LOGINSentuhan paha Marissa di bawah meja membuat darah Bara berdesir hebat. Dia tidak kuat lagi. Rasanya dia harus segera kabur ke kamar sebelum pikirannya makin kotor.
Bara buru-buru memundurkan kursinya dan berdiri. "Euh ... Tante, saya pamit ke kamar dulu ya. Mata saya sudah berat, mau langsung tidur," pamit Bara gugup, menghindari tatapan mata Marissa yang sayu dan menggoda itu. "Lho? Buru-buru amat. Ya sudah kalau capek," jawab Marissa dengan nada sedikit kecewa. Bara berbalik badan mau melangkah pergi. Tapi baru dua langkah, langkahnya terhenti. Dia menoleh ke belakang dan melihat Marissa sedang kesulitan menumpuk piring-piring kotor bekas mereka makan, ditambah piring bekas Handoko dan Keyla. Tubuh montoknya terlihat kewalahan mengangkat tumpukan itu sendirian. Rasa kasihan dan sifat rajin Bara sebagai orang desa langsung muncul. Dia tidak tega membiarkan wanita—apalagi yang sudah baik padanya—bekerja sendirian sementara dia enak-enakan tidur. "Ah, maaf Tante. Saya tidak tega lihat Tante beres-beres sendiri," kata Bara sambil balik kanan dan mendekat lagi ke meja makan. "Sini biar saya bantu bawa ke belakang." Wajah Marissa langsung cerah. Dia tersenyum lebar. "Wah, kamu memang anak baik ya, Bar. Beda banget sama anak-anak kota jaman sekarang. Ya sudah, tolong bawakan mangkuk sayur sama gelas-gelas itu ya," pinta Marissa. Bara mengangguk cepat. Dia mengambil nampan berisi gelas dan mangkuk, lalu berjalan mengekor di belakang Marissa menuju dapur bersih. Pemandangan dari belakang ini justru menjadi ujian kedua buat Bara. Di depannya, pinggul besar Marissa yang terbalut daster kaos tipis bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan irama yang menghipnotis setiap kali dia melangkah. Kain daster itu menempel ketat di bokongnya yang bulat dan padat. Bara harus sering-sering melihat ke langit-langit agar matanya tidak terus-terusan menatap bagian belakang tubuh ibu tirinya itu. Sesampainya di dapur, mereka berdiri bersebelahan di depan wastafel. Dapurnya tidak terlalu luas, membuat jarak berdiri mereka sangat dekat. "Biar Tante yang sabuni, kamu yang bilas ya," atur Marissa. "Siap, Tante," jawab Bara. Mereka mulai mencuci piring. Suasana hening, hanya suara air mengalir. Tapi bagi Bara, suasana ini sangat "bising" oleh degup jantungnya sendiri. Setiap kali Marissa bergerak mengambil piring kotor, lengan halusnya yang putih tanpa sengaja bersentuhan dengan lengan Bara yang sawo matang dan berotot. Kulit Marissa terasa dingin dan sangat lembut, membuat bulu kuduk Bara meremang setiap kali bersentuhan. "Kamu rajin begini, pacarmu di kampung pasti beruntung banget," goda Marissa tiba-tiba sambil menyodorkan piring bersabun ke Bara. Bara menerima piring itu dengan canggung. "Saya tidak punya pacar, Tante. Orang miskin kayak saya mana ada yang mau," jawab Bara merendah. Marissa tertawa kecil, suaranya renyah dan manja. "Masa sih? Padahal kamu ganteng lho, Bar. Manis, badanmu juga bagus, tegap dan kuat," puji Marissa blak-blakan. Dia menoleh ke samping, menatap tubuh Bara dari atas ke bawah. Saat menoleh itu, tubuh bagian atas Marissa ikut berputar sedikit. Lengan kirinya menekan payudaranya sendiri, membuat gundukan daging putih itu menyembul lebih tinggi dari balik kerah dasternya yang longgar. Bara yang sedang memegang gelas berisi air bilasan jadi salah tingkah dipuji dan disuguhi pemandangan seindah itu. Tangannya gemetar. "A-ah, Tante bisa saja," gumam Bara panik. Pyar! Saking gugupnya, gelas di tangan Bara meleset saat mau ditaruh. Air bilasan yang penuh satu gelas itu tumpah semua. Bukan ke lantai, tapi menyiram tepat ke arah celana panjang bagian depan yang dipakai Bara. "Astaga!" pekik Bara kaget. Area selangkangan dan paha atas celana kainnya langsung basah kuyup. Dinginnya air langsung menembus sampai ke kulit, tapi rasa malunya jauh lebih panas. "Eh, ya ampun! Basah semua dong!" seru Marissa panik. Tanpa aba-aba, Marissa langsung menyambar kain lap kering yang tergantung di dekat wastafel. Dengan refleks seorang ibu, dia berjongkok sedikit di depan Bara dan langsung menempelkan kain lap itu ke bagian celana Bara yang basah. "Sini Tante keringkan, nanti masuk angin kalau lembab," kata Marissa polos sambil menggosok-gosokkan kain itu di paha atas Bara, sangat dekat dengan area terlarang. Mata Bara melotot. Napasnya berhenti total. "Ja-jangan, Tante! Biar saya sendiri!" tolak Bara panik setengah mati. Dia mundur selangkah sampai pinggangnya menabrak meja dapur. Tapi Marissa tidak berhenti. Dia malah maju selangkah, wajahnya kini sejajar dengan perut Bara. "Diam ih, ini airnya banyak banget lho," kata Marissa sambil terus menekan-nekan kain lap itu di paha dalam Bara. Dari sudut pandang Bara yang berdiri kaku melihat ke bawah, pemandangan di depannya sungguh gila. Wajah cantik Marissa berada tepat di depan "adiknya". Dan karena Marissa membungkuk rendah, kerah dasternya terbuka lebar-lebar. Bara bisa melihat semuanya. Dua bukit kembar yang besar, putih, dan mulus itu terekspos jelas tanpa halangan apa pun. Dia bisa melihat belahannya yang dalam, tekstur kulitnya yang halus, bahkan bra renda tipis yang dipakai Marissa di dalamnya. Aroma wangi rambut Marissa menggelitik hidung Bara, bercampur dengan sensasi tangan wanita itu yang mengusap-usap paha atasnya. Bara merasa "adiknya" mulai bereaksi karena stimulasi visual dan sentuhan itu. Ini bahaya. Sangat bahaya. Kalau sampai dia "bangun" di depan ibu tirinya, tamat sudah riwayatnya. "Tante! Sudah, Tante! Cukup!" seru Bara agak keras, suaranya bergetar hebat. Dia memegang pergelangan tangan Marissa untuk menghentikan gerakan tangan wanita itu. Marissa mendongak, menatap wajah Bara yang merah padam dan berkeringat. Tatapan Marissa terlihat bingung, tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. "Kenapa, Bar? Kok tegang banget badannya?" tanyanya lirih. Bara melepaskan tangan Marissa dan langsung melompat menjauh. "Sa-saya ganti celana sendiri saja di kamar. Terima kasih, Tante. Maaf gelasnya pecah, nanti saya ganti," cerocos Bara tanpa napas. Tanpa menunggu jawaban, Bara langsung lari terbirit-birit keluar dari dapur menuju kamar belakangnya. Meninggalkan Marissa yang masih berdiri memegang kain lap basah sambil terkikik geli melihat tingkah anak tirinya yang kepanasan.Bara menarik napas panjang. Otot lengannya menegang keras. Dia mencengkeram pinggiran meja makan kayu itu.Dia tidak peduli pada piring yang pecah di bawah kakinya. Matanya hanya menatap wajah Marissa yang sudah kacau karena gairah.Bara meraih gesper ikat pinggang kulitnya. Bunyi denting logamnya terdengar nyaring.Sekali sentak, ikat pinggang itu lepas. Dia membuangnya begitu saja ke lantai marmer. Suaranya berdentum keras.Marissa tidak berkedip. Dia memperhatikan setiap gerak-gerik Bara.Dia melihat dada lebar pemuda itu naik turun dengan cepat."Tante beneran mau aku terusin?" tanya Bara. Suaranya berat dan rendah.Marissa tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menarik kerah kemeja Bara. Dia memaksa wajah pria itu mendekat."Nggak usah nanya lagi, Bara. Kamu sudah sejauh ini," bisik Marissa. Napasnya memburu di depan bibir Bara.Bara tersenyum miring. Dia mengangkat tubuh Marissa lebih tinggi.Gerakan itu menyenggol cangkir kopi milik Bapak. Isinya benar-benar tumpah sekarang.Cair
Bara berdiri tegak di sela paha Marissa yang terbuka lebar. Matanya yang gelap terus menatap lekat pada dua gundukan indah yang hanya tertutup kain renda hitam tipis itu. Napasnya terasa panas dan berat."Tante benar-benar cantik pagi ini," kata Bara dengan suara serak.Marissa hanya bisa mendesah pendek. Tangannya yang lentur merambat naik ke dada bidang Bara. Dia merasakan otot-otot keras di sana berkedut."Jangan cuma dilihat, Bara. Ambil apa yang kamu mau," tantang Marissa dengan suara yang sangat rendah.Bara tidak menunggu perintah kedua. Dia segera menundukkan kepalanya. Tangan besarnya yang kasar dan penuh kapalan langsung meremas kedua payudara Marissa dengan sangat mantap."Ah! Pelan sedikit, Bar!" teriak Marissa tertahan."Maaf, Tan. Tangan orang desa memang begini kadarnya," jawab Bara tanpa sedikit pun melonggarkan remasannya.Dia kemudian menggunakan giginya untuk menarik tali bra Marissa ke bawah. Setelah kain itu melorot, keindahan di depannya terekspos sepenuhnya. Bar
Tiba tiba Bara mengangkat kedua tangannya yang besar.Tangan kasarnya yang penuh kapalan langsung mencengkeram pinggang Marissa dengan kuat. Genggamannya sangat mantap dan bertenaga.Marissa tersentak kaget, tapi sedetik kemudian dia tersenyum puas menatap mata Bara yang sudah terbakar nafsu.Bara tidak banyak bicara lagi. Sifat tegas dan kasarnya dari desa mengambil alih. Dia mengangkat tubuh Marissa dengan sangat mudah, seolah wanita berlekuk padat itu hanya seberat karung beras kosong.Dia mendudukkan Marissa ke atas pinggiran meja makan kayu yang lebar. Tepat di sebelah sisa cangkir kopi Pak Handoko yang masih setengah penuh."Ah, Bara," desah Marissa saat bokongnya menyentuh permukaan meja kayu yang keras dan dingin.Bara langsung melangkah masuk ke sela sela paha Marissa yang terbuka.Pakaian tidur sutra merah wanita itu tersingkap tinggi sampai ke pangkal paha. Paha putih mulus yang sangat berisi itu kini terekspos sempurna di depan mata Bara.Bara menatap paha itu dengan napas
Suara pintu gerbang depan yang ditutup dengan bantingan keras terdengar sampai ke ruang makan.Bara langsung membuang napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang kini melorot turun. Dia mengusap dahi lebarnya yang ternyata sudah basah oleh keringat dingin.Pemuda itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya. Semalam dia benar benar berpikir hidupnya akan hancur dan dia akan diusir kembali ke kampung.Suasana rumah mewah berlantai marmer itu mendadak sunyi senyap. Pak Handoko sudah berangkat kerja ke kantor. Keyla baru saja pergi ke sekolah dengan kepala tertunduk lesu.Kini hanya tersisa Bara dan ibu tirinya di ruangan makan yang luas tersebut.Klik.Suara kunci ganda pintu ruang makan yang diputar membuat Bara menoleh dengan cepat. Dia sedikit terkejut.Marissa baru saja mengunci pintu ganda dari kayu jati itu dari dalam. Wanita dewasa tersebut memutar tubuhnya perlahan menghadap Bara.Ekspresi wajah Marissa kini berubah total. Wajah ibu t
Pak Handoko mengambil tas kerjanya dan langsung melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah panjang. Pria itu sudah terlalu malas meladeni sikap kekanak-kanakan anak perempuannya pagi ini.Begitu suara pintu utama ditutup dari luar, suasana di ruang makan menjadi sangat sepi. Hanya terdengar suara tangis Keyla yang tertahan di tenggorokan. Gadis itu menutupi wajah cantiknya dengan kedua tangan. Harga dirinya hancur lebur pagi ini. Uang jajannya dipotong drastis dan mobilnya disita. Semuanya terjadi gara-gara pemuda dari desa itu.Marissa kembali duduk di kursinya dengan gerakan yang sangat santai. Dia menyilangkan kaki panjangnya di balik pakaian tidur sutra merahnya. Kulit paha putihnya terlihat jelas dari balik belahan baju tidurnya yang tersingkap ke samping. Wanita itu meminum teh hangatnya pelan-pelan sambil tersenyum tipis ke arah anak kandungnya."Makanya, Keyla. Jangan suka cari masalah buat nyari perhatian papa kamu. Kamu tau kan, papa sibuk kerja. Mama juga gak n
Kata-kata Bara langsung memukul telak dada Pak Handoko. Ada kilat penyesalan yang melintas cepat di mata pria paruh baya itu. Bara tahu persis, ayahnya punya harga diri yang tinggi, tapi dia juga menyimpan rasa bersalah yang besar karena membiarkan ibu Bara mati dalam kemiskinan dan kesendirian.Bara melanjutkan ucapannya dengan nada yang semakin memelas dan terdengar putus asa."Aku ke kota ini cuma mau kuliah, Pak. Aku numpang di sini karena aku nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ibuku sudah meninggal. Kalau memang aku di sini cuma bikin Keyla risi dan jijik, aku mending pergi aja hari ini cari kosan murah di pinggir jalan. Aku nggak mau bikin keluarga baru Bapak hancur gara-gara aku.""Bara, jangan ngomong begitu," potong Marissa dengan cepat.Wanita berwajah menggoda itu bangkit dari kursinya. Pinggulnya yang padat bergoyang pelan saat dia berjalan memutari meja mendekati Bara. Marissa menyentuh bahu Bara dengan lembut, memainkan peran ibu tiri yang sangat menyayangi anak
Bara tidak membantah. Dia menelan ludah melihat betapa terbukanya Tante Siska di hadapannya. Perlahan tapi pasti, Bara membenamkan jari tengahnya yang panjang dan kasar ke dalam liang Tante Siska yang sudah sangat basah dan hangat itu."Aduh, Tante... Sempit sekali di dalam sini. Jari saya kayak di
Bara mengikuti langkah Tante Marissa menaiki tangga dengan perasaan yang campur aduk. Matanya tidak bisa lepas dari gerak-gerik pinggul ibu tirinya yang lebar dan padat di balik daster kaos tipis itu. Setiap anak tangga yang dipijak membuat bokong montok itu bergoyang pelan ke kanan dan ke kiri, me
Tante Marissa menatap mata Bara dengan sangat dalam, tatapannya sayu namun penuh dengan keinginan yang tidak bisa disembunyikan lagi. Dia melihat napas Bara yang makin pendek dan bagaimana jakun anak muda itu naik-turun karena gugup. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk menyiksa batin Ba
Bara melangkah masuk ke dalam ruang loker dengan jantung yang rasanya mau copot. Ruangan itu sepi sekali, cuma ada suara AC yang mendengung pelan di sudut plafon. Di sana, wanita sosialita yang tadi dia lihat di area latihan sudah duduk santai di bangku kayu panjang. Wanita itu sengaja menyandarkan







