تسجيل الدخولThalia panik luar biasa, ia mendekap ponselnya di depan dada, seolah itu bisa menyembunyikan aib besar yang baru saja terjadi. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun karena syok.
"Ma-maaf, Pak... Saya..." Thalia berusaha bersuara, namun tenggorokannya terasa tersumbat. Tidak ada kata yang keluar selain isakan kecil yang tertahan. Rahasia paling menjijikkan dan memalukan dalam hidupnya baru saja terbongkar, didengar langsung oleh orang paling berkuasa di perusahaan ini. Thalia memejamkan mata, menunduk dalam diam hingga dahinya hampir menyentuh lutut. Ia sudah pasrah kalau detik ini juga Zacky akan memarahinya dan memecatnya karena melakukan tindakan asusila di lingkungan kantor. Namun, tidak ada bentakan, hanya terdengar langkah kaki yang mendekat secara perlahan. Zacky berjalan memutari meja rapat, pria itu meletakkan map dokumennya di atas meja, lalu perlahan menurunkan tubuhnya. Satu lututnya bertumpu pada lantai, berlutut tepat di hadapan Thalia. Jarak mereka begitu dekat, sampai Thalia bisa mencium parfum maskulin milik Zacky yang mendebarkan jantungnya, membuatnya semakin gugup. Tangan Zacky tiba-tiba terulur membuat Thalia takut, gadis itu tersentak mundur. Tanpa diduga, Zacky melepas jasnya, lalu memberikannya pada Thalia. “Pakai.” Ia menatap mata gadis itu yang sembab dan tampak ketakutan. "Kamu menangis?" Thalia menatap Zacky dengan pandangan sulit diartikan. Air matanya kembali menetes, kali ini bukan karena ancaman Arjuna, melainkan karena rasa lega dan rapuh yang bercampur menjadi satu. Gadis itu meremas ujung jas yang baru saja ia pakai menutupi kemejanya yang berantakan. Menatap sepasang mata tajam pria di depannya, ia merasa seluruh pertahanannya runtuh. Bos barunya yang baru beberapa minggu memimpin perusahaan kini justru menjadi satu-satunya orang yang melihat sisi rapuhnya yang paling dalam. ”Maaf Pak, saya… Saya tidak enak badan.." ucap Thalia bohong, suaranya tercekat di tenggorokan. Zacky menatap Thalia curiga, menembus langsung ke dalam manik mata gadis itu yang tampak sembab. ”Tidak enak badan?" tanya Zacky pendek. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya. "Kenapa tidak pulang?" "Sa-saya..." Thalia menelan saliva dengan susah payah, ia sangat gugup, tangannya merapikan letak jas Zacky di tubuhnya. "Saya sedang lembur, Pak." Zacky perlahan menaikan satu alisnya. Sudut rahangnya yang tegas mengeras seketika. "Lembur?" Zacky mengulang kata itu dengan nada datar. "Perusahaan tidak menerapkan lembur untuk divisi manapun, kecuali perintah dari saya langsung." "Tapi saya... Saya harus menyelesaikan laporan yang tertunda, Pak," cicit Thalia, mencoba mempertahankan kebohongannya demi menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya. Zacky terdiam, matanya bergerak turun, memperhatikan penampilan Thalia yang berantakan, dan posisi gadis itu yang masih terduduk lemas di bawah meja rapat. "Kalaupun lembur," Zacky menjeda kalimatnya, "Kenapa penampilanmu seperti ini?" suaranya rendah namun terasa begitu mengintimidasi. Thalia menggigit bibir bawahnya. Bosnya mengetahui rahasianya. Apa yang harus ia lakukan?! Tepat saat suasana terasa semakin menegangkan bagi Thalia, tiba-tiba terdengar suara Arjuna yang menggelegar dari ponsel yang masih dalam genggaman gadis itu. [Thalia! Malam ini aku sangat puas.. Kamu masih mendengarku? Kenapa suaramu hilang?] Thalia terlonjak, matanya terbelalak lebar menatap layar ponselnya dengan panik saat menyadari panggilan videonya masih tersambung. Zacky melirik ke arah ponsel di tangan Thalia, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari pengeras suara di ponsel gadis itu. Saat Arjuna yang tidak mendapatkan jawaban dari Thalia, ia mulai kehilangan kesabaran. Suaranya berubah menjadi bentakan kasar yang penuh ancaman. [Awas saja kalau kamu berani melaporkan kepada siapa pun di kantor itu, Nathalia! Kamu tahu sendiri apa konsekuensinya!] Bip. Sambungan telepon langsung terputus sepihak oleh Arjuna. Thalia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai marmer, membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi wajahnya yang kini merah padam karena rasa malu. Zacky mendengar semuanya dengan sangat jelas. Tidak ada satu kata pun dari ancaman Arjuna yang terlewat dari pendengarannya pria itu. Ia kembali berdiri menatap Thalia yang masih meringkuk di lantai. "Kalau kamu ingin bersenang-senang," ujar Zacky dingin, nadanya datar tanpa emosi yang berlebihan. "Jangan melakukannya di kantor." Kalimat itu bagaikan hantaman keras di dada Thalia. ‘Bersenang-senang? Pak Zacky mengira aku sedang bersenang-senang melakukan hal menjijikkan ini?’ batin Thalia berteriak tidak terima. Rasa perih dan tidak berdaya menggores hatinya. Thalia mendongak, mata sembabnya menatap Zacky dengan pandangan terluka. Ia ingin sekali membela diri, ingin berteriak kalau dirinya korban pemerasan, bukan wanita murahan yang suka melakukan hal asusila di lingkungan kerja. "Pak, saya tidak—" "Pulang," potong Zacky cepat. Thalia menelan kembali kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya. Ia berusaha berdiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Zacky mengambil map dokumen miliknya di atas meja rapat dengan gerakan santai. Sebelum melangkah menuju pintu, pria itu kembali mengeluarkan perintah singkat tanpa menoleh ke arah Thalia. "Kalau kamu merasa ada yang membuatmu tidak nyaman di kantor," ucap Zacky datar, suaranya terdengar dingin. "Kamu bisa menghubungi personalia."Mata Thalia membelakak. 'Apa artinya... ia dipecat?'
***"Jangan telat makan..." cicit Thalia membaca sederet kalimat singkat yang tertera di layar ponselnya. Usai menghapus sisa air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya, sudut bibir Thalia terangkat tipis. Ada rasa hangat yang mendadak menyusup di tengah rasa sesak yang menghimpit hatinya. Perhatian kecil dari Zacky seolah menjadi penawar sementara atas rasa sakit akibat kata-kata pedas yang dilontarkan Sabrina beberapa saat lalu. Thalia menatap layar ponselnya cukup lama, memikirkan kata apa yang akan ia ketik sebagai pesan balasan. [Thalia : Iya, Zacky... Ini sebentar lagi aku mau turun ke kantin bareng Maya.. Makasih ya udah perhatian..] gumam Thalia pelan sambil menekan tombol kirim. Sesaat setelah pesan itu terkirim, Thalia menghela napas panjang. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya yang masih belum stabil. Bayangan wajah anggun yang angkuh milik Sabrina, me
‘Eh.. Zacky balik? Apa ada yang tertinggal?!’ Thalia tersentak kaget dan buru-buru menegakkan posisi duduknya saat pintu terbuka perlahan, menduga Zacky atau Ivan yang kembali karena ada barang yang ketinggalan. Namun, sosok yang melangkah masuk ke dalam ruangan justru membuat darah Thalia seketika membeku. Seorang wanita berpenampilan sangat modis dengan gaun merah menyala dan kacamata hitam mahal melangkah masuk dengan gaya yang begitu anggun nan angkuh. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, memamerkan riasan wajah sempurna dengan mata tajam yang menatap sekeliling ruangan sebelum akhirnya tatapannya terkunci tepat pada Thalia yang berdiri kaku di samping mejanya. "N-Nona Sabrina...?" pekik Thalia tertahan dengan suara bergetar. Gadis itu mengenali wajah Sabrina dari berita yang beredar sebelumnya saat Zacky menjemputnya di bandara dan berpelukan, tampak mesra. Sabrina
Thalia kembali duduk di kursi kerjanya dengan helaan napas panjang. Ia merapikan rok kerjanya dan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun, saat pikirannya mulai kembali jernih, rasa cemas dan ketakutan akan masalah kantor kembali membayangi benaknya. "Zacky..." panggil Thalia pelan, menatap punggung tegap Zacky yang tengah merapikan celana dan jas kerjanya sendiri di depan cermin dinding. Zacky memutar tubuhnya menghadap Thalia. "Ada apa?" "Foto itu..." bisik Thalia cemas, jemarinya meremas tepi meja kerjanya. "Grup obrolan kantor masih ramai membicarakan foto aku yang turun dari mobil kamu di basement. Gimana kalau nanti ada yang melapor ke HRD atau malah Pak Joshua tahu?" Zacky melangkah mendekat ke meja Thalia, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan raut wajah yang mendadak kembali dingin. "Tidak ada yang berani melaporkan apapun, Thali
"Z-Zacky! Mau apa lagi?! Ini di atas meja kerja kamu!" pekik Thalia panik, tangannya refleks bertengger di bahu lebar Zacky. "Sekarang giliranmu, Thalia," sahut Zacky singkat tanpa memberi jeda. "T-tapi—" Belum sempat Thalia menyelesaikan protesnya, Zacky sudah mendorong kedua paha mulus Thalia hingga terbuka lebar di hadapannya. Tangan besar pria itu menyusup masuk ke bawah lipatan rok kerja Thalia yang didalamnya sudah terasa sangat basah akibat gejolak gairah yang ia saksikan sendiri sejak tadi. Zacky menarik pelan kain pelindung segitiga berwarna merah muda itu ke bawah, menyingkirkannya hingga memamerkan inti goa Thalia yang sudah memancarkan kilau basah. "Z-Zacky, jangan dilihatin begitu... Aku malu!" jerit Thalia kecil sambil menutupi wajahnya yang merah padam. Zacky tidak menghiraukan bisikan gadis itu. Tanpa membuang waktu, satu jari panjangnya menyusup perlahan
"Z-Zacky... B-beneran harus melakukan ini...?" cicit Thalia lirih dengan suara gemetar, matanya mendongak menatap sosok tegap Zacky yang duduk mematung di hadapannya. Wajah Thalia memerah sempurna hingga ke pangkal lehernya. Posisinya yang masih terduduk canggung di atas karpet tebal tepat di depan celana kain Zacky membuat napasnya terasa semakin sesak. Aroma maskulin yang bercampur gairah panas yang menguar dari tubuh Zacky seolah mengunci seluruh akal sehat Thalia saat ini. Zacky menundukkan kepala, menatap lurus manik mata bulat gadisnya yang berair dengan tatapan mendalam yang begitu menghipnotis. "Aku tidak suka menunggu, Thalia," bisik Zacky rendah dengan nada suara bass yang begitu serak dan menuntut. "Lakukan." Thalia menelan salivanya yang terasa sudah payah. Mengabaikan sisa rasa takut dan rasa malu yang membakar paras cantiknya, jari tangan hal
Sentuhan langsung telapak tangan Thalia yang tepat di atas pusaka Zacky yang sangat keras, panas, dan berdenyut membuat Thalia hampir saja memekik kaget secara refleks. 'Z-Zacky! Apa yang kamu lakukan?!' jerit Thalia dalam hati dengan mata membelalak lebar ketakutan. Thalia mencoba menarik jari tangannya kembali dengan rasa panik luar biasa. Namun, Zacky justru menekan tangan mungil Thalia semakin erat di sana, mengunci telapak tangan gadis itu untuk meremas dan merasakan sendiri betapa keras dan tersiksa miliknya karena menahan gairah penderitaan di bawah sana. Sementara itu, di atas meja, raut wajah Zacky tetap terlihat begitu tenang, datar, dan dingin tanpa ekspresi sedikit pun. "Jadi, Pak... Pada bagian pasal empat ini, pihak investor meminta jaminan pembagian saham sebesar lima belas persen," jelas Hans panjang lebar Jari tangannya menunjuk salah satu paragraf berkas di atas meja, s







