Home / Romansa / Please Me, Dear Bos! / Bab 1 Suara Desahan di Ruang Meeting

Share

Please Me, Dear Bos!
Please Me, Dear Bos!
Author: Cynta

Bab 1 Suara Desahan di Ruang Meeting

Author: Cynta
last update publish date: 2026-07-18 11:54:01

​"Lagi, Thalia. Mendesah lebih keras! Aku tidak bisa mendengar suaramu kalau cuma berbisik seperti itu."

​Suara Arjuna terdengar begitu menuntut dari speaker ponselnya, wajah pria itu penuh akan kepuasan yang menjijikkan.

Arjuna, mantan kekasih sekaligus manajernya itu tampak menyeringai, bersandar nyaman di kursi kerjanya di apartemen.

​Thalia memejamkan mata di sudut ruang rapat yang gelap, tangannya gemetaran mencengkeram tepi meja yang dingin. Air matanya sudah mengalir, membasahi pipi yang terasa panas karena malu.

​"Arjuna, kumohon... Cukup," bisik Thalia dengan suara serak, berusaha merendahkan volume suaranya sekuat tenaga. "Seseorang bisa masuk kapan saja, ini di kantor."

​"Kantor? Bukankah semua orang sedang pergi ke restoran untuk makan malam privat perusahaan? Termasuk CEO barumu yang sok disiplin itu," Arjuna terkekeh, menatap layar dengan tatapan penuh nafsu.

"Sekarang, jangan banyak alasan. Buka kancing kemejamu, lalu lakukan apa yang kuperintahkan.

Atau foto yang baru saja kukirimkan akan mendarat di grup obrolan divisi kita dalam hitung ketiga."

​Thalia melirik potongan gambar yang masuk layarnya. Di sana terpampang foto seksi dirinya, sedang melepas pakaian di ruang ganti karyawan dua minggu lalu.

Arjuna diam-diam mengambil foto itu tanpa izin setelah mereka putus. Sebuah tindakan kriminal, yang mampu menghancurkan seluruh hidup, harga diri, dan karier Thalia kalau itu tersebar. Thalia tidak punya pilihan selain menuruti pria itu.

​"Satu..." Arjuna mulai menghitung.

​Dengan tangan gemetar hebat, Thalia melepaskan kancing teratas kemeja kerjanya, memperlihatkan sedikit kulit leher dan tulang selangkangnya ke arah kamera ponsel.

​"Dua..."

​"I-iya, Tolong, Arjuna. Jangan seperti ini." potong Thalia cepat, menahan tangisnya agar tidak meledak.

​Thalia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa hina yang mengikis habis harga dirinya.

Sambil menatap kamera dengan pandangan kosong, ia terpaksa mengeluarkan suara yang diinginkan Arjuna sambil melepas kancing kemejanya.

Sebuah desahan sensual yang terputus-putus karena rasa takut yang luar biasa.

​"Sshhh.. Aah... Thalia.. Kamu memang menggoda…"

​Di seberang panggilan video, Arjuna tampak semakin bergairah. Napas pria itu mulai memburu.

"Bagus, Thalia. Sentuh dirimu sendiri, remas bergantian. Biar aku lihat.."

​Air mata Thalia mengalir semakin deras saat jemarinya terpaksa bergerak ke arah dadanya sendiri, menuruti perintah bejat pria itu demi melindungi masa depannya.

Setiap sentuhan terasa seperti racun, namun dia harus berpura-pura menikmatinya di depan kamera.

​"Arjuna, hentikan setelah ini, ya?" rintih Thalia, nada memohonnya justru terdengar seksi di telinga Arjuna.

​"Lebih cepat, Thalia. Sedikit lagi.. Turunkan kamera ke bawah rok kamu!" perintah Arjuna, napasnya semakin pendek dan berat, menandakan pria itu sudah berada di puncak pelepasannya.

Suara desahan dan erangan Arjuna terdengar semakin keras dari speaker ponsel Thalia, menggema tipis di ruang rapat yang sunyi.

​Thalia memejamkan mata. Ia hanya bisa pasrah.

Klik!

​Bunyi gagang pintu yang berputar membuat jantung Thalia terasa berhenti berdetak. Pintu ruang rapat yang tadinya tertutup rapat tanpa dikunci perlahan terbuka.

Cahaya masuk dari koridor luar, menyinari kegelapan ruangan dan menampilkan siluet tubuh tegap seorang pria.

​Thalia membeku seketika, napasnya terasa tertahan di tenggorokan, wajahnya terasa panas bersiap menahan malu. 

​Pria itu melangkah masuk dengan langkah tegas yang penuh wibawa. Begitu wajahnya terkena sinar lampu koridor, lutut Thalia langsung terasa lemas hingga ia terduduk di lantai.

​"Siapa disana? Kenapa tidak ikut makan malam kantor—" Kalimat pria itu terputus di udara.

Zacky.

Bos barunya.

Pria itu terlihat membawa sebuah map dokumen di tangan kirinya. Langkah kakinya terhenti tepat beberapa meter di depan Thalia yang bersandar tak berdaya di bawah meja rapat.

​Tepat di detik itu, suara erangan Arjuna mencapai puncaknya. Suara klimaks yang berat, vulgar, dan penuh kepuasan terdengar begitu jelas dan nyaring dari ponsel yang masih digenggam Thalia.

​"Ahhh… Aku keluar Thalia! Oh sial, kamu luar biasa malam ini, sayang. Aku sangat puas, besok tunjukkan bagian lain.."

​Suasana didalam ruangan itu seketika hening, suara napas Arjuna yang memburu di seberang telepon menjadi satu-satunya bunyi yang tersisa.

​Zacky berdiri mematung, matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arah Thalia yang terduduk lemas di lantai dengan kemeja terbuka, lalu beralih ke layar ponsel yang menampilkan wajah Arjuna yang sedang mengatur napasnya.

Rahang Zacky mengeras seketika, urat di pelipisnya menegang. 

“Kamu—apa yang kamu lakukan?!”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
YOSSYTA S
Aduh, gimana itu Thallia. pasti malu banget
goodnovel comment avatar
Cynta
Malu, takut, kesel, sedih campur aduk kak.. Makasih kak udah mampir cerita ku...
goodnovel comment avatar
Ratu As
ahh ya ampun, Thalia gimana ya perasananya 🫣🫣 ada malu-malunya, tertekan, kesel dan sedih pasti
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 437 Kabar Tengah Malam

    ​Dada Thalia bergemuruh hebat. Air mata kebahagiaan menggenang di pelupuk matanya. Tidak ada kalimat yang lebih indah dari janji perlindungan seorang Zacky Farelio Alvarez.​"Aku mencintaimu, Zacky. Sangat mencintaimu," bisik Thalia tulus, mengulurkan tangannya memeluk leher sang suami dengan erat.​"Aku jauh lebih mencintaimu, Thalia," balas Zacky posesif, kembali menyambar bibir Thalia dengan ciuman yang memabukkan, mengantarkan istrinya menuju tidur yang paling damai.​Namun, kedamaian malam itu hanyalah sebuah ilusi singkat.​Tepat pukul dua dini hari, saat rintik hujan mulai turun membasahi kaca jendela penthouse, suara dering nyaring dari ponsel satelit khusus di atas nakas memecah kesunyian.​Zacky seketika membuka matanya. Nalurinya yang tajam langsung mengambil alih. Pria itu melepaskan pelukannya dari Thalia dengan sangat hati-hati, memastikan istrinya tidak terbangun, lalu menyambar ponsel tersebut dan melangkah kelua

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 436 Hadiah Kemenangan

    ​"Kamu baru saja menghancurkan utusan musuh, dan sekarang kamu menuntut hadiah dariku?" goda Thalia, jemari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, menariknya perlahan agar wajah pria itu semakin mendekat. ​"Hadiah kemenanganku hanya satu, Thalia. Kamu," geram Zacky rendah. ​Zacky kembali melumat bibir Thalia dengan gairah yang berlipat ganda. Tangan kekarnya dengan telaten membuka kancing gaun sutra krem yang dikenakan istrinya, menyingkapnya perlahan tanpa sedikitpun menyakiti Thalia. ​Sentuhan Zacky di atas kulit mulus Thalia terasa seperti sentuhan lembut yang hangat. Pria itu mengagumi setiap lekuk tubuh istrinya, mendaratkan kecupan panjang di perut buncit Thalia, menyapa kehidupan baru di dalam sana sebelum kembali naik untuk menyesap bibir Thalia. ​"Aahh... Zacky..." desahan panjang Thalia menggema di dalam kamar rahasia itu, meresapi setiap detik sentuhan yang diberikan suaminya dengan p

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 435 Pembalasan yang Sempurna

    ​"Zacky, jangan kotori tanganmu dengan darah kotor mereka hanya demi aku," pangkas Thalia lembut, menangkup kedua sisi rahang kaku suaminya dengan telapak tangannya yang hangat.​Wanita itu berlutut di atas sofa, menyejajarkan wajahnya dengan Zacky yang masih dipenuhi aura mengerikan. Mata Thalia menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat suaminya tanpa ada keraguan sedikitpun.​"Mereka tidak pantas membuat tangan suamiku berdarah," lanjut Thalia, ibu jarinya mengusap lembut urat-urat tegang di leher Zacky. "Buat mereka hancur tanpa sisa melalui kekuasaanmu yang sesungguhnya. Bungkam mereka hingga tidak ada satupun media di dunia ini yang berani menyebut nama mereka, Zacky. Itu jauh lebih menyiksa daripada sebuah peluru."​Mendengar kalimat tegas dan penuh perhitungan dari bibir istrinya, napas Zacky yang menderu kasar perlahan mulai teratur. Kilat kegelapan di matanya seketika memudar, digantikan rasa kagum dan gairah yang meledak l

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 434 Dalam Perlindungan Penuh

    Thalia melihat amarah yang meluap dari sorot mata Zacky mencoba menenangkannya. “Zacky tenanglah,” tangannya mengusap lembut lengan Zacky. “Biarkan aku selesaikan semua ini Thalia! Mereka tidak bisa seenaknya saja membentakmu!” geram Zacky tanpa menoleh ke arah Thalia, pandangannya beralih bergantian pada tiga tamu di depannya. ​Pengacara itu menelan ludah. "T-Tuan Alvarez, kami punya bukti genetik keturunan—"​"Bukti itu tidak berguna," potong Zacky dingin.​Zacky menjentikkan jarinya ke udara. Ivan segera melangkah maju, meletakkan sebuah map merah di atas meja.​"Buka itu," perintah Zacky kaku.​Pengacara itu dengan tangan gemetar membuka map merah tersebut. Matanya membelalak lebar saat membaca dokumen yang tertera di sana.​"Sesuai dengan hukum perdata internasional yang berlaku sah," ucap Zacky, mengitari meja dengan langkah pelan namun mengancam, bagaikan predator yang sedang menikmati ketakutan mangsanya.

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 433 Tamu Tak Dikenal

    ​"Lalu apa yang akan kita lakukan, Zacky? Membiarkan mereka masuk?" tanya Thalia, sorot matanya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan rasa penasaran dan tekad yang kuat.​"Kita akan menyambut mereka dengan karpet merah, Sayang," balas Zacky, menyeringai sinis. [Ivan, ubah rute. Kita menuju kantor sekarang juga. Siapkan ruang pertemuan VIP.]​"Zacky, kamu bilang aku tidak boleh ke kantor karena kondisiku!" protes Thalia pelan, memukul dada bidang suaminya.​"Ini pengecualian, Thalia. Aku butuh kamu duduk di sampingku saat aku menghancurkan mereka. Aku ingin mereka melihat dengan jelas siapa pemilik sah dari aset tersebut," geram Zacky posesif.​Satu jam kemudian, di dalam ruang pertemuan VIP yang super mewah di lantai teratas Alvarez Tower.​Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat canggung dan tegang. Tiga orang yang mengklaim sebagai kerabat jauh Valerian duduk dengan dagu terangkat sombong di satu sisi meja oval raksasa.

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 432 Didalam Mobil yang Luas

    ​"Z-Zacky, aa yang kamu lakukan? Ruangan mobil ini cukup luas. Aku bisa duduk di kursi sebelahmu," cicit Thalia dengan pipi merona merah.​"Aku ingin memeluk istriku. Diam dan nikmati saja posisimu, Nyonya Alvarez," geram Zacky rendah, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Thalia dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.​Thalia terkekeh pelan, jari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, memberikan usapan lembut yang membuat pria itu memejamkan mata menikmatinya. Keberanian Thalia benar-benar telah terbentuk sempurna, ia tidak lagi merasa canggung bermanja dengan pria paling dominan ini.​[Ivan,] pangkas Zacky tanpa mengangkat wajahnya dari leher Thalia, suaranya seketika berubah menjadi sangat dingin dan profesional.​[Ya, Pak Zacky,] sahut Ivan dari kursi depan melalui interkom.​[Bagaimana hasil penelusuran dokumen warisan lahan tua yang ada di dalam kotak kayu itu? Apakah segel Valerian itu masih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status