Share

Bab 4

Author: Lyrik wish
last update Last Updated: 2025-12-11 16:55:12

Kanaya terbangun dengan kepala berat—seolah ada barbel satu kilogram yang dijatuhkan tepat di atas tengkoraknya. Kelopak matanya terasa lengket, tubuhnya nyeri dari ujung kaki sampai bahu, seperti habis dilindas semalam.

“Ah… sakit...” gumamnya, suara serak.

Refleks ia melirik ke sisi kanan tempat tidur. Sagara tidak ada. Yang tertinggal hanyalah sprei berantakan dan noda samar darah yang mengering, saksi bisu betapa kacau dan intensnya malam mereka.

Kanaya menutup wajah dengan kedua tangan.

“Okay, Naya... sekarang kamu dalam masalah besar...” gumamnya pada diri sendiri, napasnya menggantung.

Ia memejamkan mata, mengingat potongan-potongan malam yang serba kabur.

“Kamu bukan cuma tidur sama sahabat tunangan kamu...tapi dia juga atasan kamu di kantor...” lanjutnya lirih, seakan mengulang dosa.

Ia meraih kertas itu.

[Dimakan sarapannya. Kamu bisa libur hari ini, tidak perlu ke kantor. Besok saya tunggu di kantor.]

Kanaya memejamkan mata lebih lama. Tangannya meremas kertas itu sampai kusut. Siangnya, ia mampir sebentar ke apotek dekat apartemennya.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca mobil—mata sembab, wajah pucat, dan tubuh yang masih terasa letih. Dengan gerakan cepat, ia meraih masker hitam, mengenakannya, lalu memasang kacamata gelap.

Setelah itu ia menutup kepalanya dengan hoodie, menyembunyikan hampir seluruh wajahnya.

Dengan napas panjang, ia melangkah masuk.

Begitu pintu apotek terbuka, aroma antiseptik langsung menusuk hidungnya. Ia mendekat ke meja kasir.

“Mbak, emergency pills satu ya,” ucap Kanaya singkat, suaranya nyaris bergetar namun ia tutupi.

Petugas apotek hanya mengangguk. Ia berbalik, mengambil kotak kecil berwarna putih-biru dari rak obat di belakangnya. 

Setibanya di apartemen, Kanaya baru benar-benar bisa menarik napas lega. Ia menutup pintu, bersandar sejenak, lalu melepas masker, kacamata, dan hoodie dengan gerakan terburu-buru.

Wajahnya tampak lelah sekaligus tegang—beban pikiran menumpuk seperti batu di dadanya.

Ia membuka kotak emergency pills itu, mengambil blister kecilnya.

Baru saja ia hendak menelan pil itu—

Klik.

Pintu apartemennya terbuka dari luar.

“Sayang.” Suara Gavin memenuhi ruang tamu.

Kanaya menegang.

Ia menatap pil itu, lalu ke arah pintu. Pelan-pelan ia memejamkan mata. Ia tak buru-buru mengganti passcode.

Pil itu ia letakkan begitu saja di meja.

Dengan langkah berat, ia meninggalkan dapur dan menghampiri Gavin yang baru masuk dengan senyum lega, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Mau apa kamu ke sini?” tanya Kanaya dengan nada datar.

Gavin langsung mendekat, membuka tangannya seakan ingin memeluknya.

“Sayang... aku cuma—”

Namun Kanaya menahan dadanya dengan telapak tangan. “Pergi kamu.”

“Kita udah sejauh ini, Nay... kita udah tunangan.”

Wajah Kanaya mengeras.  Kanaya menyeringai getir, menahan emosi di tenggorokan. Ia mengangkat telapaknya tepat di depan wajah Gavin, meminta dia diam.

“Sonia nggak sedeket itu sama kamu, Gavin. Dia bukan tipe cewek yang tiba-tiba ada di apartemen kamu—kecuali memang kalian udah lama ngelakuinnya.”

Gavin terdiam, tatapannya goyah.

Kanaya menarik napas panjang, mencoba menahan suaranya agar tidak pecah. 

Tanpa memberi kesempatan bagi Gavin bicara, Kanaya mendorong tubuh laki-laki itu mundur sampai ke ambang pintu. Gavin sempat menahan, tapi dia tahu... Ini bukan waktu yang tepat untuk membuat Kanaya lebih kesal dari sekarang. 

Pintu tertutup keras.

Dan ia langsung memutar kunci.

Gavin masih berteriak—memanggil namanya, memohon.

Kanaya memejamkan mata, menahan air mata yang akhirnya jatuh juga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Please Me, Dear Boss   Bab 10 kiss you again

    “Saya bisa menikahi kamu.”Deg.Seakan seluruh udara di ruangan itu tersedot habis. Kanaya terpaku. Kata-kata itu menggantung di antara mereka, berat dan mengejutkan.Menikah.Bukan sekadar janji kosong. Bukan pula ucapan spontan tanpa pikir panjang.Kanaya menatap Sagara dengan mata membesar, dadanya naik turun tidak beraturan. Ada keterkejutan, ketakutan, juga kebingungan yang bercampur menjadi satu.Ia tidak menyangka... Bahwa pembicaraan ini akan berujung sejauh itu.“Pak... tidak usah sampai seperti itu,” ucap Kanaya lirih. “Saya... saya tidak mungkin menikah dengan Bapak.”“Kenapa tidak?” tanya Sagara.Nada suaranya rendah, namun terdengar menekan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Terlalu dekat. Punggung Kanaya langsung menyentuh tepi meja kerjanya sendiri, membuat ruang geraknya habis.Aroma parfum Sagara menyergap indra penciumannya—hangat, maskulin, dan terlalu familiar. Ingatan Kanaya seketika melayang pada aroma yang sama, aroma yang semalam membuatnya kehilangan ken

  • Please Me, Dear Boss   Bab 10 Izinkan saya bertanggungjawab

    Waktu terus bergulir tanpa terasa.Kanaya masih duduk di kubikelnya, menyelesaikan pekerjaan yang sejak siang tadi perlahan mulai berkurang. Beberapa laporan sudah ia kirim, beberapa lagi tinggal dirapikan. Pandangannya sempat melirik jam di pojok layar komputer.Hampir jam pulang.Belum sempat ia menghela napas lega, langkah kaki mendekat. Pak Dani, supervisor mereka, berhenti di depan kubikel Kanaya dan Sheila.“Nay, Sheil,” panggilnya. “Kalian bisa over time, ya? Ini masih ada laporan yang belum kesusu. Saya nggak bisa ngerjain sekarang, harus ke rumah sakit. Urgent.”Sheila langsung berdiri, ekspresinya sedikit kikuk.“Pak, saya nggak bisa sekarang,” ucapnya cepat. “Saya udah ada janji.”Sheila melirik ke arah Kanaya, seolah meminta pengertian. Kanaya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.“Ya udah, Pak,” ujar Kanaya akhirnya. “Biar saya aja yang ngerjain.”Pak Dani terlihat lega. Ia menyerahkan setumpuk berkas ke tangan Kanaya.“Thanks, Nay. Kalau udah selesai, tolong kirim

  • Please Me, Dear Boss   Bab 9 Kiriman misterius

    Pukul satu dini hari. Lift apartemen berhenti dengan bunyi ding pelan. Kanaya melangkah keluar dengan langkah lelah. Bahunya sedikit turun, matanya sembab, tubuhnya terasa berat setelah perjalanan panjang dari Bogor kembali ke Jakarta. Koridor apartemen tampak lengang dan sunyi. Lampu-lampu temaram memantulkan bayangan langkahnya di lantai marmer. Saat Kanaya mendekati unit apartemennya, langkahnya mendadak terhenti. Di depan pintu, tergeletak sebuah keranjang buah yang tertata rapi. Di sampingnya, ada sebuah paper bag kecil berwarna putih. Kanaya mengernyit. “What?” gumamnya pelan. “Dari siapa ini, ya...” Ia menoleh sekilas ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tak ada siapa pun. Dengan tubuh yang sudah lemas, Kanaya membungkuk perlahan dan mengangkat keranjang buah itu. Tidak berat, tapi cukup membuat lengannya pegal. Ia membuka pintu unitnya, lalu masuk dan menyalakan lampu. Apartemen itu terasa sunyi, dingin, dan kosong—kontras dengan rumah orang tuanya yang hangat be

  • Please Me, Dear Boss   Bab 8 Tidak bisa jujur

    Kanaya baru saja menuruni tangga setelah berganti pakaian di kamarnya. Rambutnya masih setengah lembap, kaus rumah sederhana menggantikan pakaian kerjanya. Begitu sampai di ruang makan, ia melihat ayah dan adiknya sudah duduk di sana. “Eh, Papa sama Dimas udah pulang?” sapa Kanaya. Irwan menoleh, wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus senang. “Loh, Kakak di sini?” tanyanya. Kanaya tersenyum, lalu menghampiri ayahnya dan langsung memeluknya erat. “Kangen. Jadi mampir sebentar,” ucapnya lembut. “Nanti maleman balik ke Jakarta.” Irwan mengusap punggung Kanaya pelan. “Hm... nginep aja, Kak. Yah, besok siang baru kamu balik,” ujarnya mencoba membujuk. “Naya belum libur, Pah,” sahut Kanaya sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menarik kursi di meja makan dan duduk di sebelah adiknya, Dimas, yang terlihat sangat fokus menatap layar ponsel, jari-jarinya lincah menekan layar permainan Mobile Legends. “Dek,” panggil Kanaya. “Kamu main game terus. Udah dapet belum kampus buat kul

  • Please Me, Dear Boss   Bab 7 Pulang

    Kanaya melajukan mobilnya masuk ke jalur tol. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. “Gila ya... Gavin maunya apa sih?” gumam Kanaya, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu aja selalu kayak nggak ada effort. Nggak pernah inisiatif buat nemuin aku, apalagi bahas masa depan. Kenapa sekarang malah kayak gini?” Napasnya terdengar berat. “Harusnya dia seneng dong. Hubungan kita udah selesai, dan dia bebas mau sama cewek manapun, harusnya udah nggak ada urusan lagi sama aku.” Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan menjelang malam. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, menemani pikiran Kanaya yang terus berputar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Ia menghabiskan masa remajanya, tumbuh menjadi dewasa, dengan satu nama yang sama, Gavin. Hampir satu jam kemudian, mobil Kanaya memasuki kawasan perumahan tempat orang tuanya tinggal. Kompleks itu terasa familiar dan menenangkan,

  • Please Me, Dear Boss   Bab 6 Susah menghindari

    “Saya lihat kamu jalan seperti menahan sakit. Kemungkinan saya lupa kalau saya terlalu keras tadi malam.”“Paaak!!!” seru Kanaya spontan, wajahnya langsung merah padam. Ia tahu persis arah pembicaraan Sagara. Ia ingat baik-baik apa yang terjadi malam itu—dan nyeri yang masih terasa pagi tadi. “Saya... permisi dulu, Pak. Terima kasih obatnya.” ucap Kanaya terbata-bata, buru-buru menunduk sopan lalu kabur keluar dari ruangan seperti dikejar. Begitu pintu tertutup, Sagara menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali kalau kamu sedang salah tingkah seperti itu, Naya...” gumamnya sambil mengibas pelan berkas di tangannya. Sementara itu, di luar ruangan, Kanaya menatap plastik obat di tangannya sambil menggerutu pelan. “Astaga, bisa-bisanya dia bahas masalah itu... bikin tambah malu aja...” omelnya sambil berjalan cepat kembali ke kubikelnya, wajahnya masih panas karena malu sendiri. ••• Setelah seharian merasa gagal total menjalankan misi menghindari Sagara, akhirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status