Share

Bab 2 Ketahuan..

Penulis: Cynta
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 11:54:05

​Thalia panik luar biasa, ia mendekap ponselnya di depan dada, seolah itu bisa menyembunyikan aib besar yang baru saja terjadi. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun karena syok.

​"Ma-maaf, Pak... Saya..."

Thalia berusaha bersuara, namun tenggorokannya terasa tersumbat. Tidak ada kata yang keluar selain isakan kecil yang tertahan.

​Rahasia paling menjijikkan dan memalukan dalam hidupnya baru saja terbongkar, didengar langsung oleh orang paling berkuasa di perusahaan ini.

Thalia memejamkan mata, menunduk dalam diam hingga dahinya hampir menyentuh lutut.

Ia sudah pasrah kalau detik ini juga Zacky akan memarahinya dan memecatnya karena melakukan tindakan asusila di lingkungan kantor.

​Namun, tidak ada bentakan, hanya terdengar langkah kaki yang mendekat secara perlahan.

​Zacky berjalan memutari meja rapat, pria itu meletakkan map dokumennya di atas meja, lalu perlahan menurunkan tubuhnya. Satu lututnya bertumpu pada lantai, berlutut tepat di hadapan Thalia.

​Jarak mereka begitu dekat, sampai Thalia bisa mencium parfum maskulin milik Zacky yang mendebarkan jantungnya, membuatnya semakin gugup.

​Tangan Zacky tiba-tiba terulur membuat Thalia takut, gadis itu tersentak mundur. Tanpa diduga, Zacky melepas jasnya, lalu memberikannya pada Thalia.

“Pakai.”

Ia menatap mata gadis itu yang sembab dan tampak ketakutan.

"Kamu menangis?"

​Thalia menatap Zacky dengan pandangan sulit diartikan. Air matanya kembali menetes, kali ini bukan karena ancaman Arjuna, melainkan karena rasa lega dan rapuh yang bercampur menjadi satu.

Gadis itu meremas ujung jas yang baru saja ia pakai menutupi kemejanya yang berantakan. Menatap sepasang mata tajam pria di depannya, ia merasa seluruh pertahanannya runtuh.

Bos barunya yang baru beberapa minggu memimpin perusahaan kini justru menjadi satu-satunya orang yang melihat sisi rapuhnya yang paling dalam.

​”Maaf Pak, saya… Saya tidak enak badan.." ucap Thalia bohong, suaranya tercekat di tenggorokan.

​Zacky menatap Thalia curiga, menembus langsung ke dalam manik mata gadis itu yang tampak sembab.

​”Tidak enak badan?" tanya Zacky pendek. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya. "Kenapa tidak pulang?"

​"Sa-saya..." Thalia menelan saliva dengan susah payah, ia sangat gugup, tangannya merapikan letak jas Zacky di tubuhnya. "Saya sedang lembur, Pak."

​Zacky perlahan menaikan satu alisnya. Sudut rahangnya yang tegas mengeras seketika.

​"Lembur?" Zacky mengulang kata itu dengan nada datar. "Perusahaan tidak menerapkan lembur untuk divisi manapun, kecuali perintah dari saya langsung."

​"Tapi saya... Saya harus menyelesaikan laporan yang tertunda, Pak," cicit Thalia, mencoba mempertahankan kebohongannya demi menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya.

​Zacky terdiam, matanya bergerak turun, memperhatikan penampilan Thalia yang berantakan, dan posisi gadis itu yang masih terduduk lemas di bawah meja rapat.

​"Kalaupun lembur," Zacky menjeda kalimatnya, "Kenapa penampilanmu seperti ini?" suaranya rendah namun terasa begitu mengintimidasi.

Thalia menggigit bibir bawahnya. Bosnya mengetahui rahasianya. Apa yang harus ia lakukan?!

​Tepat saat suasana terasa semakin menegangkan bagi Thalia, tiba-tiba terdengar suara Arjuna yang menggelegar dari ponsel yang masih dalam genggaman gadis itu.

​[Thalia! Malam ini aku sangat puas.. Kamu masih mendengarku? Kenapa suaramu hilang?]

Thalia terlonjak, matanya terbelalak lebar menatap layar ponselnya dengan panik saat menyadari panggilan videonya masih tersambung.

​Zacky melirik ke arah ponsel di tangan Thalia, mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari pengeras suara di ponsel gadis itu.

Saat Arjuna yang tidak mendapatkan jawaban dari Thalia, ia mulai kehilangan kesabaran. Suaranya berubah menjadi bentakan kasar yang penuh ancaman.

​[Awas saja kalau kamu berani melaporkan kepada siapa pun di kantor itu, Nathalia! Kamu tahu sendiri apa konsekuensinya!]

​Bip.

​Sambungan telepon langsung terputus sepihak oleh Arjuna.

Thalia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai marmer, membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi wajahnya yang kini merah padam karena rasa malu.

​Zacky mendengar semuanya dengan sangat jelas. Tidak ada satu kata pun dari ancaman Arjuna yang terlewat dari pendengarannya pria itu.

Ia kembali berdiri menatap Thalia yang masih meringkuk di lantai.

​"Kalau kamu ingin bersenang-senang," ujar Zacky dingin, nadanya datar tanpa emosi yang berlebihan. "Jangan melakukannya di kantor."

​Kalimat itu bagaikan hantaman keras di dada Thalia.

​‘Bersenang-senang? Pak Zacky mengira aku sedang bersenang-senang melakukan hal menjijikkan ini?’ batin Thalia berteriak tidak terima.

Rasa perih dan tidak berdaya menggores hatinya. Thalia mendongak, mata sembabnya menatap Zacky dengan pandangan terluka.

Ia ingin sekali membela diri, ingin berteriak kalau dirinya korban pemerasan, bukan wanita murahan yang suka melakukan hal asusila di lingkungan kerja.

​"Pak, saya tidak—"

​"Pulang," potong Zacky cepat.

​Thalia menelan kembali kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya. Ia berusaha berdiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

​Zacky mengambil map dokumen miliknya di atas meja rapat dengan gerakan santai. Sebelum melangkah menuju pintu, pria itu kembali mengeluarkan perintah singkat tanpa menoleh ke arah Thalia.

​"Kalau kamu merasa ada yang membuatmu tidak nyaman di kantor," ucap Zacky datar, suaranya terdengar dingin. "Kamu bisa menghubungi personalia." 

Mata Thalia membelakak. 'Apa artinya... ia dipecat?'

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 368 Perdebatan Panas

    ​"Zacky—" cicit Thalia ragu saat memperhatikan tatapan mata Zacky. ​"Aku bilang tidak, Thalia!" ucap Zacky kaku, cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Thalia mengerat. "Ivan, tinggalkan kami!"​Ivan yang sedari tadi menahan napas langsung menunduk hormat dan setengah berlari keluar dari kamar penthouse, menutup pintu itu rapat-rapat.​Kini hanya tersisa mereka berdua di dalam kamar yang luas itu. Sisa-sisa gairah yang sempat memanas beberapa menit lalu kini berganti dengan ketegangan adu argumen yang sangat pekat.​"Kamu tidak mengerti, Thalia," pangkas Zacky parau. Tatapan matanya menunjukkan sisi protektif yang nyaris tak masuk akal. "Publik itu kejam. Mereka tidak peduli dengan kebenaran mu. Mereka hanya butuh skandal untuk dihancurkan. Berdiri di depan puluhan kamera dan menceritakan trauma terbesarmu sama saja dengan mengiris nadimu sendiri di depan serigala kelaparan!"​"Aku tidak peduli dengan apa yang di

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 367 Tekad Thalia

    "Video itu... Muncul lagi?" pangkas Thalia, suaranya sempat tercekat di tenggorokan, namun ia segera menarik napas panjang, memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak di samping ranjang.​Tidak ada lagi air mata ketakutan yang menetes. Tidak ada lagi tubuh yang bergetar hebat hingga membuatnya ingin bersembunyi di sudut ruangan. Keberanian yang telah tumbuh karena perlindungan Zacky kini mengambil alih seluruh saraf di tubuhnya.​"Benar, Nona Thalia," jawab Ivan dengan nada penuh penyesalan. "Beberapa portal berita gosip anonim tiba-tiba menyebarkan potongan video itu sejak pagi tadi. Mereka mempertanyakan kredibilitas Anda sebagai calon istri dari seorang CEO Alvarez Group."​"Hancurkan portal berita itu!" raung Zacky, suaranya menggelegar memecah keheningan penthouse.​Aura mengerikan seketika menguar tatapan Zacky. Pria itu mengabaikan rasa sakit di bawah sana, menatap Ivan dengan sorot mata tajam. "Kerahkan seluruh

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 366 Klimaks Pagi yang Terganggu

    ​Thalia memperhatikan tatapan penuh permohonan dari Zacky, seakan meruntuhkan seluruh sisa pertahanan Thalia. Rasa cintanya pada pria yang telah mengorbankan nyawa untuk melindunginya itu membuat Thalia membuang jauh-jauh rasa malunya. ​"Kamu benar-benar pria yang suka menuntut, Zacky," pangkas Thalia, menyunggingkan senyum sensual yang membuat kewarasan Zacky semakin menipis. Bukannya menarik tangannya, jemari Thalia kini bergerak. Di bawah kehangatan selimut tebal itu, Thalia mulai menggenggam lembut milik Zacky yang berdenyut dan hangat. Sentuhan awal yang terasa lambat penuh keraguan dan kelembutan, memberikan usapan halus yang membuat dada Zacky naik turun tak beraturan. ​"Sshhh.. Akh... Thalia..." erang Zacky rendah, kepalanya bersandar ke belakang dengan mata terpejam rapat. Rahang tegasnya mengeras menahan nikmat yang luar biasa. ​Mendengar desahan parau dari pria yang selalu dominan y

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 365 Permintaan Manja

    ​"Zacky, lepaskan aku sebentar saja. Kamu harus minum obat setelah sarapan agar luka mu cepat kering," pangkas Thalia lembut, jarinya mengusap punggung tangan kekar Zacky yang mengunci rapat pinggangnya dari belakang.Tubuh ramping Thalia masih terperangkap dalam dekapan posesif calon suaminya. Sementara matahari sudah menyusup masuk ke dalam penthouse, namun Zacky sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya.​"Aku tidak butuh obat dan sarapan, Thalia. Aku hanya butuh kamu tetap di sini, di ranjang ini bersamaku," desis Zacky parau.Pria itu justru menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Thalia. Hidungnya mengendus kulit mulus Thalia, menghirup aroma khas dari tubuh calon istrinya.​"Kamu mulai bersikap tidak masuk akal, Zacky," goda Thalia sambil terkekeh pelan. Ia memutar tubuhnya di dalam pelukan Zacky hingga kini mereka saling berhadapan. "Mana Zacky Farelio Alvarez yang selalu disiplin, dingin, dan gila kerja itu, hmm?"

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 364 Malam Perayaan

    ​"Zacky, lukamu masih belum kering sepenuhnya. Kamu harus banyak beristirahat," pangkas Thalia lembut, melangkah mendekat dan duduk di tepi ranjang.​Zacky menatap Thalia dengan pandangan pekat yang berkabut gairah. Pria itu meraih pinggang Thalia, menarik wanita itu hingga tubuh mereka nyaris tak berjarak di atas ranjang.​"Aku akan beristirahat, Thalia," bisik Zacky parau, napas hangatnya menerpa wajah cantik Thalia. "Tapi lukaku akan lebih cepat sembuh kalau kamu memberikan hadiah pertunangan kita yang tertunda semalam."​"Zacky... Kamu sedang sakit," goda Thalia halus, pipinya merona merah merona namun ia sama sekali tidak menjauh sedikit pun. Tangannya merayap ke dada bidang pria itu, mengusap otot-otot yang tegang.​"Rasa sakitku seketika hilang saat melihatmu di depanku seperti ini, Thalia," pangkas Zacky kaku dan rendah.​Tangan Zacky menyusup ke tengkuk Thalia, menarik wajah wanita itu mendekat perlahan. “Aku ingin mala

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 363 Sudah Tidak Sabar

    ​"Zacky, kamu baru saja sadar! Jangan memikirkan pekerjaan dulu," protes Thalia lembut namun tegas.​"Biarkan aku mendengarnya sebentar, Thalia. Agar aku bisa tenang," balas Zacky sensual, mengusap pipi merona Thalia.​"Semuanya sudah selesai, Pak Zacky," lapor Ivan dengan senyum puas. "Media massa pagi ini meledak dengan berita kebenaran. Nama baik Alvarez Group sepenuhnya bersih di mata publik. Publik kini tahu bahwa Paman Gideon dan Arjuna adalah dalang di balik semua penggelapan dana dan kekacauan ini."​"Di mana mereka sekarang?" desis Zacky mematikan.​"Mereka berdua sudah di dalam penjara keamanan tingkat tinggi, Pak. Tanpa ada celah remisi, dan tanpa akses ke dunia luar. Pengacara terbaik kita memastikan mereka membusuk di sana selamanya," jawab Ivan tegas.​Thalia tersenyum, menghela napas sangat lega. "Syukurlah... Masa lalu yang kelam itu benar-benar sudah berakhir."​"Ini baru permulaan, Ivan," pan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status