Share

Bab 2

Author: Lyrik wish
last update Last Updated: 2025-12-11 16:54:07

Sagara melangkah masuk sebelum dipersilahkan. Tatapannya bergerak menyapu ruangan—apartemen sederhana satu kamar, dengan dapur kecil menyatu dengan ruang tamu. Jauh dari kata mewah jika dibandingkan dengan tempat tinggalnya sendiri.

Sementara itu, di sofa, Sagara hanya diam—tapi matanya tidak pernah lepas dari punggung Kanaya. Ada sesuatu dalam tatapannya... sesuatu yang bukan sekadar rasa iba.

Sesuatu yang bahkan Kanaya sendiri belum menyadarinya.

Kanaya berdiri beberapa detik di dapur, menatap dua gelas bening yang kini ada di tangannya. Jemarinya bahkan sedikit bergetar. 

Dari sudut mata, dia melirik ke arah Sagara—pria itu sedang sibuk membuka segel botol alkohol, ekspresinya tetap datar dan rapi seperti biasa. 

Dengan tarikan napas panjang, Kanaya kembali melangkah ke ruang tengah. Dua gelas itu ia letakkan di meja, sebelum akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepat di sisi Sagara. Jarak mereka begitu dekat, tapi justru kesunyian yang menggantung terasa jauh lebih menyiksa.

“Bapak gak perlu kayak gini, Pak. Saya bisa kok nangis sendirian...” ucap Kanaya akhirnya, suaranya serak karena terlalu banyak menangis.

Sagara tidak langsung menoleh. Nadanya tetap datar, khas seorang laki-laki yang sudah terlalu sering menghadapi drama perusahaan sehingga tidak pernah terlihat goyah.

“Saya hanya tidak mau mendengar kabar sekretaris saya bunuh diri karena putus cinta.”

Kanaya mendengus kecil. “Siapa yang mau bunuh diri sih, Pak... sekalian aja di kantor bapak.”

“Biar saya gentayangin bapak sekalian.”

Sagara tidak membantah. Dia hanya mengambil botol yang baru dibuka itu, menuangkan cairan bening ke salah satu gelas sebelum menyerahkannya pada Kanaya. 

Matanya memandangi isinya sejenak, lalu—tanpa berpikir panjang—meneguk habis dalam satu kali dorong.

“Bapak tahu gak?” suara Kanaya pecah ketika ia meletakkan gelas itu kembali.

Sagara bergumam pelan sebagai reaksi, lalu otomatis mengisi ulang gelasnya. Kanaya meminumnya lagi, lebih cepat, lebih putus asa. Air mata yang tadi sempat berhenti kembali mengalir. Tanpa diminta, Sagara menuangkan gelas ketiga.

Dan Kanaya meminumnya lagi. Kali ini tangan yang memegang gelas sudah tidak stabil. Sagara mengamati perubahan Kanaya—matanya mulai sayu, pipinya memerah, bahunya goyah. Alkohol sudah mulai mempengaruhi.

Kanaya meletakkan gelas ketiganya, lalu memiringkan tubuh untuk menatap Sagara. Dalam satu gerakan mendadak, dia meraih kerah kemeja pria itu dan menariknya mendekat.

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci.

“Saya kurang apa, Pak? Coba Bapak bilang ke saya...” desis Kanaya, matanya berkaca-kaca tapi tatapannya menusuk.

Sagara tidak mundur. Ia hanya menghela napas panjang, kali ini sedikit lebih dalam dari biasanya.

“Kamu gak kekurangan apapun.”

Mata Kanaya menyipit—setengah fokus, setengah berputar karena alkohol.

“Bohong...” tuduhnya.

“Bapak pasti bohong, kan? Bapak aja kelihatan gak suka sama saya. Kalian pasti satu selera.”

Sagara menaikkan alis sedikit, bukan marah—hanya seperti sedang mengukur betapa mabuknya gadis itu.

“Ya. Kita memang satu selera,” jawabnya pelan. “Apalagi dalam memilih perempuan.”

Kanaya langsung terbelalak. Dia mendorong Sagara secara refleks, membuat pria itu sedikit terdorong ke sandaran sofa.

Kanaya bangkit berdiri, kini tepat di depan Sagara, tubuhnya limbung namun matanya penuh emosi bercampur amarah.

“Jadi... Bapak juga suka sama Sonia?” tuntut Kanaya, napasnya memburu, wajahnya merah karena alkohol dan luka yang membusuk di dalam dada.

Kanaya mulai melucuti pakaiannya, menyisakan pakaian dalam nya saja. Tubuh indahnya, setiap lekukannya terpampang jelas di hadapan Sagara.

“Kalau gini— masih bagusan Sonia, ya?” tanya Kanaya berdiri dengan sedikit sempoyongan.

Sagara masih duduk dan mendongak menatap wajah Kanaya. “Kenapa kamu membandingkan diri kamu sama sonia?”  Tanya Sagara.

“Buktinya, Gavin sama bapak suka kan sama Sonia, bapak bilang kalian punya selera yang sama.” Ucap Kanaya.

Sagara terkekeh. Matanya dialihkan ke tempat lain seraya menyeruput satu tegukan.

Kanaya mengunci pandangannya ke arah Sagara. Dengan keberanian yang diberikan oleh alkohol yang masuk ke tubuhnya. “Kata Gavin, saya gak bisa disentuh.”

Kanaya duduk dipangkuan Sagara. Lelaki itu otomatis memegang pinggang Kanaya. “Memangnya aku sebaik itu?”

“Kamu mabuk, Naya...” Ucap Sagara.

“Saya– saya udah gamau lagi jadi anak baik.”

Ia kemudian meraba bagian dadanya sesaat kemeja atas Sagara dilepas satu per satu. “Coba pak. Menurut bapak, saya gak menarik juga, ya?”

“Tapi bapak keras pak...” imbuhnya saat pergelangan tangannya turun ke bawah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Please Me, Dear Boss   Bab 10 kiss you again

    “Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken

  • Please Me, Dear Boss   Bab 10 Izinkan saya bertanggungjawab

    Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim

  • Please Me, Dear Boss   Bab 9 Kiriman misterius

    Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be

  • Please Me, Dear Boss   Bab 8 Tidak bisa jujur

    Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul

  • Please Me, Dear Boss   Bab 7 Pulang

    Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,

  • Please Me, Dear Boss   Bab 6 Susah menghindari

    “Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status