Share

Bab 03

Author: Biee
last update publish date: 2026-02-01 17:25:55

Matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Suasana rumah yang tadinya cukup tenang mendadak berubah tegang saat suara deru mesin mobil sedan hitam terdengar memasuki halaman. Handoko sudah pulang.

Bara yang sejak tadi duduk diam di teras belakang buru-buru dipanggil masuk oleh asisten rumah tangga. Katanya Tuan Besar ingin bicara. Dengan langkah berat dan jantung berdegup kencang, Bara berjalan menuju ruang tengah. Dia meremas jari-jarinya yang kasar, mencoba menenangkan diri.

Di sana, Handoko sudah duduk di sofa tunggal yang besar layaknya seorang raja. Wajahnya terlihat lelah namun sorot matanya tetap tajam dan mengintimidasi. Dia melonggarkan dasinya sedikit.

"Duduk," perintah Handoko singkat tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke arah televisi yang menyiarkan berita bisnis.

Bara duduk di sofa panjang di seberang ayahnya. Dia duduk di ujung sofa dengan punggung tegak kaku, kedua tangannya ditumpuk di atas paha. Dia merasa seperti terdakwa yang akan disidang.

Tak lama kemudian, Marissa muncul dari arah dapur membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan segelas air dingin. Kali ini Marissa sudah mandi dan berganti pakaian. Dia mengenakan daster rumahan selutut berbahan kaos yang lembut. Meski terlihat sederhana, potongan baju itu sangat ketat dan memeluk tubuhnya yang montok dengan sempurna.

Saat Marissa membungkuk untuk meletakkan kopi di meja tepat di depan Handoko, mata Bara kembali diuji. Leher daster yang longgar itu melorot ke bawah karena gravitasi. Dari sudut pandang Bara yang duduk lebih rendah, dia bisa melihat betapa padat dan beratnya payudara ibu tirinya itu yang menggantung indah di balik kain kaos yang melar. Kulit dada bagian atasnya terlihat begitu putih dan mulus.

Bara menelan ludah susah payah. Dia buru-buru menunduk menatap karpet, takut ayahnya melihat kalau dia sedang curi-curi pandang. Tapi aroma tubuh Marissa yang wangi sabun mandi segar terus tercium, membuat konsentrasi Bara nyaris bubar.

"Minum dulu, Mas," ucap Marissa lembut sambil duduk di lengan sofa kursi Handoko. Tangannya yang putih mulus memijat pelan bahu suaminya.

Posisi Marissa yang duduk di sandaran kursi membuat pinggulnya yang besar dan sintal terlihat begitu menonjol tepat di samping wajah Handoko. Bara mencoba sekuat tenaga untuk tidak melirik ke sana dan fokus pada wajah ayahnya yang kaku.

Handoko menyeruput kopinya sedikit lalu menatap Bara dengan dingin.

"Kamu sudah lihat kamarmu?" tanya Handoko datar.

"Su-sudah, Pak. Terima kasih," jawab Bara pelan.

"Bagus," kata Handoko sambil menyandarkan punggungnya, menikmati pijatan Marissa. "Sekarang dengar baik-baik. Selama kamu tinggal di sini, ada aturan yang harus kamu patuhi. Pertama, jaga kebersihan. Saya tidak suka rumah ini kotor atau berantakan sedikitpun. Kedua, jangan bawa teman-teman kampungmu ke sini. Saya tidak mau ada orang asing yang tidak jelas asal-usulnya masuk ke rumah saya."

Bara mengangguk patuh. "Baik, Pak. Saya mengerti."

"Ketiga," lanjut Handoko tegas. "Jangan naik ke lantai dua kalau tidak dipanggil. Itu area pribadi saya, Marissa, dan Keyla. Kamu cukup di area bawah dan belakang saja. Paham?"

"Paham, Pak," sahut Bara cepat. Matanya sekilas menangkap gerakan Marissa yang membetulkan posisi duduknya. Daster ketat itu tertarik, mencetak jelas bentuk buah dadanya yang besar dan bulat sempurna. Bara meremas celananya sendiri, berusaha mengusir hawa panas yang menjalar di tubuhnya.

Handoko menatap Bara dari ujung rambut sampai kaki.

"Kuliah kamu mulai seminggu lagi, kan?" tanya Handoko memastikan.

"Betul, Pak. Senin depan sudah masuk," jawab Bara.

"Ingat, biaya masuk kuliahmu mahal. Jangan sia-siakan uang saya. Belajar yang benar," tegas Handoko. "Terus, kalau pulang kuliah kamu mau ngapain? Saya tidak suka lihat anak muda malas-malasan di rumah. Waktu luangmu mau dipakai apa?"

Bara menegakkan kepalanya sedikit, mencoba terlihat meyakinkan meski nyalinya ciut.

"Itu yang mau saya bicarakan, Pak. Saya sadar diri saya cuma numpang. Jadi rencananya, kalau pulang kuliah nanti, saya mau cari kerja paruh waktu. Lumayan buat isi waktu kosong sekalian kumpul-kumpul uang saku sendiri," jawab Bara mantap.

Marissa yang sedari tadi diam tiba-tiba tersenyum bangga dan menatap Bara lekat-lekat. Tatapan itu hangat dan menggoda, membuat Bara jadi salah tingkah.

"Nah, bagus kalau kamu sadar diri," kata Handoko, nadanya sedikit lebih lunak. "Terserah kamu mau kerja apa, yang penting halal dan tidak bikin malu nama keluarga. Jangan sampai ada relasi bisnis saya yang lihat anak saya jadi tukang parkir atau kuli panggul di pasar."

Handoko meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja dengan bunyi klunting yang nyaring.

"Ingat Bara, kesempatan ini tidak datang dua kali. Kalau kamu macam-macam, detik itu juga kamu angkat kaki dari sini."

"Baik, Pak. Saya janji akan ingat pesan Bapak," jawab Bara.

"Sudah, bicaranya nanti lagi. Sekarang kita makan dulu. Perut saya sudah lapar," kata Handoko sambil bangkit dari sofanya.

Handoko berjalan duluan menuju ruang makan yang megah. Marissa segera berdiri dan mengikuti suaminya, pinggulnya yang besar bergoyang ke kiri dan ke kanan seirama dengan langkah kakinya. Bara berjalan paling belakang dengan kepala menunduk, mencoba menetralkan detak jantungnya.

Di ruang makan, Keyla baru saja turun dari tangga. Wajahnya masih cemberut dan tangannya tidak lepas dari ponsel.

"Malam, Pa," sapa Keyla malas tanpa melihat ayahnya.

"Malam. Taruh ponselmu, Keyla. Kita mau makan," tegur Handoko tegas.

Keyla mendengus kesal lalu meletakkan ponselnya dengan kasar di meja makan.

"Iya, iya. Galak amat sih Papa hari ini," gerutu Keyla pelan.

Mereka semua duduk di kursi masing-masing. Handoko di ujung meja sebagai kepala keluarga, Keyla di sisi kiri, sementara Bara duduk di sisi kanan berhadapan dengan Keyla. Marissa duduk di samping Handoko, tepat di sebelah kiri Bara. Posisi ini membuat Bara bisa mencium aroma wangi tubuh ibu tirinya dengan sangat jelas.

"Mbak, tolong nasinya," panggil Marissa pada asisten rumah tangga.

Setelah nasi dihidangkan, Marissa mulai melayani suaminya. Dia mengambilkan lauk pauk ke piring Handoko dengan telaten.

"Ini ayam kecap kesukaan Mas, aku masak spesial tadi sore," ucap Marissa manja.

Setelah selesai melayani Handoko, Marissa beralih ke Bara. Dia berdiri sedikit dari kursinya untuk menjangkau piring Bara.

"Bara mau pakai apa? Sini Tante ambilkan," tawar Marissa.

"Eh, tidak usah Tante. Saya ambil sendiri saja," tolak Bara sungkan.

"Sudah, diam saja. Tante mau melayani anak bujang Tante," potong Marissa sambil tersenyum manis.

Marissa lalu membungkuk di dekat Bara untuk menyendokkan sayur sop. Gerakan membungkuk itu membuat daster kaosnya yang longgar di bagian leher kembali melorot.

Napas Bara tertahan. Jarak wajahnya dan dada Marissa hanya sejengkal. Dia bisa melihat dengan sangat jelas belahan dada yang dalam dan putih mulus itu. Payudara ibu tirinya yang besar dan berat itu berguncang pelan saat tangannya bergerak menyendok kuah. Kulitnya terlihat begitu halus dan kencang, seolah memanggil-manggil untuk disentuh.

Bara meremas taplak meja di bawah meja. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya. Dia ingin membuang muka tapi matanya seolah dilem nempel di pemandangan indah itu.

"Ini sayurnya yang banyak biar sehat," kata Marissa tanpa sadar kalau "aset"-nya sedang menjadi tontonan.

"Te-terima kasih, Tante," jawab Bara gugup. Suaranya agak serak karena tenggorokannya kering mendadak.

Keyla yang melihat itu langsung nyeletuk sinis.

"Apaan sih Ma, manajain dia banget. Dia kan punya tangan, bisa ambil sendiri. Kayak anak kecil aja," sindir Keyla pedas.

Marissa kembali duduk dan menatap putrinya tajam.

"Keyla, makan mulutnya dijaga. Bara ini baru datang, wajar kalau Mama layani," balas Marissa tenang.

"Cih, modus. Bilang aja cari muka," gumam Keyla pelan sambil menusuk ayam di piringnya dengan garpu.

Handoko memukul meja pelan.

"Sudah! Makan jangan ribut. Keyla, habiskan makananmu," perintah Handoko.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar denting sendok dan garpu beradu dengan piring. Bara makan dengan cepat, berusaha tidak melihat ke samping kirinya. Tapi setiap kali Marissa bergerak memotong daging atau minum air, ekor mata Bara selalu menangkap gerakan tubuh montok itu.

"Gimana Bar, masakan Tante enak tidak?" tanya Marissa memecah keheningan. Dia menatap Bara sambil menopang dagu, membuat lengan atasnya yang putih tertekan ke dadanya sendiri, sehingga payudaranya terlihat makin menyembul.

Bara tersedak sedikit nasi yang sedang dikunyahnya. Dia buru-buru minum air putih.

"E-enak banget, Tante. Bumbunya pas," jawab Bara setelah batuknya reda.

"Bagus deh kalau suka. Nanti kalau mau bekal buat ngampus, bilang saja sama Tante ya," kata Marissa ramah.

"Ih, ngapain dibekalin sih Ma? Malu-maluin aja cowok bawa bekal. Biar dia beli di kantin lah, masa miskin banget," sambar Keyla lagi.

Bara menunduk, merasa tersinggung tapi dia sadar posisinya.

"Tidak apa-apa kok Tante, saya bisa beli makan murah di warteg dekat kampus nanti. Tidak usah repot-repot," kata Bara merendah.

Marissa langsung cemberut, bibirnya yang merah muda mengerucut lucu tapi menggoda.

"Kok gitu? Tante kan senang masakin kamu. Masakan warteg mana sehat, nanti kamu sakit. Pokoknya Tante akan buatkan bekal," paksa Marissa lembut tapi tidak mau dibantah.

Handoko selesai makan dan mengelap mulutnya dengan serbet.

"Terserah ibumu saja, Bar. Kalau dia mau repot, biarkan saja. Yang penting kamu jangan manja," kata Handoko datar lalu berdiri. "Saya mau istirahat duluan. Jangan begadang."

"Iya, Mas. Nanti aku nyusul pijat sebentar ya," sahut Marissa pada suaminya.

Sepeninggal Handoko, Keyla langsung membanting sendoknya.

"Kenyang. Hilang nafsu makan gue lihat muka lo," kata Keyla sambil melotot ke Bara, lalu beranjak pergi meninggalkan meja makan.

Kini tinggal Bara dan Marissa berdua di meja makan besar itu. Marissa menghela napas panjang, dadanya yang besar naik turun dengan jelas.

"Maafin Keyla ya Bar, mulutnya memang pedas persis Papanya," kata Marissa sambil menggeser kursinya mendekat ke arah Bara.

Kini paha Marissa yang terbalut daster tipis bersentuhan sedikit dengan paha Bara di bawah meja. Bara tersentak kaget seperti tersengat listrik. Kulit itu terasa hangat.

"Ti-tidak apa-apa kok, Tante. Saya paham," kata Bara sambil mencoba menggeser kakinya menjauh, tapi ruang geraknya sempit.

Marissa justru tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke arah Bara. Wangi parfum dan aroma kewanitaannya langsung menyergap Bara.

"Kalau ada apa-apa, cerita sama Tante ya. Jangan dipendam sendiri. Tante sayang lho sama kamu," bisik Marissa pelan, matanya menatap bibir Bara sekilas lalu kembali ke mata.

Bara menelan ludah lagi, jantungnya berpacu cepat. Di meja makan yang sepi ini, godaan dari ibu tirinya terasa makin berbahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Om Sumijan
lanjuuut lagi
goodnovel comment avatar
Bah Zat
lanjut kan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 238

    Sandra menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia tidak lagi memaksakan diri melakukan crunch dengan kecepatan tinggi, melainkan mengatur ritmenya dengan lebih stabil."Bar," panggil Sandra di sela napasnya yang teratur."Ya?" Bara menjawab datar. Tangannya masih memegang pergelangan kaki Sandra dengan mantap, namun kali ini pijatannya sedikit melonggar agar otot gadis itu tidak terlalu tegang."Lo tahu gak, gue beneran kesel sama lo hari ini," ujar Sandra. Ia berhenti sejenak di posisi telentang, menatap langit-langit ruangan sebelum kembali mengangkat tubuhnya."Gara-gara latihan ini atau gara-gara kejadian di pintu tadi?" Bara membalas dengan nada tenang.Sandra mendengus. "Dua-duanya. Lo terlalu kaku, Bar. Gue cuma mau ngetes, eh malah dikasih porsi latihan kayak mau ikut kompetisi binaraga.""Aku cuma melakukan tugasku sebagai instruktur," sahut Bara. "Kalau kamu merasa lelah, istirahat dulu sebentar. Tidak perlu dipaksakan sampai kram."Mendengar itu, Sandra ju

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 237

    Sandra mendongak, menatap Bara dengan pandangan mata yang sayu namun dipaksakan ketus. Napasnya masih satu-satu, membuat dua gundukan dadanya yang montok naik-turun dengan cepat di balik kaos crop top putih ketatnya. Bulir keringat mengalir lambat dari leher jenjangnya yang putih, terus turun ke bawah dan menghilang di balik belahan kemeja crop-nya yang seksi."Ih, lo bener-bener gak punya perasaan ya, Bara! Kulit gue yang mulus ini bisa lecet-lecet tahu kalau langsung disuruh ambil matras lagi!" omel Sandra manja dengan suara parau yang kental. Dia sengaja membuang muka, lalu mengipas-ngipas lehernya yang gerah menggunakan tangan lentiknya.Bara tidak bergeming. Postur tubuhnya yang tinggi tegap berdiri kokoh seperti dinding di depan Sandra, memberikan tekanan dominan yang membuat nyali mantan perundungnya itu menciut perlahan. Kaos polo hitam ketat yang membungkus dada bidang Bara tercetak sangat kencang, memperlihatkan lekuk otot perutnya yang kokoh saat dia menarik napas dalam-

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 236

    Sandra menahan napasnya dengan dada montok yang naik-turun cepat. Cengkeraman tangan besar Bara di pinggulnya terasa begitu panas, membuat celana pendek abu-abu ketatnya semakin mencekik kulit paha mulusnya yang kini bergetar hebat."B-Bara... lepasin dulu. Sakit tahu!" keluh Sandra dengan bibir yang mengerucut seksi."Diam. Baru lima detik," jawab Bara datar. Dada bidangnya yang kokoh menempel rapat di punggung Sandra, menghimpit gundukan dada gadis itu ke depan hingga kaos crop top putihnya tercetak semakin kencang."Ih, kok lo pemaksaan banget sih!" pekik Sandra dengan suara parau yang manja.Gadis itu mendadak kehilangan keseimbangan. Kaki kanannya yang terbalut sepatu putih mendadak lemas, membuatnya tergelincir ke belakang."Eh... eh... aduh!" Sandra memekik kaget saat pantat bulatnya yang padat berisi langsung mendarat telak di atas matras dengan bunyi bergedebuk pelan. Dumbbell di tangannya terlepas dan menggelinding.Bara mundur satu langkah, melipat lengan kekarnya di depan

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 235

    Bara mendorong pintu ruang latihan VIP di lantai dua, lalu melangkah masuk terlebih dahulu. Begitu dia membalikkan badan, Sandra tiba-tiba maju dengan cepat.Plak! Plak!Kedua tangan lentik Sandra menghantam daun pintu di kiri dan kanan kepala Bara, mengurung tubuh tegap pria itu di tempatnya. Napas Sandra memburu cepat, membuat kaos crop top putih ketatnya bergerak naik-turun. Gundukan dadanya yang montok hampir menempel pada dada bidang Bara.Bara tersentak kecil, kedua alisnya bertaut rapat. "Ada apa ini, Sandra? Kita ke sini untuk latihan.""Apa anak kota ini sedang mencoba mengerjaiku?" batin Bara heran.Sandra tidak menjawab. Wajah cantiknya sudah merah padam sampai ke leher. Bibirnya bergetar, menatap lurus ke arah bibir Bara."Persetan dengan gengsi. Gue udah gak tahan!" batin Sandra.Tanpa aba-aba, Sandra langsung memajukan wajahnya dan melumat habis bibir Bara.Mmmhh!Sandra memejamkan mata erat-erat, menekan seluruh tubuhnya hingga paha mulusnya yang terbalut celana pendek

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 234

    Maya hanya bisa mengangguk pasrah dengan air mata yang mulai mengenangi sudut mata sayunya. Cengkeraman jari besar Bara di dagunya terasa begitu kuat, membuat seluruh tubuhnya gemetar halus."I-iya, Bara... Gue bakal turutin semua mau lo. Tolong jangan sebarin video itu," cicit Maya dengan suara parau yang sangat lirih.Bara melepaskan cengkeramannya dari dagu Maya dengan sentakan pelan. Dia menyeringai puas melihat sekretaris yang tadinya sombong kini gemetaran di depan meja kerjanya yang usang.Pandangan mata Bara bergerak turun, memperhatikan dada montok Maya yang naik-turun cepat karena napasnya yang sesak akibat panik. Kemeja putih ketatnya terbuka satu kancing di bagian atas, tercetak semakin kencang mengikuti lekuk tubuh gembulnya yang padat."Bagus. Sekarang ambil kembali berkas laporan keuangan ini, lalu input sendiri ke komputer ruanganmu," perintah Bara dengan nada suara berat yang dingin tanpa bantahan."T-tapi... tapi tadi Pak Handoko minta laporan ini selesai jam dua lew

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 233

    Dua puluh menit berlalu di dalam ruangan pojok yang sepi itu. Bara baru saja selesai merapikan tumpukan kertas usang di atas meja kerjanya ketika terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dari arah pintu.Maya melangkah masuk dengan angkuh. Rok sepan hitam ketatnya bergeser seksi mengikuti ayunan pinggulnya yang padat. Di tangan kanannya, dia membawa satu bundel berkas tebal bersampul kuning.Brak!Maya melemparkan berkas itu ke atas meja Bara hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Dua gundukan dadanya yang montok berguncang kecil di balik kemeja putih ketatnya saat dia berkacak pinggang."Nih, input laporan keuangan baru ini ke sistem gudang sekarang juga. Jangan pakai lama ya," perintah Maya dengan nada suara yang sangat ketus dan sombong.Bara tidak langsung menyentuh berkas itu. Dia hanya mendongak, menatap wajah cantik Maya dengan pandangan mata yang datar. "Ini bukan tugas bagian administrasi gudang belakang."Maya terkekeh sinis, menyeringai penuh penghi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status