Share

Bab 05

Author: Biee
last update publish date: 2026-02-01 17:35:15

Bara menutup pintu kamar dengan napas memburu. Jantungnya masih berdetak kencang gara-gara kejadian di dapur tadi. Bayangan dada putih Tante Marissa yang terbuka lebar di depan matanya benar-benar bikin pusing.

Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor itu lalu buru-buru melepas celana panjangnya yang basah. Bara menggantinya dengan celana pendek biasa. Baru saja dia duduk di kasur, tubuhnya langsung menggigil. Pendingin ruangan di kamar ini dingin sekali rasanya menusuk tulang. Bara mau mematikan alatnya tapi dia bingung tombolnya banyak sekali. Akhirnya Bara pasrah dan meringkuk di kasur pakai selimut tipis. Giginya sampai beradu saking dinginnya.

Tiba-tiba pintu diketuk pelan dan langsung terbuka. Marissa masuk membawa botol minyak kayu putih.

"Bar? Kamu belum tidur kan?" tanya Marissa lembut.

Marissa menutup pintu lalu berjalan mendekat. Dia langsung duduk di tepi ranjang Bara yang sempit. Kasur busa itu langsung ambles menahan berat tubuh Marissa yang montok dan padat.

"Tante tahu kamu pasti kedinginan. Kamar ini memang dingin kalau malam, apalagi tadi kamu basah kuyup," kata Marissa cemas. "Ayo buka kaosmu. Biar Tante balurkan minyak biar tidak masuk angin."

Bara kaget dan menarik selimutnya makin tinggi.

"Eh, tidak usah Tante. Saya pakai selimut saja sudah cukup kok. Malu Tante," tolak Bara gugup.

"Halah, sama Tante sendiri kok malu. Badanmu itu kurus, kalau sakit nanti siapa yang repot? Ayo buka atau Tante buka paksa nih?" goda Marissa sambil menarik ujung kaos Bara.

Bara tidak berkutik. Dengan wajah memerah dia bangun sedikit dan melepas kaosnya. Kini dia bertelanjang dada di depan ibu tirinya.

Marissa menuangkan minyak ke telapak tangannya lalu menggosoknya sebentar. Tangan halusnya mulai menyentuh dada bidang Bara.

"Tahan ya, agak panas dikit," kata Marissa.

Dia mulai memijat pelan dada Bara lalu turun ke perut. Gerakan tangannya luwes sekali. Namun posisi duduk Marissa menjadi ujian berat bagi Bara.

Karena Marissa harus menjangkau dada Bara, dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Kerah daster kaosnya yang longgar itu kembali melorot turun karena dia membungkuk. Jarak wajah Bara dan dada Marissa kini dekat sekali.

Mata Bara tidak bisa bohong. Dia terpaku menatap dua gundukan putih mulus yang menggantung indah di depan hidungnya. Payudara yang besar dan berat itu berguncang pelan mengikuti gerakan tangan Marissa yang sedang memijat. Kulit di belahan dadanya terlihat sangat halus dan wangi.

"Enak pijatannya Bar?" tanya Marissa tiba-tiba dengan suara rendah.

Marissa mendongak sedikit menatap mata Bara. Tangannya masih terus bergerak memutar di perut Bara dan makin lama makin turun mendekati karet celana kolornya.

"E-enak Tante, hangat," jawab Bara tergagap.

Napas Bara makin berat. Dia merasakan bagian tubuhnya di dalam celana sudah menegang sakit karena pemandangan dan sentuhan ini. Bara berdoa semoga Marissa tidak melihat perubahan di balik selimutnya.

Marissa tersenyum penuh arti melihat keringat dingin di pelipis Bara.

"Badanmu bagus juga ya Bar. Kencang semua ototnya, beda sama Papamu yang sudah lembek," puji Marissa blak-blakan.

Sengaja atau tidak, lengan atas Marissa menekan sisi payudaranya sendiri saat dia memijat bahu Bara. Daging montok itu jadi makin menyembul keluar dari balik daster.

Bara menelan ludah kasar dan menahan tangan Marissa.

"Sudah Tante, cukup. Badannya sudah hangat kok," kata Bara memohon karena sudah tidak kuat lagi.

Marissa tertawa kecil lalu menarik tangannya. Dia berdiri dari kasur dan membenarkan letak dasternya sekilas yang justru membuat bentuk tubuhnya makin tercetak jelas.

"Ya sudah kalau begitu. Tidur yang nyenyak ya Sayang," ucap Marissa sambil berjalan keluar dengan pinggul yang bergoyang pelan.

Bara langsung menjatuhkan tubuhnya ke bantal setelah pintu tertutup. Dia menatap langit-langit kamar dengan napas ngos-ngosan.

"Astaga, Tante Marissa benar-benar bahaya," desah Bara sambil memejamkan mata.

Bara menghembuskan napas panjang sambil memegangi dadanya. Jantungnya serasa mau meledak. Dia melirik ke arah celana pendeknya. Di sana, di balik kain tipis celana kolornya, ada gundukan besar yang menonjol keras karena miliknya sudah berdiri tegak gara-gara pijatan dan pemandangan tadi.

"Aduh, celaka aku. Kalau Bapak tahu bisa mati aku," gumam Bara panik. Dia berusaha mengatur napas biar miliknya tenang kembali, tapi sulit sekali karena bayangan tubuh Tante Marissa masih menempel di otak.

Belum sempat Bara menarik selimut untuk menutupi rasa malunya, gagang pintu kamar tiba-tiba berputar lagi.

Cklek.

Bara terlonjak kaget setengah mati. Dia refleks menutupi selangkangannya dengan kedua tangan. Marissa sudah melangkah masuk lagi ke dalam kamar.

"Maaf Bar, tutup botol minyaknya ketinggalan di kasur," kata Marissa santai.

Mata Marissa langsung tertuju ke atas kasur, tepat di samping paha Bara. Tapi tentu saja, pandangan Marissa tidak berhenti di situ. Tatapannya langsung terkunci pada tangan Bara yang berusaha menutupi tonjolan besar di celana pendeknya.

Wajah Bara langsung merah padam sampai ke telinga. Rasanya dia ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga.

Marissa tidak berbalik atau pura-pura tidak lihat. Bibirnya justru menyunggingkan senyum miring. Dia berjalan mendekat ke tepi ranjang lalu duduk lagi di sana, membuat kasur kembali ambles dan menekan sisi kaki Bara.

"Wah ... Ternyata efek pijatan Tante hebat juga ya," bisik Marissa dengan suara serak yang menggoda. "Sampai bangun dan kencang begitu."

"Tante ... Tolong keluar. Saya mau tidur," usir Bara halus, suaranya bergetar hebat.

Marissa tidak mendengarkan. Dia malah mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajah cantiknya ke arah Bara.

"Sakit lho itu Bar kalau ditahan begitu," kata Marissa dengan nada sok perhatian. Matanya menatap lurus ke celana Bara. "Keluarkan saja, Bar. Biar napas, biar tidak sakit."

Bara melotot kaget. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

"Apa? E-enggak Tante! Jangan ngaco. Saya tidak apa-apa," tolak Bara panik sambil menggelengkan kepala kuat-kuat. Dia menggeser tubuhnya mundur mempet ke tembok.

Tapi Marissa makin maju. Dia merangkak sedikit di atas kasur, mengurung Bara. Daster longgarnya kembali melorot, memperlihatkan dadanya yang montok dan putih bergoyang pelan tepat di depan mata Bara.

"Jangan bohong. Tante tahu rasanya laki-laki kalau lagi tegang begitu pasti nyeri," bujuk Marissa lembut tapi memaksa.

Tangan halus Marissa tiba-tiba terulur dan langsung menyentuh gundukan di balik celana Bara. Dia meremasnya pelan.

"Ahhh ... Tante!" desah Bara kaget, badannya menegang.

"Tuh kan, keras banget kayak batu. Kasihan adik kecilnya kejepit," bisik Marissa. "Ayo keluarkan saja. Jangan malu sama Tante. Tante cuma mau bantu biar kamu lega."

"Jangan Tante, saya mohon ... Ini salah Tante, Tante istri Bapak," kata Bara memelas. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Pertahanannya nyaris runtuh merasakan tangan hangat Marissa yang terus mengusap miliknya dari luar celana.

"Sstt ... Bapakmu sudah tidur pulas. Dia tidak akan tahu," bisik Marissa makin nakal. "Lagipula ini demi kesehatan kamu. Kalau pembuluh darahnya pecah gimana?"

Tanpa menunggu jawaban Bara, tangan Marissa bergerak lincah menuju karet celana kolor Bara.

"Tante! Jangan!" Bara mencoba menahan tangan Marissa dengan tangannya yang gemetar. Tapi tenaga Bara hilang entah kemana saat melihat belahan dada Marissa yang begitu dekat.

Marissa menepis pelan tangan Bara sambil tersenyum manis.

"Diam ya anak baik. Nurut sama Tante," perintahnya lembut.

Dengan gerakan cepat, Marissa menarik karet celana kolor Bara ke bawah sampai sebatas paha.

Sret.

Seketika itu juga, kejantanan Bara yang sudah tegang maksimal langsung mencuat keluar, terbebas dari kekangan celana dalam yang sempit. Barang itu berdiri tegak, berdenyut-denyut di hadapan wajah Marissa.

Bara memejamkan mata rapat-rapat, napasnya tertahan di tenggorokan. Dia merasa telanjang dan pasrah sepenuhnya.

Marissa menatap benda pusaka anak tirinya itu dengan mata berbinar. Dia menggigit bibir bawahnya pelan.

"Wow ...," desis Marissa kagum. "Ternyata bukan cuma badanmu yang bagus. Punya kamu besar dan gagah sekali, Bar. Jauh lebih hebat dari punya Papamu."

Bara hanya bisa meremas sprei, wajahnya panas luar biasa. Dia malu tapi juga merasakan kenikmatan aneh karena dipuji dan dilihat seintens itu oleh wanita secantik Marissa.

"Lihat Bar, dia senang sekali sudah keluar," goda Marissa sambil mendekatkan wajahnya, seolah ingin menyapa milik Bara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Anak Agung Gde Agung
Jelek sistemnya sdh bayar via ovo ,tpbtetap tak bisa baca dasar ,,!!
goodnovel comment avatar
Resually Wally
lanjut baca
goodnovel comment avatar
Bah Zat
mana nih lanjutan nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 238

    Sandra menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia tidak lagi memaksakan diri melakukan crunch dengan kecepatan tinggi, melainkan mengatur ritmenya dengan lebih stabil."Bar," panggil Sandra di sela napasnya yang teratur."Ya?" Bara menjawab datar. Tangannya masih memegang pergelangan kaki Sandra dengan mantap, namun kali ini pijatannya sedikit melonggar agar otot gadis itu tidak terlalu tegang."Lo tahu gak, gue beneran kesel sama lo hari ini," ujar Sandra. Ia berhenti sejenak di posisi telentang, menatap langit-langit ruangan sebelum kembali mengangkat tubuhnya."Gara-gara latihan ini atau gara-gara kejadian di pintu tadi?" Bara membalas dengan nada tenang.Sandra mendengus. "Dua-duanya. Lo terlalu kaku, Bar. Gue cuma mau ngetes, eh malah dikasih porsi latihan kayak mau ikut kompetisi binaraga.""Aku cuma melakukan tugasku sebagai instruktur," sahut Bara. "Kalau kamu merasa lelah, istirahat dulu sebentar. Tidak perlu dipaksakan sampai kram."Mendengar itu, Sandra ju

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 237

    Sandra mendongak, menatap Bara dengan pandangan mata yang sayu namun dipaksakan ketus. Napasnya masih satu-satu, membuat dua gundukan dadanya yang montok naik-turun dengan cepat di balik kaos crop top putih ketatnya. Bulir keringat mengalir lambat dari leher jenjangnya yang putih, terus turun ke bawah dan menghilang di balik belahan kemeja crop-nya yang seksi."Ih, lo bener-bener gak punya perasaan ya, Bara! Kulit gue yang mulus ini bisa lecet-lecet tahu kalau langsung disuruh ambil matras lagi!" omel Sandra manja dengan suara parau yang kental. Dia sengaja membuang muka, lalu mengipas-ngipas lehernya yang gerah menggunakan tangan lentiknya.Bara tidak bergeming. Postur tubuhnya yang tinggi tegap berdiri kokoh seperti dinding di depan Sandra, memberikan tekanan dominan yang membuat nyali mantan perundungnya itu menciut perlahan. Kaos polo hitam ketat yang membungkus dada bidang Bara tercetak sangat kencang, memperlihatkan lekuk otot perutnya yang kokoh saat dia menarik napas dalam-

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 236

    Sandra menahan napasnya dengan dada montok yang naik-turun cepat. Cengkeraman tangan besar Bara di pinggulnya terasa begitu panas, membuat celana pendek abu-abu ketatnya semakin mencekik kulit paha mulusnya yang kini bergetar hebat."B-Bara... lepasin dulu. Sakit tahu!" keluh Sandra dengan bibir yang mengerucut seksi."Diam. Baru lima detik," jawab Bara datar. Dada bidangnya yang kokoh menempel rapat di punggung Sandra, menghimpit gundukan dada gadis itu ke depan hingga kaos crop top putihnya tercetak semakin kencang."Ih, kok lo pemaksaan banget sih!" pekik Sandra dengan suara parau yang manja.Gadis itu mendadak kehilangan keseimbangan. Kaki kanannya yang terbalut sepatu putih mendadak lemas, membuatnya tergelincir ke belakang."Eh... eh... aduh!" Sandra memekik kaget saat pantat bulatnya yang padat berisi langsung mendarat telak di atas matras dengan bunyi bergedebuk pelan. Dumbbell di tangannya terlepas dan menggelinding.Bara mundur satu langkah, melipat lengan kekarnya di depan

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 235

    Bara mendorong pintu ruang latihan VIP di lantai dua, lalu melangkah masuk terlebih dahulu. Begitu dia membalikkan badan, Sandra tiba-tiba maju dengan cepat.Plak! Plak!Kedua tangan lentik Sandra menghantam daun pintu di kiri dan kanan kepala Bara, mengurung tubuh tegap pria itu di tempatnya. Napas Sandra memburu cepat, membuat kaos crop top putih ketatnya bergerak naik-turun. Gundukan dadanya yang montok hampir menempel pada dada bidang Bara.Bara tersentak kecil, kedua alisnya bertaut rapat. "Ada apa ini, Sandra? Kita ke sini untuk latihan.""Apa anak kota ini sedang mencoba mengerjaiku?" batin Bara heran.Sandra tidak menjawab. Wajah cantiknya sudah merah padam sampai ke leher. Bibirnya bergetar, menatap lurus ke arah bibir Bara."Persetan dengan gengsi. Gue udah gak tahan!" batin Sandra.Tanpa aba-aba, Sandra langsung memajukan wajahnya dan melumat habis bibir Bara.Mmmhh!Sandra memejamkan mata erat-erat, menekan seluruh tubuhnya hingga paha mulusnya yang terbalut celana pendek

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 234

    Maya hanya bisa mengangguk pasrah dengan air mata yang mulai mengenangi sudut mata sayunya. Cengkeraman jari besar Bara di dagunya terasa begitu kuat, membuat seluruh tubuhnya gemetar halus."I-iya, Bara... Gue bakal turutin semua mau lo. Tolong jangan sebarin video itu," cicit Maya dengan suara parau yang sangat lirih.Bara melepaskan cengkeramannya dari dagu Maya dengan sentakan pelan. Dia menyeringai puas melihat sekretaris yang tadinya sombong kini gemetaran di depan meja kerjanya yang usang.Pandangan mata Bara bergerak turun, memperhatikan dada montok Maya yang naik-turun cepat karena napasnya yang sesak akibat panik. Kemeja putih ketatnya terbuka satu kancing di bagian atas, tercetak semakin kencang mengikuti lekuk tubuh gembulnya yang padat."Bagus. Sekarang ambil kembali berkas laporan keuangan ini, lalu input sendiri ke komputer ruanganmu," perintah Bara dengan nada suara berat yang dingin tanpa bantahan."T-tapi... tapi tadi Pak Handoko minta laporan ini selesai jam dua lew

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 233

    Dua puluh menit berlalu di dalam ruangan pojok yang sepi itu. Bara baru saja selesai merapikan tumpukan kertas usang di atas meja kerjanya ketika terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam dari arah pintu.Maya melangkah masuk dengan angkuh. Rok sepan hitam ketatnya bergeser seksi mengikuti ayunan pinggulnya yang padat. Di tangan kanannya, dia membawa satu bundel berkas tebal bersampul kuning.Brak!Maya melemparkan berkas itu ke atas meja Bara hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Dua gundukan dadanya yang montok berguncang kecil di balik kemeja putih ketatnya saat dia berkacak pinggang."Nih, input laporan keuangan baru ini ke sistem gudang sekarang juga. Jangan pakai lama ya," perintah Maya dengan nada suara yang sangat ketus dan sombong.Bara tidak langsung menyentuh berkas itu. Dia hanya mendongak, menatap wajah cantik Maya dengan pandangan mata yang datar. "Ini bukan tugas bagian administrasi gudang belakang."Maya terkekeh sinis, menyeringai penuh penghi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status