LOGIN(Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati)
'Beneran mati lampunya, atau ini cuma akal-akalan mama kayak semalam?' Tommy meletakan ponselnya di laci. Dia tidak segera bergegas ke kamar mama mertuanya. Dia pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil Rina dan memanasinya. Tak berapa lama, Rina keluar dengan pakaian kantor. Sambil berjalan dia sibuk menelpon seseorang sambil memeriksa berkas di tangannya. Tommy segera keluar dari mobil. Rina masuk mobil tanpa menganggap Tommy. Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah. Setelah memastikan mobil pergi. Dia menoleh ke arah kamar mama mertua. Kordennya masih tertutup. Tapi angin-anginnya gelap. "Beneran mati kayaknya lampunya." Tommy mengambil lampu cadangan dan tangga. Berjalan menuju kamar mamanya. Tok...tok...tok.. "Masuk saja." Tommy membuka pintu perlahan. Kamar mamanya tampak gelap. "Ma." "Iya, Tom." "Kok gelap-gelapan, Ma." Tommy meraba dinding. Menyalakan saklar. Byar! Terlihat mamanya pakai baju tidur dalam posisi tengkurap menghadapnya. "Lampunya nyala gini kok, Ma." "Hehe, kamu kok gak nangkep sih kode dari mama. Kalau mama minta kamu datang. Belum tentu ada yang diperbaiki, tapi mama butuhnya kamu." Tommy agak terkesiap dengan kalimat frontal yang diucapkan mama mertuanya. Wanita matang dengan badan terawat seksi ini sengaja merobek batasan yang rugi kalau diabaikan. "Taruh tangganya di depan kamar saja. Lampunya di atas meja saja." "Iya, Ma." Tommy meletakan lampu cadangan dan keluar sebentar meletakan tangga. Dia melihat sekitar kamar sepi. Setelah itu masuk dan menutup pintu. "Kamu bisa mijat kan, Tom? Badan mama agak pegal pegal." Ucap Laras sambil memegang pundaknya. "Pijat? Tapi kan saya gak ahli mijat, Ma." "Gak papa. Pijat dikit-dikit saja. Tanganmu 'kan besar dan keras. Pasti kerasa kalau mijat." "Iya, Ma. Saya coba." Laras ambil posisi. Yang semula dia tengkurap menghadap pintu. Sekarang sebaliknya. Dia menyerahkan minyak urut kepada Tommy. Dan hal yang membuat Tommy tertegun saat mamanya menurunkan gaun tidurnya setengah badan ke bawah sampai perut. Kemudian tengkurep. Sehingga bulatan melon besar itu tampak terhimpit dengan bantal meski tertutup. 'Gila! Bisa-bisa aku khilaf kalau begini.' Tommy menuang minyak urut di tangannya. Meratakannya. Kemudian mengusap pundak mama mertuanya. "Uh, Tom." Mamanya sedikit mendongakkan kepala. Matanya terpejam. Tommy menekan dan mulai memijat perlahan. "Gimana, Ma?" "Terus, Tom. Aduh. Kalau begini mama kayaknya gak perlu ke Spa. Dipijat sama mbak-mbaknya cuma di elus-elus saja. Kalau kamu yang mijat. Kerasa banget. Tanganmu yang besar berotot itu buat mama merem melek, Tom." Tommy terus memijat meski mama mertuanya meracau tidak jelas keenakan. Pindah dari pundak kanan ke pundak kiri di mana di hadapkan dengan pemandangan setengah tanpa busana dari mama mertuanya. "Tom, tadi kenapa kamu lama banget ke sininya?" Ucap Laras dengan terengah engah. "Anu, Ma. Tadi menyiapkan mobilnya Rina. Setelah Rina Pergi, baru saya ke sini." "Ih pinter banget kamu. Kamu memastikan istrimu pergi baru ke sini. Jadi kita bisa semakin leluasa, iya 'kan?" Tommy tidak segera menanggapi. Jantungnya saja sudah berdegup tidak karuan. Badan mamanya luar biasa sintal. Kesepian dan jarang disentuh. "Ganti kaki ya, Tom." Laras merenggangkan kakinya. Tommy menelan ludah. Dia menggeser posisi dan kembali mengoleskan minyak urut di kaki mamanya. Baju tidur itu minim sekali. Sehingga paha gempal mulus itu terlihat jelas di matanya. "Jangan yang bawah, Tom. Paha atas saja. Pegal sekali di sana." Tommy membelalakan matanya. Dia tidak menampik kalau area itu adalah bagian yang membuatnya tak bisa untuk tidak menatapnya. Dia mulai menekan dan memijit. "Uh, Tom. Kok enak banget rasanya. Terus, Tom!" "Ma! Pelankan suaranya." "Habis enak, Tom. Tanganmu kekar besar. Rasanya nikmat kalau dipijat sama kamu. Terus ya Tom, agak ke atas lagi." Dengan napas memburu, tangan Tommy perlahan menggeser pijatannya melewati lutut. "Terus, Tom... di situ," erang Laras. Matanya setengah terpejam, sengaja membiarkan jari kasar menantunya itu merayap semakin dekat ke pangkal paha. Tommy menelan ludah. "M-ma... ini udah terlalu ke atas." "Kenapa? Kamu takut?" bisik Laras menantang. Tangannya tiba-tiba turun, menahan pergelangan tangan Tommy dan menekannya lebih keras ke pahanya. "Rina nggak pernah sentuh kamu begini, kan?" Tommy menggertakkan rahang. Urat di pelipisnya menonjol. "Ma, tolong... kita bisa ketahuan." "Badan besar, tapi ternyata kamu penakut ya Tom." Laras tersenyum meremehkan. Tanpa ragu, wanita matang itu bangkit. Menatap tepat di mata Tommy, Laras menarik gaun satinnya melewati kepala dan membuangnya ke lantai. Mata Tommy terpaku. Keringat dingin menetes di lehernya saat melihat tubuh mengkal Laras yang kini polos tanpa sehelai benang pun. "Nggak usah banyak mikir," desis Laras parau. Wanita itu langsung merangsek maju, mengangkangi paha kokoh Tommy. Tangan lentiknya tak membuang waktu, menyusup masuk lewat celah celana pendek Tommy yang robek dan langsung menggenggam erat pusaka pria itu. Tommy menggeram tertahan, kepalanya mendongak. "Astaga... Ma..."Tommy berdiri di depan apartemen Laras. Dia ragu hendak mengetuk pintu. Namun saat akan mengetuk pintu, ekor matanya menangkap langkah kaki yang mendekatinya. “Eh, Tommy. Sudah sampai. Ini ya berkas Mama?” Tommy menoleh. Terlihat wanita paruh baya itu tersenyum cerah melihat kedatangannya. Dia menggunakan pakaian kantor formal dengan celana kain panjang. Beda hari biasanya pakai rok yang tingginya di atas lutut. “Iya, Ma. Ini." Tommy menyerahkan map coklat itu. Kemudian buru-buru mau pamit. “Ma, saya pulang dulu ya.” “Kenapa buru-buru, Tom? Temani Mama di dalam sebentar saja.” “Enggak, bisa. Ma. Mau buru-buru pulang.” “Kamu kok sepertinya menghindar dari mama. Kenapa?” Tommy mengalihkan pandangan. Tatapan mata Laras. Bukan tatapan mata penuh nafsu yang masih bisa elak. Tapi tatapan mata seorang wanita yang butuh dimanja, diperhatikan. Membuat Tommy sulit mengelak. “Enggak, Ma.” “Ya, udah. Ayo masuk.” Laras mengambil kartu dari sakunya. Men-tap pintu. Kemudian membukanya.
Setelah membentak Tommy, Siska dan Maya menggeser duduknya, memberi ruang buat Eca. Eca duduk di tengah-tengah mereka.“Kamu kasar banget sama kakak iparmu,” tutur Siska.“Iya, gak boleh gitu,” timpal Maya.“Apaan sih kalian! Mentang-mentang dia jadi bahan gibahan kalian se-kos, kalian sok belain dia!”“Jangan marah-marah dong, Cantik!”“Iya, ih, baperan.”“Ini aku jadi cerita apa enggak?” tandas Eca.“Iya, jadi dong.”“Aw.”Eca merintih saat ingin merapatkan kakinya. Siska dan Maya khawatir.“Kenapa, Eca? Masih perih ya?”“Iya, padahal semalam waktu basah gak perih. Baru terasa pagi tadi.”Tommy yang masih di dapur ujung pura-pura membersihkan wastafel sambil menguping.“Duh, pasti kamu dapat yang gede ya. Kok bisa sih? Aku aja gak pernah lho sampai merasa kesakitan begini, apalagi jalan ngangkang,” ungkap Maya.“Ya jelas lah itu. Pas masuk jleb gitu ya, kayak kesumpal benda gede,” Siska tak kalah antusias.“Hehe, memangnya kayak pacarmu, Siska, anak mami. Kerasanya aja enggak.”“Iya
Tommy membuka pintu. Laras melihat Tommy yang agak kacau. Berkeringat rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga seperti dipakai dengan buru-buru. "Kamu habis ngapain, Tommy." Laras menyelidik. Tommy tergeragap. Laras merasa aneh. Dengan tidak sabaran dia mendorong pintu itu dan melihat seisi kamar. Dahinya berkerut. "Kenapa, Ma?" Laras mengedarkan pandangan. Tidak ada yang aneh. Hanya dipan yang usang. Lantai yang bersih. Tommy tersenyum kaku, supaya terlihat tidak gugup. "Kamu habis ngapain sih, Tommy! Kamu kayak bawa seseorang di sini." "Gak ngapa-ngapain, Ma. Saya sendiri kok. Saya agak kurang enak badan saja. Tadi diare di kamar mandi gak selesai-selesai." Laras memandang wajah Tommy yang pucat. "Ih, ya sudah. Jangan lupa minum obat. Di kotak P3K di dapur ada. Ambil saja." "Tapi, saya gak dibolehin ke dapur sama Rina, Ma." "Gak papa, bilang saja disuruh Mama." "Iya, Ma." "Kamu bikin nafsu mama ilang saja, kamu bilang habis diare." Laras keluar pos. Tepat bersamaan deng
"Kalau telpon saja gimana. Kamu mendesah pelan saja. Temani mama sampai keluar." "Hah?""Gimana, Tom? Gak mau ya? Tega ya kamu biarin mama tersiksa sendiri?" Tommy melihat ke Eca, gadis itu menunjukan wajah paling sensual. Yang artinya setiap sentuhan. Penyatuan yang dilakukan Tommy membuat Eca melayang. Tommy sekuat tenaga menahan suaranya yang ingin mengerang kenikmatan. Tidak ingin Laras curiga. "Bukan begitu, Ma. Tapi, saya tidak pernah begituan." "Gampang, kamu tinggal mendesah saja. Keluarkan suara bass mu yang seksi itu, sayang. Terus nanti ikuti kata mama." "Iya, Ma." "Sebentar, Mama ambil posisi dulu ya." Mendengar perkataan Laras, Tommy menurunkan ponselnya. Kedua tangannya sekarang tegak mengungkung. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghentak lagi. Plek..Plek.. Plek. Suara hantaman itu terdengar. Deru nafas. Desisan halus. Eca merangkulkan tangannya ke leher beton Tommy. Dia mengangkat kepalanya. memajukan bibirnya. Melihat itu, Tommy hendak menyambar. Tapi
Tommy meludahi tangannya. Meratakan bagian bawah Eca yang nampak indah. Berair dan tentu masih sangat sempit. Tommy diliputi rasa was-was. "Jorok banget kamu, Mas. Masa Pakai ludah." "Supaya lebih licin, Eca. Supaya lebih mudah masuknya." "Tapi gak usah pakai ludah, Mas. Lidahmu bau! Dulu mantanku gak pernah kayak gitu. Pas masukin langsung Pas." "Langsung pas? Berarti punya mantan kamu kecil. Karena punyamu kecil, Eca." Eca tersadar. Apa yang dikatakan Tommy ada benarnya juga. "Sebentar ya, Eca. Mas masih sayang dengan milikmu ini. Tapi nanti dimasukin. Jangan khawatir." Eca tidak menjawab. Dia hanya merintih. Pria itu mengelus, memasukan, memainkan jempolnya. Tampak santai dan telaten sekali. Tapi terasa sekali. "Mas, sudah jangan dimainin! Kamu niat gak sih!" Wajah Eca merah padam tapi tampak sayu. Seolah emosinya menutupi rasa ingin diperlakukan lebih. "Eca, sebentar. Punya kamu itu masih sempit kalau dipaksa sekarang. Nanti kamu kesakitan. Mas gak mau
Eca menurunkan celana Tommy dengan sangat cekatan, seolah-olah sudah sering melakukannya. Dia agak meringis melepas pakaian dalam Tommy yang agak bolong-bolong.“Haduh, celana dalam rusak begini, kok masih dipakai? Modal sedikitlah jadi cowok.”Tommy tidak menggubris. Perkataan pedas Eca hanya dianggap angin lalu. Di kepalanya sudah terngiang ‘mentok tenggorokan’ yang dimaksud oleh Eca. Membayangkan sensasinya, Tommy senyum-senyum sendiri.“Astaga! Apa ini? Kenapa sebesar ini?”Gadis yang sedang jongkok di antara dua pahanya itu tampak terkejut. Terakhir ketika dia memergoki Tommy memainkan miliknya itu, belum terlalu tegang sempurna. Tapi apa yang dilihat Eca sekarang justru membuat Eca merasa ngeri.“Enggak besar kok, Eca. Ayo, Eca, Mas sudah enggak tahan.”Tommy mengerang setengah memohon. Melihat miliknya yang akan menyentuh bibir ranum membuat Tommy tidak keruan.Gadis itu tidak menjawab. Matanya masih takjub melihat keperkasaan yang begitu tegak.“Tunggu apa lagi, Eca?”Eca mend







