MasukTawa pelan nan menggoda tiba-tiba meluncur dari bibir merah Laras, menyadari ketegangan menantunya yang mematung.
"Astaga, Tom. Kamu tegang banget. Mama cuma bercanda soal saluran yang bawah itu," kekehnya pelan, menarik jemarinya dari paha Tommy dengan usapan sensual yang disengaja. "Tapi kalau wastafel di kamar mandi Mama, itu beneran mampet. Yuk, bantu Mama perbaiki di atas." Tommy menghela napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantung dan hawa panas di pangkal pahanya akibat candaan nakal sang mertua. Pria itu bergegas mengambil kotak perkakasnya yang tertinggal, lalu mengekor patuh di belakang langkah anggun Laras menaiki tangga. Di dalam kamar mandi utama yang luas, Tommy langsung berjongkok di kolong wastafel. "Saya perbaiki dulu ya, Ma," ucapnya mulai sibuk membongkar peralatan. "Iya, Tom." Laras tersenyum. Alih-alih menunggu di luar, dia menutup rapat pintu kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Tommy yang membelakanginya, Laras menanggalkan baju tidur satinnya di lantai, menggantinya dengan jubah mandi sutra yang sengaja diikat longgar. Dia melangkah mendekat, memperhatikan Tommy yang sedang sibuk memutar mur pipa. "Ma, ini selangnya sepertinya baik-baik saja, nggak mampet," ucap Tommy sambil mendongak. "Ih, tadi mampet kok, Tom. Coba deh kamu cek lagi," ucap Laras yang mendadak manja. "Iya, Ma. Saya cek lebih dalam dulu ya." Laras agak membungkuk, mengelus pundak kokoh pria itu yang tampak sekal. Lengan besarnya menjuntai sampai kepalan tangan yang sibuk memegang alat. Aroma jantan dari keringat yang menguar di balik ketiak Tommy membangkitkan naluri kewanitaannya semakin menjadi-jadi. Wajah Laras sedari tadi memerah. Ia semakin merapat, berjongkok tepat di sebelah Tommy hingga ujung jubah sutranya menyingkap, memamerkan paha matangnya yang mulus. "Tom, kamu tahu nggak? Semenjak Papa Rina meninggal, Mama sering merasa... kesepian," bisik Laras parau. Tangan lentiknya tak lagi hanya di pundak, melainkan merayap turun dengan berani menyusuri dada bidang Tommy yang berpeluh. Tommy menelan ludah, jakunnya naik turun. Gesekan gundukan kembar mengkal Laras yang menjiplak dari balik sutra tipis itu kini terang-terangan menempel menekan lengan besarnya. Wanita di hadapannya ini menatapnya dengan mata sayu nan lapar, bibirnya sedikit terbuka, seakan sudah pasrah dan siap sedia untuk digagahi malam itu juga. "Ma... ini... pipanya sudah bener," ucap Tommy terbata-bata. Pikirannya kacau balau antara menahan kewarasan dan desakan gairah di balik celananya yang tak dapat lagi ia tahan. "Masa sih sudah bener? Tapi kok di sini rasanya makin penuh dan panas, Tom?" bisik Laras pelan. Tommy gelagapan, keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Badannya mendadak kaku, tapi kejantanannya di bawah sana malah mengkhianatinya dengan menegang perlahan. Jelas saja ia tak tahan, Semangka besar dan matang mertuanya itu benar-benar menempel pas di lengannya, menguar aroma mawar yang bikin pusing kepala. Tapi mau bagaimana pun, wanita berisi di sebelahnya ini adalah ibu tiri istrinya! "Eh... a-anu, Ma. Jangan mepet-mepet begini, Ma. Nanti kunci inggrisnya kepentok lutut Mama," ucap Tommy salah tingkah. Tangannya yang besar dan kasar berusaha menggeser lutut Laras secara halus, tapi justru tampak ragu-ragu dan tak bertenaga untuk menepisnya. Laras malah terkekeh pelan. Hembusan napasnya sengaja diarahkan ke tengkuk Tommy, membuat bulu roma pria itu meremang. "Nggak apa-apa kepentok. Asal bukan 'kunci' kamu yang lain yang salah masuk saluran, Tom. Lagian... kamu kok sampai keringetan banget sih benerin ginian doang?" "Waduh, Ma... hawanya emang gerah. Lagian saya ini bau lho, Ma. Cuma mandi air doang tadi tanpa sabun. Nanti kulit Mama yang wangi malah gatal-gatal kena keringat saya," tolak Tommy lagi, mencoba mencari alasan paling masuk akal sambil memundurkan pantatnya sampai mentok ke tembok di bawah wastafel. "Masa sih bau?" Laras justru mencondongkan tubuhnya, ujung hidungnya dengan berani menyentuh bahu telanjang pria itu dan menghirupnya dalam-dalam. "Wangi kok. Wangi laki-laki yang capek kerja. Rina itu aja yang nggak ngerti cara menghargai keringat suaminya. Kalau Mama sih... malah suka wangi jantan yang alami begini. Bikin betah." Tommy menelan ludah kasar. Jakunnya naik turun dengan cepat. Gesekan dua semangka besar dari balik sutra tipis itu sungguh menyiksa akal sehatnya. "Tapi, Ma... ini kan rumah Rina. Kita ini mertua dan menantu. Kalau sampai ketahuan Rina, bisa dikuliti saya hidup-hidup jadi keset depan pintu." "Rina kan lagi tidur pulas di kamarnya, Tom. Dia nggak bakal tahu dan dari dulu juga dia nggak pernah peduli sama kamu," bisik Laras dengan suara serak basah. Matanya menatap lekat bibir tebal Tommy, sementara tangannya menyusup perlahan, mengusap perut keras pria itu, sebelum akhirnya turun lebih dalam… "Daripada kamu kedinginan diusir tidur di pos... mending di sini. Mama bisa bantu ngeberesin yang masih 'tersumbat' di bawah sini..."Tommy berdiri di depan apartemen Laras. Dia ragu hendak mengetuk pintu. Namun saat akan mengetuk pintu, ekor matanya menangkap langkah kaki yang mendekatinya. “Eh, Tommy. Sudah sampai. Ini ya berkas Mama?” Tommy menoleh. Terlihat wanita paruh baya itu tersenyum cerah melihat kedatangannya. Dia menggunakan pakaian kantor formal dengan celana kain panjang. Beda hari biasanya pakai rok yang tingginya di atas lutut. “Iya, Ma. Ini." Tommy menyerahkan map coklat itu. Kemudian buru-buru mau pamit. “Ma, saya pulang dulu ya.” “Kenapa buru-buru, Tom? Temani Mama di dalam sebentar saja.” “Enggak, bisa. Ma. Mau buru-buru pulang.” “Kamu kok sepertinya menghindar dari mama. Kenapa?” Tommy mengalihkan pandangan. Tatapan mata Laras. Bukan tatapan mata penuh nafsu yang masih bisa elak. Tapi tatapan mata seorang wanita yang butuh dimanja, diperhatikan. Membuat Tommy sulit mengelak. “Enggak, Ma.” “Ya, udah. Ayo masuk.” Laras mengambil kartu dari sakunya. Men-tap pintu. Kemudian membukanya.
Setelah membentak Tommy, Siska dan Maya menggeser duduknya, memberi ruang buat Eca. Eca duduk di tengah-tengah mereka.“Kamu kasar banget sama kakak iparmu,” tutur Siska.“Iya, gak boleh gitu,” timpal Maya.“Apaan sih kalian! Mentang-mentang dia jadi bahan gibahan kalian se-kos, kalian sok belain dia!”“Jangan marah-marah dong, Cantik!”“Iya, ih, baperan.”“Ini aku jadi cerita apa enggak?” tandas Eca.“Iya, jadi dong.”“Aw.”Eca merintih saat ingin merapatkan kakinya. Siska dan Maya khawatir.“Kenapa, Eca? Masih perih ya?”“Iya, padahal semalam waktu basah gak perih. Baru terasa pagi tadi.”Tommy yang masih di dapur ujung pura-pura membersihkan wastafel sambil menguping.“Duh, pasti kamu dapat yang gede ya. Kok bisa sih? Aku aja gak pernah lho sampai merasa kesakitan begini, apalagi jalan ngangkang,” ungkap Maya.“Ya jelas lah itu. Pas masuk jleb gitu ya, kayak kesumpal benda gede,” Siska tak kalah antusias.“Hehe, memangnya kayak pacarmu, Siska, anak mami. Kerasanya aja enggak.”“Iya
Tommy membuka pintu. Laras melihat Tommy yang agak kacau. Berkeringat rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga seperti dipakai dengan buru-buru. "Kamu habis ngapain, Tommy." Laras menyelidik. Tommy tergeragap. Laras merasa aneh. Dengan tidak sabaran dia mendorong pintu itu dan melihat seisi kamar. Dahinya berkerut. "Kenapa, Ma?" Laras mengedarkan pandangan. Tidak ada yang aneh. Hanya dipan yang usang. Lantai yang bersih. Tommy tersenyum kaku, supaya terlihat tidak gugup. "Kamu habis ngapain sih, Tommy! Kamu kayak bawa seseorang di sini." "Gak ngapa-ngapain, Ma. Saya sendiri kok. Saya agak kurang enak badan saja. Tadi diare di kamar mandi gak selesai-selesai." Laras memandang wajah Tommy yang pucat. "Ih, ya sudah. Jangan lupa minum obat. Di kotak P3K di dapur ada. Ambil saja." "Tapi, saya gak dibolehin ke dapur sama Rina, Ma." "Gak papa, bilang saja disuruh Mama." "Iya, Ma." "Kamu bikin nafsu mama ilang saja, kamu bilang habis diare." Laras keluar pos. Tepat bersamaan deng
"Kalau telpon saja gimana. Kamu mendesah pelan saja. Temani mama sampai keluar." "Hah?""Gimana, Tom? Gak mau ya? Tega ya kamu biarin mama tersiksa sendiri?" Tommy melihat ke Eca, gadis itu menunjukan wajah paling sensual. Yang artinya setiap sentuhan. Penyatuan yang dilakukan Tommy membuat Eca melayang. Tommy sekuat tenaga menahan suaranya yang ingin mengerang kenikmatan. Tidak ingin Laras curiga. "Bukan begitu, Ma. Tapi, saya tidak pernah begituan." "Gampang, kamu tinggal mendesah saja. Keluarkan suara bass mu yang seksi itu, sayang. Terus nanti ikuti kata mama." "Iya, Ma." "Sebentar, Mama ambil posisi dulu ya." Mendengar perkataan Laras, Tommy menurunkan ponselnya. Kedua tangannya sekarang tegak mengungkung. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghentak lagi. Plek..Plek.. Plek. Suara hantaman itu terdengar. Deru nafas. Desisan halus. Eca merangkulkan tangannya ke leher beton Tommy. Dia mengangkat kepalanya. memajukan bibirnya. Melihat itu, Tommy hendak menyambar. Tapi
Tommy meludahi tangannya. Meratakan bagian bawah Eca yang nampak indah. Berair dan tentu masih sangat sempit. Tommy diliputi rasa was-was. "Jorok banget kamu, Mas. Masa Pakai ludah." "Supaya lebih licin, Eca. Supaya lebih mudah masuknya." "Tapi gak usah pakai ludah, Mas. Lidahmu bau! Dulu mantanku gak pernah kayak gitu. Pas masukin langsung Pas." "Langsung pas? Berarti punya mantan kamu kecil. Karena punyamu kecil, Eca." Eca tersadar. Apa yang dikatakan Tommy ada benarnya juga. "Sebentar ya, Eca. Mas masih sayang dengan milikmu ini. Tapi nanti dimasukin. Jangan khawatir." Eca tidak menjawab. Dia hanya merintih. Pria itu mengelus, memasukan, memainkan jempolnya. Tampak santai dan telaten sekali. Tapi terasa sekali. "Mas, sudah jangan dimainin! Kamu niat gak sih!" Wajah Eca merah padam tapi tampak sayu. Seolah emosinya menutupi rasa ingin diperlakukan lebih. "Eca, sebentar. Punya kamu itu masih sempit kalau dipaksa sekarang. Nanti kamu kesakitan. Mas gak mau
Eca menurunkan celana Tommy dengan sangat cekatan, seolah-olah sudah sering melakukannya. Dia agak meringis melepas pakaian dalam Tommy yang agak bolong-bolong.“Haduh, celana dalam rusak begini, kok masih dipakai? Modal sedikitlah jadi cowok.”Tommy tidak menggubris. Perkataan pedas Eca hanya dianggap angin lalu. Di kepalanya sudah terngiang ‘mentok tenggorokan’ yang dimaksud oleh Eca. Membayangkan sensasinya, Tommy senyum-senyum sendiri.“Astaga! Apa ini? Kenapa sebesar ini?”Gadis yang sedang jongkok di antara dua pahanya itu tampak terkejut. Terakhir ketika dia memergoki Tommy memainkan miliknya itu, belum terlalu tegang sempurna. Tapi apa yang dilihat Eca sekarang justru membuat Eca merasa ngeri.“Enggak besar kok, Eca. Ayo, Eca, Mas sudah enggak tahan.”Tommy mengerang setengah memohon. Melihat miliknya yang akan menyentuh bibir ranum membuat Tommy tidak keruan.Gadis itu tidak menjawab. Matanya masih takjub melihat keperkasaan yang begitu tegak.“Tunggu apa lagi, Eca?”Eca mend







