تسجيل الدخولBara menutup pintu kamar dengan napas memburu. Jantungnya masih berdetak kencang gara-gara kejadian di dapur tadi. Bayangan dada putih Tante Marissa yang terbuka lebar di depan matanya benar-benar bikin pusing.
Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor itu lalu buru-buru melepas celana panjangnya yang basah. Bara menggantinya dengan celana pendek biasa. Baru saja dia duduk di kasur, tubuhnya langsung menggigil. Pendingin ruangan di kamar ini dingin sekali rasanya menusuk tulang. Bara mau mematikan alatnya tapi dia bingung tombolnya banyak sekali. Akhirnya Bara pasrah dan meringkuk di kasur pakai selimut tipis. Giginya sampai beradu saking dinginnya. Tiba-tiba pintu diketuk pelan dan langsung terbuka. Marissa masuk membawa botol minyak kayu putih. "Bar? Kamu belum tidur kan?" tanya Marissa lembut. Marissa menutup pintu lalu berjalan mendekat. Dia langsung duduk di tepi ranjang Bara yang sempit. Kasur busa itu langsung ambles menahan berat tubuh Marissa yang montok dan padat. "Tante tahu kamu pasti kedinginan. Kamar ini memang dingin kalau malam, apalagi tadi kamu basah kuyup," kata Marissa cemas. "Ayo buka kaosmu. Biar Tante balurkan minyak biar tidak masuk angin." Bara kaget dan menarik selimutnya makin tinggi. "Eh, tidak usah Tante. Saya pakai selimut saja sudah cukup kok. Malu Tante," tolak Bara gugup. "Halah, sama Tante sendiri kok malu. Badanmu itu kurus, kalau sakit nanti siapa yang repot? Ayo buka atau Tante buka paksa nih?" goda Marissa sambil menarik ujung kaos Bara. Bara tidak berkutik. Dengan wajah memerah dia bangun sedikit dan melepas kaosnya. Kini dia bertelanjang dada di depan ibu tirinya. Marissa menuangkan minyak ke telapak tangannya lalu menggosoknya sebentar. Tangan halusnya mulai menyentuh dada bidang Bara. "Tahan ya, agak panas dikit," kata Marissa. Dia mulai memijat pelan dada Bara lalu turun ke perut. Gerakan tangannya luwes sekali. Namun posisi duduk Marissa menjadi ujian berat bagi Bara. Karena Marissa harus menjangkau dada Bara, dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Kerah daster kaosnya yang longgar itu kembali melorot turun karena dia membungkuk. Jarak wajah Bara dan dada Marissa kini dekat sekali. Mata Bara tidak bisa bohong. Dia terpaku menatap dua gundukan putih mulus yang menggantung indah di depan hidungnya. Payudara yang besar dan berat itu berguncang pelan mengikuti gerakan tangan Marissa yang sedang memijat. Kulit di belahan dadanya terlihat sangat halus dan wangi. "Enak pijatannya Bar?" tanya Marissa tiba-tiba dengan suara rendah. Marissa mendongak sedikit menatap mata Bara. Tangannya masih terus bergerak memutar di perut Bara dan makin lama makin turun mendekati karet celana kolornya. "E-enak Tante, hangat," jawab Bara tergagap. Napas Bara makin berat. Dia merasakan bagian tubuhnya di dalam celana sudah menegang sakit karena pemandangan dan sentuhan ini. Bara berdoa semoga Marissa tidak melihat perubahan di balik selimutnya. Marissa tersenyum penuh arti melihat keringat dingin di pelipis Bara. "Badanmu bagus juga ya Bar. Kencang semua ototnya, beda sama Papamu yang sudah lembek," puji Marissa blak-blakan. Sengaja atau tidak, lengan atas Marissa menekan sisi payudaranya sendiri saat dia memijat bahu Bara. Daging montok itu jadi makin menyembul keluar dari balik daster. Bara menelan ludah kasar dan menahan tangan Marissa. "Sudah Tante, cukup. Badannya sudah hangat kok," kata Bara memohon karena sudah tidak kuat lagi. Marissa tertawa kecil lalu menarik tangannya. Dia berdiri dari kasur dan membenarkan letak dasternya sekilas yang justru membuat bentuk tubuhnya makin tercetak jelas. "Ya sudah kalau begitu. Tidur yang nyenyak ya Sayang," ucap Marissa sambil berjalan keluar dengan pinggul yang bergoyang pelan. Bara langsung menjatuhkan tubuhnya ke bantal setelah pintu tertutup. Dia menatap langit-langit kamar dengan napas ngos-ngosan. "Astaga, Tante Marissa benar-benar bahaya," desah Bara sambil memejamkan mata. Bara menghembuskan napas panjang sambil memegangi dadanya. Jantungnya serasa mau meledak. Dia melirik ke arah celana pendeknya. Di sana, di balik kain tipis celana kolornya, ada gundukan besar yang menonjol keras karena miliknya sudah berdiri tegak gara-gara pijatan dan pemandangan tadi. "Aduh, celaka aku. Kalau Bapak tahu bisa mati aku," gumam Bara panik. Dia berusaha mengatur napas biar miliknya tenang kembali, tapi sulit sekali karena bayangan tubuh Tante Marissa masih menempel di otak. Belum sempat Bara menarik selimut untuk menutupi rasa malunya, gagang pintu kamar tiba-tiba berputar lagi. Cklek. Bara terlonjak kaget setengah mati. Dia refleks menutupi selangkangannya dengan kedua tangan. Marissa sudah melangkah masuk lagi ke dalam kamar. "Maaf Bar, tutup botol minyaknya ketinggalan di kasur," kata Marissa santai. Mata Marissa langsung tertuju ke atas kasur, tepat di samping paha Bara. Tapi tentu saja, pandangan Marissa tidak berhenti di situ. Tatapannya langsung terkunci pada tangan Bara yang berusaha menutupi tonjolan besar di celana pendeknya. Wajah Bara langsung merah padam sampai ke telinga. Rasanya dia ingin menghilang ditelan bumi saat itu juga. Marissa tidak berbalik atau pura-pura tidak lihat. Bibirnya justru menyunggingkan senyum miring. Dia berjalan mendekat ke tepi ranjang lalu duduk lagi di sana, membuat kasur kembali ambles dan menekan sisi kaki Bara. "Wah ... Ternyata efek pijatan Tante hebat juga ya," bisik Marissa dengan suara serak yang menggoda. "Sampai bangun dan kencang begitu." "Tante ... Tolong keluar. Saya mau tidur," usir Bara halus, suaranya bergetar hebat. Marissa tidak mendengarkan. Dia malah mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajah cantiknya ke arah Bara. "Sakit lho itu Bar kalau ditahan begitu," kata Marissa dengan nada sok perhatian. Matanya menatap lurus ke celana Bara. "Keluarkan saja, Bar. Biar napas, biar tidak sakit." Bara melotot kaget. Jantungnya seakan berhenti berdetak. "Apa? E-enggak Tante! Jangan ngaco. Saya tidak apa-apa," tolak Bara panik sambil menggelengkan kepala kuat-kuat. Dia menggeser tubuhnya mundur mempet ke tembok. Tapi Marissa makin maju. Dia merangkak sedikit di atas kasur, mengurung Bara. Daster longgarnya kembali melorot, memperlihatkan dadanya yang montok dan putih bergoyang pelan tepat di depan mata Bara. "Jangan bohong. Tante tahu rasanya laki-laki kalau lagi tegang begitu pasti nyeri," bujuk Marissa lembut tapi memaksa. Tangan halus Marissa tiba-tiba terulur dan langsung menyentuh gundukan di balik celana Bara. Dia meremasnya pelan. "Ahhh ... Tante!" desah Bara kaget, badannya menegang. "Tuh kan, keras banget kayak batu. Kasihan adik kecilnya kejepit," bisik Marissa. "Ayo keluarkan saja. Jangan malu sama Tante. Tante cuma mau bantu biar kamu lega." "Jangan Tante, saya mohon ... Ini salah Tante, Tante istri Bapak," kata Bara memelas. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Pertahanannya nyaris runtuh merasakan tangan hangat Marissa yang terus mengusap miliknya dari luar celana. "Sstt ... Bapakmu sudah tidur pulas. Dia tidak akan tahu," bisik Marissa makin nakal. "Lagipula ini demi kesehatan kamu. Kalau pembuluh darahnya pecah gimana?" Tanpa menunggu jawaban Bara, tangan Marissa bergerak lincah menuju karet celana kolor Bara. "Tante! Jangan!" Bara mencoba menahan tangan Marissa dengan tangannya yang gemetar. Tapi tenaga Bara hilang entah kemana saat melihat belahan dada Marissa yang begitu dekat. Marissa menepis pelan tangan Bara sambil tersenyum manis. "Diam ya anak baik. Nurut sama Tante," perintahnya lembut. Dengan gerakan cepat, Marissa menarik karet celana kolor Bara ke bawah sampai sebatas paha. Sret. Seketika itu juga, kejantanan Bara yang sudah tegang maksimal langsung mencuat keluar, terbebas dari kekangan celana dalam yang sempit. Barang itu berdiri tegak, berdenyut-denyut di hadapan wajah Marissa. Bara memejamkan mata rapat-rapat, napasnya tertahan di tenggorokan. Dia merasa telanjang dan pasrah sepenuhnya. Marissa menatap benda pusaka anak tirinya itu dengan mata berbinar. Dia menggigit bibir bawahnya pelan. "Wow ...," desis Marissa kagum. "Ternyata bukan cuma badanmu yang bagus. Punya kamu besar dan gagah sekali, Bar. Jauh lebih hebat dari punya Papamu." Bara hanya bisa meremas sprei, wajahnya panas luar biasa. Dia malu tapi juga merasakan kenikmatan aneh karena dipuji dan dilihat seintens itu oleh wanita secantik Marissa. "Lihat Bar, dia senang sekali sudah keluar," goda Marissa sambil mendekatkan wajahnya, seolah ingin menyapa milik Bara.Bara menatap tepat ke manik mata Handoko. Dia tidak berkedip."Saya mau akses penuh," jawab Bara tegas."Akses penuh?" ulang Handoko pelan."Ke seluruh jaringan perusahaan. Saya mau lihat laporan keuangan pusat. Saya mau tahu rute distribusi dari semua pelabuhan yang dikuasai HDK Group. Saya mau tahu semua daftar anak perusahaan yang Bapak sembunyikan di luar negeri. Semuanya."Senyum di wajah Handoko perlahan memudar. Matanya menyipit. Hening menyelimuti ruangan besar itu. Hanya terdengar suara dengung halus dari pendingin ruangan.Handoko mengambil cerutunya kembali. Dia memutarnya perlahan dengan jari telunjuk dan ibu jari. Asap tipis masih keluar dari ujung cerutu yang menyala. Abu putih jatuh sedikit menodai celana kain mahalnya. Handoko tidak mempedulikannya."Kamu terlalu ambisius, Bara," kata Handoko pelan. Suaranya kini terdengar mengancam. "Kamu baru satu hari bekerja di cabang kecil. Kamu baru menangkap satu tikus gudang.""Tikus gudang itu bekerja untuk Anton. Dan Anton be
"Bara?" suara Anton berubah tegang."Dengar baik-baik. Barang ilegal ini saya sita atas nama perusahaan. Kalau kamu mau barang ini kembali, silakan datang sendiri ke kantor dan ambil lewat meja resepsionis depan. Bawa juga polisi kalau kamu berani."Klik. Bara mematikan panggilan itu sepihak. Dia melemparkan ponsel itu kembali ke perut Pak Beni. Pak Beni menangkapnya dengan tergagap."Pak Heru!" teriak Bara. Suaranya menggema di seluruh gudang.Dari pintu atas, Pak Heru berlari menuruni tangga besi dengan napas tersengal. Dia sampai di depan Bara dalam waktu kurang dari semenit."Iya, Mas Bara. Eh, Tuan Muda," ucap Pak Heru sambil memegang lututnya, mencoba mengatur napas."Panggil keamanan internal. Bawa pak Beni ke ruang interogasi. Kunci pintu kontainer ini. Jangan ada yang berani mendekat satu meter pun dari area ini." Bara memberi instruksi cepat. Matanya tajam."Baik, Tuan Muda. Segera." Pak Heru menoleh ke arah Pak Beni. "Ayo, Pak Beni. Jangan bikin masalah lagi."Dua orang sa
"Mana kuncinya, Beni," ulang Bara. Nada suaranya turun satu oktaf.Di belakang meja, ketiga sopir tadi perlahan berdiri. Mereka mengambil langkah mundur satu per satu. Sangat pelan. Sopir bertopi merah menutupi wajahnya dengan map plastik tipis, seolah map itu bisa membuatnya tidak terlihat. Mereka berjingkat menjauh menuju pintu keluar.Bara melirik ke arah mereka. "Mau ke mana kalian? Berdiri di situ."Ketiga sopir itu berhenti seketika. Tubuh mereka membeku. Sopir bertopi merah menurunkan map plastiknya dengan wajah memelas.Bara kembali menatap Pak Beni. "Kamu mau kasih kuncinya sendiri, atau saya harus robek saku celanamu?"Tangan Pak Beni gemetar hebat. Dia merogoh saku celananya. Bunyi gemerincing logam terdengar. Dia mengeluarkan sebundel kunci besar berkarat. Dia menyerahkannya ke tangan Bara."Bangun. Jalan ke kontainer nomor empat," perintah Bara.Bara berdiri. Pak Beni ikut berdiri dengan susah payah. Kakinya pincang sedikit akibat jatuh tadi. Dia berjalan di depan Bara.
Bara bangkit dari kursi kulitnya. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Tangannya meraih ponsel di atas meja, memasukkannya ke dalam saku celana bahan berwarna hitam gelap. Dia melangkah menuju pintu ruangannya. Tangan kanannya memutar kenop pintu perlahan. Bunyi klik terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.Bara melangkah keluar. Sepatu pantofelnya beradu dengan lantai keramik lorong. Suaranya menggema lambat. Satu langkah. Dua langkah. Dia tidak terburu-buru. Waktu adalah miliknya sekarang. Dia menyusuri lorong lantai dua, melewati kubikel para staf yang sibuk mengetik. Beberapa dari mereka menunduk, tidak berani menatap mata Bara.Dia sampai di ujung lorong. Ada pintu besi dengan kaca kecil buram yang menghubungkan area kantor dengan area gudang. Bara mendorong pintu besi itu.Hawa panas langsung menghantam wajahnya. Bau oli bekas, debu kardus, dan keringat bercampur menjadi satu. Suara deru mesin forklift terdengar bising dari ujung ruangan. Gudang ini sangat l
"Salah input satu atau dua angka itu wajar. Tapi ini satu baris data hilang. Dan anehnya, barang yang hilang itu barang yang nilai jualnya paling tinggi," kata Bara. Dia memutar kursinya sedikit ke arah Intan. "Siapa yang suruh kamu?""Nggak ada yang suruh, Pak! Itu murni kesalahan saya," jawab Intan cepat. Suaranya sedikit bergetar.Bara mengambil pulpen di mejanya, memutar-mutarnya dengan santai. "Intan, saya baru di sini, tapi saya bukan orang bodoh. Kamu sudah kerja di sini tiga tahun. Rekam jejakmu bagus. Kenapa tiba-tiba hari ini, pas saya masuk, kamu buat kesalahan sekonyol ini?"Intan terdiam. Dia menunduk dalam-dalam."Kamu tahu kan konsekuensinya kalau saya lapor ke polisi? Ini penggelapan barang perusahaan. Hukumannya nggak main-main," tambah Bara dengan suara rendah yang mengancam."Tolong jangan lapor polisi, Pak," bisik Intan. Matanya mulai berkaca-kaca."Kalau gitu jujur. Siapa yang minta kamu hapus data itu dari sistem?"Intan ragu sejenak. Dia melirik ke arah pintu ru
Bara berjalan ke garasi samping. Dia memacu motor tuanya keluar dari gerbang rumah mewah itu. Suara mesin motornya memecah kesunyian kompleks yang masih sepi.Perjalanan ke arah kantor memakan waktu sekitar empat puluh menit karena macet. Bara menyelinap di antara mobil-mobil besar. Panas matahari mulai terasa di kulit lehernya, tapi dia tidak peduli.Pukul delapan kurang sepuluh, Bara sampai di kantor cabang HDK Group. Dia memarkirkan motornya di pojokan, dekat motor para staf gudang. Saat dia berjalan masuk ke lobi, semua mata tertuju padanya."Pagi, Mas Bara," sapa satpam di depan."Pagi, Pak," jawab Bara singkat.Di depan lift, Pak Heru sudah menunggu. Dia terlihat sedikit cemas sambil memegang beberapa map."Selamat pagi, Tuan Muda. Mari, saya antar ke ruangan," ucap Pak Heru."Panggil Bara saja, Pak. Nggak usah terlalu formal," kata Bara saat mereka masuk ke dalam lift."Baik, Mas Bara. Oh iya, ini ada laporan soal barang yang masuk tadi subuh. Ada sedikit masalah di bagian mani
Tante Marissa menatap mata Bara dengan sangat dalam, tatapannya sayu namun penuh dengan keinginan yang tidak bisa disembunyikan lagi. Dia melihat napas Bara yang makin pendek dan bagaimana jakun anak muda itu naik-turun karena gugup. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk menyiksa batin Ba
Pagi itu meja makan terasa sangat dingin. Bau kopi mahal milik Bapak Handoko menusuk hidung, tapi Bara merasa sesak seolah oksigen di ruangan itu habis karena keberadaan ayahnya di sana.Bara berjalan pelan dari lorong kamar belakang menuju meja makan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Maris
Tak berselang lama, suara ketukan sepatu terdengar nyaring dari arah tangga. Keyla muncul menuruni anak tangga dengan langkah percaya diri. Seragam SMA yang dia pakai sangat pas badan. Rok abu abunya dipotong sedikit di atas lutut, memperlihatkan bentuk kakinya yang padat dan indah. Rambut panjangn
Bara baru saja hendak memutar gagang pintu saat suara Keyla yang tajam menghentikan gerakannya."Jangan pergi dulu, Bara."Bara mengembuskan napas panjang. Dia tetap memunggungi adik tirinya itu. Tangannya masih menempel di besi gagang pintu yang dingin. "Apa lagi, Key? Kakimu sudah beres, kan?"Ke







