Compartilhar

Bab 04

Autor: Biee
last update Data de publicação: 2026-02-01 17:28:44

Sentuhan paha Marissa di bawah meja membuat darah Bara berdesir hebat. Dia tidak kuat lagi. Rasanya dia harus segera kabur ke kamar sebelum pikirannya makin kotor.

Bara buru-buru memundurkan kursinya dan berdiri.

"Euh ... Tante, saya pamit ke kamar dulu ya. Mata saya sudah berat, mau langsung tidur," pamit Bara gugup, menghindari tatapan mata Marissa yang sayu dan menggoda itu.

"Lho? Buru-buru amat. Ya sudah kalau capek," jawab Marissa dengan nada sedikit kecewa.

Bara berbalik badan mau melangkah pergi. Tapi baru dua langkah, langkahnya terhenti. Dia menoleh ke belakang dan melihat Marissa sedang kesulitan menumpuk piring-piring kotor bekas mereka makan, ditambah piring bekas Handoko dan Keyla. Tubuh montoknya terlihat kewalahan mengangkat tumpukan itu sendirian.

Rasa kasihan dan sifat rajin Bara sebagai orang desa langsung muncul. Dia tidak tega membiarkan wanita—apalagi yang sudah baik padanya—bekerja sendirian sementara dia enak-enakan tidur.

"Ah, maaf Tante. Saya tidak tega lihat Tante beres-beres sendiri," kata Bara sambil balik kanan dan mendekat lagi ke meja makan. "Sini biar saya bantu bawa ke belakang."

Wajah Marissa langsung cerah. Dia tersenyum lebar.

"Wah, kamu memang anak baik ya, Bar. Beda banget sama anak-anak kota jaman sekarang. Ya sudah, tolong bawakan mangkuk sayur sama gelas-gelas itu ya," pinta Marissa.

Bara mengangguk cepat. Dia mengambil nampan berisi gelas dan mangkuk, lalu berjalan mengekor di belakang Marissa menuju dapur bersih.

Pemandangan dari belakang ini justru menjadi ujian kedua buat Bara. Di depannya, pinggul besar Marissa yang terbalut daster kaos tipis bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan irama yang menghipnotis setiap kali dia melangkah. Kain daster itu menempel ketat di bokongnya yang bulat dan padat. Bara harus sering-sering melihat ke langit-langit agar matanya tidak terus-terusan menatap bagian belakang tubuh ibu tirinya itu.

Sesampainya di dapur, mereka berdiri bersebelahan di depan wastafel. Dapurnya tidak terlalu luas, membuat jarak berdiri mereka sangat dekat.

"Biar Tante yang sabuni, kamu yang bilas ya," atur Marissa.

"Siap, Tante," jawab Bara.

Mereka mulai mencuci piring. Suasana hening, hanya suara air mengalir. Tapi bagi Bara, suasana ini sangat "bising" oleh degup jantungnya sendiri. Setiap kali Marissa bergerak mengambil piring kotor, lengan halusnya yang putih tanpa sengaja bersentuhan dengan lengan Bara yang sawo matang dan berotot. Kulit Marissa terasa dingin dan sangat lembut, membuat bulu kuduk Bara meremang setiap kali bersentuhan.

"Kamu rajin begini, pacarmu di kampung pasti beruntung banget," goda Marissa tiba-tiba sambil menyodorkan piring bersabun ke Bara.

Bara menerima piring itu dengan canggung.

"Saya tidak punya pacar, Tante. Orang miskin kayak saya mana ada yang mau," jawab Bara merendah.

Marissa tertawa kecil, suaranya renyah dan manja.

"Masa sih? Padahal kamu ganteng lho, Bar. Manis, badanmu juga bagus, tegap dan kuat," puji Marissa blak-blakan.

Dia menoleh ke samping, menatap tubuh Bara dari atas ke bawah. Saat menoleh itu, tubuh bagian atas Marissa ikut berputar sedikit. Lengan kirinya menekan payudaranya sendiri, membuat gundukan daging putih itu menyembul lebih tinggi dari balik kerah dasternya yang longgar.

Bara yang sedang memegang gelas berisi air bilasan jadi salah tingkah dipuji dan disuguhi pemandangan seindah itu. Tangannya gemetar.

"A-ah, Tante bisa saja," gumam Bara panik.

Pyar!

Saking gugupnya, gelas di tangan Bara meleset saat mau ditaruh. Air bilasan yang penuh satu gelas itu tumpah semua. Bukan ke lantai, tapi menyiram tepat ke arah celana panjang bagian depan yang dipakai Bara.

"Astaga!" pekik Bara kaget.

Area selangkangan dan paha atas celana kainnya langsung basah kuyup. Dinginnya air langsung menembus sampai ke kulit, tapi rasa malunya jauh lebih panas.

"Eh, ya ampun! Basah semua dong!" seru Marissa panik.

Tanpa aba-aba, Marissa langsung menyambar kain lap kering yang tergantung di dekat wastafel. Dengan refleks seorang ibu, dia berjongkok sedikit di depan Bara dan langsung menempelkan kain lap itu ke bagian celana Bara yang basah.

"Sini Tante keringkan, nanti masuk angin kalau lembab," kata Marissa polos sambil menggosok-gosokkan kain itu di paha atas Bara, sangat dekat dengan area terlarang.

Mata Bara melotot. Napasnya berhenti total.

"Ja-jangan, Tante! Biar saya sendiri!" tolak Bara panik setengah mati. Dia mundur selangkah sampai pinggangnya menabrak meja dapur.

Tapi Marissa tidak berhenti. Dia malah maju selangkah, wajahnya kini sejajar dengan perut Bara.

"Diam ih, ini airnya banyak banget lho," kata Marissa sambil terus menekan-nekan kain lap itu di paha dalam Bara.

Dari sudut pandang Bara yang berdiri kaku melihat ke bawah, pemandangan di depannya sungguh gila. Wajah cantik Marissa berada tepat di depan "adiknya". Dan karena Marissa membungkuk rendah, kerah dasternya terbuka lebar-lebar.

Bara bisa melihat semuanya. Dua bukit kembar yang besar, putih, dan mulus itu terekspos jelas tanpa halangan apa pun. Dia bisa melihat belahannya yang dalam, tekstur kulitnya yang halus, bahkan bra renda tipis yang dipakai Marissa di dalamnya. Aroma wangi rambut Marissa menggelitik hidung Bara, bercampur dengan sensasi tangan wanita itu yang mengusap-usap paha atasnya.

Bara merasa "adiknya" mulai bereaksi karena stimulasi visual dan sentuhan itu. Ini bahaya. Sangat bahaya. Kalau sampai dia "bangun" di depan ibu tirinya, tamat sudah riwayatnya.

"Tante! Sudah, Tante! Cukup!" seru Bara agak keras, suaranya bergetar hebat. Dia memegang pergelangan tangan Marissa untuk menghentikan gerakan tangan wanita itu.

Marissa mendongak, menatap wajah Bara yang merah padam dan berkeringat. Tatapan Marissa terlihat bingung, tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.

"Kenapa, Bar? Kok tegang banget badannya?" tanyanya lirih.

Bara melepaskan tangan Marissa dan langsung melompat menjauh.

"Sa-saya ganti celana sendiri saja di kamar. Terima kasih, Tante. Maaf gelasnya pecah, nanti saya ganti," cerocos Bara tanpa napas.

Tanpa menunggu jawaban, Bara langsung lari terbirit-birit keluar dari dapur menuju kamar belakangnya. Meninggalkan Marissa yang masih berdiri memegang kain lap basah sambil terkikik geli melihat tingkah anak tirinya yang kepanasan.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Om Sumijan
nPsu bangeet
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 238

    Sandra menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia tidak lagi memaksakan diri melakukan crunch dengan kecepatan tinggi, melainkan mengatur ritmenya dengan lebih stabil."Bar," panggil Sandra di sela napasnya yang teratur."Ya?" Bara menjawab datar. Tangannya masih memegang pergelangan kaki Sandra dengan mantap, namun kali ini pijatannya sedikit melonggar agar otot gadis itu tidak terlalu tegang."Lo tahu gak, gue beneran kesel sama lo hari ini," ujar Sandra. Ia berhenti sejenak di posisi telentang, menatap langit-langit ruangan sebelum kembali mengangkat tubuhnya."Gara-gara latihan ini atau gara-gara kejadian di pintu tadi?" Bara membalas dengan nada tenang.Sandra mendengus. "Dua-duanya. Lo terlalu kaku, Bar. Gue cuma mau ngetes, eh malah dikasih porsi latihan kayak mau ikut kompetisi binaraga.""Aku cuma melakukan tugasku sebagai instruktur," sahut Bara. "Kalau kamu merasa lelah, istirahat dulu sebentar. Tidak perlu dipaksakan sampai kram."Mendengar itu, Sandra ju

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 237

    Sandra mendongak, menatap Bara dengan pandangan mata yang sayu namun dipaksakan ketus. Napasnya masih satu-satu, membuat dua gundukan dadanya yang montok naik-turun dengan cepat di balik kaos crop top putih ketatnya. Bulir keringat mengalir lambat dari leher jenjangnya yang putih, terus turun ke bawah dan menghilang di balik belahan kemeja crop-nya yang seksi."Ih, lo bener-bener gak punya perasaan ya, Bara! Kulit gue yang mulus ini bisa lecet-lecet tahu kalau langsung disuruh ambil matras lagi!" omel Sandra manja dengan suara parau yang kental. Dia sengaja membuang muka, lalu mengipas-ngipas lehernya yang gerah menggunakan tangan lentiknya.Bara tidak bergeming. Postur tubuhnya yang tinggi tegap berdiri kokoh seperti dinding di depan Sandra, memberikan tekanan dominan yang membuat nyali mantan perundungnya itu menciut perlahan. Kaos polo hitam ketat yang membungkus dada bidang Bara tercetak sangat kencang, memperlihatkan lekuk otot perutnya yang kokoh saat dia menarik napas dalam-

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 236

    Sandra menahan napasnya dengan dada montok yang naik-turun cepat. Cengkeraman tangan besar Bara di pinggulnya terasa begitu panas, membuat celana pendek abu-abu ketatnya semakin mencekik kulit paha mulusnya yang kini bergetar hebat."B-Bara... lepasin dulu. Sakit tahu!" keluh Sandra dengan bibir yang mengerucut seksi."Diam. Baru lima detik," jawab Bara datar. Dada bidangnya yang kokoh menempel rapat di punggung Sandra, menghimpit gundukan dada gadis itu ke depan hingga kaos crop top putihnya tercetak semakin kencang."Ih, kok lo pemaksaan banget sih!" pekik Sandra dengan suara parau yang manja.Gadis itu mendadak kehilangan keseimbangan. Kaki kanannya yang terbalut sepatu putih mendadak lemas, membuatnya tergelincir ke belakang."Eh... eh... aduh!" Sandra memekik kaget saat pantat bulatnya yang padat berisi langsung mendarat telak di atas matras dengan bunyi bergedebuk pelan. Dumbbell di tangannya terlepas dan menggelinding.Bara mundur satu langkah, melipat lengan kekarnya di depan

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 235

    Bara mendorong pintu ruang latihan VIP di lantai dua, lalu melangkah masuk terlebih dahulu. Begitu dia membalikkan badan, Sandra tiba-tiba maju dengan cepat.Plak! Plak!Kedua tangan lentik Sandra menghantam daun pintu di kiri dan kanan kepala Bara, mengurung tubuh tegap pria itu di tempatnya. Napas Sandra memburu cepat, membuat kaos crop top putih ketatnya bergerak naik-turun. Gundukan dadanya yang montok hampir menempel pada dada bidang Bara.Bara tersentak kecil, kedua alisnya bertaut rapat. "Ada apa ini, Sandra? Kita ke sini untuk latihan.""Apa anak kota ini sedang mencoba mengerjaiku?" batin Bara heran.Sandra tidak menjawab. Wajah cantiknya sudah merah padam sampai ke leher. Bibirnya bergetar, menatap lurus ke arah bibir Bara."Persetan dengan gengsi. Gue udah gak tahan!" batin Sandra.Tanpa aba-aba, Sandra langsung memajukan wajahnya dan melumat habis bibir Bara.Mmmhh!Sandra memejamkan mata erat-erat, menekan seluruh tubuhnya hingga paha mulusnya yang terbalut celana pendek

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 234

    Maya hanya bisa mengangguk pasrah dengan air mata yang mulai mengenangi sudut mata sayunya. Cengkeraman jari besar Bara di dagunya terasa begitu kuat, membuat seluruh tubuhnya gemetar halus."I-iya, Bara... Gue bakal turutin semua mau lo. Tolong jangan sebarin video itu," cicit Maya dengan suara parau yang sangat lirih.Bara melepaskan cengkeramannya dari dagu Maya dengan sentakan pelan. Dia menyeringai puas melihat sekretaris yang tadinya sombong kini gemetaran di depan meja kerjanya yang usang.Pandangan mata Bara bergerak turun, memperhatikan dada montok Maya yang naik-turun cepat karena napasnya yang sesak akibat panik. Kemeja putih ketatnya terbuka satu kancing di bagian atas, tercetak semakin kencang mengikuti lekuk tubuh gembulnya yang padat."Bagus. Sekarang ambil kembali berkas laporan keuangan ini, lalu input sendiri ke komputer ruanganmu," perintah Bara dengan nada suara berat yang dingin tanpa bantahan."T-tapi... tapi tadi Pak Handoko minta laporan ini selesai jam dua lew

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 233

    Dua puluh menit berlalu di dalam ruangan pojok yang sepi itu. Bara baru saja selesai merapikan tumpukan kertas usang di atas meja kerjanya ketika terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dari arah pintu.Maya melangkah masuk dengan angkuh. Rok sepan hitam ketatnya bergeser seksi mengikuti ayunan pinggulnya yang padat. Di tangan kanannya, dia membawa satu bundel berkas tebal bersampul kuning.Brak!Maya melemparkan berkas itu ke atas meja Bara hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Dua gundukan dadanya yang montok berguncang kecil di balik kemeja putih ketatnya saat dia berkacak pinggang."Nih, input laporan keuangan baru ini ke sistem gudang sekarang juga. Jangan pakai lama ya," perintah Maya dengan nada suara yang sangat ketus dan sombong.Bara tidak langsung menyentuh berkas itu. Dia hanya mendongak, menatap wajah cantik Maya dengan pandangan mata yang datar. "Ini bukan tugas bagian administrasi gudang belakang."Maya terkekeh sinis, menyeringai penuh penghi

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status