih belum bisa dijinakkan. Aku kembali terbawa ke masa-masa yang telah berlalu. Tentu hal-hal yang dulu sempat terbesit di benakku atau lebih tepatkan pernah kuharapkan untuk terjadi. Mas Danar. Ya, lagi-lagi tentang lelaki itu mengusikku. Dulu, di saat masih dalam fase terpuruk aku meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa bangkit bahkan tumbuh menjulang tinggi. Sedangkan dia, dia yang telah menyakiti kuyakini akan menuai hasil taburannya. Bak roda, kehidupan itu juga berputar. Begitu ungkapan yang diwariskan turun temurun semenjak nenek moyang. Bahwa yang sekarang bersenang-senang suatu hari nanti akan menangis. Yang menindas suatu hari pasti juga akan merasakan ditinda

  • Pisah Terindah   Part 41

    Pisah Terindah #41 Pagi ini, setelah segala rutinitas di rumah selesai aku segera menuju kantor Mbak Tania. Tentunya setelah mengantarkan Shahna ke sekolahnya. Sejatinya ini adalah hari terakhir aku beraktivitas di kantor hukum ini. Namun, di dalam hati aku berharap tidak begitu adanya. Besok, besok

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • Pisah Terindah   Part 40

    Pisah Terindah #40 Pov Danar Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Bisa-bisanya aku tidak menyadari bahwa musuh yang sebenarnya adalah orang yang ada di sampingku. Dara, entah dendam sebesar apa yang disemayamkan di hatinya hingga dia sampai tega menikamku dengan brutal. Ya, brutal! M

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Pisah Terindah   Part 38

    Pisah Terindah #38Di depan pintu utama aku menyapa security yang telah siap untuk bertugas. Setelah menginjakkan kaki di dalam kantor aku segera mengarahkan langkah ke tempat yang biasa kutempati. Namun, baru beberapa langkah saja, aku spontan menghentikan gerak kaki begitu melihat siapa yang tengah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Pisah Terindah   Part 37

    Pisah Terindah #37"Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu akan selicik ini Dara!" "Di depanku kamu menampilkan diri bagai wanita yang berhati mulia dengan balutan penampilan yang sangat santun tetapi nyatanya hati kamu busuk!" "Mas? Kamu ngomong apa, sih?" Spontan saja aku melontarkan tanya dengan s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status