Masuk"Kak Rina ngapain nguping kamar Mama?"
Tommy terperanjat. Pria itu menoleh ke arah pintu. Sementara bibir Laras yang hampir menyentuh bibir Tommy seketika menjauh. Raut wajah Laras berubah jengkel. "Itu suara Eca, Ma." "Ck! Anak itu ganggu saja kita berduaan." Wanita itu berdiri, berjalan tenang menuju bathtub yang sudah diisi penuh air beraroma mawar. Begitu juga Tommy yang kembali melanjutkan pekerjaannya memperbaiki bawah wastafel. Tidak berapa lama, terdengar pintu depan terbuka disertai suara Eca yang agak melengking. "Ma! Mama di mana?" "Di kamar mandi, Eca!" Eca membuka pintu pelan. Ia mengernyitkan dahi, mendapati mamanya sedang berendam sementara tidak jauh dari sana ada suami kakaknya yang sibuk membetulkan wastafel. "Mama apa-apaan sih! Tutup pintu kamar, padahal di dalam ada Mas Tommy. Udah gitu pakai berendam lagi." Belum sempat mamanya menjawab, pandangan Eca beralih ke daster satin yang terletak di gantungan kamar mandi, tempat di mana ia tahu mamanya paling anti melihat pakaian tergantung. Sampai akhirnya ia sadar sesuatu. "Ma! Jangan bilang kalau Mama ganti pakaian di sini pas ada Mas Tommy." Tommy yang melihat adik iparnya heboh langsung menoleh, wajahnya tampak tegang. "Gak, gak gitu, Eca. Tadi Mama Laras memang sudah berendam di dalam kamar, nah kebetulan aku lewat terus Mama minta benerin ini sekalian tutup pintu depan." "DIAM!!! AKU TANYA SAMA MAMA YA, BUKAN KAMU!" Tommy tak lagi berbicara. Eca beralih menatap mamanya yang masih tampak tenang berendam. "Kamu kenapa sih, Eca? Pulang-pulang kok marah-marah begitu. Santai saja. Mama beneran berendam kok, emang kamu pikir Mama ngapain sama menantu pengangguran ini?" Eca tercenung. Masuk akal apa yang dikatakan mamanya. Kakak ipar yang degil, bau, dan berbadan besar itu memang tidak punya nilai tawar di rumah ini. Eca sangat tahu selera mamanya seperti apa. "Tapi, Ma. Gak harus ditutupkan pintunya segala. Tadi Mbak Rina bahkan sempat ketahuan menguping di depan pintu kamar Mama. Aku tadi mergokin, karena gengsi ketahuan, dia langsung buru-buru kabur masuk kamarnya. Tumben banget dia kepo begitu, biasanya juga cuek." Cerocoh Eca membuat jantung Tommy mendadak copot. Jadi, Rina sempat menguping di luar sana? Yang artinya, gerak-gerik atau suara samar dari dalam kamar mandi tadi kemungkinan besar sempat tertangkap oleh telinga istrinya. Seketika napas Tommy tercekat. Bukan semata-mata karena takut pada kemarahan Rina, melainkan rasa tidak ingin istrinya salah paham. "Ma, saluran bawah wastafel sudah gak mampet lagi. Saya mau keluar dulu ya," ujar Tommy sambil membereskan peralatannya. "Beneran udah beres? Mama gak mau ya nanti tersumbat lagi. Periksa lagi!" Tommy mengurungkan niatnya untuk pergi, walau ia tahu saluran air itu sama sekali tidak bermasalah. "Udah, Eca kamu keluar saja. Mama capek tadi habis arisan sama temen-temen Mama. Mama mau berendam mau manjain diri." "Terus Mama biarin dia di sini?!" "Kamu kok membangkang sama Mama. Dibilangin keluar ya keluar! Jadi anak kok bawel amat!" Eca menginjakkan kaki kesal. Ia melirik tajam ke arah perawakan besar yang sedang jongkok itu. "Awas ya kamu kalau berani macam-macam sama Mama. Kuusir kamu dari rumah ini! Ngerti!" Tommy hanya diam. Adik iparnya itu sama sekali tidak menghormatinya sebagai seorang kakak. Setelah Eca keluar kamar dan menutup pintu, Laras melongokkan kepalanya. "Sepertinya sekarang gak aman, Tom. Maafin Mama ya tadi ikut-ikutan hina kamu. Mama sebenarnya sudah ingin dipegang sama tangan kasar kamu. 'Saluran air' Mama sudah sangat basah, Tom." Ekor mata Tommy sempat menangkap postur mamanya yang sedikit keluar dari bathtub. Bentuk tubuh ibu mertuanya itu tampak sangat jelas tercetak di balik jubah mandi, benar-benar seolah menantang untuk diterkam. "Lain waktu saja ya, Tom. Kalau kondisinya sudah aman. Mama ingin leluasa menghabiskan waktu sama kamu." "Kalau begitu, saya keluar dulu ya, Ma. Mau mandi lagi setelah itu tidur." "Gak mau mandi di sini saja?" Tommy hendak berdiri menenteng tas peralatannya. Saat mendongak, ia tak sengaja melihat mertuanya sudah setengah keluar dari bathtub dengan lekuk tubuh montok yang tampak menempel ketat menerawang. "Gak, Ma. Saya mandi di tempat lain saja." Tommy melangkah cepat menuju kamar mandi tengah. Kepalanya berdenyut dan napasnya terasa berat. Begitu masuk, ia buru-buru menutup pintu, lalu bersandar pada dinding keramik yang dingin untuk meredakan suhu tubuhnya yang mendidih. "Sialan..." umpat Tommy pelan, suaranya serak tertahan di tenggorokan. "Istri sendiri jijik disentuh, tapi mamanya malah sengaja mancing-mancing." Pria itu mengusap wajahnya kasar. Pikirannya benar-benar kalut. Caci maki Rina yang merendahkan harga dirinya terus terngiang, tapi di sisi lain, bayangan lekuk tubuh Laras, aroma mawarnya, dan sentuhan lembut gundukan kembar Laras yang menempel di lengannya tadi berputar liar menghancurkan akal sehatnya. "Bisa gila aku lama-lama di rumah ini," keluhnya. Tangannya bergerak menyilang, menarik singlet putihnya dengan kasar dan melemparnya ke keranjang. Kulit cokelatnya yang berpeluh memantulkan cahaya lampu kamar mandi. Hawa panas di pangkal pahanya sudah tak tertahankan. Gelora yang sedari tadi membuncah menuntut untuk segera dituntaskan. Dengan napas memburu, Tommy melucuti celana pendek beserta pakaian dalamnya sekaligus. Pria berbadan besar itu memejamkan mata. Tangannya perlahan turun, langsung menggenggam erat pusakanya yang sudah menegang penuh dan berdenyut keras. Ia mendongak, bibirnya sedikit terbuka saat tangannya mulai bersiap melakukan gerakan pertama. "Akh..." desahnya tertahan. Ceklek. Pintu kamar mandi yang ternyata belum berbunyi 'klik' saat ditutup tadi, mendadak terbuka lebar. "Duh, perasaan tadi sabun cuci mukaku ketinggalan di sini deh..." Namun, saat mata Eca menangkap sesuatu yang panjang dan berwarna gelap, suaranya terputus seketika.Tommy berdiri di depan apartemen Laras. Dia ragu hendak mengetuk pintu. Namun saat akan mengetuk pintu, ekor matanya menangkap langkah kaki yang mendekatinya. “Eh, Tommy. Sudah sampai. Ini ya berkas Mama?” Tommy menoleh. Terlihat wanita paruh baya itu tersenyum cerah melihat kedatangannya. Dia menggunakan pakaian kantor formal dengan celana kain panjang. Beda hari biasanya pakai rok yang tingginya di atas lutut. “Iya, Ma. Ini." Tommy menyerahkan map coklat itu. Kemudian buru-buru mau pamit. “Ma, saya pulang dulu ya.” “Kenapa buru-buru, Tom? Temani Mama di dalam sebentar saja.” “Enggak, bisa. Ma. Mau buru-buru pulang.” “Kamu kok sepertinya menghindar dari mama. Kenapa?” Tommy mengalihkan pandangan. Tatapan mata Laras. Bukan tatapan mata penuh nafsu yang masih bisa elak. Tapi tatapan mata seorang wanita yang butuh dimanja, diperhatikan. Membuat Tommy sulit mengelak. “Enggak, Ma.” “Ya, udah. Ayo masuk.” Laras mengambil kartu dari sakunya. Men-tap pintu. Kemudian membukanya.
Setelah membentak Tommy, Siska dan Maya menggeser duduknya, memberi ruang buat Eca. Eca duduk di tengah-tengah mereka.“Kamu kasar banget sama kakak iparmu,” tutur Siska.“Iya, gak boleh gitu,” timpal Maya.“Apaan sih kalian! Mentang-mentang dia jadi bahan gibahan kalian se-kos, kalian sok belain dia!”“Jangan marah-marah dong, Cantik!”“Iya, ih, baperan.”“Ini aku jadi cerita apa enggak?” tandas Eca.“Iya, jadi dong.”“Aw.”Eca merintih saat ingin merapatkan kakinya. Siska dan Maya khawatir.“Kenapa, Eca? Masih perih ya?”“Iya, padahal semalam waktu basah gak perih. Baru terasa pagi tadi.”Tommy yang masih di dapur ujung pura-pura membersihkan wastafel sambil menguping.“Duh, pasti kamu dapat yang gede ya. Kok bisa sih? Aku aja gak pernah lho sampai merasa kesakitan begini, apalagi jalan ngangkang,” ungkap Maya.“Ya jelas lah itu. Pas masuk jleb gitu ya, kayak kesumpal benda gede,” Siska tak kalah antusias.“Hehe, memangnya kayak pacarmu, Siska, anak mami. Kerasanya aja enggak.”“Iya
Tommy membuka pintu. Laras melihat Tommy yang agak kacau. Berkeringat rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga seperti dipakai dengan buru-buru. "Kamu habis ngapain, Tommy." Laras menyelidik. Tommy tergeragap. Laras merasa aneh. Dengan tidak sabaran dia mendorong pintu itu dan melihat seisi kamar. Dahinya berkerut. "Kenapa, Ma?" Laras mengedarkan pandangan. Tidak ada yang aneh. Hanya dipan yang usang. Lantai yang bersih. Tommy tersenyum kaku, supaya terlihat tidak gugup. "Kamu habis ngapain sih, Tommy! Kamu kayak bawa seseorang di sini." "Gak ngapa-ngapain, Ma. Saya sendiri kok. Saya agak kurang enak badan saja. Tadi diare di kamar mandi gak selesai-selesai." Laras memandang wajah Tommy yang pucat. "Ih, ya sudah. Jangan lupa minum obat. Di kotak P3K di dapur ada. Ambil saja." "Tapi, saya gak dibolehin ke dapur sama Rina, Ma." "Gak papa, bilang saja disuruh Mama." "Iya, Ma." "Kamu bikin nafsu mama ilang saja, kamu bilang habis diare." Laras keluar pos. Tepat bersamaan deng
"Kalau telpon saja gimana. Kamu mendesah pelan saja. Temani mama sampai keluar." "Hah?""Gimana, Tom? Gak mau ya? Tega ya kamu biarin mama tersiksa sendiri?" Tommy melihat ke Eca, gadis itu menunjukan wajah paling sensual. Yang artinya setiap sentuhan. Penyatuan yang dilakukan Tommy membuat Eca melayang. Tommy sekuat tenaga menahan suaranya yang ingin mengerang kenikmatan. Tidak ingin Laras curiga. "Bukan begitu, Ma. Tapi, saya tidak pernah begituan." "Gampang, kamu tinggal mendesah saja. Keluarkan suara bass mu yang seksi itu, sayang. Terus nanti ikuti kata mama." "Iya, Ma." "Sebentar, Mama ambil posisi dulu ya." Mendengar perkataan Laras, Tommy menurunkan ponselnya. Kedua tangannya sekarang tegak mengungkung. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghentak lagi. Plek..Plek.. Plek. Suara hantaman itu terdengar. Deru nafas. Desisan halus. Eca merangkulkan tangannya ke leher beton Tommy. Dia mengangkat kepalanya. memajukan bibirnya. Melihat itu, Tommy hendak menyambar. Tapi
Tommy meludahi tangannya. Meratakan bagian bawah Eca yang nampak indah. Berair dan tentu masih sangat sempit. Tommy diliputi rasa was-was. "Jorok banget kamu, Mas. Masa Pakai ludah." "Supaya lebih licin, Eca. Supaya lebih mudah masuknya." "Tapi gak usah pakai ludah, Mas. Lidahmu bau! Dulu mantanku gak pernah kayak gitu. Pas masukin langsung Pas." "Langsung pas? Berarti punya mantan kamu kecil. Karena punyamu kecil, Eca." Eca tersadar. Apa yang dikatakan Tommy ada benarnya juga. "Sebentar ya, Eca. Mas masih sayang dengan milikmu ini. Tapi nanti dimasukin. Jangan khawatir." Eca tidak menjawab. Dia hanya merintih. Pria itu mengelus, memasukan, memainkan jempolnya. Tampak santai dan telaten sekali. Tapi terasa sekali. "Mas, sudah jangan dimainin! Kamu niat gak sih!" Wajah Eca merah padam tapi tampak sayu. Seolah emosinya menutupi rasa ingin diperlakukan lebih. "Eca, sebentar. Punya kamu itu masih sempit kalau dipaksa sekarang. Nanti kamu kesakitan. Mas gak mau
Eca menurunkan celana Tommy dengan sangat cekatan, seolah-olah sudah sering melakukannya. Dia agak meringis melepas pakaian dalam Tommy yang agak bolong-bolong.“Haduh, celana dalam rusak begini, kok masih dipakai? Modal sedikitlah jadi cowok.”Tommy tidak menggubris. Perkataan pedas Eca hanya dianggap angin lalu. Di kepalanya sudah terngiang ‘mentok tenggorokan’ yang dimaksud oleh Eca. Membayangkan sensasinya, Tommy senyum-senyum sendiri.“Astaga! Apa ini? Kenapa sebesar ini?”Gadis yang sedang jongkok di antara dua pahanya itu tampak terkejut. Terakhir ketika dia memergoki Tommy memainkan miliknya itu, belum terlalu tegang sempurna. Tapi apa yang dilihat Eca sekarang justru membuat Eca merasa ngeri.“Enggak besar kok, Eca. Ayo, Eca, Mas sudah enggak tahan.”Tommy mengerang setengah memohon. Melihat miliknya yang akan menyentuh bibir ranum membuat Tommy tidak keruan.Gadis itu tidak menjawab. Matanya masih takjub melihat keperkasaan yang begitu tegak.“Tunggu apa lagi, Eca?”Eca mend







