ログインSuara tepuk tangan menggema di dalam private restoran. Arjuna berdiri di depan meja panjang dengan senyum yang dipaksakan melekat di wajahnya.
Dia memegang gelas minuman sambil menatap berkeliling ke arah rekan-rekan divisinya. Meski hatinya takut setengah mati dengan tatapan tajam Zacky di ujung meja. "Terima kasih banyak, kawan-kawan. Terima kasih sudah menyempatkan waktu berharga kalian untuk datang ke acara perpisahan kecil-kecilan ini. Saya harap kalian semua semakin sukses di sini, dan kita tetap bisa menjalin hubungan kerja yang baik ke depannya." Arjuna tersenyum lebar menutupi kepalsuan di balik kata-katanya dan berhenti tersenyum ketika manik matanya membalas tatapan Zacky. “Dan terima kasih kepada Bapak Zacky terhormat yang sudah hadir di malam ini.” imbuhnya melirik ekor mata Zacky Sementara Thalia duduk kaku di kursi sudut meja dekat Zacky. Tangannya saling meremas kuat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Sebenarnya ia enggan menginjakkan kaki di tempat ini. Niat awalnya memang mangkir dengan memakai alasan sakit. Sayangnya, Maya terus memaksa tanpa henti. Temannya itu menyeretnya ikut dengan berbagai macam omelan sejak sore karena makan siang tadi ia tak menemaninya. "Thal. Kamu tadi siang gak makan samaku. Nanti kalau malam ini kamu gak ikut, satu kantor malah bikin gosip macam-macam soal putusnya hubungan kalian," omelnya. Thalia akhirnya menyerah kalah. Gadis itu terpaksa menurut agar rumor masa lalunya dengan sang manajer tidak kembali digali oleh karyawan lain. Dia menempel ketat di samping Maya sejak awal melangkah masuk ke dalam restoran. Dia sangat berharap kehadirannya luput dari pandangan pria brengsek itu. Namun, rencana Thalia bersembunyi di balik punggung Maya gagal total malam ini. Suasana meja panjang itu mendadak riuh saat botol kosong mulai diputar di tengah-tengah piring sisa makanan. Sorak-sorai karyawan divisi pemasaran pecah menggema di udara. Ujung botol kaca itu perlahan melambat, lalu berhenti tepat menunjuk ke arah Thalia. "Wah, kena kau, Thal! Pilih truth atau dare?" seru salah satu rekan kerjanya antusias. "Jawab jujur dong, Thal. Kamu punya pacar nggak sekarang?" Thalia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Menjawab pertanyaan pribadi semacam ini di depan Arjuna adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyambar gelas berisi cairan keemasan di depannya. Gadis itu menenggak minuman keras tersebut hingga tandas demi menghindari jawaban. Suara sorakan meledek langsung memenuhi meja makan. Zacky yang duduk diam di sebelah kirinya hanya melirik sekilas. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya ke kursi dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Putaran botol berikutnya kembali memakan korban, dan sialnya, ujung kaca itu lagi-lagi menunjuk tepat ke arah dada Thalia. "Ini sih emang lagi apes namanya, Thal!" tawa Maya meledak geli. Seseorang dari ujung meja menyeringai penuh arti. "Jujur aja, Thal. Kamu masih sayang Arjuna, kan?" Suasana meja mendadak hening seketika. Arjuna menaikkan sebelah alisnya, menunggu reaksi sang mantan kekasih dengan senyum penuh kemenangan. Thalia mematung kaku di kursinya. Tangannya yang mulai gemetar perlahan terulur ke depan, hendak meraih gelas alkohol kedua demi melarikan diri dari tatapan menghakimi semua orang. Namun, sebelum jemarinya berhasil menyentuh kaca dingin itu, sebuah tangan besar dengan urat menonjol lebih dulu mengambilnya. Zacky mengangkat gelas tersebut tepat di depan wajah asistennya. Sang CEO menghabiskan seluruh isinya dalam satu kali tegukan. Thalia melebarkan matanya terkejut. "Pak..." bisiknya tertahan. “Memang harus memaksakan orang meminum?” tegur Zacky dingin. Suara bariton sang bos besar sukses membungkam seluruh mulut di ruangan itu. Tidak ada satu pun karyawan yang berani mendebat atau memaksa lebih jauh jika Zacky sudah turun tangan. Pria itu meletakkan gelas kosong di meja dan sedetik kemudian staffnya kembali lagi dengan permainan tadi. Efek alkohol pertama perlahan mulai menggerogoti kesadaran Thalia beberapa menit kemudian. Kepalanya terasa berputar hebat, membuat pandangannya mengabur tidak karuan. "May, aku ke toilet sebentar, ya," pamitnya lirih. Thalia memaksakan diri bangkit dari kursinya. Langkah kakinya sedikit gontai saat berjalan menyusuri lorong panjang restoran menuju area belakang yang kebetulan sepi. Gadis itu membasuh wajahnya berulang kali di wastafel. Hawa panas di sekujur tubuhnya benar-benar menyiksa akal sehatnya, menuntutnya untuk segera memejamkan mata. Saat Thalia mendorong pintu toilet untuk kembali ke meja, tubuhnya nyaris menabrak dada bidang seseorang. “Kemana aja kamu, Thalia?” "Lepas! Minggir!" Thalia meronta panik saat tangan besar itu mendadak mencengkram pergelangan tangannya. "Karena malam ini perpisahanku, kita main yuk, Thal? Selama pacaran kita nggak pernah main, aku cuma bisa lihat badan kamu yang seksi itu dari layar. Ayolah." "Gila ya, kamu?!" Napas Thalia memburu cepat karena panik bercampur efek pusing. "Kita nggak pernah dan nggak akan pernah ngelakuin hal kotor kayak gitu, Arjuna!" Thalia berusaha menarik lengannya sekuat tenaga. "Ah, masa sih? Dengan dadamu sebesar itu, kamu yakin kamu belum pernah dipake orang lain?" Arjuna menyeringai merendahkan, menatap lekat tubuh mantan kekasihnya. "Lagipula, obat yang tadi aku tuang ke minumanmu kayaknya sudah mulai bereaksi. Harusnya sih obat itu bisa bikin kamu lebih licin dan penurut malam ini." Jemari Arjuna perlahan mengusap pipi Thalia dengan sangat kurang ajar. Thalia memejamkan mata rapat-rapat saat bibir Arjuna semakin mendekat. Dia ingin berteriak meminta tolong sekeras mungkin. Sayangnya, tenaga gadis itu mendadak hilang akibat pengaruh obat sialan tersebut. "Lepas!" Sebuah bentakan keras menggema di sepanjang lorong sunyi itu. Satu tinjuan kuat mendarat telak di rahang Arjuna sebelum pria itu sempat merespons. Tubuh manajer itu langsung terpelanting kencang menghantam dinding restoran. Zacky berdiri tegak dengan napas memburu dan rahang mengeras kaku. Pria itu mencengkram kerah kemeja Arjuna, menariknya paksa, lalu mendaratkan pukulan bertubi-tubi tanpa ampun. Darah segar mulai mengalir dari wajah Arjuna yang kini babak belur. Thalia merosot jatuh berjongkok di lantai sambil memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat, menangis sesenggukan melihat pria itu hampir mati dipukuli. Hawa panas yang membakar perutnya justru merambat naik dan semakin menggila. Zacky akhirnya melepaskan cengkeramannya dari Arjuna yang terkapar di lantai keramik. Bos besar itu bergegas menghampiri Thalia, berjongkok pelan untuk memeriksa keadaan gadis itu. "Pak. Pak Terima kasih, Pak Zacky." Thalia meracau pelan dengan pandangan mata yang mulai tidak fokus. "Pak, tapi saya panas banget. Bapak bisa tolong bantuin saya lepas baju saya?" Tangan gadis itu perlahan bergerak menarik bagian atas gaunnya sendiri. Zacky terkesiap melihat kulit leher asistennya yang memerah parah. Dia langsung menahan kedua pergelangan tangan Thalia, menghentikan pergerakan itu dengan raut wajah tegang. "Pak, tolong. Bapak bisa bantuin saya? Punya saya yang bawah basah!" ***Jemari lentik Thalia menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, sedikit menarik rambut pria itu saat bibir Zacky turun menyusuri dadanya. Tidak ada paksaan, tidak ada teror. Hanya ada penyatuan dua jiwa yang saling menginginkan. Setiap sentuhan Zacky penuh dengan cinta. Tangan pria itu mengusap lembut perut Thalia, memberikan pijatan melingkar yang menenangkan, sebelum akhirnya jari-jari panjangnya menelusup turun mencari pusat gairah istrinya. "Sshh... Zacky... ahh!" Thalia mengerang keras saat sentuhan ahli suaminya mulai memanjakannya di bawah sana. Tubuh Thalia bergetar hebat. Ia tidak lagi menyembunyikan wajahnya atau menahan desahannya. Ia membiarkan suaminya mendengar betapa besar reaksi yang ditimbulkan dari sentuhan itu. "Sebut namaku, Thalia. Biarkan aku mendengarmu," perintah Zacky dengan suara serak yang mematikan, mempercepat tempo jarinya sementara bibirnya tak henti melumat bibir istrinya.
"Sangat sederhana," balas Thalia tanpa ragu, menatap lurus ke manik mata hitam suaminya. "Sebelum mereka menginjakkan kaki disini minggu depan... Kita beli seluruh obligasi jatuh tempo mereka di pasar saham Landon secara rahasia, Zacky." "Kita beli hutang mereka..." ulang Zacky, menyeringai sinis membayangkan kehancuran musuhnya. "Ya. Kalau Alvarez Group yang memegang surat hutang mereka, maka posisi tawar akan berbalik seratus delapan puluh derajat," jelas Thalia logis. "Mereka tidak akan datang sebagai penakluk yang menuntut sahamku. Mereka akan datang sebagai pengemis yang memohon perpanjangan waktu padamu, Tuan Alvarez." Hening sejenak. Zacky menelan ludah dengan susah payah. Kecerdasan dan kelihaian taktik yang baru saja ditunjukkan oleh Thalia benar-benar di luar ekspektasinya. Istrinya tidak hanya cantik dan patuh, tapi mem
"Mereka pikir mereka bisa datang ke sini, ke markas suamiku, dan mendikte kita begitu saja minggu depan, Zacky?" pangkas Thalia, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh kilat ketegasan. Wanita itu sama sekali tidak beranjak dari pangkuan suaminya. Bukannya gemetar atau panik, jari tangannya justru terulur merapikan kerah kemeja Zacky yang sedikit berantakan akibat pergumulan kecil mereka barusan. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat sang CEO tanpa keraguan sedikitpun. Zacky menatap istrinya lekat-lekat. Sisa-sisa amarah akibat ancaman Faksi Bayangan yang sempat membuat darahnya mendidih, kini seakan menguap begitu saja melihat ketenangan di wajah Thalia. "Mereka hanya sekumpulan serigala tua yang serakah, Thalia," desis Zacky dengan suara serak, sebelah tangannya mengusap punggung istrinya dengan gerakan posesif. "Mereka mencoba menggertakku karena mereka tahu aku akan melakukan ap
"Lalat tidak akan membuat asisten pribadimu tergagap saat ku telepon, Zacky," balas Thalia tak mau kalah. Thalia tidak melepaskan pelukannya, ia justru meraih tangan suaminya dan menuntun pria tegap itu menuju sofa beludru di tengah ruangan. "Duduklah, Zacky. Kamu terlihat sangat tegang," perintah Thalia lembut namun tegas. Zacky menurut tanpa bantahan. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, menyandarkan kepalanya ke belakang sambil memejamkan mata. Thalia tidak duduk di seberangnya. Wanita itu justru mendekat, berlutut dengan satu kaki di atas bantalan sofa di samping Zacky, lalu mengulurkan kedua tangannya. Jemari lentik Thalia mulai menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky yang sedikit berantakan. Ia menyisir rambut suaminya dengan usapan yang sangat lembut, teratur, dan menenangkan. "Mmph..." Zacky mengerang pelan, napas kasarnya perlahan berubah menjadi helaan yang lebih rileks
[Pak Ivan, dimana Zacky? Kenapa bum pulang dan ponselnya tidak menjawab telepon ku?] suara Thalia terdengar cemas. [P-Pak Zacky, masih ada meeting, Nona..] jawab Ivan dengan suara berusaha tetap tenang. [Jangan bohong, Pak Ivan.. Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku dari nada bicaramu, Pak Ivan,] pangkas Thalia tegas, suaranya terdengar tenang namun penuh otoritas. Wanita itu berdiri di depan jendela kaca penthouse, menatap pemandangan kota dari ketinggian. Jarinya memegang ponsel yang terhubung langsung dengan asisten pribadi suaminya. [N-Nona Thalia... S-Saya tidak menyembunyikan apa pun. Pak Zacky hanya sedang menangani sedikit urusan administratif di ruang kerjanya,] sahut Ivan dari seberang telepon, suaranya terdengar sangat berhati-hati, seolah takut salah bicara. [Sedikit urusan administratif tidak akan membuat jadwal kepulangan suamiku tertunda hingga satu jam, dan tidak akan memb
“Tapi… jagoan kecilmu di dalam sini sedang kelaparan." Zacky menghela napas lega yang sangat panjang, mengusap wajahnya dengan kasar sebelum menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Hanya lapar? Baiklah. Aku akan menyuruh Ivan membangunkan chef bintang lima yang bersiaga di dapur bawah. Kamu ingin makan apa, sayang? Wagyu? Sup abalon?" pangkas Zacky, meraih ponsel satelitnya. "Tidak mau," cegah Thalia cepat, menahan tangan Zacky. Bibir Thalia kembali mengerucut manja, matanya menatap suaminya dengan penuh tuntutan. "Aku tidak mau makanan restoran. Aku ingin makan pasta aglio e olio yang pedas." "Baik. Aku akan menyuruh chef membuatnya sekarang juga," balas Zacky datar. "Tidak, Zacky! Kamu tidak mengerti," rengek Thalia, menyandarkan kepalanya di bahu Zacky. "Aku mau kamu yang memasaknya. Aku hanya ingin makan pasta buatan suamiku malam ini." Tangan Zacky yang memegang







