Share

Bab 4

Penulis: Saga
last update Tanggal publikasi: 2026-09-01 15:34:57

"Eca, " Suara Tommy tercekat.

Pikirannya tidak karuan sampai-sampai dia lupa mengunci pintu kamar mandi. Dan sekarang wajahnya merah menahan malu saat 'aktivitas' diketahui adik iparnya sendiri.

Eca terkesiap mundur, kedua tangannya refleks menutup mulut rapat-rapat, menahan jeritan yang nyaris keluar dari mulutnya.

Wajah gadis itu seketika memerah padam. Matanya yang membulat sempurna tak bisa lepas dari pusaka Tommy yang mencuat tegap, tebal, dan berukuran tak masuk akal di depan matanya.

Pandangan Eca masih terkunci di bagian bawah yang besar menggantung itu. Buru-buru, Tommy menarik celana pendeknya dari lantai, memakainya asal-asalan tanpa sempat mengenakan pakaian dalamnya yang sudah terlanjur kotor tertumpuk.

Tommy merentangkan tangannya hendak menutup pintu. Tapi tiba-tiba Eca menahannya. Pintu kembali terbuka lebar.

"Tutup pintunya Eca, saya mau mandi."

Pandangan Eca beralih menatap wajah Tommy yang sangar tapi tampak salah tingkah dan malu.

"Kurang ajar ya kamu," desis Eca dengan suara bergetar. Gadis itu menelan ludah, susah payah menarik matanya dari tonjolan yang kini tercetak jelas di balik celana pendek Tommy.

"Bisa-bisanya habis selesai dari kamar Mama. Kamu mainin punya kamu. Kamu bayangin Mama ya?!"

Tommy panik. Dia kebingungan untuk menjelaskan kepada adik iparnya itu.

"Bu... Bukan begitu, Eca."

"Gak usah boong! Ternyata di balik sikapmu yang pengecut, kamu diam-diam mesum bayangin Mama. Jangan mentang-mentang Mbak Rina sering nolak kamu, kamu seenaknya lampiaskan dengan bayangin Mama ya! Aku gak terima!"

Suara Eca meninggi. Tommy takut kalau Rina di kamar mendengar. Begitu pun juga Mama Laras yang bisa saja datang dan kembali berdebat dengan mamanya.

"Enggak, Eca. Kamu jangan salah paham. Ngomongmu jangan keras-keras."

Eca tidak segera menjawab. Matanya menatap sebal ke Tommy, namun diam-diam ekor matanya kembali melirik liar ke arah selangkangan pria itu.

"Ok, aku tidak akan keras-keras ngomongnya. Tapi aku akan menghukummu karena sudah melakukan tadi sambil bayangin Mama."

"Iya, iya Eca. Kamu mau saya melakukan apa? Saya akan lakukan demi kamu. Asalkan jangan ngadu sama Mama dan Rina."

Eca tersenyum misterius. Lewat raut wajahnya, sepertinya dia tengah merencanakan sesuatu untuk kakak iparnya ini.

"Sekarang kamu mandi dulu, setelah itu kamu ke kamar Maya. Tadi dia chat aku katanya AC-nya bermasalah."

"Iya, nanti aku ke sana untuk memperbaikinya."

Eca berlalu dari hadapan Tommy. Tommy segara menutup pintu dan mandi, lalu bergegas menuju kamar Maya.

Sesampainya di sana, ternyata Maya tidak sendiri, dia bersama dengan Siska, teman sebelah kamarnya. Dua mahasiswi itu menyambutnya dengan menggunakan baju tidur yang sangat minim.

"Eh, Mas Tommy. Sini Mas," ajak Maya lembut.

Sambil memegang tangga, dia berjalan mendekati mereka. Dia meneguk ludah disajikan pemandangan badan-badan ranum remaja yang menginjak usia dewasa. Tampak kencang, mulus, dan menggoda.

"AC-nya kenapa, Mbak?"

Maya tidak segera menjawab. Wanita itu sengaja mendekat ke badan Tommy lalu tangannya dengan berani mengusap peluh di dada bidang pria itu, turun perlahan menyusuri perut kerasnya.

"AC-nya panas, Mas. Saya kegerahan setiap malam. Makanya saya pakai baju begini," ucap Maya sambil mencondongkan bagian tubuh atasnya ke Tommy. Belahan melon kembarnya yang bisa dibilang cukup besar untuk perempuan seumurannya.

Tommy sempat melirik. Belum sempat tadi dia 'memuaskan diri' karena kepergok Eca. Sekarang dia dihadapkan dengan pemandangan perempuan-perempuan yang sengaja menantang nafsunya.

'Sial, gimana aku bisa tahan kalau begini.'

Tommy menggelengkan kepala. Napasnya mulai memburu saat jemari Maya terus bergerilya. Dia memperbaiki letak 'adik'nya yang kembali meronta.

Sentuhan tangan Maya yang dingin di kulitnya yang gerah membuat bulu halus Tommy meremang. Belum lagi Siska yang kini ikut mendekat, punggung tangannya sengaja digesekkan kuat menekan paha dalam pria itu.

"Eh, Mas. Kenapa itu? Kok ada yang menonjol?" tegur Siska sambil tersenyum nakal, matanya menatap lekat pada gundukan raksasa yang menegang beringas menantang kain celananya.

"Maaf, tadi saya buru-buru, lupa gak pakai celana dalam." Tommy beralasan, mati-matian mengatupkan rahang saat gesekan lembut Siska barusan mengirimkan sengatan panas.

Sialan, celana dalamnya tertinggal di kamar mandi tadi.

"Ohhh."

Mereka berdua ber'o' bersama diiringi tawa menggoda. Tommy mulai memasang tangga di depan kos, dan mulai menaikinya.

"Mas, perlu dipegangin gak?" goda Maya.

"Tangganya, Mbak? Gak perlu, Mbak."

"Iyalah, tangga, masa yang lain?" ucap Maya sambil cekikikan.

Tapi tiba-tiba jemari Maya membelai betis Tommy yang berbulu lebat saat pria itu menaiki anak tangga, merayap pelan hingga memijat lembut lipatan belakang lututnya.

Tommy menelan ludah, berusaha fokus membongkar filter AC di atas sana. Namun, yang tidak ia sadari, celana pendek usang yang ia kenakan sudah menipis, bahkan ada jahitan yang koyak cukup lebar di area pangkal pahanya.

Di bawah tangga, Siska mendongak. Mata mahasiswi itu seketika membulat lebar, tangannya refleks menepuk lengan Maya dengan antusias.

"May, lihat tuh..." desis Siska.

Maya ikut mendongak. Dari sudut pandang mereka berdua tepat di bawah tangga, celah bolongan di celana pendek Tommy terekspos jelas. Karena pria itu tak memakai celana dalam, sesuatu yang panjang dan gelap itu menyembul mengintip dari balik robekan kain, berkedut tegang tepat di atas kepala mereka.

"Sinting... punya barang begini malah disia-siai," bisik Maya dengan napas ikut terengah, matanya tak berkedip menatap pemandangan liar yang menggantung di atasnya.

"Rumputnya lebat banget lagi. Gagah banget, May. Jadi pengen pegang..." Siska ikut menimpali, tanpa peduli jika suaranya samar-samar terdengar oleh Tommy.

Di atas tangga, Tommy bisa mendengar bisik-bisik nakal itu. Keringat dingin menetes di pelipisnya.

Ia mempercepat kerjanya, memasang kembali penutup AC dengan tangan sedikit bergetar sebelum pertahanannya benar-benar hancur.

"Udah, Mbak. Udah beres," ucap Tommy dengan suara serak, buru-buru memutar tubuhnya untuk turun.

Namun, karena tergesa-gesa dan pikirannya sudah kacau balau, ia tak memperhatikan langkahnya. "Saat kakinya menuruni anak tangga ketiga dari bawah, ujung celana pendeknya tersangkut pada engsel besi tangga yang menonjol.

Sret! Krek!

Bunyi kain robek terdengar nyaring. Tommy kehilangan keseimbangan sejenak. Tarikan kuat dari engsel itu merobek celananya seketika dan melorotkannya hingga ke pertengahan paha.

“Aduh!”

Waktu seakan berhenti.

Di hadapan Maya dan Siska yang masih berdiri merapat di bawah tangga, pusaka raksasa Tommy kini terbebas sepenuhnya, hanya berjarak satu jengkal tepat di depan wajah kedua gadis itu.

“Sis…” panggil Maya, sementara jarinya menyentuh benda tegak dan tebal itu, mengikuti pikiran intrusifnya, “Beneran gede banget ya…”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 16

    Tommy berdiri di depan apartemen Laras. Dia ragu hendak mengetuk pintu. Namun saat akan mengetuk pintu, ekor matanya menangkap langkah kaki yang mendekatinya. “Eh, Tommy. Sudah sampai. Ini ya berkas Mama?” Tommy menoleh. Terlihat wanita paruh baya itu tersenyum cerah melihat kedatangannya. Dia menggunakan pakaian kantor formal dengan celana kain panjang. Beda hari biasanya pakai rok yang tingginya di atas lutut. “Iya, Ma. Ini." Tommy menyerahkan map coklat itu. Kemudian buru-buru mau pamit. “Ma, saya pulang dulu ya.” “Kenapa buru-buru, Tom? Temani Mama di dalam sebentar saja.” “Enggak, bisa. Ma. Mau buru-buru pulang.” “Kamu kok sepertinya menghindar dari mama. Kenapa?” Tommy mengalihkan pandangan. Tatapan mata Laras. Bukan tatapan mata penuh nafsu yang masih bisa elak. Tapi tatapan mata seorang wanita yang butuh dimanja, diperhatikan. Membuat Tommy sulit mengelak. “Enggak, Ma.” “Ya, udah. Ayo masuk.” Laras mengambil kartu dari sakunya. Men-tap pintu. Kemudian membukanya.

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 15

    Setelah membentak Tommy, Siska dan Maya menggeser duduknya, memberi ruang buat Eca. Eca duduk di tengah-tengah mereka.“Kamu kasar banget sama kakak iparmu,” tutur Siska.“Iya, gak boleh gitu,” timpal Maya.“Apaan sih kalian! Mentang-mentang dia jadi bahan gibahan kalian se-kos, kalian sok belain dia!”“Jangan marah-marah dong, Cantik!”“Iya, ih, baperan.”“Ini aku jadi cerita apa enggak?” tandas Eca.“Iya, jadi dong.”“Aw.”Eca merintih saat ingin merapatkan kakinya. Siska dan Maya khawatir.“Kenapa, Eca? Masih perih ya?”“Iya, padahal semalam waktu basah gak perih. Baru terasa pagi tadi.”Tommy yang masih di dapur ujung pura-pura membersihkan wastafel sambil menguping.“Duh, pasti kamu dapat yang gede ya. Kok bisa sih? Aku aja gak pernah lho sampai merasa kesakitan begini, apalagi jalan ngangkang,” ungkap Maya.“Ya jelas lah itu. Pas masuk jleb gitu ya, kayak kesumpal benda gede,” Siska tak kalah antusias.“Hehe, memangnya kayak pacarmu, Siska, anak mami. Kerasanya aja enggak.”“Iya

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 14

    Tommy membuka pintu. Laras melihat Tommy yang agak kacau. Berkeringat rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga seperti dipakai dengan buru-buru. "Kamu habis ngapain, Tommy." Laras menyelidik. Tommy tergeragap. Laras merasa aneh. Dengan tidak sabaran dia mendorong pintu itu dan melihat seisi kamar. Dahinya berkerut. "Kenapa, Ma?" Laras mengedarkan pandangan. Tidak ada yang aneh. Hanya dipan yang usang. Lantai yang bersih. Tommy tersenyum kaku, supaya terlihat tidak gugup. "Kamu habis ngapain sih, Tommy! Kamu kayak bawa seseorang di sini." "Gak ngapa-ngapain, Ma. Saya sendiri kok. Saya agak kurang enak badan saja. Tadi diare di kamar mandi gak selesai-selesai." Laras memandang wajah Tommy yang pucat. "Ih, ya sudah. Jangan lupa minum obat. Di kotak P3K di dapur ada. Ambil saja." "Tapi, saya gak dibolehin ke dapur sama Rina, Ma." "Gak papa, bilang saja disuruh Mama." "Iya, Ma." "Kamu bikin nafsu mama ilang saja, kamu bilang habis diare." Laras keluar pos. Tepat bersamaan deng

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 13

    "Kalau telpon saja gimana. Kamu mendesah pelan saja. Temani mama sampai keluar." "Hah?""Gimana, Tom? Gak mau ya? Tega ya kamu biarin mama tersiksa sendiri?" Tommy melihat ke Eca, gadis itu menunjukan wajah paling sensual. Yang artinya setiap sentuhan. Penyatuan yang dilakukan Tommy membuat Eca melayang. Tommy sekuat tenaga menahan suaranya yang ingin mengerang kenikmatan. Tidak ingin Laras curiga. "Bukan begitu, Ma. Tapi, saya tidak pernah begituan." "Gampang, kamu tinggal mendesah saja. Keluarkan suara bass mu yang seksi itu, sayang. Terus nanti ikuti kata mama." "Iya, Ma." "Sebentar, Mama ambil posisi dulu ya." Mendengar perkataan Laras, Tommy menurunkan ponselnya. Kedua tangannya sekarang tegak mengungkung. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghentak lagi. Plek..Plek.. Plek. Suara hantaman itu terdengar. Deru nafas. Desisan halus. Eca merangkulkan tangannya ke leher beton Tommy. Dia mengangkat kepalanya. memajukan bibirnya. Melihat itu, Tommy hendak menyambar. Tapi

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 12

    Tommy meludahi tangannya. Meratakan bagian bawah Eca yang nampak indah. Berair dan tentu masih sangat sempit. Tommy diliputi rasa was-was. "Jorok banget kamu, Mas. Masa Pakai ludah." "Supaya lebih licin, Eca. Supaya lebih mudah masuknya." "Tapi gak usah pakai ludah, Mas. Lidahmu bau! Dulu mantanku gak pernah kayak gitu. Pas masukin langsung Pas." "Langsung pas? Berarti punya mantan kamu kecil. Karena punyamu kecil, Eca." Eca tersadar. Apa yang dikatakan Tommy ada benarnya juga. "Sebentar ya, Eca. Mas masih sayang dengan milikmu ini. Tapi nanti dimasukin. Jangan khawatir." Eca tidak menjawab. Dia hanya merintih. Pria itu mengelus, memasukan, memainkan jempolnya. Tampak santai dan telaten sekali. Tapi terasa sekali. "Mas, sudah jangan dimainin! Kamu niat gak sih!" Wajah Eca merah padam tapi tampak sayu. Seolah emosinya menutupi rasa ingin diperlakukan lebih. "Eca, sebentar. Punya kamu itu masih sempit kalau dipaksa sekarang. Nanti kamu kesakitan. Mas gak mau

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 11

    Eca menurunkan celana Tommy dengan sangat cekatan, seolah-olah sudah sering melakukannya. Dia agak meringis melepas pakaian dalam Tommy yang agak bolong-bolong.“Haduh, celana dalam rusak begini, kok masih dipakai? Modal sedikitlah jadi cowok.”Tommy tidak menggubris. Perkataan pedas Eca hanya dianggap angin lalu. Di kepalanya sudah terngiang ‘mentok tenggorokan’ yang dimaksud oleh Eca. Membayangkan sensasinya, Tommy senyum-senyum sendiri.“Astaga! Apa ini? Kenapa sebesar ini?”Gadis yang sedang jongkok di antara dua pahanya itu tampak terkejut. Terakhir ketika dia memergoki Tommy memainkan miliknya itu, belum terlalu tegang sempurna. Tapi apa yang dilihat Eca sekarang justru membuat Eca merasa ngeri.“Enggak besar kok, Eca. Ayo, Eca, Mas sudah enggak tahan.”Tommy mengerang setengah memohon. Melihat miliknya yang akan menyentuh bibir ranum membuat Tommy tidak keruan.Gadis itu tidak menjawab. Matanya masih takjub melihat keperkasaan yang begitu tegak.“Tunggu apa lagi, Eca?”Eca mend

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status