Share

Montir Handal Idaman Mertua
Montir Handal Idaman Mertua
Penulis: Saga

Bab 1

Penulis: Saga
last update Tanggal publikasi: 2026-09-01 15:31:29

"Hebat ya dari pagi ngerjain saluran air gak selesai-selesai. Kamu itu sebenarnya becus kerja gak sih? Badan doang gede. Ngerjain pipa air lelet banget!"

Bentakan Rina memecah keheningan pelataran rumah saat wanita itu baru turun dari mobil dengan setelan kerja rapinya. Tommy yang semula jongkok membenahi pipa, berdiri perlahan. Perawakannya yang tinggi besar membuat pandangan sang istri harus mendongak.

"Maaf, Dek. Tadi, saluran air mampet parah. Ini aku ulang mengerjakannya."

"Halah alasan saja kamu! Suami gak berguna! Pengangguran! Kerjaannya numpang saja sama istri. Disuruh ngerjain begini saja masa nunggu aku marah-marah dulu baru bisa cepet!"

Tommy hanya menunduk. Harga dirinya sebagai laki-laki hancur dibentak istri di depan cewek-cewek kos. Namun dia memilih untuk meredam gejolak amarah di dalam hati.

"Iya, maaf, Dek. Ini nanti akan mas bereskan."

"Jangan masuk rumah kalau belum selesai. Ngerti!" Rina melangkah melewati suaminya dengan tatapan jijik, lalu membanting pintu rumah.

Tommy menghela napas, kembali jongkok di halaman utama untuk melanjutkan pekerjaan saluran pembersihan itu. Pria berbadan besar itu hanya mengenakan singlet putih yang tampak kontras dengan kulit cokelatnya yang keras.

Di lantai dua, Maya yang semula enggan karena semalam habis pulang dari klub malam, berdiri mendekati Siska yang tampak menunjuk ke balik jendela.

"Lengannya gede banget, May. Apalagi dia jongkok tuh pakai celana pendek gitu. Tampak keras kokoh."

Maya tak segera menjawab. Dibandingkan dengan pria-pria kota yang selama ini menggunakan jasanya sebagai LC, sosok berkulit gelap di hadapannya justru tampak sangat jantan.

"Hush, ngaco kamu, Sis. Ingat pacar kamu tuh."

"Halah, pacarku itu mah fisiknya lemah. Ala-ala pria kota yang kalau mau jogging saja harus pakai sunscreen," cibir Siska. "Si Rina itu bodoh ya, punya suami kekar begitu dimarahin terus tiap hari. Kalau aku mah tiap hari ngangkang, ayo Mas puasin aku."

"Hush, gak boleh ngomong gitu, tapi iya juga sih hehe."

Tak terasa, jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika Tommy selesai mandi di kamar mandi belakang dekat gudang tanpa sabun atau parfum. Perlahan ia masuk ke kamar dan melihat istrinya sudah mengenakan gaun tidur membelakanginya.

Dengan langkah ragu, ia menaiki ranjang dan menyentuh pundak Rina. "Dek."

Rina tersentak dan langsung bangkit. "Ihhh, minggir, bau banget! Sana tidur di luar!"

"Tapi, Mas kangen, Dek. Sudah lama kita tidak berhubungan."

"Najis!" Rina meludah ke lantai. "Jangan mimpi! Ingat, kamu ada di sini cuma karena balas budi ke Papa. Tanpa itu, kamu cuma tukang gembel!"

Meski dicaci, Tommy menelan ludah melihat belahan gaun tidur istrinya.

"Dek, sebentar saja, yuk."

"Enggak! Cari sana wanita murahan yang mau sama kamu! Itupun kalau kamu sanggup beli," tolak Rina mentah-mentah. "Keluar sana!"

Tommy melangkah gontai keluar kamar dan menuju pos penjaga untuk menenangkan diri. Hasratnya yang tertolak membuat badannya panas dingin.

Dulu ia adalah teknisi andalan mendiang papa angkat Rina yang dinikahkan karena ketulusannya. Namun setelah menikah dan terkena PHK, Rina justru membencinya setengah mati.

Baru beberapa saat menghempaskan diri di pinggir ranjang pos, bayangan sesosok wanita muncul di ambang pintu. Tommy mendongak dan terkesiap melihat bentuk tubuh montok dan kencang dari balik gaun tidur satin tipis.

Itu Laras, ibu mertua tirinya yang berusia 50 tahun namun jauh lebih matang dan menggoda dibanding Rina.

"Ma... ngapain ke sini?"

"Nggak boleh ya, Mama ke sini?" Laras tersenyum tipis, melangkah mendekat dan duduk merapat di sebelah Tommy hingga paha mereka bersentuhan erat.

"Nggak apa-apa, Ma. Oh iya, saya minta maaf ya, Ma. Soal saluran air tadi siang mampetnya lumayan parah," ujar Tommy canggung.

Laras tidak langsung menjawab. Jemarinya yang lentik terulur santai, merayap di atas paha kokoh menantunya itu, memberikan elusan lembut yang membuat darah Tommy mendidih seketika. Wanita matang itu lalu menggeser duduknya semakin merapat, menghembuskan napas hangat tepat di samping telinga Tommy.

"Sebenarnya dari tadi sore Mama merasa nggak enak badan, Tom. Mau buang air kecil saja rasanya susah sekali, kayak ada yang menahan dan mampet di area bawah Mama," bisik Laras dengan tatapan sayu yang begitu menggoda, jemarinya kini sedikit meremas paha kekar itu.

"Eh... Mama sakit saluran kemih?" tanya Tommy polos dan gugup.

Laras tersenyum penuh arti, melirik ke arah celana pendek Tommy sebelum kembali menatap mata pria itu.

"Mama juga nggak tahu, Tom. Tapi kebetulan sekali, wastafel di kamar mandi Mama malam ini juga ikutan mampet nggak mau ngalir.”

Setiap kata yang terlontar dari Laras, wanita matang dan menggoda itu berjalan mendekat, dan kini hanya berjarak satu helaan napas dengan suami anaknya itu

Sampai akhirnya tangan lentiknya mendarat tepat di gundukan yang sedari tadi Tommy tahan agar tak menggembung.

“Jadi menurut kamu... bagaimana kalau malam ini kamu bantu Mama perbaiki dua-duanya? Mama percaya kamu sangat ahli dalam memperbaiki segala jenis 'saluran air yang mampet', kan?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 16

    Tommy berdiri di depan apartemen Laras. Dia ragu hendak mengetuk pintu. Namun saat akan mengetuk pintu, ekor matanya menangkap langkah kaki yang mendekatinya. “Eh, Tommy. Sudah sampai. Ini ya berkas Mama?” Tommy menoleh. Terlihat wanita paruh baya itu tersenyum cerah melihat kedatangannya. Dia menggunakan pakaian kantor formal dengan celana kain panjang. Beda hari biasanya pakai rok yang tingginya di atas lutut. “Iya, Ma. Ini." Tommy menyerahkan map coklat itu. Kemudian buru-buru mau pamit. “Ma, saya pulang dulu ya.” “Kenapa buru-buru, Tom? Temani Mama di dalam sebentar saja.” “Enggak, bisa. Ma. Mau buru-buru pulang.” “Kamu kok sepertinya menghindar dari mama. Kenapa?” Tommy mengalihkan pandangan. Tatapan mata Laras. Bukan tatapan mata penuh nafsu yang masih bisa elak. Tapi tatapan mata seorang wanita yang butuh dimanja, diperhatikan. Membuat Tommy sulit mengelak. “Enggak, Ma.” “Ya, udah. Ayo masuk.” Laras mengambil kartu dari sakunya. Men-tap pintu. Kemudian membukanya.

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 15

    Setelah membentak Tommy, Siska dan Maya menggeser duduknya, memberi ruang buat Eca. Eca duduk di tengah-tengah mereka.“Kamu kasar banget sama kakak iparmu,” tutur Siska.“Iya, gak boleh gitu,” timpal Maya.“Apaan sih kalian! Mentang-mentang dia jadi bahan gibahan kalian se-kos, kalian sok belain dia!”“Jangan marah-marah dong, Cantik!”“Iya, ih, baperan.”“Ini aku jadi cerita apa enggak?” tandas Eca.“Iya, jadi dong.”“Aw.”Eca merintih saat ingin merapatkan kakinya. Siska dan Maya khawatir.“Kenapa, Eca? Masih perih ya?”“Iya, padahal semalam waktu basah gak perih. Baru terasa pagi tadi.”Tommy yang masih di dapur ujung pura-pura membersihkan wastafel sambil menguping.“Duh, pasti kamu dapat yang gede ya. Kok bisa sih? Aku aja gak pernah lho sampai merasa kesakitan begini, apalagi jalan ngangkang,” ungkap Maya.“Ya jelas lah itu. Pas masuk jleb gitu ya, kayak kesumpal benda gede,” Siska tak kalah antusias.“Hehe, memangnya kayak pacarmu, Siska, anak mami. Kerasanya aja enggak.”“Iya

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 14

    Tommy membuka pintu. Laras melihat Tommy yang agak kacau. Berkeringat rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga seperti dipakai dengan buru-buru. "Kamu habis ngapain, Tommy." Laras menyelidik. Tommy tergeragap. Laras merasa aneh. Dengan tidak sabaran dia mendorong pintu itu dan melihat seisi kamar. Dahinya berkerut. "Kenapa, Ma?" Laras mengedarkan pandangan. Tidak ada yang aneh. Hanya dipan yang usang. Lantai yang bersih. Tommy tersenyum kaku, supaya terlihat tidak gugup. "Kamu habis ngapain sih, Tommy! Kamu kayak bawa seseorang di sini." "Gak ngapa-ngapain, Ma. Saya sendiri kok. Saya agak kurang enak badan saja. Tadi diare di kamar mandi gak selesai-selesai." Laras memandang wajah Tommy yang pucat. "Ih, ya sudah. Jangan lupa minum obat. Di kotak P3K di dapur ada. Ambil saja." "Tapi, saya gak dibolehin ke dapur sama Rina, Ma." "Gak papa, bilang saja disuruh Mama." "Iya, Ma." "Kamu bikin nafsu mama ilang saja, kamu bilang habis diare." Laras keluar pos. Tepat bersamaan deng

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 13

    "Kalau telpon saja gimana. Kamu mendesah pelan saja. Temani mama sampai keluar." "Hah?""Gimana, Tom? Gak mau ya? Tega ya kamu biarin mama tersiksa sendiri?" Tommy melihat ke Eca, gadis itu menunjukan wajah paling sensual. Yang artinya setiap sentuhan. Penyatuan yang dilakukan Tommy membuat Eca melayang. Tommy sekuat tenaga menahan suaranya yang ingin mengerang kenikmatan. Tidak ingin Laras curiga. "Bukan begitu, Ma. Tapi, saya tidak pernah begituan." "Gampang, kamu tinggal mendesah saja. Keluarkan suara bass mu yang seksi itu, sayang. Terus nanti ikuti kata mama." "Iya, Ma." "Sebentar, Mama ambil posisi dulu ya." Mendengar perkataan Laras, Tommy menurunkan ponselnya. Kedua tangannya sekarang tegak mengungkung. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghentak lagi. Plek..Plek.. Plek. Suara hantaman itu terdengar. Deru nafas. Desisan halus. Eca merangkulkan tangannya ke leher beton Tommy. Dia mengangkat kepalanya. memajukan bibirnya. Melihat itu, Tommy hendak menyambar. Tapi

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 12

    Tommy meludahi tangannya. Meratakan bagian bawah Eca yang nampak indah. Berair dan tentu masih sangat sempit. Tommy diliputi rasa was-was. "Jorok banget kamu, Mas. Masa Pakai ludah." "Supaya lebih licin, Eca. Supaya lebih mudah masuknya." "Tapi gak usah pakai ludah, Mas. Lidahmu bau! Dulu mantanku gak pernah kayak gitu. Pas masukin langsung Pas." "Langsung pas? Berarti punya mantan kamu kecil. Karena punyamu kecil, Eca." Eca tersadar. Apa yang dikatakan Tommy ada benarnya juga. "Sebentar ya, Eca. Mas masih sayang dengan milikmu ini. Tapi nanti dimasukin. Jangan khawatir." Eca tidak menjawab. Dia hanya merintih. Pria itu mengelus, memasukan, memainkan jempolnya. Tampak santai dan telaten sekali. Tapi terasa sekali. "Mas, sudah jangan dimainin! Kamu niat gak sih!" Wajah Eca merah padam tapi tampak sayu. Seolah emosinya menutupi rasa ingin diperlakukan lebih. "Eca, sebentar. Punya kamu itu masih sempit kalau dipaksa sekarang. Nanti kamu kesakitan. Mas gak mau

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 11

    Eca menurunkan celana Tommy dengan sangat cekatan, seolah-olah sudah sering melakukannya. Dia agak meringis melepas pakaian dalam Tommy yang agak bolong-bolong.“Haduh, celana dalam rusak begini, kok masih dipakai? Modal sedikitlah jadi cowok.”Tommy tidak menggubris. Perkataan pedas Eca hanya dianggap angin lalu. Di kepalanya sudah terngiang ‘mentok tenggorokan’ yang dimaksud oleh Eca. Membayangkan sensasinya, Tommy senyum-senyum sendiri.“Astaga! Apa ini? Kenapa sebesar ini?”Gadis yang sedang jongkok di antara dua pahanya itu tampak terkejut. Terakhir ketika dia memergoki Tommy memainkan miliknya itu, belum terlalu tegang sempurna. Tapi apa yang dilihat Eca sekarang justru membuat Eca merasa ngeri.“Enggak besar kok, Eca. Ayo, Eca, Mas sudah enggak tahan.”Tommy mengerang setengah memohon. Melihat miliknya yang akan menyentuh bibir ranum membuat Tommy tidak keruan.Gadis itu tidak menjawab. Matanya masih takjub melihat keperkasaan yang begitu tegak.“Tunggu apa lagi, Eca?”Eca mend

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status