Share

Bab 3

Author: Saga
last update publish date: 2026-09-01 15:33:56

"Kak Rina ngapain nguping kamar Mama?"

Tommy terperanjat. Pria itu menoleh ke arah pintu. Sementara bibir Laras yang hampir menyentuh bibir Tommy seketika menjauh. Raut wajah Laras berubah jengkel.

"Itu suara Eca, Ma."

"Ck! Anak itu ganggu saja kita berduaan."

Wanita itu berdiri, berjalan tenang menuju bathtub yang sudah diisi penuh air beraroma mawar. Begitu juga Tommy yang kembali melanjutkan pekerjaannya memperbaiki bawah wastafel.

Tidak berapa lama, terdengar pintu depan terbuka disertai suara Eca yang agak melengking.

"Ma! Mama di mana?"

"Di kamar mandi, Eca!"

Eca membuka pintu pelan. Ia mengernyitkan dahi, mendapati mamanya sedang berendam sementara tidak jauh dari sana ada suami kakaknya yang sibuk membetulkan wastafel.

"Mama apa-apaan sih! Tutup pintu kamar, padahal di dalam ada Mas Tommy. Udah gitu pakai berendam lagi."

Belum sempat mamanya menjawab, pandangan Eca beralih ke daster satin yang terletak di gantungan kamar mandi, tempat di mana ia tahu mamanya paling anti melihat pakaian tergantung.

Sampai akhirnya ia sadar sesuatu.

"Ma! Jangan bilang kalau Mama ganti pakaian di sini pas ada Mas Tommy."

Tommy yang melihat adik iparnya heboh langsung menoleh, wajahnya tampak tegang.

"Gak, gak gitu, Eca. Tadi Mama Laras memang sudah berendam di dalam kamar, nah kebetulan aku lewat terus Mama minta benerin ini sekalian tutup pintu depan."

"DIAM!!! AKU TANYA SAMA MAMA YA, BUKAN KAMU!"

Tommy tak lagi berbicara. Eca beralih menatap mamanya yang masih tampak tenang berendam.

"Kamu kenapa sih, Eca? Pulang-pulang kok marah-marah begitu. Santai saja. Mama beneran berendam kok, emang kamu pikir Mama ngapain sama menantu pengangguran ini?"

Eca tercenung. Masuk akal apa yang dikatakan mamanya. Kakak ipar yang degil, bau, dan berbadan besar itu memang tidak punya nilai tawar di rumah ini. Eca sangat tahu selera mamanya seperti apa.

"Tapi, Ma. Gak harus ditutupkan pintunya segala. Tadi Mbak Rina bahkan sempat ketahuan menguping di depan pintu kamar Mama. Aku tadi mergokin, karena gengsi ketahuan, dia langsung buru-buru kabur masuk kamarnya. Tumben banget dia kepo begitu, biasanya juga cuek."

Cerocoh Eca membuat jantung Tommy mendadak copot.

Jadi, Rina sempat menguping di luar sana? Yang artinya, gerak-gerik atau suara samar dari dalam kamar mandi tadi kemungkinan besar sempat tertangkap oleh telinga istrinya. Seketika napas Tommy tercekat. Bukan semata-mata karena takut pada kemarahan Rina, melainkan rasa tidak ingin istrinya salah paham.

"Ma, saluran bawah wastafel sudah gak mampet lagi. Saya mau keluar dulu ya," ujar Tommy sambil membereskan peralatannya.

"Beneran udah beres? Mama gak mau ya nanti tersumbat lagi. Periksa lagi!"

Tommy mengurungkan niatnya untuk pergi, walau ia tahu saluran air itu sama sekali tidak bermasalah.

"Udah, Eca kamu keluar saja. Mama capek tadi habis arisan sama temen-temen Mama. Mama mau berendam mau manjain diri."

"Terus Mama biarin dia di sini?!"

"Kamu kok membangkang sama Mama. Dibilangin keluar ya keluar! Jadi anak kok bawel amat!"

Eca menginjakkan kaki kesal. Ia melirik tajam ke arah perawakan besar yang sedang jongkok itu.

"Awas ya kamu kalau berani macam-macam sama Mama. Kuusir kamu dari rumah ini! Ngerti!"

Tommy hanya diam. Adik iparnya itu sama sekali tidak menghormatinya sebagai seorang kakak.

Setelah Eca keluar kamar dan menutup pintu, Laras melongokkan kepalanya.

"Sepertinya sekarang gak aman, Tom. Maafin Mama ya tadi ikut-ikutan hina kamu. Mama sebenarnya sudah ingin dipegang sama tangan kasar kamu. 'Saluran air' Mama sudah sangat basah, Tom."

Ekor mata Tommy sempat menangkap postur mamanya yang sedikit keluar dari bathtub. Bentuk tubuh ibu mertuanya itu tampak sangat jelas tercetak di balik jubah mandi, benar-benar seolah menantang untuk diterkam.

"Lain waktu saja ya, Tom. Kalau kondisinya sudah aman. Mama ingin leluasa menghabiskan waktu sama kamu."

"Kalau begitu, saya keluar dulu ya, Ma. Mau mandi lagi setelah itu tidur."

"Gak mau mandi di sini saja?"

Tommy hendak berdiri menenteng tas peralatannya. Saat mendongak, ia tak sengaja melihat mertuanya sudah setengah keluar dari bathtub dengan lekuk tubuh montok yang tampak menempel ketat menerawang.

"Gak, Ma. Saya mandi di tempat lain saja."

Tommy melangkah cepat menuju kamar mandi tengah. Kepalanya berdenyut dan napasnya terasa berat. Begitu masuk, ia buru-buru menutup pintu, lalu bersandar pada dinding keramik yang dingin untuk meredakan suhu tubuhnya yang mendidih.

"Sialan..." umpat Tommy pelan, suaranya serak tertahan di tenggorokan. "Istri sendiri jijik disentuh, tapi mamanya malah sengaja mancing-mancing."

Pria itu mengusap wajahnya kasar. Pikirannya benar-benar kalut. Caci maki Rina yang merendahkan harga dirinya terus terngiang, tapi di sisi lain, bayangan lekuk tubuh Laras, aroma mawarnya, dan sentuhan lembut gundukan kembar Laras yang menempel di lengannya tadi berputar liar menghancurkan akal sehatnya.

"Bisa gila aku lama-lama di rumah ini," keluhnya.

Tangannya bergerak menyilang, menarik singlet putihnya dengan kasar dan melemparnya ke keranjang. Kulit cokelatnya yang berpeluh memantulkan cahaya lampu kamar mandi. Hawa panas di pangkal pahanya sudah tak tertahankan. Gelora yang sedari tadi membuncah menuntut untuk segera dituntaskan.

Dengan napas memburu, Tommy melucuti celana pendek beserta pakaian dalamnya sekaligus.

Pria berbadan besar itu memejamkan mata. Tangannya perlahan turun, langsung menggenggam erat pusakanya yang sudah menegang penuh dan berdenyut keras. Ia mendongak, bibirnya sedikit terbuka saat tangannya mulai bersiap melakukan gerakan pertama.

"Akh..." desahnya tertahan.

Ceklek.

Pintu kamar mandi yang ternyata belum berbunyi 'klik' saat ditutup tadi, mendadak terbuka lebar.

"Duh, perasaan tadi sabun cuci mukaku ketinggalan di sini deh..."

Namun, saat mata Eca menangkap sesuatu yang panjang dan berwarna gelap, suaranya terputus seketika.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 7

    "Besar banget, Tom," gumam Laras dengan mata membulat takjub, jemarinya sengaja mengurut pelan. "Mama tahu kamu nahan ini dari semalam. Sayang banget kalau barang sekeras ini disia-siain sama Rina."Napas Tommy tersengal. Hawa panas dari tubuh Laras di atas pangkuannya benar-benar membakar akal sehatnya. Kedua tangan besarnya kini refleks mencengkeram pinggang polos ibu mertuanya itu.Laras sedikit mengangkat pinggulnya. Ia menuntun ujung kejantanan Tommy, menempelkannya tepat di bibir inti tubuhnya yang sudah basah kuyup."Masukin, Tom," desak Laras, suaranya bergetar menahan gairah. "Bikin Mama gila malam ini.""Maafin saya, Ma..." desah Tommy parau. Insting liarnya mengambil alih. Pria itu menekan pinggang Laras agar turun.Laras memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Dengan napas tertahan, wanita itu pinggulnya mulai bergerak perlahan…Tommy menyibak daster bagian bawah sampai terlihat jelas sumur yang dirimbuni semak belukar itu terawat dan tercukur dengan rapi. Sementara Lara

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 6

    (Tom, ke kamar mama sebentar. Lampu kamar mama tiba-tiba mati) 'Beneran mati lampunya, atau ini cuma akal-akalan mama kayak semalam?' Tommy meletakan ponselnya di laci. Dia tidak segera bergegas ke kamar mama mertuanya. Dia pergi ke garasi untuk mengeluarkan mobil Rina dan memanasinya. Tak berapa lama, Rina keluar dengan pakaian kantor. Sambil berjalan dia sibuk menelpon seseorang sambil memeriksa berkas di tangannya. Tommy segera keluar dari mobil. Rina masuk mobil tanpa menganggap Tommy. Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah. Setelah memastikan mobil pergi. Dia menoleh ke arah kamar mama mertua. Kordennya masih tertutup. Tapi angin-anginnya gelap. "Beneran mati kayaknya lampunya." Tommy mengambil lampu cadangan dan tangga. Berjalan menuju kamar mamanya. Tok...tok...tok.. "Masuk saja." Tommy membuka pintu perlahan. Kamar mamanya tampak gelap. "Ma." "Iya, Tom." "Kok gelap-gelapan, Ma." Tommy meraba dinding. Menyalakan saklar. Byar! Terlihat mamanya pakai baju tidur

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 5

    Sis…” panggil Maya, sementara jarinya menyentuh benda tegak dan tebal itu, mengikuti pikiran intrusifnya, “Beneran gede banget ya…”'Aduh! Sial! Kenapa bisa robek segala saat lagi tegang-tegangnya begini.' "A...c-nya sudah beres, Mbak. S-saya mau balik dulu." Tommy buru-buru membereskan peralatan dan melipat tangga. Saat Siska mendekat menggamit lengan besar dan hitam Tommy dengan mengucapkan kata kata manja. "Kenapa buru-buru balik sih, Mas. Masuk dulu yuk ke kos. Emang gak butuh bantuan? 'adiknya' udah keras banget kayaknya tadi kami lihat." Tommy yang hendak melipat tangga tertahan oleh Siska. Entah kenapa dia tidak segera menarik tangannya seolah benda empuk menempel. aroma tubuh, tercium kuat menggugah kelaki-lakian ya. "Iya, Mas. Gak mampir sebentar saja. Gak usah khawatir anak kos lain lagi keluar semua. Orang-orang yang di rumah juga sudah tidur kan."Maya berdiri di hadapannya. Tangan wanita itu memegang bulu bulu menggoda yang tumbuh antara perut menuju pangkal paha. Wa

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 4

    "Eca, " Suara Tommy tercekat. Pikirannya tidak karuan sampai-sampai dia lupa mengunci pintu kamar mandi. Dan sekarang wajahnya merah menahan malu saat 'aktivitas' diketahui adik iparnya sendiri.Eca terkesiap mundur, kedua tangannya refleks menutup mulut rapat-rapat, menahan jeritan yang nyaris keluar dari mulutnya. Wajah gadis itu seketika memerah padam. Matanya yang membulat sempurna tak bisa lepas dari pusaka Tommy yang mencuat tegap, tebal, dan berukuran tak masuk akal di depan matanya.Pandangan Eca masih terkunci di bagian bawah yang besar menggantung itu. Buru-buru, Tommy menarik celana pendeknya dari lantai, memakainya asal-asalan tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya yang sudah terlanjur kotor tertumpuk.Tommy merentangkan tangannya hendak menutup pintu. Tapi tiba-tiba Eca menahannya. Pintu kembali terbuka lebar."Tutup pintunya Eca, saya mau mandi."Pandangan Eca beralih menatap wajah Tommy yang sangar tapi tampak salah tingkah dan malu."Kurang ajar ya kamu," desis Eca

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 3

    "Kak Rina ngapain nguping kamar Mama?"Tommy terperanjat. Pria itu menoleh ke arah pintu. Sementara bibir Laras yang hampir menyentuh bibir Tommy seketika menjauh. Raut wajah Laras berubah jengkel."Itu suara Eca, Ma.""Ck! Anak itu ganggu saja kita berduaan."Wanita itu berdiri, berjalan tenang menuju bathtub yang sudah diisi penuh air beraroma mawar. Begitu juga Tommy yang kembali melanjutkan pekerjaannya memperbaiki bawah wastafel.Tidak berapa lama, terdengar pintu depan terbuka disertai suara Eca yang agak melengking."Ma! Mama di mana?""Di kamar mandi, Eca!"Eca membuka pintu pelan. Ia mengernyitkan dahi, mendapati mamanya sedang berendam sementara tidak jauh dari sana ada suami kakaknya yang sibuk membetulkan wastafel."Mama apa-apaan sih! Tutup pintu kamar, padahal di dalam ada Mas Tommy. Udah gitu pakai berendam lagi."Belum sempat mamanya menjawab, pandangan Eca beralih ke daster satin yang terletak di gantungan kamar mandi, tempat di mana ia tahu mamanya paling anti meliha

  • Pompa Terus Sampai Penuh!   Bab 2

    Tawa pelan nan menggoda tiba-tiba meluncur dari bibir merah Laras, menyadari ketegangan menantunya yang mematung. "Astaga, Tom. Kamu tegang banget. Mama cuma bercanda soal saluran yang bawah itu," kekehnya pelan, menarik jemarinya dari paha Tommy dengan usapan sensual yang disengaja. "Tapi kalau wastafel di kamar mandi Mama, itu beneran mampet. Yuk, bantu Mama perbaiki di atas."Tommy menghela napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantung dan hawa panas di pangkal pahanya akibat candaan nakal sang mertua. Pria itu bergegas mengambil kotak perkakasnya yang tertinggal, lalu mengekor patuh di belakang langkah anggun Laras menaiki tangga.Di dalam kamar mandi utama yang luas, Tommy langsung berjongkok di kolong wastafel. "Saya perbaiki dulu ya, Ma," ucapnya mulai sibuk membongkar peralatan."Iya, Tom."Laras tersenyum. Alih-alih menunggu di luar, dia menutup rapat pintu kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Tommy yang membelakanginya, Laras menanggalkan baju tidur satinnya di lantai, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status