LOGINSis…” panggil Maya, sementara jarinya menyentuh benda tegak dan tebal itu, mengikuti pikiran intrusifnya, “Beneran gede banget ya…”
'Aduh! Sial! Kenapa bisa robek segala saat lagi tegang-tegangnya begini.' "A...c-nya sudah beres, Mbak. S-saya mau balik dulu." Tommy buru-buru membereskan peralatan dan melipat tangga. Saat Siska mendekat menggamit lengan besar dan hitam Tommy dengan mengucapkan kata kata manja. "Kenapa buru-buru balik sih, Mas. Masuk dulu yuk ke kos. Emang gak butuh bantuan? 'adiknya' udah keras banget kayaknya tadi kami lihat." Tommy yang hendak melipat tangga tertahan oleh Siska. Entah kenapa dia tidak segera menarik tangannya seolah benda empuk menempel. aroma tubuh, tercium kuat menggugah kelaki-lakian ya. "Iya, Mas. Gak mampir sebentar saja. Gak usah khawatir anak kos lain lagi keluar semua. Orang-orang yang di rumah juga sudah tidur kan." Maya berdiri di hadapannya. Tangan wanita itu memegang bulu bulu menggoda yang tumbuh antara perut menuju pangkal paha. Wanita itu tampak geregetan saat memegangnya. Nafas Tommy tampak pendek pendek dan memburu. Mulutnya sedikit membuka. "Sis, tegang banget wajahnya mas Tommy. Sama kayak adiknya yang memberontak ini." Siska terkekeh masih dalam posisinya menggamit Tommy. "Nah, 'kan sudah tegang maksimal. Harus segera dilemesin mas. Biar nanti tidurnya nyenyak. Lagian istrimu mana mau bantu lemesin kan. Kerjanya marah marah terus." Tommy langsung terkesiap. Dia baru tersadar kalau depan kamar kos itu mengarah tepat di lantai dua di mana kamar Rina berada. Secara perlahan Tommy menoleh, matanya membulat. Ada bekas korden yang habis di buka sedikit. Pertanda ada yang mengintip. 'Gawat! Jangan sampai Rina lihat kejadian ini.' Mungkin kalau di kamar mertuanya. Rina yang menguping lewat pintu. Tidak langsung memergokinya bersama mama Laras. Tapi kalau sekarang. Dia sangat yakin kalau Rina melihat semuanya tadi. "Maaf, mbak. Saya harus buru buru. Tadi saya lupa di suruh beli sesuatu sama istri saya." Tommy melepas pegangan tangan Siska. Meski dalam hati dia tidak rela lepas. Bekas bulatan melon ranum itu masih hangat terasa di lengannya. Tommy menggamit tangga dengan satu tangannya dan melangkah tegap menuruni tangga. Terdengar suara desahan kesal dari Maya dan Siska tapi tidak dia pedulikan. Setelah mengembalikan alat. Dia segara mengganti celananya di pos. Dia memang punya beberapa celana yang diletakan di pos sebagai ganti kalau pakaian kotor habis memperbaiki sesuatu. "Aduh robek sebesar ini. Pasti Siska dan Maya melihat dengan jelas. Gimana nanti kalau dia cerita dengan anak anak kos yang lain?' Wajahnya sangar memerah malu. Tapi dia tidak menampik sensasi saat berada di dekat dua remaja tanggung itu cukup menggugah seleranya. "Oh iya, Rina beneran mengintip enggak ya tadi?" Tommy hendak melangkah menuju rumah. Di lantai dua ternyata terlihat Rina yang berdiri tegak sambil memegang segelas air. "Gimana? Enak heh? Di kelilingi gadis gadis muda! Seneng!" Tommy ciut. Dugaannya benar. Rina melihat semua kejadian tadi. "E-enggak. Enggak gitu, Rina." "Ashh," mengibaskan tangan di depan muka. "Kamu itu bisa gak sehari saja gak nyusahin! Atau minimal jangan buat masalah! Genit sama anak kos! Kamu pikir kalau terjadi apa apa sama mereka. Siapa nama tercoreng? Siapa yang rugi! Kamu pengangguran mana ngerti!" Bibir Tommy terkatup rapat. Status pengangguran adalah senjata telak yang membuat Tommy tidak bisa berkutik dan sakit hati. Membuat pembelaan juga percuma. "Sudah-sudah, aku malas lihat wajah kamu. Mulai malam ini kamu gak boleh masuk kamar ini dan jangan masuk area dapur! Bodo amat kamu mau kelaparan. Mampus juga aku gak peduli!" Pintu terbanting setelah Rina masuk kamar. Meninggalkan Tommy yang masih mematung di depan kamar. *** Keesokan harinya, Tommy terbangun di pos jaga dan segera melakukan membersihkan dedaunan kering di pelataran kos. Menyapu, Setelah itu mengumpulkan sampah dari tempat sampah yang tersedia di masing masing pintu kos. Anak-anak kos sebagian ada yang sudah bangun. Ada yang masih tidur. Tommy mempercepat mengumpulkan sampah untuk menghindari anak kos terutama, Siska dan Maya yang agresif. Namun saat langkahnya akan mengambil sampah di kamar kos pojok. Tiba tiba pintu kamar terbuka, seorang gadis cantik tampak hendak membuang sampah. "Ehh, ada mas Tommy. Kebetulan Ini sekalian sampahnya ya." Gadis itu memberikan sekantong plastik sampah kepada Tommy dan memasukannya ke plastik besar yang dia bawa. "Iya, Mbak. Kok pagi-pagi sudah bangun?" "Hehe iya, dong, Mas. Kan pengen nyapa mas" Gadis itu berterucap dengan tersenyum misterius. "Eh, ngomong-ngomong, katanya punya mas besar ya. Black mamba." Mata besar Tommy membulat. Astaga kenapa gadis ini bisa bicara begitu. Ini pasti gara gara Maya dan Siska semalam. Kok cepat sekali hal ini menyebar. "Saya permisi dulu, Mbak." Tommy melangkah lebar. Hendak membuang sampah di tempat sampah utama di depan. Jantungnya berdegup kencang. Kata-kata black mamba terngiang di kepalanya. Hatinya resah hanya gara gara celananya robek semalam. Tiba-tiba, terdengar suara getaran ponsel di pos penjaga. Tommy yang selesai membuang sampah mendekati pos. "Hah! Mama Laras." Dia menggeser ponselnya yang layarnya sudah retak separuh. Dia agak kesulitan membaca pesannya. (Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati)"Besar banget, Tom," gumam Laras dengan mata membulat takjub, jemarinya sengaja mengurut pelan. "Mama tahu kamu nahan ini dari semalam. Sayang banget kalau barang sekeras ini disia-siain sama Rina."Napas Tommy tersengal. Hawa panas dari tubuh Laras di atas pangkuannya benar-benar membakar akal sehatnya. Kedua tangan besarnya kini refleks mencengkeram pinggang polos ibu mertuanya itu.Laras sedikit mengangkat pinggulnya. Ia menuntun ujung kejantanan Tommy, menempelkannya tepat di bibir inti tubuhnya yang sudah basah kuyup."Masukin, Tom," desak Laras, suaranya bergetar menahan gairah. "Bikin Mama gila malam ini.""Maafin saya, Ma..." desah Tommy parau. Insting liarnya mengambil alih. Pria itu menekan pinggang Laras agar turun.Laras memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Dengan napas tertahan, wanita itu pinggulnya mulai bergerak perlahan…Tommy menyibak daster bagian bawah sampai terlihat jelas sumur yang dirimbuni semak belukar itu terawat dan tercukur dengan rapi. Sementara Lara
(Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati) 'Beneran mati lampunya, atau ini cuma akal-akalan mama kayak semalam?' Tommy meletakan ponselnya di laci. Dia tidak segera bergegas ke kamar mama mertuanya. Dia pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil Rina dan memanasinya. Tak berapa lama, Rina keluar dengan pakaian kantor. Sambil berjalan dia sibuk menelpon seseorang sambil memeriksa berkas di tangannya. Tommy segera keluar dari mobil. Rina masuk mobil tanpa menganggap Tommy. Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah. Setelah memastikan mobil pergi. Dia menoleh ke arah kamar mama mertua. Kordennya masih tertutup. Tapi angin-anginnya gelap. "Beneran mati kayaknya lampunya." Tommy mengambil lampu cadangan dan tangga. Berjalan menuju kamar mamanya. Tok...tok...tok.. "Masuk saja." Tommy membuka pintu perlahan. Kamar mamanya tampak gelap. "Ma." "Iya, Tom." "Kok gelap-gelapan, Ma." Tommy meraba dinding. Menyalakan saklar. Byar! Terlihat mamanya pakai baju tidur
Sis…” panggil Maya, sementara jarinya menyentuh benda tegak dan tebal itu, mengikuti pikiran intrusifnya, “Beneran gede banget ya…”'Aduh! Sial! Kenapa bisa robek segala saat lagi tegang-tegangnya begini.' "A...c-nya sudah beres, Mbak. S-saya mau balik dulu." Tommy buru-buru membereskan peralatan dan melipat tangga. Saat Siska mendekat menggamit lengan besar dan hitam Tommy dengan mengucapkan kata kata manja. "Kenapa buru-buru balik sih, Mas. Masuk dulu yuk ke kos. Emang gak butuh bantuan? 'adiknya' udah keras banget kayaknya tadi kami lihat." Tommy yang hendak melipat tangga tertahan oleh Siska. Entah kenapa dia tidak segera menarik tangannya seolah benda empuk menempel. aroma tubuh, tercium kuat menggugah kelaki-lakian ya. "Iya, Mas. Gak mampir sebentar saja. Gak usah khawatir anak kos lain lagi keluar semua. Orang-orang yang di rumah juga sudah tidur kan."Maya berdiri di hadapannya. Tangan wanita itu memegang bulu bulu menggoda yang tumbuh antara perut menuju pangkal paha. Wa
"Eca, " Suara Tommy tercekat. Pikirannya tidak karuan sampai-sampai dia lupa mengunci pintu kamar mandi. Dan sekarang wajahnya merah menahan malu saat 'aktivitas' diketahui adik iparnya sendiri.Eca terkesiap mundur, kedua tangannya refleks menutup mulut rapat-rapat, menahan jeritan yang nyaris keluar dari mulutnya. Wajah gadis itu seketika memerah padam. Matanya yang membulat sempurna tak bisa lepas dari pusaka Tommy yang mencuat tegap, tebal, dan berukuran tak masuk akal di depan matanya.Pandangan Eca masih terkunci di bagian bawah yang besar menggantung itu. Buru-buru, Tommy menarik celana pendeknya dari lantai, memakainya asal-asalan tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya yang sudah terlanjur kotor tertumpuk.Tommy merentangkan tangannya hendak menutup pintu. Tapi tiba-tiba Eca menahannya. Pintu kembali terbuka lebar."Tutup pintunya Eca, saya mau mandi."Pandangan Eca beralih menatap wajah Tommy yang sangar tapi tampak salah tingkah dan malu."Kurang ajar ya kamu," desis Eca
"Kak Rina ngapain nguping kamar Mama?"Tommy terperanjat. Pria itu menoleh ke arah pintu. Sementara bibir Laras yang hampir menyentuh bibir Tommy seketika menjauh. Raut wajah Laras berubah jengkel."Itu suara Eca, Ma.""Ck! Anak itu ganggu saja kita berduaan."Wanita itu berdiri, berjalan tenang menuju bathtub yang sudah diisi penuh air beraroma mawar. Begitu juga Tommy yang kembali melanjutkan pekerjaannya memperbaiki bawah wastafel.Tidak berapa lama, terdengar pintu depan terbuka disertai suara Eca yang agak melengking."Ma! Mama di mana?""Di kamar mandi, Eca!"Eca membuka pintu pelan. Ia mengernyitkan dahi, mendapati mamanya sedang berendam sementara tidak jauh dari sana ada suami kakaknya yang sibuk membetulkan wastafel."Mama apa-apaan sih! Tutup pintu kamar, padahal di dalam ada Mas Tommy. Udah gitu pakai berendam lagi."Belum sempat mamanya menjawab, pandangan Eca beralih ke daster satin yang terletak di gantungan kamar mandi, tempat di mana ia tahu mamanya paling anti meliha
Tawa pelan nan menggoda tiba-tiba meluncur dari bibir merah Laras, menyadari ketegangan menantunya yang mematung. "Astaga, Tom. Kamu tegang banget. Mama cuma bercanda soal saluran yang bawah itu," kekehnya pelan, menarik jemarinya dari paha Tommy dengan usapan sensual yang disengaja. "Tapi kalau wastafel di kamar mandi Mama, itu beneran mampet. Yuk, bantu Mama perbaiki di atas."Tommy menghela napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantung dan hawa panas di pangkal pahanya akibat candaan nakal sang mertua. Pria itu bergegas mengambil kotak perkakasnya yang tertinggal, lalu mengekor patuh di belakang langkah anggun Laras menaiki tangga.Di dalam kamar mandi utama yang luas, Tommy langsung berjongkok di kolong wastafel. "Saya perbaiki dulu ya, Ma," ucapnya mulai sibuk membongkar peralatan."Iya, Tom."Laras tersenyum. Alih-alih menunggu di luar, dia menutup rapat pintu kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Tommy yang membelakanginya, Laras menanggalkan baju tidur satinnya di lantai, m