Share

Bab 6

Author: Saga
last update publish date: 2026-09-01 15:36:53

(Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati)

'Beneran mati lampunya, atau ini cuma akal-akalan mama kayak semalam?'

Tommy meletakan ponselnya di laci. Dia tidak segera bergegas ke kamar mama mertuanya. Dia pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil Rina dan memanasinya.

Tak berapa lama, Rina keluar dengan pakaian kantor. Sambil berjalan dia sibuk menelpon seseorang sambil memeriksa berkas di tangannya.

Tommy segera keluar dari mobil. Rina masuk mobil tanpa menganggap Tommy. Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah.

Setelah memastikan mobil pergi. Dia menoleh ke arah kamar mama mertua. Kordennya masih tertutup. Tapi angin-anginnya gelap.

"Beneran mati kayaknya lampunya."

Tommy mengambil lampu cadangan dan tangga. Berjalan menuju kamar mamanya.

Tok...tok...tok..

"Masuk saja."

Tommy membuka pintu perlahan. Kamar mamanya tampak gelap.

"Ma."

"Iya, Tom."

"Kok gelap-gelapan, Ma."

Tommy meraba dinding. Menyalakan saklar.

Byar!

Terlihat mamanya pakai baju tidur dalam posisi tengkurap menghadapnya.

"Lampunya nyala gini kok, Ma."

"Hehe, kamu kok gak nangkep sih kode dari mama. Kalau mama minta kamu datang. Belum tentu ada yang diperbaiki, tapi mama butuhnya kamu."

Tommy agak terkesiap dengan kalimat frontal yang diucapkan mama mertuanya. Wanita matang dengan badan terawat seksi ini sengaja merobek batasan yang rugi kalau diabaikan.

"Taruh tangganya di depan kamar saja. Lampunya di atas meja saja."

"Iya, Ma."

Tommy meletakan lampu cadangan dan keluar sebentar meletakan tangga. Dia melihat sekitar kamar sepi. Setelah itu masuk dan menutup pintu.

"Kamu bisa mijat kan, Tom? Badan mama agak pegal pegal." Ucap Laras sambil memegang pundaknya.

"Pijat? Tapi kan saya gak ahli mijat, Ma."

"Gak papa. Pijat dikit-dikit saja. Tanganmu 'kan besar dan keras. Pasti kerasa kalau mijat."

"Iya, Ma. Saya coba."

Laras ambil posisi. Yang semula dia tengkurap menghadap pintu. Sekarang sebaliknya.

Dia menyerahkan minyak urut kepada Tommy. Dan hal yang membuat Tommy tertegun saat mamanya menurunkan gaun tidurnya setengah badan ke bawah sampai perut. Kemudian tengkurep. Sehingga bulatan melon besar itu tampak terhimpit dengan bantal meski tertutup.

'Gila! Bisa-bisa aku khilaf kalau begini.'

Tommy menuang minyak urut di tangannya. Meratakannya. Kemudian mengusap pundak mama mertuanya.

"Uh, Tom."

Mamanya sedikit mendongakkan kepala. Matanya terpejam. Tommy menekan dan mulai memijat perlahan.

"Gimana, Ma?"

"Terus, Tom. Aduh. Kalau begini mama kayaknya gak perlu ke Spa. Dipijat sama mbak-mbaknya cuma di elus-elus saja. Kalau kamu yang mijat. Kerasa banget. Tanganmu yang besar berotot itu buat mama merem melek, Tom."

Tommy terus memijat meski mama mertuanya meracau tidak jelas keenakan. Pindah dari pundak kanan ke pundak kiri di mana di hadapkan dengan pemandangan setengah tanpa busana dari mama mertuanya.

"Tom, tadi kenapa kamu lama banget ke sininya?" Ucap Laras dengan terengah engah.

"Anu, Ma. Tadi menyiapkan mobilnya Rina. Setelah Rina Pergi, baru saya ke sini."

"Ih pinter banget kamu. Kamu memastikan istrimu pergi baru ke sini. Jadi kita bisa semakin leluasa, iya 'kan?"

Tommy tidak segera menanggapi. Jantungnya saja sudah berdegup tidak karuan. Badan mamanya luar biasa sintal. Kesepian dan jarang disentuh.

"Ganti kaki ya, Tom."

Laras merenggangkan kakinya. Tommy menelan ludah. Dia menggeser posisi dan kembali mengoleskan minyak urut di kaki mamanya. Baju tidur itu minim sekali. Sehingga paha gempal mulus itu terlihat jelas di matanya.

"Jangan yang bawah, Tom. Paha atas saja. Pegal sekali di sana."

Tommy membelalakan matanya. Dia tidak menampik kalau area itu adalah bagian yang membuatnya tak bisa untuk tidak menatapnya. Dia mulai menekan dan memijit.

"Uh, Tom. Kok enak banget rasanya. Terus, Tom!"

"Ma! Pelankan suaranya."

"Habis enak, Tom. Tanganmu kekar besar. Rasanya nikmat kalau dipijat sama kamu. Terus ya Tom, agak ke atas lagi."

Dengan napas memburu, tangan Tommy perlahan menggeser pijatannya melewati lutut.

"Terus, Tom... di situ," erang Laras. Matanya setengah terpejam, sengaja membiarkan jari kasar menantunya itu merayap semakin dekat ke pangkal paha.

Tommy menelan ludah. "M-ma... ini udah terlalu ke atas."

"Kenapa? Kamu takut?" bisik Laras menantang. Tangannya tiba-tiba turun, menahan pergelangan tangan Tommy dan menekannya lebih keras ke pahanya. "Rina nggak pernah sentuh kamu begini, kan?"

Tommy menggertakkan rahang. Urat di pelipisnya menonjol. "Ma, tolong... kita bisa ketahuan."

"Badan besar, tapi ternyata kamu penakut ya Tom." Laras tersenyum meremehkan.

Tanpa ragu, wanita matang itu bangkit. Menatap tepat di mata Tommy, Laras menarik gaun satinnya melewati kepala dan membuangnya ke lantai.

Mata Tommy terpaku. Keringat dingin menetes di lehernya saat melihat tubuh mengkal Laras yang kini polos tanpa sehelai benang pun.

"Nggak usah banyak mikir," desis Laras parau.

Wanita itu langsung merangsek maju, mengangkangi paha kokoh Tommy. Tangan lentiknya tak membuang waktu, menyusup masuk lewat celah celana pendek Tommy yang robek dan langsung menggenggam erat pusaka pria itu.

Tommy menggeram tertahan, kepalanya mendongak. "Astaga... Ma..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 7

    "Besar banget, Tom," gumam Laras dengan mata membulat takjub, jemarinya sengaja mengurut pelan. "Mama tahu kamu nahan ini dari semalam. Sayang banget kalau barang sekeras ini disia-siain sama Rina."Napas Tommy tersengal. Hawa panas dari tubuh Laras di atas pangkuannya benar-benar membakar akal sehatnya. Kedua tangan besarnya kini refleks mencengkeram pinggang polos ibu mertuanya itu.Laras sedikit mengangkat pinggulnya. Ia menuntun ujung kejantanan Tommy, menempelkannya tepat di bibir inti tubuhnya yang sudah basah kuyup."Masukin, Tom," desak Laras, suaranya bergetar menahan gairah. "Bikin Mama gila malam ini.""Maafin saya, Ma..." desah Tommy parau. Insting liarnya mengambil alih. Pria itu menekan pinggang Laras agar turun.Laras memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Dengan napas tertahan, wanita itu pinggulnya mulai bergerak perlahan…Tommy menyibak daster bagian bawah sampai terlihat jelas sumur yang dirimbuni semak belukar itu terawat dan tercukur dengan rapi. Sementara Lara

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 6

    (Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati) 'Beneran mati lampunya, atau ini cuma akal-akalan mama kayak semalam?' Tommy meletakan ponselnya di laci. Dia tidak segera bergegas ke kamar mama mertuanya. Dia pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil Rina dan memanasinya. Tak berapa lama, Rina keluar dengan pakaian kantor. Sambil berjalan dia sibuk menelpon seseorang sambil memeriksa berkas di tangannya. Tommy segera keluar dari mobil. Rina masuk mobil tanpa menganggap Tommy. Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah. Setelah memastikan mobil pergi. Dia menoleh ke arah kamar mama mertua. Kordennya masih tertutup. Tapi angin-anginnya gelap. "Beneran mati kayaknya lampunya." Tommy mengambil lampu cadangan dan tangga. Berjalan menuju kamar mamanya. Tok...tok...tok.. "Masuk saja." Tommy membuka pintu perlahan. Kamar mamanya tampak gelap. "Ma." "Iya, Tom." "Kok gelap-gelapan, Ma." Tommy meraba dinding. Menyalakan saklar. Byar! Terlihat mamanya pakai baju tidur

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 5

    Sis…” panggil Maya, sementara jarinya menyentuh benda tegak dan tebal itu, mengikuti pikiran intrusifnya, “Beneran gede banget ya…”'Aduh! Sial! Kenapa bisa robek segala saat lagi tegang-tegangnya begini.' "A...c-nya sudah beres, Mbak. S-saya mau balik dulu." Tommy buru-buru membereskan peralatan dan melipat tangga. Saat Siska mendekat menggamit lengan besar dan hitam Tommy dengan mengucapkan kata kata manja. "Kenapa buru-buru balik sih, Mas. Masuk dulu yuk ke kos. Emang gak butuh bantuan? 'adiknya' udah keras banget kayaknya tadi kami lihat." Tommy yang hendak melipat tangga tertahan oleh Siska. Entah kenapa dia tidak segera menarik tangannya seolah benda empuk menempel. aroma tubuh, tercium kuat menggugah kelaki-lakian ya. "Iya, Mas. Gak mampir sebentar saja. Gak usah khawatir anak kos lain lagi keluar semua. Orang-orang yang di rumah juga sudah tidur kan."Maya berdiri di hadapannya. Tangan wanita itu memegang bulu bulu menggoda yang tumbuh antara perut menuju pangkal paha. Wa

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 4

    "Eca, " Suara Tommy tercekat. Pikirannya tidak karuan sampai-sampai dia lupa mengunci pintu kamar mandi. Dan sekarang wajahnya merah menahan malu saat 'aktivitas' diketahui adik iparnya sendiri.Eca terkesiap mundur, kedua tangannya refleks menutup mulut rapat-rapat, menahan jeritan yang nyaris keluar dari mulutnya. Wajah gadis itu seketika memerah padam. Matanya yang membulat sempurna tak bisa lepas dari pusaka Tommy yang mencuat tegap, tebal, dan berukuran tak masuk akal di depan matanya.Pandangan Eca masih terkunci di bagian bawah yang besar menggantung itu. Buru-buru, Tommy menarik celana pendeknya dari lantai, memakainya asal-asalan tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya yang sudah terlanjur kotor tertumpuk.Tommy merentangkan tangannya hendak menutup pintu. Tapi tiba-tiba Eca menahannya. Pintu kembali terbuka lebar."Tutup pintunya Eca, saya mau mandi."Pandangan Eca beralih menatap wajah Tommy yang sangar tapi tampak salah tingkah dan malu."Kurang ajar ya kamu," desis Eca

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 3

    "Kak Rina ngapain nguping kamar Mama?"Tommy terperanjat. Pria itu menoleh ke arah pintu. Sementara bibir Laras yang hampir menyentuh bibir Tommy seketika menjauh. Raut wajah Laras berubah jengkel."Itu suara Eca, Ma.""Ck! Anak itu ganggu saja kita berduaan."Wanita itu berdiri, berjalan tenang menuju bathtub yang sudah diisi penuh air beraroma mawar. Begitu juga Tommy yang kembali melanjutkan pekerjaannya memperbaiki bawah wastafel.Tidak berapa lama, terdengar pintu depan terbuka disertai suara Eca yang agak melengking."Ma! Mama di mana?""Di kamar mandi, Eca!"Eca membuka pintu pelan. Ia mengernyitkan dahi, mendapati mamanya sedang berendam sementara tidak jauh dari sana ada suami kakaknya yang sibuk membetulkan wastafel."Mama apa-apaan sih! Tutup pintu kamar, padahal di dalam ada Mas Tommy. Udah gitu pakai berendam lagi."Belum sempat mamanya menjawab, pandangan Eca beralih ke daster satin yang terletak di gantungan kamar mandi, tempat di mana ia tahu mamanya paling anti meliha

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 2

    Tawa pelan nan menggoda tiba-tiba meluncur dari bibir merah Laras, menyadari ketegangan menantunya yang mematung. "Astaga, Tom. Kamu tegang banget. Mama cuma bercanda soal saluran yang bawah itu," kekehnya pelan, menarik jemarinya dari paha Tommy dengan usapan sensual yang disengaja. "Tapi kalau wastafel di kamar mandi Mama, itu beneran mampet. Yuk, bantu Mama perbaiki di atas."Tommy menghela napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantung dan hawa panas di pangkal pahanya akibat candaan nakal sang mertua. Pria itu bergegas mengambil kotak perkakasnya yang tertinggal, lalu mengekor patuh di belakang langkah anggun Laras menaiki tangga.Di dalam kamar mandi utama yang luas, Tommy langsung berjongkok di kolong wastafel. "Saya perbaiki dulu ya, Ma," ucapnya mulai sibuk membongkar peralatan."Iya, Tom."Laras tersenyum. Alih-alih menunggu di luar, dia menutup rapat pintu kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Tommy yang membelakanginya, Laras menanggalkan baju tidur satinnya di lantai, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status