LOGINKanaya mengecup bibir Sagara terlebih dahulu. Ciumannya terasa sedikit terburu-buru—entah karena alkohol yang masih menghangat di tenggorokannya.
Semula pria itu tak menjawab sahutan bibirnya.
Ia membeku keras.
Namun saat tangan Kanaya jatuh ke bagian tengkuk dan deru nafas di bagian telinga. Ia mulai mengaduh.
“Saya masih gak menarik juga, Pak?”
Lalu saat tangannya turun menuntun resleting celana bahannya turun. Desahannya lolos.
“Kamu tidak boleh menyesalinya besok pagi.” ucap Sagara membalas bibirnya.
Lelaki itu membalas ciuman itu dengan cara yang membuat lutut Kanaya lemas. Ada ketertarikan lama yang akhirnya menemukan celah untuk keluar, seperti oasis yang terasa tiba-tiba muncul di tengah gurun pasir.
Setiap gerakan bibirnya seakan mengungkapkan hal-hal yang selama ini tidak pernah ia ucapkan. Tanpa memutus tautan bibir mereka, Sagara bergerak. Tangannya melingkari pinggang Kanaya, lalu mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah.
Kanaya spontan melingkarkan kakinya di pinggang Sagara, menempel erat seperti bayi koala yang mencari tempat aman. Napas mereka saling bertabrakan, semakin tidak teratur.
Masih tenggelam dalam ciuman penuh hasrat itu, Sagara melangkah menuju kamar Kanaya. Setiap langkah terasa berat namun mantap, karena mereka tidak benar-benar berhenti mencium satu sama lain.
Tangan Kanaya meremas bagian belakang kemeja Sagara, seolah takut lelaki itu akan melepaskannya.
Begitu tiba di depan pintu kamar, Sagara mengangkat sedikit kakinya dan menendang daun pintu hingga terbuka. Tanpa berpaling, ia kembali menendang pintu dari belakang sampai tertutup rapat, memastikan dunia luar tidak ikut masuk.
Dengan gerakan hati-hati, Sagara membaringkan Kanaya di atas ranjangnya. Ranjang itu kecil, sederhana, namun malam ini terasa seperti titik pusat dari seluruh badai emosi yang berkecamuk di antara mereka.
Seperti manusia yang tengah menahan lapar yang menahun, Sagara menyerbu leher jenjang Kanaya dengan sangat rakus.
Tangannya dengan cepat menyelipkan ke belakang punggung Kanaya membuka pengait bra yang dipakai gadis itu. Kanaya tidak tinggal diam, dia membuka sisa kemeja Sagara satu persatu.
Dada Kanaya naik turun merasakan sifat dominasi Sagara yang biasanya hanya bisa dirasakan saat sedang bekerja di kantor. Kini berubah seperti seorang predator yang siap menerkam mangsanya.
Sagara bangkit seraya menarik kain tipis Kanaya, lalu berdiri dan mulai melucuti semua pakaiannya.
Tanpa membuang waktu, Sagara segera mengungkung tubuh molek Kanaya, dan langsung menyambar ujung dadanya yang berwarna merah jambu. Lidahnya menari, menggoda pada benda kecil yang mulai mengeras itu.
Sensasi rasa nikmat langsung menyerbu setiap inci dari tubuh Kanaya.
“Ah....” Gumam Kanaya.
Mata Sagara terkunci kepada Kanaya, saat dia bergerak menyusuri dadanya satu lagi, memilin kecil.
Mulut dan lidahnya bekerja sama memberikan sensasi lain untuk Kanaya. Punggung gadis itu melengkung seolah mengijinkan Sagara melakukan lebih dari itu.
“Ooh... Ssshh... Mmmhh...”Gumam Kanaya.
Jemari Sagara turun menyusuri paha Kanaya, sentuhannya menggoda, apalagi saat jemarinya sampai pada lipatan senggama Kanaya. Membelai bagian sensitif itu yang sudah mulai terasa lembab.
“Basah.... Apa kamu tidak akan menyesal...?” tanya Sagara.
Kanaya bisa merasakan milik Sagara yang menusuk bagian pahanya. Tangan Kanaya terulur, mulai membelai pelan milik Sagara.
“Gak ada yang tersisa untuk saya, Pak.” bisik Kanaya. “Take all.”
Sagara bangkit, lalu membuka kedua kaki Kanaya, merentangkannya lebar. Dan mulai menekan miliknya pada lipatan milik Kanaya, menggeseknya dari bawah ke atas, menggoda gadis itu.
“Tidak ada penyesalan, Naya...” ucap Sagara.
Perlahan Sagara menekan ujungnya masuk ke celah kecil itu, mata Kanaya melebar.
Rasa sakit menghantam, namun tidak ada jalan kembali, sebelum semuanya terlambat Sagara segera membungkuk dan mencium bibir Kanaya, lagi.
Ciumannya turun ke leher Kanaya. Lalu...
Dengan satu hentakan keras, Sagara membenamkan seluruh kejantanannya kepada Kanaya.
“Aaah... Sakit... Hhhh...”
Cengkraman kuat Kanaya berikan pada bahu kokoh Sagara, gadis itu mengigit leher Sagara kuat, sembari menancapkan kukunya di bahu pria itu.
“Tahan...” bisik Sagara. Lalu dia mulai bergerak, tidak peduli dengan tangisan, tidak peduli dengan teriakan minta ampun dari Kanaya.
Hingga tangisan itu akhirnya berubah menjadi lenguhan dan juga erangan kenikmatan.
Malam itu...
Kanaya menyerahkan apa yang selalu dia jaga untuk Gavin, kepada atasan sekaligus sahabat tunangannya itu.
“Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken
Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim
Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be
Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul
Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,
“Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya







