Share

Bab 2

Author: Saga
last update publish date: 2026-09-01 15:32:55

Tawa pelan nan menggoda tiba-tiba meluncur dari bibir merah Laras, menyadari ketegangan menantunya yang mematung.

"Astaga, Tom. Kamu tegang banget. Mama cuma bercanda soal saluran yang bawah itu," kekehnya pelan, menarik jemarinya dari paha Tommy dengan usapan sensual yang disengaja.

"Tapi kalau wastafel di kamar mandi Mama, itu beneran mampet. Yuk, bantu Mama perbaiki di atas."

Tommy menghela napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantung dan hawa panas di pangkal pahanya akibat candaan nakal sang mertua. Pria itu bergegas mengambil kotak perkakasnya yang tertinggal, lalu mengekor patuh di belakang langkah anggun Laras menaiki tangga.

Di dalam kamar mandi utama yang luas, Tommy langsung berjongkok di kolong wastafel. "Saya perbaiki dulu ya, Ma," ucapnya mulai sibuk membongkar peralatan.

"Iya, Tom."

Laras tersenyum. Alih-alih menunggu di luar, dia menutup rapat pintu kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Tommy yang membelakanginya, Laras menanggalkan baju tidur satinnya di lantai, menggantinya dengan jubah mandi sutra yang sengaja diikat longgar. Dia melangkah mendekat, memperhatikan Tommy yang sedang sibuk memutar mur pipa.

"Ma, ini selangnya sepertinya baik-baik saja, nggak mampet," ucap Tommy sambil mendongak.

"Ih, tadi mampet kok, Tom. Coba deh kamu cek lagi," ucap Laras yang mendadak manja.

"Iya, Ma. Saya cek lebih dalam dulu ya."

Laras agak membungkuk, mengelus pundak kokoh pria itu yang tampak sekal. Lengan besarnya menjuntai sampai kepalan tangan yang sibuk memegang alat.

Aroma jantan dari keringat yang menguar di balik ketiak Tommy membangkitkan naluri kewanitaannya semakin menjadi-jadi.

Wajah Laras sedari tadi memerah. Ia semakin merapat, berjongkok tepat di sebelah Tommy hingga ujung jubah sutranya menyingkap, memamerkan paha matangnya yang mulus.

"Tom, kamu tahu nggak? Semenjak Papa Rina meninggal, Mama sering merasa... kesepian," bisik Laras parau.

Tangan lentiknya tak lagi hanya di pundak, melainkan merayap turun dengan berani menyusuri dada bidang Tommy yang berpeluh.

Tommy menelan ludah, jakunnya naik turun. Gesekan gundukan kembar mengkal Laras yang menjiplak dari balik sutra tipis itu kini terang-terangan menempel menekan lengan besarnya.

Wanita di hadapannya ini menatapnya dengan mata sayu nan lapar, bibirnya sedikit terbuka, seakan sudah pasrah dan siap sedia untuk digagahi malam itu juga.

"Ma... ini... pipanya sudah bener," ucap Tommy terbata-bata. Pikirannya kacau balau antara menahan kewarasan dan desakan gairah di balik celananya yang tak dapat lagi ia tahan.

"Masa sih sudah bener? Tapi kok di sini rasanya makin penuh dan panas, Tom?" bisik Laras pelan.

Tommy gelagapan, keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Badannya mendadak kaku, tapi kejantanannya di bawah sana malah mengkhianatinya dengan menegang perlahan.

Jelas saja ia tak tahan, Semangka besar dan matang mertuanya itu benar-benar menempel pas di lengannya, menguar aroma mawar yang bikin pusing kepala. Tapi mau bagaimana pun, wanita berisi di sebelahnya ini adalah ibu tiri istrinya!

"Eh... a-anu, Ma. Jangan mepet-mepet begini, Ma. Nanti kunci inggrisnya kepentok lutut Mama," ucap Tommy salah tingkah.

Tangannya yang besar dan kasar berusaha menggeser lutut Laras secara halus, tapi justru tampak ragu-ragu dan tak bertenaga untuk menepisnya.

Laras malah terkekeh pelan. Hembusan napasnya sengaja diarahkan ke tengkuk Tommy, membuat bulu roma pria itu meremang.

"Nggak apa-apa kepentok. Asal bukan 'kunci' kamu yang lain yang salah masuk saluran, Tom. Lagian... kamu kok sampai keringetan banget sih benerin ginian doang?"

"Waduh, Ma... hawanya emang gerah. Lagian saya ini bau lho, Ma. Cuma mandi air doang tadi tanpa sabun. Nanti kulit Mama yang wangi malah gatal-gatal kena keringat saya," tolak Tommy lagi, mencoba mencari alasan paling masuk akal sambil memundurkan pantatnya sampai mentok ke tembok di bawah wastafel.

"Masa sih bau?" Laras justru mencondongkan tubuhnya, ujung hidungnya dengan berani menyentuh bahu telanjang pria itu dan menghirupnya dalam-dalam.

"Wangi kok. Wangi laki-laki yang capek kerja. Rina itu aja yang nggak ngerti cara menghargai keringat suaminya. Kalau Mama sih... malah suka wangi jantan yang alami begini. Bikin betah."

Tommy menelan ludah kasar. Jakunnya naik turun dengan cepat. Gesekan dua semangka besar dari balik sutra tipis itu sungguh menyiksa akal sehatnya.

"Tapi, Ma... ini kan rumah Rina. Kita ini mertua dan menantu. Kalau sampai ketahuan Rina, bisa dikuliti saya hidup-hidup jadi keset depan pintu."

"Rina kan lagi tidur pulas di kamarnya, Tom. Dia nggak bakal tahu dan dari dulu juga dia nggak pernah peduli sama kamu," bisik Laras dengan suara serak basah.

Matanya menatap lekat bibir tebal Tommy, sementara tangannya menyusup perlahan, mengusap perut keras pria itu, sebelum akhirnya turun lebih dalam…

"Daripada kamu kedinginan diusir tidur di pos... mending di sini. Mama bisa bantu ngeberesin yang masih 'tersumbat' di bawah sini..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 7

    "Besar banget, Tom," gumam Laras dengan mata membulat takjub, jemarinya sengaja mengurut pelan. "Mama tahu kamu nahan ini dari semalam. Sayang banget kalau barang sekeras ini disia-siain sama Rina."Napas Tommy tersengal. Hawa panas dari tubuh Laras di atas pangkuannya benar-benar membakar akal sehatnya. Kedua tangan besarnya kini refleks mencengkeram pinggang polos ibu mertuanya itu.Laras sedikit mengangkat pinggulnya. Ia menuntun ujung kejantanan Tommy, menempelkannya tepat di bibir inti tubuhnya yang sudah basah kuyup."Masukin, Tom," desak Laras, suaranya bergetar menahan gairah. "Bikin Mama gila malam ini.""Maafin saya, Ma..." desah Tommy parau. Insting liarnya mengambil alih. Pria itu menekan pinggang Laras agar turun.Laras memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Dengan napas tertahan, wanita itu pinggulnya mulai bergerak perlahan…Tommy menyibak daster bagian bawah sampai terlihat jelas sumur yang dirimbuni semak belukar itu terawat dan tercukur dengan rapi. Sementara Lara

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 6

    (Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati) 'Beneran mati lampunya, atau ini cuma akal-akalan mama kayak semalam?' Tommy meletakan ponselnya di laci. Dia tidak segera bergegas ke kamar mama mertuanya. Dia pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil Rina dan memanasinya. Tak berapa lama, Rina keluar dengan pakaian kantor. Sambil berjalan dia sibuk menelpon seseorang sambil memeriksa berkas di tangannya. Tommy segera keluar dari mobil. Rina masuk mobil tanpa menganggap Tommy. Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah. Setelah memastikan mobil pergi. Dia menoleh ke arah kamar mama mertua. Kordennya masih tertutup. Tapi angin-anginnya gelap. "Beneran mati kayaknya lampunya." Tommy mengambil lampu cadangan dan tangga. Berjalan menuju kamar mamanya. Tok...tok...tok.. "Masuk saja." Tommy membuka pintu perlahan. Kamar mamanya tampak gelap. "Ma." "Iya, Tom." "Kok gelap-gelapan, Ma." Tommy meraba dinding. Menyalakan saklar. Byar! Terlihat mamanya pakai baju tidur

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 5

    Sis…” panggil Maya, sementara jarinya menyentuh benda tegak dan tebal itu, mengikuti pikiran intrusifnya, “Beneran gede banget ya…”'Aduh! Sial! Kenapa bisa robek segala saat lagi tegang-tegangnya begini.' "A...c-nya sudah beres, Mbak. S-saya mau balik dulu." Tommy buru-buru membereskan peralatan dan melipat tangga. Saat Siska mendekat menggamit lengan besar dan hitam Tommy dengan mengucapkan kata kata manja. "Kenapa buru-buru balik sih, Mas. Masuk dulu yuk ke kos. Emang gak butuh bantuan? 'adiknya' udah keras banget kayaknya tadi kami lihat." Tommy yang hendak melipat tangga tertahan oleh Siska. Entah kenapa dia tidak segera menarik tangannya seolah benda empuk menempel. aroma tubuh, tercium kuat menggugah kelaki-lakian ya. "Iya, Mas. Gak mampir sebentar saja. Gak usah khawatir anak kos lain lagi keluar semua. Orang-orang yang di rumah juga sudah tidur kan."Maya berdiri di hadapannya. Tangan wanita itu memegang bulu bulu menggoda yang tumbuh antara perut menuju pangkal paha. Wa

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 4

    "Eca, " Suara Tommy tercekat. Pikirannya tidak karuan sampai-sampai dia lupa mengunci pintu kamar mandi. Dan sekarang wajahnya merah menahan malu saat 'aktivitas' diketahui adik iparnya sendiri.Eca terkesiap mundur, kedua tangannya refleks menutup mulut rapat-rapat, menahan jeritan yang nyaris keluar dari mulutnya. Wajah gadis itu seketika memerah padam. Matanya yang membulat sempurna tak bisa lepas dari pusaka Tommy yang mencuat tegap, tebal, dan berukuran tak masuk akal di depan matanya.Pandangan Eca masih terkunci di bagian bawah yang besar menggantung itu. Buru-buru, Tommy menarik celana pendeknya dari lantai, memakainya asal-asalan tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya yang sudah terlanjur kotor tertumpuk.Tommy merentangkan tangannya hendak menutup pintu. Tapi tiba-tiba Eca menahannya. Pintu kembali terbuka lebar."Tutup pintunya Eca, saya mau mandi."Pandangan Eca beralih menatap wajah Tommy yang sangar tapi tampak salah tingkah dan malu."Kurang ajar ya kamu," desis Eca

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 3

    "Kak Rina ngapain nguping kamar Mama?"Tommy terperanjat. Pria itu menoleh ke arah pintu. Sementara bibir Laras yang hampir menyentuh bibir Tommy seketika menjauh. Raut wajah Laras berubah jengkel."Itu suara Eca, Ma.""Ck! Anak itu ganggu saja kita berduaan."Wanita itu berdiri, berjalan tenang menuju bathtub yang sudah diisi penuh air beraroma mawar. Begitu juga Tommy yang kembali melanjutkan pekerjaannya memperbaiki bawah wastafel.Tidak berapa lama, terdengar pintu depan terbuka disertai suara Eca yang agak melengking."Ma! Mama di mana?""Di kamar mandi, Eca!"Eca membuka pintu pelan. Ia mengernyitkan dahi, mendapati mamanya sedang berendam sementara tidak jauh dari sana ada suami kakaknya yang sibuk membetulkan wastafel."Mama apa-apaan sih! Tutup pintu kamar, padahal di dalam ada Mas Tommy. Udah gitu pakai berendam lagi."Belum sempat mamanya menjawab, pandangan Eca beralih ke daster satin yang terletak di gantungan kamar mandi, tempat di mana ia tahu mamanya paling anti meliha

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 2

    Tawa pelan nan menggoda tiba-tiba meluncur dari bibir merah Laras, menyadari ketegangan menantunya yang mematung. "Astaga, Tom. Kamu tegang banget. Mama cuma bercanda soal saluran yang bawah itu," kekehnya pelan, menarik jemarinya dari paha Tommy dengan usapan sensual yang disengaja. "Tapi kalau wastafel di kamar mandi Mama, itu beneran mampet. Yuk, bantu Mama perbaiki di atas."Tommy menghela napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantung dan hawa panas di pangkal pahanya akibat candaan nakal sang mertua. Pria itu bergegas mengambil kotak perkakasnya yang tertinggal, lalu mengekor patuh di belakang langkah anggun Laras menaiki tangga.Di dalam kamar mandi utama yang luas, Tommy langsung berjongkok di kolong wastafel. "Saya perbaiki dulu ya, Ma," ucapnya mulai sibuk membongkar peralatan."Iya, Tom."Laras tersenyum. Alih-alih menunggu di luar, dia menutup rapat pintu kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Tommy yang membelakanginya, Laras menanggalkan baju tidur satinnya di lantai, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status