Share

Bab 5

Penulis: Saga
last update Tanggal publikasi: 2026-09-01 15:35:49

Sis…” panggil Maya, sementara jarinya menyentuh benda tegak dan tebal itu, mengikuti pikiran intrusifnya, “Beneran gede banget ya…”

'Aduh! Sial! Kenapa bisa robek segala saat lagi tegang-tegangnya begini.'

"A...c-nya sudah beres, Mbak. S-saya mau balik dulu."

Tommy buru-buru membereskan peralatan dan melipat tangga. Saat Siska mendekat menggamit lengan besar dan hitam Tommy dengan mengucapkan kata kata manja.

"Kenapa buru-buru balik sih, Mas. Masuk dulu yuk ke kos. Emang gak butuh bantuan? 'adiknya' udah keras banget kayaknya tadi kami lihat."

Tommy yang hendak melipat tangga tertahan oleh Siska. Entah kenapa dia tidak segera menarik tangannya seolah benda empuk menempel. aroma tubuh, tercium kuat menggugah kelaki-lakian ya.

"Iya, Mas. Gak mampir sebentar saja. Gak usah khawatir anak kos lain lagi keluar semua. Orang-orang yang di rumah juga sudah tidur kan."

Maya berdiri di hadapannya. Tangan wanita itu memegang bulu bulu menggoda yang tumbuh antara perut menuju pangkal paha. Wanita itu tampak geregetan saat memegangnya.

Nafas Tommy tampak pendek pendek dan memburu. Mulutnya sedikit membuka.

"Sis, tegang banget wajahnya mas Tommy. Sama kayak adiknya yang memberontak ini." Siska terkekeh masih dalam posisinya menggamit Tommy.

"Nah, 'kan sudah tegang maksimal. Harus segera dilemesin mas. Biar nanti tidurnya nyenyak. Lagian istrimu mana mau bantu lemesin kan. Kerjanya marah marah terus."

Tommy langsung terkesiap. Dia baru tersadar kalau depan kamar kos itu mengarah tepat di lantai dua di mana kamar Rina berada.

Secara perlahan Tommy menoleh, matanya membulat. Ada bekas korden yang habis di buka sedikit. Pertanda ada yang mengintip.

'Gawat! Jangan sampai Rina lihat kejadian ini.'

Mungkin kalau di kamar mertuanya. Rina yang menguping lewat pintu. Tidak langsung memergokinya bersama mama Laras. Tapi kalau sekarang. Dia sangat yakin kalau Rina melihat semuanya tadi.

"Maaf, mbak. Saya harus buru buru. Tadi saya lupa di suruh beli sesuatu sama istri saya."

Tommy melepas pegangan tangan Siska. Meski dalam hati dia tidak rela lepas. Bekas bulatan melon ranum itu masih hangat terasa di lengannya.

Tommy menggamit tangga dengan satu tangannya dan melangkah tegap menuruni tangga. Terdengar suara desahan kesal dari Maya dan Siska tapi tidak dia pedulikan.

Setelah mengembalikan alat. Dia segara mengganti celananya di pos. Dia memang punya beberapa celana yang diletakan di pos sebagai ganti kalau pakaian kotor habis memperbaiki sesuatu.

"Aduh robek sebesar ini. Pasti Siska dan Maya melihat dengan jelas. Gimana nanti kalau dia cerita dengan anak anak kos yang lain?'

Wajahnya sangar memerah malu. Tapi dia tidak menampik sensasi saat berada di dekat dua remaja tanggung itu cukup menggugah seleranya.

"Oh iya, Rina beneran mengintip enggak ya tadi?"

Tommy hendak melangkah menuju rumah. Di lantai dua ternyata terlihat Rina yang berdiri tegak sambil memegang segelas air.

"Gimana? Enak heh? Di kelilingi gadis gadis muda! Seneng!"

Tommy ciut. Dugaannya benar. Rina melihat semua kejadian tadi.

"E-enggak. Enggak gitu, Rina."

"Ashh," mengibaskan tangan di depan muka.

"Kamu itu bisa gak sehari saja gak nyusahin! Atau minimal jangan buat masalah! Genit sama anak kos! Kamu pikir kalau terjadi apa apa sama mereka. Siapa nama tercoreng? Siapa yang rugi! Kamu pengangguran mana ngerti!"

Bibir Tommy terkatup rapat. Status pengangguran adalah senjata telak yang membuat Tommy tidak bisa berkutik dan sakit hati. Membuat pembelaan juga percuma.

"Sudah-sudah, aku malas lihat wajah kamu. Mulai malam ini kamu gak boleh masuk kamar ini dan jangan masuk area dapur! Bodo amat kamu mau kelaparan. Mampus juga aku gak peduli!"

Pintu terbanting setelah Rina masuk kamar. Meninggalkan Tommy yang masih mematung di depan kamar.

***

Keesokan harinya, Tommy terbangun di pos jaga dan segera melakukan membersihkan dedaunan kering di pelataran kos. Menyapu, Setelah itu mengumpulkan sampah dari tempat sampah yang tersedia di masing masing pintu kos.

Anak-anak kos sebagian ada yang sudah bangun. Ada yang masih tidur. Tommy mempercepat mengumpulkan sampah untuk menghindari anak kos terutama, Siska dan Maya yang agresif.

Namun saat langkahnya akan mengambil sampah di kamar kos pojok. Tiba tiba pintu kamar terbuka, seorang gadis cantik tampak hendak membuang sampah.

"Ehh, ada mas Tommy. Kebetulan Ini sekalian sampahnya ya."

Gadis itu memberikan sekantong plastik sampah kepada Tommy dan memasukannya ke plastik besar yang dia bawa.

"Iya, Mbak. Kok pagi-pagi sudah bangun?"

"Hehe iya, dong, Mas. Kan pengen nyapa mas" Gadis itu berterucap dengan tersenyum misterius.

"Eh, ngomong-ngomong, katanya punya mas besar ya. Black mamba."

Mata besar Tommy membulat. Astaga kenapa gadis ini bisa bicara begitu. Ini pasti gara gara Maya dan Siska semalam. Kok cepat sekali hal ini menyebar.

"Saya permisi dulu, Mbak."

Tommy melangkah lebar. Hendak membuang sampah di tempat sampah utama di depan. Jantungnya berdegup kencang.

Kata-kata black mamba terngiang di kepalanya. Hatinya resah hanya gara gara celananya robek semalam.

Tiba-tiba, terdengar suara getaran ponsel di pos penjaga. Tommy yang selesai membuang sampah mendekati pos.

"Hah! Mama Laras."

Dia menggeser ponselnya yang layarnya sudah retak separuh. Dia agak kesulitan membaca pesannya.

(Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati)

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 16

    Tommy berdiri di depan apartemen Laras. Dia ragu hendak mengetuk pintu. Namun saat akan mengetuk pintu, ekor matanya menangkap langkah kaki yang mendekatinya. “Eh, Tommy. Sudah sampai. Ini ya berkas Mama?” Tommy menoleh. Terlihat wanita paruh baya itu tersenyum cerah melihat kedatangannya. Dia menggunakan pakaian kantor formal dengan celana kain panjang. Beda hari biasanya pakai rok yang tingginya di atas lutut. “Iya, Ma. Ini." Tommy menyerahkan map coklat itu. Kemudian buru-buru mau pamit. “Ma, saya pulang dulu ya.” “Kenapa buru-buru, Tom? Temani Mama di dalam sebentar saja.” “Enggak, bisa. Ma. Mau buru-buru pulang.” “Kamu kok sepertinya menghindar dari mama. Kenapa?” Tommy mengalihkan pandangan. Tatapan mata Laras. Bukan tatapan mata penuh nafsu yang masih bisa elak. Tapi tatapan mata seorang wanita yang butuh dimanja, diperhatikan. Membuat Tommy sulit mengelak. “Enggak, Ma.” “Ya, udah. Ayo masuk.” Laras mengambil kartu dari sakunya. Men-tap pintu. Kemudian membukanya.

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 15

    Setelah membentak Tommy, Siska dan Maya menggeser duduknya, memberi ruang buat Eca. Eca duduk di tengah-tengah mereka.“Kamu kasar banget sama kakak iparmu,” tutur Siska.“Iya, gak boleh gitu,” timpal Maya.“Apaan sih kalian! Mentang-mentang dia jadi bahan gibahan kalian se-kos, kalian sok belain dia!”“Jangan marah-marah dong, Cantik!”“Iya, ih, baperan.”“Ini aku jadi cerita apa enggak?” tandas Eca.“Iya, jadi dong.”“Aw.”Eca merintih saat ingin merapatkan kakinya. Siska dan Maya khawatir.“Kenapa, Eca? Masih perih ya?”“Iya, padahal semalam waktu basah gak perih. Baru terasa pagi tadi.”Tommy yang masih di dapur ujung pura-pura membersihkan wastafel sambil menguping.“Duh, pasti kamu dapat yang gede ya. Kok bisa sih? Aku aja gak pernah lho sampai merasa kesakitan begini, apalagi jalan ngangkang,” ungkap Maya.“Ya jelas lah itu. Pas masuk jleb gitu ya, kayak kesumpal benda gede,” Siska tak kalah antusias.“Hehe, memangnya kayak pacarmu, Siska, anak mami. Kerasanya aja enggak.”“Iya

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 14

    Tommy membuka pintu. Laras melihat Tommy yang agak kacau. Berkeringat rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga seperti dipakai dengan buru-buru. "Kamu habis ngapain, Tommy." Laras menyelidik. Tommy tergeragap. Laras merasa aneh. Dengan tidak sabaran dia mendorong pintu itu dan melihat seisi kamar. Dahinya berkerut. "Kenapa, Ma?" Laras mengedarkan pandangan. Tidak ada yang aneh. Hanya dipan yang usang. Lantai yang bersih. Tommy tersenyum kaku, supaya terlihat tidak gugup. "Kamu habis ngapain sih, Tommy! Kamu kayak bawa seseorang di sini." "Gak ngapa-ngapain, Ma. Saya sendiri kok. Saya agak kurang enak badan saja. Tadi diare di kamar mandi gak selesai-selesai." Laras memandang wajah Tommy yang pucat. "Ih, ya sudah. Jangan lupa minum obat. Di kotak P3K di dapur ada. Ambil saja." "Tapi, saya gak dibolehin ke dapur sama Rina, Ma." "Gak papa, bilang saja disuruh Mama." "Iya, Ma." "Kamu bikin nafsu mama ilang saja, kamu bilang habis diare." Laras keluar pos. Tepat bersamaan deng

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 13

    "Kalau telpon saja gimana. Kamu mendesah pelan saja. Temani mama sampai keluar." "Hah?""Gimana, Tom? Gak mau ya? Tega ya kamu biarin mama tersiksa sendiri?" Tommy melihat ke Eca, gadis itu menunjukan wajah paling sensual. Yang artinya setiap sentuhan. Penyatuan yang dilakukan Tommy membuat Eca melayang. Tommy sekuat tenaga menahan suaranya yang ingin mengerang kenikmatan. Tidak ingin Laras curiga. "Bukan begitu, Ma. Tapi, saya tidak pernah begituan." "Gampang, kamu tinggal mendesah saja. Keluarkan suara bass mu yang seksi itu, sayang. Terus nanti ikuti kata mama." "Iya, Ma." "Sebentar, Mama ambil posisi dulu ya." Mendengar perkataan Laras, Tommy menurunkan ponselnya. Kedua tangannya sekarang tegak mengungkung. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghentak lagi. Plek..Plek.. Plek. Suara hantaman itu terdengar. Deru nafas. Desisan halus. Eca merangkulkan tangannya ke leher beton Tommy. Dia mengangkat kepalanya. memajukan bibirnya. Melihat itu, Tommy hendak menyambar. Tapi

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 12

    Tommy meludahi tangannya. Meratakan bagian bawah Eca yang nampak indah. Berair dan tentu masih sangat sempit. Tommy diliputi rasa was-was. "Jorok banget kamu, Mas. Masa Pakai ludah." "Supaya lebih licin, Eca. Supaya lebih mudah masuknya." "Tapi gak usah pakai ludah, Mas. Lidahmu bau! Dulu mantanku gak pernah kayak gitu. Pas masukin langsung Pas." "Langsung pas? Berarti punya mantan kamu kecil. Karena punyamu kecil, Eca." Eca tersadar. Apa yang dikatakan Tommy ada benarnya juga. "Sebentar ya, Eca. Mas masih sayang dengan milikmu ini. Tapi nanti dimasukin. Jangan khawatir." Eca tidak menjawab. Dia hanya merintih. Pria itu mengelus, memasukan, memainkan jempolnya. Tampak santai dan telaten sekali. Tapi terasa sekali. "Mas, sudah jangan dimainin! Kamu niat gak sih!" Wajah Eca merah padam tapi tampak sayu. Seolah emosinya menutupi rasa ingin diperlakukan lebih. "Eca, sebentar. Punya kamu itu masih sempit kalau dipaksa sekarang. Nanti kamu kesakitan. Mas gak mau

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 11

    Eca menurunkan celana Tommy dengan sangat cekatan, seolah-olah sudah sering melakukannya. Dia agak meringis melepas pakaian dalam Tommy yang agak bolong-bolong.“Haduh, celana dalam rusak begini, kok masih dipakai? Modal sedikitlah jadi cowok.”Tommy tidak menggubris. Perkataan pedas Eca hanya dianggap angin lalu. Di kepalanya sudah terngiang ‘mentok tenggorokan’ yang dimaksud oleh Eca. Membayangkan sensasinya, Tommy senyum-senyum sendiri.“Astaga! Apa ini? Kenapa sebesar ini?”Gadis yang sedang jongkok di antara dua pahanya itu tampak terkejut. Terakhir ketika dia memergoki Tommy memainkan miliknya itu, belum terlalu tegang sempurna. Tapi apa yang dilihat Eca sekarang justru membuat Eca merasa ngeri.“Enggak besar kok, Eca. Ayo, Eca, Mas sudah enggak tahan.”Tommy mengerang setengah memohon. Melihat miliknya yang akan menyentuh bibir ranum membuat Tommy tidak keruan.Gadis itu tidak menjawab. Matanya masih takjub melihat keperkasaan yang begitu tegak.“Tunggu apa lagi, Eca?”Eca mend

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status