Share

Bab 02

Author: Biee
last update Last Updated: 2026-02-01 14:43:05

Setelah Marissa pergi dari kamarnya, Bara langsung mandi untuk bersiap makan siang. Bara keluar dari kamar dengan rambut yang masih agak basah. Dia berjalan pelan menuju ruang makan yang luasnya mungkin dua kali lipat rumahnya di kampung. Di sana, meja makan panjang dari kayu jati sudah penuh dengan berbagai macam lauk. Harum masakan langsung membuat perut Bara berbunyi nyaring.

Marissa sudah duduk di salah satu kursi. Dia menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Bara.

"Sini duduk, Bar. Keyla belum pulang sekolah dan Papamu pasti makan di kantor. Jadi kita makan berdua saja ya," ajak Marissa ramah.

Bara mengangguk sopan lalu duduk di kursi yang ditunjuk Marissa. Dia merasa kecil sekali di hadapan meja sebesar ini.

"Mau makan pakai apa? Biar Tante ambilkan," tawar Marissa sambil berdiri dan mengambil piring Bara.

"Eh, tidak usah repot-repot, Tante. Saya bisa ambil sendiri," tolak Bara sungkan. Dia mau berdiri untuk mengambil sendok nasi, tapi tangan Marissa menahan lengannya pelan.

"Sudah, duduk saja. Kamu itu tamu, lagipula Tante senang kok melayani anak laki-laki. Keyla kan perempuan, makannya sedikit," kata Marissa sambil tertawa kecil.

Marissa mulai menyendokkan nasi putih yang masih mengepul ke piring Bara. Setelah itu, dia menjangkau mangkuk sayur asem di tengah meja. Karena posisinya agak jauh, Marissa harus membungkukkan badannya cukup rendah di dekat Bara.

Bara terpaku di kursinya. Dari posisi duduknya yang lebih rendah, mata Bara langsung disuguhi pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Saat Marissa membungkuk, gaun sutranya melorot ke bawah karena gravitasi. Belahan dadanya yang dalam terekspos jelas di depan mata Bara.

Dua gundukan daging putih mulus dan montok itu terlihat berguncang sedikit saat Marissa menyendok sayur. Bara bisa melihat betapa halusnya kulit di sana, bahkan dia bisa mencium aroma sabun mandi yang segar bercampur parfum manis dari tubuh Marissa. Jarak wajah Bara dan dada itu hanya tinggal jengkal.

'Ya Gusti, cobaan apa lagi ini,' batin Bara panik. Dia ingin memalingkan wajah, tapi lehernya terasa kaku. Pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan oleh laki-laki normal sepertinya, apalagi dia tidak pernah melihat wanita sebening ini di kampung.

"Suka ayam goreng paha atau dada, Bar?" tanya Marissa tiba-tiba tanpa mengubah posisinya. Dia menoleh sedikit ke arah Bara, membuat jarak wajah mereka makin dekat.

Bara tersentak kaget, wajahnya langsung panas.

"Euh ... Paha, Tante. Paha saja," jawab Bara tergagap, matanya liar mencari objek lain untuk dilihat, akhirnya mendarat di gelas air putih.

Marissa tersenyum geli melihat tingkah Bara, lalu mengambilkan potongan paha ayam yang besar dan menaruhnya di piring Bara.

"Nah, ini. Makan yang banyak ya. Kamu kurus sekali, harus banyak makan biar badannya makin tegap," ucap Marissa sambil kembali duduk di kursinya.

Bara mulai menyuap nasi dengan tangan gemetar. Rasa masakannya enak sekali, bumbunya meresap, tapi konsentrasi Bara buyar. Di seberang meja, Marissa tidak makan. Dia hanya menopang dagu dengan kedua tangannya, memperhatikan Bara makan dengan tatapan yang sulit diartikan.

Lengan baju Marissa yang longgar melorot ke bawah, memperlihatkan lengan atasnya yang putih dan berisi. Sesekali dia membetulkan posisi duduknya, membuat dadanya yang besar itu terlihat makin menonjol di balik baju tipisnya.

"Enak masakannya, Bar?" tanya Marissa lembut.

Bara mengunyah cepat lalu menelan makanannya.

"Enak banget, Tante. Ibu saya dulu jarang masak daging ayam begini," jawab Bara jujur.

Marissa tersenyum prihatin, tangannya terulur menyeberangi meja lalu mengusap punggung tangan Bara yang ada di atas meja.

"Sekarang kamu bisa makan enak tiap hari. Kalau mau apa-apa, bilang saja sama Tante. Jangan sungkan, anggap saja Tante ini pengganti Ibumu," katanya dengan suara mendayu.

Bara merasakan kehangatan dari tangan Marissa. Dia menatap wajah ibu tirinya itu. Cantik, wangi, dan baik hati. Tapi setiap kali mata Bara turun sedikit ke bawah lehernya, pikiran kotor itu muncul lagi. Bara merasa bersalah, tapi dia juga merasa nyaman dimanja seperti ini.

"Habiskan ya, nanti Tante buatkan es buah segar buat cuci mulut," ucap Marissa sambil mengedipkan sebelah matanya pelan.

Bara hanya bisa mengangguk patuh, jantungnya masih berdetak tidak karuan.

Bara meletakkan sendok dan garpunya pelan di atas piring yang sudah licin tandas. Perutnya terasa kenyang sekali. Dia buru-buru menumpuk piring kotornya dengan piring bekas Marissa.

"Biar saya cuci piringnya ya, Tante. Sebagai ucapan terima kasih," kata Bara sambil bersiap mengangkat tumpukan piring itu. Dia merasa tidak enak kalau cuma makan tidur saja di rumah mewah ini.

Tapi Marissa langsung menahan tangan Bara.

"Eh, jangan! Kamu itu tamu, bukan pembantu. Biar nanti Mbak di belakang yang bereskan. Ayo, temani Tante duduk di depan saja sambil menunggu perut turun," tolak Marissa sambil menarik pelan lengan Bara.

Bara tidak berani membantah. Dia mengikuti langkah Marissa menuju ruang keluarga. Di sana ada sofa kulit besar berwarna krem yang terlihat sangat empuk. Marissa duduk lebih dulu lalu menepuk sisi kosong di sebelahnya yang jaraknya cukup dekat.

Bara duduk dengan hati-hati. Tubuhnya langsung tenggelam sedikit ke dalam busa sofa yang empuk itu. Rasanya canggung sekali duduk di tempat semewah ini. Marissa menyandarkan punggungnya santai lalu menyilangkan kakinya. Gerakan itu membuat gaun sutranya tersingkap cukup tinggi sampai ke atas lutut. Paha ibu tirinya yang putih mulus dan padat itu terpampang jelas di pinggir mata Bara.

"Sebentar ya, Tante ambilkan es buah yang tadi Tante janjikan," kata Marissa sambil beranjak lagi.

Tak lama kemudian, Marissa kembali membawa nampan berisi dua mangkuk es buah yang segar. Mungkin karena karpetnya agak tebal atau hak sandalnya tersangkut, langkah Marissa tiba-tiba goyah saat sudah dekat dengan sofa.

"Eh!" pekik Marissa kaget.

Cairan sirup merah dan susu dari mangkuk itu tumpah sedikit sebelum Marissa berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Celakanya, tumpahan itu membasahi tepat di bagian dada kiri bajunya.

Bara refleks berdiri mau menolong. "Aduh, Tante! Tante tidak apa-apa?"

Marissa menaruh nampan di meja dengan tenang, lalu menunduk melihat bajunya.

"Yah ... Basah deh," keluhnya pelan sambil mengibaskan tangannya di area yang basah.

Mata Bara seakan terkunci di sana dan tidak bisa berpaling. Kain sutra tipis yang tadinya buram, kini menjadi transparan karena basah oleh air es. Kain itu menempel ketat di kulit dada Marissa, memperlihatkan warna kulitnya yang putih kemerahan di balik sana. Bara bahkan bisa melihat samar-samar lekukan dan puting payudaranya yang mencuat karena kedinginan terkena es.

Pemandangan itu begitu jelas dan menantang. Dada montok yang basah itu terlihat naik turun di depan wajah Bara yang sedang berdiri canggung.

"Lengket nih, Bar. Tante ambil tisu dulu," kata Marissa santai. Dia justru terlihat tidak malu sama sekali, malah seolah sengaja membusungkan dadanya sedikit saat mengusap cairan sirup yang menetes ke belahan dadanya dengan jari lentiknya.

Darah Bara berdesir hebat. Dia menelan ludah berkali-kali, berusaha keras mengalihkan pandangan ke arah pas bunga di pojok ruangan, tapi bayangan kain basah yang menjiplak kulit mulus itu sudah terlanjur terekam di otaknya.

Tepat saat suasana sedang hening dan canggung itu, pintu depan terbuka kasar.

"Aku pulang, Ma!" suara cempreng terdengar, diikuti langkah kaki cepat.

Bara dan Marissa menoleh serentak. Keyla berdiri di perbatasan ruang tamu, masih memakai seragam SMA yang ketat. Gadis itu menatap ibunya dan Bara bergantian dengan tatapan melotot. Matanya berhenti pada baju Marissa yang basah dan posisi Bara yang berdiri cukup dekat dengan ibunya.

Wajah Keyla langsung berubah jijik. Dia melempar tas sekolahnya ke sofa lain dengan kasar.

"Ih! Ngapain sih Ma? Pulang sekolah malah lihat pemandangan aneh begini. Risih banget deh lihatnya," sembur Keyla pedas sambil melirik sinis ke arah Bara. "Heh kampungan, lo ngapain Mama gue? Jangan kurang ajar ya di rumah orang!"

Bara langsung menunduk dalam-dalam, wajahnya pucat.

"Sa-saya tidak ngapa-ngapain, Non. Tadi Tante cuma kesandung," bela Bara dengan suara gemetar.

Namun reaksi Marissa di luar dugaan. Dia tidak membenarkan bajunya atau menjauh, malah berjalan mendekati Bara dan merangkul bahu pemuda itu dengan erat.

"Keyla! Jaga mulut kamu," tegur Marissa dengan nada tegas namun tetap tenang. "Bara ini Kakak kamu sekarang. Tadi Mama cuma tumpah minuman dan Bara mau bantu. Jangan suka menuduh sembarangan. Minta maaf sama Bara sekarang."

Keyla melongo, tidak percaya ibunya membela anak kampung bau matahari itu.

"Apa? Minta maaf sama dia? Ogah! Mama aneh banget sih belain gembel ini," dengus Keyla kesal, lalu dia menghentakkan kakinya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Brakk! Pintu kamar di lantai atas dibanting keras.

Suasana kembali hening. Bara merasa tidak enak hati, takut dia jadi penyebab pertengkaran.

"Maaf, Tante ... Gara-gara saya Keyla jadi marah," cicit Bara pelan.

Marissa tersenyum lembut, lalu tangannya kembali mengusap lengan Bara. Posisi mereka masih sangat dekat, dan baju basah itu masih mencetak jelas bentuk dadanya yang indah.

"Bukan salah kamu, Sayang. Keyla memang manja. Sudah, jangan dipikirin. Yuk, kita makan es buahnya, keburu cair," ajak Marissa santai seolah tidak terjadi apa-apa, sambil menarik Bara untuk duduk kembali di sofa empuk bersamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 10

    Mulut Bara masih sibuk bekerja di dada Marissa. Dia tidak membiarkan puting yang sudah bengkak itu istirahat sedetik pun. Lidahnya memutar, menghisap, dan menyedot daging empuk itu dengan bunyi kecipak basah yang memenuhi kamar. Bara merasa seperti bayi besar yang sedang menuntut haknya, hak atas kasih sayang yang hilang selama ini.Sementara mulutnya sibuk menikmati "susu" dari ibu tirinya, tangan kanan Bara mulai merayap turun. Tangan yang kasar dan kapalan bekas memegang cangkul itu meluncur melewati perut rata Marissa yang licin oleh keringat, lalu langsung menyusup ke sela-sela paha yang terbuka lebar.Bara menemukan sasarannya dengan mudah. Kewanitaan Marissa sudah banjir cairan, becek dan hangat. Tanpa permisi, jari-jari kasar Bara langsung menyerbu klitoris yang tadi sempat dia gigit."Mmphhh! Baaar!" erang Marissa tertahan karena mulutnya sedang mendesah tapi dadanya disedot kuat.Bara mulai "mengocok" milik Marissa dengan gerakan jari yang cepat dan kasar. Dia menggesek bagi

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 09

    Marissa masih berusaha mengatur napasnya yang kacau balau setelah disiksa habis-habisan di bagian bawah sana. Matanya terpejam rapat dan dadanya yang polos itu naik turun dengan cepat mengikuti irama napasnya yang memburu. Keringat membasahi seluruh leher dan belahan dadanya, membuat kulit putih itu terlihat makin licin dan berkilauan di bawah cahaya lampu.Bara merangkak naik perlahan dari arah kaki menuju ke atas tubuh Marissa. Matanya tidak lepas menatap dua gundukan daging besar yang berguncang pelan setiap kali Marissa menarik napas.'Lihat ini,' batin Bara dengan tatapan nanar. 'Daging segunung ini yang tiap malam dipeluk Bapak. Bapak tidur nyenyak berbantalkan dada ini, sementara dulu aku dan Ibu tidur beralaskan tikar tipis sampai badan sakit semua.'Pemandangan payudara yang begitu besar, montok, dan terawat itu seolah mengejek kemiskinan masa lalu Bara. Putingnya yang berwarna merah muda dan besar itu mencuat tegak, seolah menantang Bara untuk mendekat. Rasa dendam Bara kemb

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 08

    Marissa masih tergolek lemas di atas dada Bara sambil mengatur napasnya yang putus-putus. Namun, Bara tidak membiarkan momen istirahat itu berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada desir panas yang menjalar di kepalanya saat menatap wajah puas wanita yang sedang menindihnya itu.'Gara-gara perempuan ini,' batin Bara dingin, matanya menatap tajam ke ubun-ubun Marissa. 'Gara-gara tubuh wangi dan daging empuk ini, Bapak tega membuang Ibu dan aku. Bapak tega membiarkan Ibu mati perlahan di atas dipan reot di kampung, sementara dia bersenang-senang di selangkangan wanita ini setiap malam.'Rasa benci itu bukannya membuat Bara jijik, malah membuat nafsunya terbakar hebat menjadi sesuatu yang liar dan kejam. Dia ingin menghukum wanita ini. Dia ingin membuat "ratu" yang dipuja ayahnya ini hancur berantakan di bawah kuasanya.Dengan gerakan kasar yang tiba-tiba, Bara mencengkeram pinggang Marissa dan mendorong tubuh montok itu agar terguling ke samping sampai membentur kasur."Aduh! Kenapa Bar? Kas

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 07

    Bara masih terengah-engah dengan napas memburu karena tenaganya rasanya baru saja disedot habis. Matanya menatap cairan putih kental miliknya yang kini melumuri belahan dada dan perut rata ibu tirinya itu. Pemandangan itu terlihat sangat kotor tapi sekaligus sangat indah di mata Bara yang belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya."Sudah lega kan, Bar?" tanya Marissa dengan suara lembut sambil menyeka sedikit cairan di dadanya dengan jari telunjuk lalu menjilatnya tanpa rasa jijik sedikit pun.Bara menelan ludah melihat gerakan bibir Marissa itu.'Gila. Istri Bapak menjilati punyaku. Kalau orang kampung tahu, bisa dirajam aku,' batin Bara ngeri tapi ada rasa bangga yang aneh di dadanya."Su-sudah, Tante. Maaf ya, jadi kotor banget badannya Tante," jawab Bara dengan suara serak karena merasa bersalah.Tangan Bara bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang telanjang karena dia mulai sadar diri."Saya ambilkan tisu dulu ya, Tante," kata Bara hendak bangun.N

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 06

    Marissa tidak langsung menyentuh milik Bara lagi karena tangan kanannya justru meraih botol minyak kayu putih yang tadi tergeletak di kasur. Dia memegang botol itu sebentar lalu menatap pakaiannya sendiri dengan wajah tidak puas sambil menarik-narik kerah daster kaosnya yang longgar."Ah, ribet kalau masih pakai baju begini, nanti malah kotor semua kena minyak," gerutu Marissa santai.Jantung Bara rasanya mau copot saat melihat tangan Marissa tiba-tiba menarik ujung dasternya ke atas. Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa malu-malu, Marissa melepas baju satu-satunya itu melewati kepalanya lalu melemparnya sembarangan ke lantai kamar.Napas Bara tertahan di leher sampai dia lupa caranya menghembuskan udara. Kini di hadapannya, Marissa hanya mengenakan bra tipis berenda warna hitam. Kulit tubuh bagian atasnya yang putih bersih, bahunya yang bulat, dan perutnya yang rata langsung terlihat jelas di depan mata Bara.'Gawat,' batin Bara panik sambil meremas selimutnya kuat-kuat karena tangannya

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 05

    Bara menutup pintu kamar dengan napas memburu. Jantungnya masih berdetak kencang gara-gara kejadian di dapur tadi. Bayangan dada putih Tante Marissa yang terbuka lebar di depan matanya benar-benar bikin pusing.Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor itu lalu buru-buru melepas celana panjangnya yang basah. Bara menggantinya dengan celana pendek biasa. Baru saja dia duduk di kasur, tubuhnya langsung menggigil. Pendingin ruangan di kamar ini dingin sekali rasanya menusuk tulang. Bara mau mematikan alatnya tapi dia bingung tombolnya banyak sekali. Akhirnya Bara pasrah dan meringkuk di kasur pakai selimut tipis. Giginya sampai beradu saking dinginnya.Tiba-tiba pintu diketuk pelan dan langsung terbuka. Marissa masuk membawa botol minyak kayu putih."Bar? Kamu belum tidur kan?" tanya Marissa lembut.Marissa menutup pintu lalu berjalan mendekat. Dia langsung duduk di tepi ranjang Bara yang sempit. Kasur busa itu langsung ambles menahan berat tubuh Marissa yang montok dan padat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status