LOGINMatahari sudah tenggelam sepenuhnya. Suasana rumah yang tadinya cukup tenang mendadak berubah tegang saat suara deru mesin mobil sedan hitam terdengar memasuki halaman. Handoko sudah pulang.
Bara yang sejak tadi duduk diam di teras belakang buru-buru dipanggil masuk oleh asisten rumah tangga. Katanya Tuan Besar ingin bicara. Dengan langkah berat dan jantung berdegup kencang, Bara berjalan menuju ruang tengah. Dia meremas jari-jarinya yang kasar, mencoba menenangkan diri. Di sana, Handoko sudah duduk di sofa tunggal yang besar layaknya seorang raja. Wajahnya terlihat lelah namun sorot matanya tetap tajam dan mengintimidasi. Dia melonggarkan dasinya sedikit. "Duduk," perintah Handoko singkat tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke arah televisi yang menyiarkan berita bisnis. Bara duduk di sofa panjang di seberang ayahnya. Dia duduk di ujung sofa dengan punggung tegak kaku, kedua tangannya ditumpuk di atas paha. Dia merasa seperti terdakwa yang akan disidang. Tak lama kemudian, Marissa muncul dari arah dapur membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan segelas air dingin. Kali ini Marissa sudah mandi dan berganti pakaian. Dia mengenakan daster rumahan selutut berbahan kaos yang lembut. Meski terlihat sederhana, potongan baju itu sangat ketat dan memeluk tubuhnya yang montok dengan sempurna. Saat Marissa membungkuk untuk meletakkan kopi di meja tepat di depan Handoko, mata Bara kembali diuji. Leher daster yang longgar itu melorot ke bawah karena gravitasi. Dari sudut pandang Bara yang duduk lebih rendah, dia bisa melihat betapa padat dan beratnya payudara ibu tirinya itu yang menggantung indah di balik kain kaos yang melar. Kulit dada bagian atasnya terlihat begitu putih dan mulus. Bara menelan ludah susah payah. Dia buru-buru menunduk menatap karpet, takut ayahnya melihat kalau dia sedang curi-curi pandang. Tapi aroma tubuh Marissa yang wangi sabun mandi segar terus tercium, membuat konsentrasi Bara nyaris bubar. "Minum dulu, Mas," ucap Marissa lembut sambil duduk di lengan sofa kursi Handoko. Tangannya yang putih mulus memijat pelan bahu suaminya. Posisi Marissa yang duduk di sandaran kursi membuat pinggulnya yang besar dan sintal terlihat begitu menonjol tepat di samping wajah Handoko. Bara mencoba sekuat tenaga untuk tidak melirik ke sana dan fokus pada wajah ayahnya yang kaku. Handoko menyeruput kopinya sedikit lalu menatap Bara dengan dingin. "Kamu sudah lihat kamarmu?" tanya Handoko datar. "Su-sudah, Pak. Terima kasih," jawab Bara pelan. "Bagus," kata Handoko sambil menyandarkan punggungnya, menikmati pijatan Marissa. "Sekarang dengar baik-baik. Selama kamu tinggal di sini, ada aturan yang harus kamu patuhi. Pertama, jaga kebersihan. Saya tidak suka rumah ini kotor atau berantakan sedikitpun. Kedua, jangan bawa teman-teman kampungmu ke sini. Saya tidak mau ada orang asing yang tidak jelas asal-usulnya masuk ke rumah saya." Bara mengangguk patuh. "Baik, Pak. Saya mengerti." "Ketiga," lanjut Handoko tegas. "Jangan naik ke lantai dua kalau tidak dipanggil. Itu area pribadi saya, Marissa, dan Keyla. Kamu cukup di area bawah dan belakang saja. Paham?" "Paham, Pak," sahut Bara cepat. Matanya sekilas menangkap gerakan Marissa yang membetulkan posisi duduknya. Daster ketat itu tertarik, mencetak jelas bentuk buah dadanya yang besar dan bulat sempurna. Bara meremas celananya sendiri, berusaha mengusir hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Handoko menatap Bara dari ujung rambut sampai kaki. "Kuliah kamu mulai seminggu lagi, kan?" tanya Handoko memastikan. "Betul, Pak. Senin depan sudah masuk," jawab Bara. "Ingat, biaya masuk kuliahmu mahal. Jangan sia-siakan uang saya. Belajar yang benar," tegas Handoko. "Terus, kalau pulang kuliah kamu mau ngapain? Saya tidak suka lihat anak muda malas-malasan di rumah. Waktu luangmu mau dipakai apa?" Bara menegakkan kepalanya sedikit, mencoba terlihat meyakinkan meski nyalinya ciut. "Itu yang mau saya bicarakan, Pak. Saya sadar diri saya cuma numpang. Jadi rencananya, kalau pulang kuliah nanti, saya mau cari kerja paruh waktu. Lumayan buat isi waktu kosong sekalian kumpul-kumpul uang saku sendiri," jawab Bara mantap. Marissa yang sedari tadi diam tiba-tiba tersenyum bangga dan menatap Bara lekat-lekat. Tatapan itu hangat dan menggoda, membuat Bara jadi salah tingkah. "Nah, bagus kalau kamu sadar diri," kata Handoko, nadanya sedikit lebih lunak. "Terserah kamu mau kerja apa, yang penting halal dan tidak bikin malu nama keluarga. Jangan sampai ada relasi bisnis saya yang lihat anak saya jadi tukang parkir atau kuli panggul di pasar." Handoko meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja dengan bunyi klunting yang nyaring. "Ingat Bara, kesempatan ini tidak datang dua kali. Kalau kamu macam-macam, detik itu juga kamu angkat kaki dari sini." "Baik, Pak. Saya janji akan ingat pesan Bapak," jawab Bara. "Sudah, bicaranya nanti lagi. Sekarang kita makan dulu. Perut saya sudah lapar," kata Handoko sambil bangkit dari sofanya. Handoko berjalan duluan menuju ruang makan yang megah. Marissa segera berdiri dan mengikuti suaminya, pinggulnya yang besar bergoyang ke kiri dan ke kanan seirama dengan langkah kakinya. Bara berjalan paling belakang dengan kepala menunduk, mencoba menetralkan detak jantungnya. Di ruang makan, Keyla baru saja turun dari tangga. Wajahnya masih cemberut dan tangannya tidak lepas dari ponsel. "Malam, Pa," sapa Keyla malas tanpa melihat ayahnya. "Malam. Taruh ponselmu, Keyla. Kita mau makan," tegur Handoko tegas. Keyla mendengus kesal lalu meletakkan ponselnya dengan kasar di meja makan. "Iya, iya. Galak amat sih Papa hari ini," gerutu Keyla pelan. Mereka semua duduk di kursi masing-masing. Handoko di ujung meja sebagai kepala keluarga, Keyla di sisi kiri, sementara Bara duduk di sisi kanan berhadapan dengan Keyla. Marissa duduk di samping Handoko, tepat di sebelah kiri Bara. Posisi ini membuat Bara bisa mencium aroma wangi tubuh ibu tirinya dengan sangat jelas. "Mbak, tolong nasinya," panggil Marissa pada asisten rumah tangga. Setelah nasi dihidangkan, Marissa mulai melayani suaminya. Dia mengambilkan lauk pauk ke piring Handoko dengan telaten. "Ini ayam kecap kesukaan Mas, aku masak spesial tadi sore," ucap Marissa manja. Setelah selesai melayani Handoko, Marissa beralih ke Bara. Dia berdiri sedikit dari kursinya untuk menjangkau piring Bara. "Bara mau pakai apa? Sini Tante ambilkan," tawar Marissa. "Eh, tidak usah Tante. Saya ambil sendiri saja," tolak Bara sungkan. "Sudah, diam saja. Tante mau melayani anak bujang Tante," potong Marissa sambil tersenyum manis. Marissa lalu membungkuk di dekat Bara untuk menyendokkan sayur sop. Gerakan membungkuk itu membuat daster kaosnya yang longgar di bagian leher kembali melorot. Napas Bara tertahan. Jarak wajahnya dan dada Marissa hanya sejengkal. Dia bisa melihat dengan sangat jelas belahan dada yang dalam dan putih mulus itu. Payudara ibu tirinya yang besar dan berat itu berguncang pelan saat tangannya bergerak menyendok kuah. Kulitnya terlihat begitu halus dan kencang, seolah memanggil-manggil untuk disentuh. Bara meremas taplak meja di bawah meja. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya. Dia ingin membuang muka tapi matanya seolah dilem nempel di pemandangan indah itu. "Ini sayurnya yang banyak biar sehat," kata Marissa tanpa sadar kalau "aset"-nya sedang menjadi tontonan. "Te-terima kasih, Tante," jawab Bara gugup. Suaranya agak serak karena tenggorokannya kering mendadak. Keyla yang melihat itu langsung nyeletuk sinis. "Apaan sih Ma, manajain dia banget. Dia kan punya tangan, bisa ambil sendiri. Kayak anak kecil aja," sindir Keyla pedas. Marissa kembali duduk dan menatap putrinya tajam. "Keyla, makan mulutnya dijaga. Bara ini baru datang, wajar kalau Mama layani," balas Marissa tenang. "Cih, modus. Bilang aja cari muka," gumam Keyla pelan sambil menusuk ayam di piringnya dengan garpu. Handoko memukul meja pelan. "Sudah! Makan jangan ribut. Keyla, habiskan makananmu," perintah Handoko. Suasana hening sejenak, hanya terdengar denting sendok dan garpu beradu dengan piring. Bara makan dengan cepat, berusaha tidak melihat ke samping kirinya. Tapi setiap kali Marissa bergerak memotong daging atau minum air, ekor mata Bara selalu menangkap gerakan tubuh montok itu. "Gimana Bar, masakan Tante enak tidak?" tanya Marissa memecah keheningan. Dia menatap Bara sambil menopang dagu, membuat lengan atasnya yang putih tertekan ke dadanya sendiri, sehingga payudaranya terlihat makin menyembul. Bara tersedak sedikit nasi yang sedang dikunyahnya. Dia buru-buru minum air putih. "E-enak banget, Tante. Bumbunya pas," jawab Bara setelah batuknya reda. "Bagus deh kalau suka. Nanti kalau mau bekal buat ngampus, bilang saja sama Tante ya," kata Marissa ramah. "Ih, ngapain dibekalin sih Ma? Malu-maluin aja cowok bawa bekal. Biar dia beli di kantin lah, masa miskin banget," sambar Keyla lagi. Bara menunduk, merasa tersinggung tapi dia sadar posisinya. "Tidak apa-apa kok Tante, saya bisa beli makan murah di warteg dekat kampus nanti. Tidak usah repot-repot," kata Bara merendah. Marissa langsung cemberut, bibirnya yang merah muda mengerucut lucu tapi menggoda. "Kok gitu? Tante kan senang masakin kamu. Masakan warteg mana sehat, nanti kamu sakit. Pokoknya Tante akan buatkan bekal," paksa Marissa lembut tapi tidak mau dibantah. Handoko selesai makan dan mengelap mulutnya dengan serbet. "Terserah ibumu saja, Bar. Kalau dia mau repot, biarkan saja. Yang penting kamu jangan manja," kata Handoko datar lalu berdiri. "Saya mau istirahat duluan. Jangan begadang." "Iya, Mas. Nanti aku nyusul pijat sebentar ya," sahut Marissa pada suaminya. Sepeninggal Handoko, Keyla langsung membanting sendoknya. "Kenyang. Hilang nafsu makan gue lihat muka lo," kata Keyla sambil melotot ke Bara, lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan. Kini tinggal Bara dan Marissa berdua di meja makan besar itu. Marissa menghela napas panjang, dadanya yang besar naik turun dengan jelas. "Maafin Keyla ya Bar, mulutnya memang pedas persis Papanya," kata Marissa sambil menggeser kursinya mendekat ke arah Bara. Kini paha Marissa yang terbalut daster tipis bersentuhan sedikit dengan paha Bara di bawah meja. Bara tersentak kaget seperti tersengat listrik. Kulit itu terasa hangat. "Ti-tidak apa-apa kok, Tante. Saya paham," kata Bara sambil mencoba menggeser kakinya menjauh, tapi ruang geraknya sempit. Marissa justru tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke arah Bara. Wangi parfum dan aroma kewanitaannya langsung menyergap Bara. "Kalau ada apa-apa, cerita sama Tante ya. Jangan dipendam sendiri. Tante sayang lho sama kamu," bisik Marissa pelan, matanya menatap bibir Bara sekilas lalu kembali ke mata. Bara menelan ludah lagi, jantungnya berpacu cepat. Di meja makan yang sepi ini, godaan dari ibu tirinya terasa makin berbahaya.Bara menarik napas panjang. Otot lengannya menegang keras. Dia mencengkeram pinggiran meja makan kayu itu.Dia tidak peduli pada piring yang pecah di bawah kakinya. Matanya hanya menatap wajah Marissa yang sudah kacau karena gairah.Bara meraih gesper ikat pinggang kulitnya. Bunyi denting logamnya terdengar nyaring.Sekali sentak, ikat pinggang itu lepas. Dia membuangnya begitu saja ke lantai marmer. Suaranya berdentum keras.Marissa tidak berkedip. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Bara.Dia melihat dada lebar pemuda itu naik turun dengan cepat."Tante beneran mau aku terusin?" tanya Bara. Suaranya berat dan rendah.Marissa tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menarik kerah kemeja Bara. Dia memaksa wajah pria itu mendekat."Nggak usah nanya lagi, Bara. Kamu sudah sejauh ini," bisik Marissa. Napasnya memburu di depan bibir Bara.Bara tersenyum miring. Dia mengangkat tubuh Marissa lebih tinggi.Gerakan itu menyenggol cangkir kopi milik Bapak. Isinya benar-benar tumpah sekarang.Cair
Bara berdiri tegak di sela paha Marissa yang terbuka lebar. Matanya yang gelap terus menatap lekat pada dua gundukan indah yang hanya tertutup kain renda hitam tipis itu. Napasnya terasa panas dan berat."Tante benar-benar cantik pagi ini," kata Bara dengan suara serak.Marissa hanya bisa mendesah pendek. Tangannya yang lentur merambat naik ke dada bidang Bara. Dia merasakan otot-otot keras di sana berkedut."Jangan cuma dilihat, Bara. Ambil apa yang kamu mau," tantang Marissa dengan suara yang sangat rendah.Bara tidak menunggu perintah kedua. Dia segera menundukkan kepalanya. Tangan besarnya yang kasar dan penuh kapalan langsung meremas kedua payudara Marissa dengan sangat mantap."Ah! Pelan sedikit, Bar!" teriak Marissa tertahan."Maaf, Tan. Tangan orang desa memang begini kadarnya," jawab Bara tanpa sedikit pun melonggarkan remasannya.Dia kemudian menggunakan giginya untuk menarik tali bra Marissa ke bawah. Setelah kain itu melorot, keindahan di depannya terekspos sepenuhnya. Bar
Tiba tiba Bara mengangkat kedua tangannya yang besar.Tangan kasarnya yang penuh kapalan langsung mencengkeram pinggang Marissa dengan kuat. Genggamannya sangat mantap dan bertenaga.Marissa tersentak kaget, tapi sedetik kemudian dia tersenyum puas menatap mata Bara yang sudah terbakar nafsu.Bara tidak banyak bicara lagi. Sifat tegas dan kasarnya dari desa mengambil alih. Dia mengangkat tubuh Marissa dengan sangat mudah, seolah wanita berlekuk padat itu hanya seberat karung beras kosong.Dia mendudukkan Marissa ke atas pinggiran meja makan kayu yang lebar. Tepat di sebelah sisa cangkir kopi Pak Handoko yang masih setengah penuh."Ah, Bara," desah Marissa saat bokongnya menyentuh permukaan meja kayu yang keras dan dingin.Bara langsung melangkah masuk ke sela sela paha Marissa yang terbuka.Pakaian tidur sutra merah wanita itu tersingkap tinggi sampai ke pangkal paha. Paha putih mulus yang sangat berisi itu kini terekspos sempurna di depan mata Bara.Bara menatap paha itu dengan napas
Suara pintu gerbang depan yang ditutup dengan bantingan keras terdengar sampai ke ruang makan.Bara langsung membuang napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang kini melorot turun. Dia mengusap dahi lebarnya yang ternyata sudah basah oleh keringat dingin.Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya. Semalam dia benar benar berpikir hidupnya akan hancur dan dia akan diusir kembali ke kampung.Suasana rumah mewah berlantai marmer itu mendadak sunyi senyap. Pak Handoko sudah berangkat kerja ke kantor. Keyla baru saja pergi ke sekolah dengan kepala tertunduk lesu.Kini hanya tersisa Bara dan ibu tirinya di ruangan makan yang luas tersebut.Klik.Suara kunci ganda pintu ruang makan yang diputar membuat Bara menoleh dengan cepat. Dia sedikit terkejut.Marissa baru saja mengunci pintu ganda dari kayu jati itu dari dalam. Wanita dewasa tersebut memutar tubuhnya perlahan menghadap Bara.Ekspresi wajah Marissa kini berubah total. Wajah ibu t
Pak Handoko mengambil tas kerjanya dan langsung melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah panjang. Pria itu sudah terlalu malas meladeni sikap kekanak-kanakan anak perempuannya pagi ini.Begitu suara pintu utama ditutup dari luar, suasana di ruang makan menjadi sangat sepi. Hanya terdengar suara tangis Keyla yang tertahan di tenggorokan. Gadis itu menutupi wajah cantiknya dengan kedua tangan. Harga dirinya hancur lebur pagi ini. Uang jajannya dipotong drastis dan mobilnya disita. Semuanya terjadi gara-gara pemuda dari desa itu.Marissa kembali duduk di kursinya dengan gerakan yang sangat santai. Dia menyilangkan kaki panjangnya di balik pakaian tidur sutra merahnya. Kulit paha putihnya terlihat jelas dari balik belahan baju tidurnya yang tersingkap ke samping. Wanita itu meminum teh hangatnya pelan-pelan sambil tersenyum tipis ke arah anak kandungnya."Makanya, Keyla. Jangan suka cari masalah buat nyari perhatian papa kamu. Kamu tau kan, papa sibuk kerja. Mama juga gak n
Kata-kata Bara langsung memukul telak dada Pak Handoko. Ada kilat penyesalan yang melintas cepat di mata pria paruh baya itu. Bara tahu persis, ayahnya punya harga diri yang tinggi, tapi dia juga menyimpan rasa bersalah yang besar karena membiarkan ibu Bara mati dalam kemiskinan dan kesendirian.Bara melanjutkan ucapannya dengan nada yang semakin memelas dan terdengar putus asa."Aku ke kota ini cuma mau kuliah, Pak. Aku numpang di sini karena aku nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ibuku sudah meninggal. Kalau memang aku di sini cuma bikin Keyla risi dan jijik, aku mending pergi aja hari ini cari kosan murah di pinggir jalan. Aku nggak mau bikin keluarga baru Bapak hancur gara-gara aku.""Bara, jangan ngomong begitu," potong Marissa dengan cepat.Wanita berwajah menggoda itu bangkit dari kursinya. Pinggulnya yang padat bergoyang pelan saat dia berjalan memutari meja mendekati Bara. Marissa menyentuh bahu Bara dengan lembut, memainkan peran ibu tiri yang sangat menyayangi anak
Bara mengikuti langkah Tante Marissa menaiki tangga dengan perasaan yang sudah tidak keruan. Pandangannya tidak bisa lepas dari gerak-gerik pinggul ibu tirinya yang lebar itu. Setiap langkah yang diambil Tante Marissa membuat bokongnya yang padat di balik daster tipis itu bergoyang pelan, menciptak
Marissa masih berusaha mengatur napasnya yang kacau balau setelah disiksa habis-habisan di bagian bawah sana. Matanya terpejam rapat dan dadanya yang polos itu naik turun dengan cepat mengikuti irama napasnya yang memburu. Keringat membasahi seluruh leher dan belahan dadanya, membuat kulit putih it
Bara sudah tidak tahan lagi melihat Tante Marissa yang hanya diam pasrah. Dia ingin melihat wanita ini benar-benar tunduk di bawah perintahnya."Tante, balik badan. Nungging sekarang," perintah Bara dengan suara serak.Marissa yang masih lemas hanya bisa menurut. Dia memutar tubuhnya yang polos itu
Marissa masih tergolek lemas di atas dada Bara sambil mengatur napasnya yang putus-putus. Namun, Bara tidak membiarkan momen istirahat itu berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada desir panas yang menjalar di kepalanya saat menatap wajah puas wanita yang sedang menindihnya itu.'Gara-gara perempuan ini







